
Dua bulan kemudian...
Saat ingin pergi tidur, Lara tidak sengaja melihat dirinya yang baru selesai mengeringkan rambut di cermin besar yang ada di kamarnya. Ia yang mengenakan gaun tidur berwarna putih pun menatap dirinya di depan cermin, dan seketika ia sadar kalau perutnya sudah agak mulai membuncit. Wanita itu pun lalu tersenyum sambil mengusap bagian perutnya. "Terakhir kali aku melihat perutku gendut empat tahun lalu."
Tidak lama kemudian, Vander yang juga baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan celana tanpa baju atasan, tiba-tiba saja datang menghampiri sang istri dan memeluknya dari belakang. Pria itu menatap Lara lewat cermin yang ada di depannya.
"Istriku yang cantik sedang apa?"
Lara tersenyum kecil dan berkata, "Sayang, kau lihat? Perutku sudah mulai membesar. Anak kita tumbuh dengan sehat di dalam."
"Itu karena ibunya selalu menjaganya dengan sangat baik, dan tentu saja aku sebagai ayahnya akan terus menjaga kalian," jawab Vander lalu mencium kening sang istri.
"Vander kau mau anak laki-laki lagi atau perempuan?" Tanya Lara penasaran.
Ia mengangkat dagu Lara sambil tersenyum padanya. "Apapun jenis kelaminnya, kalau itu anak kita aku sudah pasti suka."
"Okey..."
"Kalaupun laki-laki lagi, kita kan bisa buat lagi supaya dapat perempuan." Goda suaminya.
Lara menyikut perut suaminya. "Ini saja belum lahir, kau sudah memikirkan anak yang lain lagi. Lagipula memang kau ingin lihat istrimu gendut terus?"
"Kurus ataupun gendut, kau tetap yang tercantik bagiku," ucap Vander sambil membelai wajah sang istri.
"Benarkah? Kau tahu perutku nanti akan lebih besar lagi loh dari ini."
"Aku tahu dan aku akan tetap suka." Vander langsung mengangkat tubuh Lara.
"Eh, Vander kau mau apa? Turunkan aku, aku berat sekarang!" Protes Lara yang panik diangkat suaminya tiba-tiba.
"Tidak berat sama sekali," jawab Vander menatap Lara yang kini wajahnya sejajar dengannya.
"Tapi kalau aku jatuh bagaimana, kau menggedongku seperti mengangkat anak kecil begini," keluhnya.
"Kalau tidak mau jatuh, lingkarkan kedua kakimu di pinggangku."
Dengan wajah merona Lara langsung mengikatkan kedua kakinya ke pinggang sang suaminya dan memeluknya erat. Lara jadi sedikit lebih tinggi karena berada digendongan suaminya pun agak menunduk menatap Vander sambil memegangi wajahnya. "Kau sudah mulai nakal lagi ya?" Ucap Lara menggoda suaminya.
"Sudah masuk empat bulan, jadi sudah bisa nakal lagi sekarang. Maaf ya nona, aku lelah jadi anak baik, aku lebih suka jadi anak nakal yang suka melakukan hal-hal nakal bersamamu."
Lara mengecup singkat bibir suaminya. "Kalau begitu tetap dengan posisi seperti ini, dan jangan bergerak ataupun berjalan sampai aku memberikan perintah."
"Kau menghukumku?"
"Iya, mau protes karena tidak sanggup?" Bisik Lara.
"Tidak," jawab pria itu percaya diri.
Mereka lalu berciuman dengan sangat intens. Saking dalamnya ciuman itu sampai akhirnya Lara yang mulai tidak bisa menahannya lagi meminta sang suami membawanya ke ranjang.
"As you wish my wife."
Vander membawa dirinya dan sang istri ke atas ranjang. Melepaskan gaun tidur Lara yang masih duduk diatas pangkuannya, lalu Mencumbu setiap inchi kulit tubuhnya yang mulus. Wanita itu mengerang menahan gigitan-gigitan kecil yang dilakukan suaminya di setiap kali menciumnya. Semakin liar Lara sampai tak bisa lagi menahan diri dan suaranya. Ia langsung mendorong tubuh suaminya berbaring diatas ranjang.
"Kau yakin akan akan melakukannya? Aku bisa memangkumu kok," ucap Vander melihat istrinya yang tanpa busana dengan nafas tersengal-sengal, duduk diatas perutnya.
"Jangan remehkan istrimu tuan Vander, aku bahkan bisa lebih liar darimu lho..." Ucapnya dengan raut wajah menggoda.
Vander menyeringai, "Kalau begitu aku ingin lihat keliaranmu malam ini."
Perlahan dan kenikmatan yang hampir sebulan tak dirasakannya pun kembali dirasakan keduannya. Malam yang penuh gairah dan cinta pun berlanjut.
...🍁🍁🍁...
Di ruangan gelap dan misterius, terlihat Gauren yang tengah duduk di kursinya sambil menatap sebuah bingkai foto. Mata pria itu tampak sendu menatap foto di bingkai tersebut. Ia bermonolog dengan nada pilu.
"Jikalau waktu itu kau tak pergi ke tempat itu, dan aku bisa lebih cepat mendapatkan uang. Mungkin kau tidak akan meninggal Anika...
Dan sialnya pria itu mengingkari janjinya. Dia berjanji akan menjagamu dengan baik, tapi nyatanya kau malah meninggal, setelah itu aku tidak punya siapa-siapa lagi saat itu karena kau adalah satu-satunya adikku. Dan yang kau tinggalkan hanya warisan seorang anak yang sampai detik ini setiap kali aku melihatnya, dia mengingatkanku pada suami brengsekmu itu."
Bingkai itu berisi foto Gauren saat masih kecil bersama adik perempuannya yang tidak lain adalah Anika, ibunya Vander yang meninggal puluhan tahun lalu.
TOK TOK!
__ADS_1
Mendengar pintu ruangannya diketuk, Gauren segera menyimpan kembali bingkai itu. Wajahnya yang tadi nampak melankolis seketika berubah jadi bengis lagi.
"Masuk!"
"Tuan maaf aku mengganggu anda."
"Ada apa Mez?"
"Aku hanya ingin memberitahukan, kalau semuanya sudah siap. Anda tinggal pergi ke lab menemui dokter Rena."
"Baik, aku akan kesana."
"Aku permisi tuan..."
Gauren kemudian berdiri mengambil mantel panjangnya dan mengenakannya. "Vander keponakanku tersayang, sebentar lagi permainan akan dimulai nak, dan aku akan lihat seberapa cerdas dan kuatnya dirimu melawan pamanmu sendiri." Pria itu tersenyum dan pergi meninggalkan ruangannya.
...🍁🍁🍁...
Setelah puas bercinta, Lara dan Vander berpelukan diatas ranjang dengan tubuh hanya ditutupi selimut, Vander yang dadanya dijadikan bantal oleh sang istri pun membelai lembut pipi istrinya sambil terus memuji. "Kau cantik sekali, aku kadang masih tidak percaya bagaimana aku yang mantan gelandangan ini sampai bisa jadi suamimu?"
"Aku juga heran, kenapa aku begitu menyukaimu? Padahal dulu selain wajah dan bentuk badanmu yang bagus tidak ada hal lain yang spesia, kau juga dulu miskin," ucap Lara sambil memainkan jemarinya diatas dada Vander yang bidang.
"Entahlah mungkin itu yang disebut takdir. Dan lucunya kau yang menyatakan cinta duluan padaku."
Seketika wajah Lara memerah, ia agak malu mengingat dulu memang dirinya yang duluan mengatakan cinta pada Vander. Lara yang agak gengsi mengakuinya pun bangun dari rebahanannya dan berkata seraya mengelak, "Bagaiman ka- kau bicara begitu? Bu- bukannya kau amnesia? Kau salah ingat mungkin."
Vander pun tertawa. "Aku memang belum sepenuhnya ingat kenangan kita, tapi perlahan entah kenapa ingatan itu berangsur kembali. Jadi tidak usah malu mengakuinya..."
"Si- siapa yang malu, lagipula dulu it- itukan karena kau yang kalah cepat dariku menyatakan perasaan. Kau- kau itu menyebalkan!" Ucap Lara malu mengakuinya.
Melihat istrinya gengsi, Vander jadi gemas dan semakin ingin menggodanya. Ia kemudian ikut bangun dan kembali menggoda istrinya dengan bilang kalau, ciuman pertama mereka juga waktu itu Lara yang pertama kali berinisiatif melakukannya saat tengah mabuk di dalam mobil.
Alhasil Lara semakin malu dibuatnya, "Huh, kau ini kenapa malah ingatnya momen-momen itu sih! Mengesalkan sekali, merasa dirimu hebat ya karena aku menyukaimu?"
Vander mengangkat dagu istrinya dan menjawab, "Iya aku bangga karena bisa membuat nona Lara yang dikenal sangat berkelas ini, jatuh cinta pada pengawalnya sendiri yang mantan gelandangan."
"Kau beruntung bisa mendapatkanku Vander, karena semua pengalaman pertamaku adalah bersamamu."
"Aku tahu, terima kasih sudah memilihku untuk mencintai dan dicintai olehmu," ucap Vander lalu mencium tangan Lara.
"Aku janji Lara... Kau satu-satunya wanita dalam hidupku yang aku puja dan kucinta."
"Mereka pun berpelukan mesra."
"Lara...," bisik Vander.
Seketika perasaan Lara tidak enak.
"Ayo kita main beberapa ronde lagi!"
"Dasar kau serigala licik..!" Omelnya.
...🍁🍁🍁...
Keesokan harinya di kantor Lavioletta, Lara yang sedang merapikan make upnya di kaca toilet pun tiba-tiba saja mendengar beberapa karyawan wanita bergosip disebelahnya. Disana mereka tengah membicarakan sebuah postingan orang di forum media sosial, yang mengatakan kalau dirinya melihat Vander saat mengunjungi dokter kandungan bersama seorang wanita.
Wah jangan-jangan pacar tuan Vander diam-diam sudah hamil.
Tapi kalau benar kasihan ya wanita itu, masa hanya dijadikan simpanan tapi tidak diakui di khalayak. Kesannya jadi seperti hubungan gelap saja.
Mungkin wanita itu kurang cantik dan hanya orang kampung, makanya tuan Vander malu memperkenalkannya ke khalayak.
Bisa jadi, tapi masa iya tuan Vander mau dengan wanita macam begitu. Dia itu tampannya bukan main masa mau punya anak sama wanita macam begitu.
Mungkin saat ke dokter kandungan, ia menyuruh wanita itu untuk aborsi.
Kasihan sekali ya... Miris deh, tapi jujur aku penasaran dengan wanita itu. Tapi kalau bisa bermalam dengan tuan Vander meski cuma semalam, aku sih rela.
Pasti wanita itu jago diatas ranjang makanya tuan Vander terpikat, hihi...
Aku juga ingin merasakan sentuhan pria itu, pasti dia semakin hot kalau di ranjang.
"Uhum!" Lara seketika pura-pura batuk agar para wanita itu berhenti bergosip tentang suaminya. "Nona-nona sekalian, apa kalian ingin terus bergosip disini?"
__ADS_1
"Sudah yuk pergi! Ada pegawai baru sok cantik!" Ucap para wanita itu lalu pergi.
Sejujurnya, meskipun yang dikatakan mereka semua hanyalah kebohongan belaka. Tapi sebagai seorang wanita yang sudah bersuami, Lara juga agak sedih mendengarnya. Jujur dilubuk hati Lara, ia ingin sekali semua orang tahu kalau dirinya adalah memanglah sah istrinya Vander. "Huft, aku harap semua ini akan segera berakhir dan lagi..." Lara memegangi bagian perutnya. "Aku tidak ingin anak diperutku ini sama nasibnya seperti Rey, dibilang anak yang tak punya ayah."
...🍁🍁🍁...
Vander yang baru saja selesai menelepon Dominic membicarakan uji coba serumnya itu pun. Seketika memanggil Robert dan Naomi ke ruangannya untuk menghadap.
Beberapa menit kemudian, kedua orang itu pun datang menghadap Vander.
"Ada apa tuan memanggilku?" Tanya Robert.
"Iya tuan ada apa? Apa ada jadwal anda yang perlu aku revisi?" Tandas Naomi.
"Aku ingin tanya padamu Naomi, jadwalku untuk peresmian resort baru Laizen itu kapan?"
"Itu kalau tidak ada halangan, minggu depan hari selasa jam dua siang tuan."
"Oh kalau begitu mundurkan jadwalnya di dua hari berikutnya."
"Baik."
"Dan Robert, untuk rencana akuisisi perusahaan multimedia ZRT apa semuanya lancar?"
"Sejauh ini masih dalam negosiasi tuan, karena mereka masih ingin menaikan tawarannya. Mereka bilang lima ratus juta dollar masih kurang."
"Begitu ya, padahal kalau dilihat dari history dan kualitas perusahaan itu harga segitu sudah sangat ideal. Sepertinya mereka sedang mengulur waktu, kalau begitu kau terus pantau mereka dan pastikan mereka mau menjual perusahaan itu kepada kita."
"Baik tuan."
"Yasudah itu saja."
"Um— tuan Vander!"
"Ada apa Naomi?"
"Ini bukan tentang perusahaan sih, tapi cukup penting karena ini tentang anda dan nona Lara."
Mendengar ada kaitannya dengan sang istri tercinta tentu saja itu hal amat sangat penting bagi Vander. "Ada apa?"
"Itu, di media sosial saat ini sedang ramai tentang..." Naomi memberitahu kepada Vander soal berita yang tengah ramai membicarakan anda yang berkunjung ke dokter kandungan.
Vander mengerutkan keningnya.
"Sepertinya saat anda dan nona ke rumah sakit, ada orang yang menyadari dan melihat kalian disana lalu menyebarkan berita itu ke media tuan."
"Lalu?"
"Berita itu sekarang jadi bola liar tuan, akibatnya banyak asumsi salah yang kian menyebar. Sebagian besar mengatakan kalau anda ke rumah sakit untuk menemani pacar gelap anda aborsi," jelas Robert yang ternyata juga sudah tahu berita itu.
"Aku hanya takut nona lihat beritanya, dan dia jadi kepikiran dan sterss. Hal itu tentu tidak bagus untuk kesehatan kandungan nona Lara," jelas Naomi.
Yang dikatakan Naomi memang benar sekali. Lara tidak boleh banyak pikiran saat ini.
"Baiklah kalau begitu kau kembali ke ruanganmu, dan Robert kau tetap disini."
"Kalau begitu aku permisi," ucap Naomi lalu pergi.
Setelah Naomi pergi, Vander lansung meminta kepada asisten kepercayaanya itu untuk menemukan orang yang pertama kali menyebarkan berita dirinya ke rumah sakit.
"Lalu setelah itu anda ingin apa tuan? Bukankah ibaratnya ini semua sudah terlanjur panas, kalaupun anda ini memadamkannya, itu sama saja anda mengiyakan berita simpang siur yang ada?"
Vander memang berpikir untuk meredamkan berita ini dengan menekan sumbernya, tapi perkataan Robert ada benarnya. Bagaimanapun rumor yang sudah terlanjur menyebar tidak akan bisa hilang begitu saja dengan hanya menghilangkan sumber, karena pasti netizen tidak mungkin sebodoh itu. Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin membuat Lara sedih dan stress karena berita sampah ini.
"Tuan, jika aku boleh saran. Lebih baik anda bicarakan ini dengan nona, karena bagaimanapun nona Lara berhak tahu dan memutuskan apa yang harus dilakukan untuk menanggapi berita ini."
"Kau benar Robert," ucap Vander berpikir demikian. "Lara bukan wanita bodoh dan aku yakin dia sudah tahu akan hal ini, dan kalaupun dia tahu, dia pasti akan memilih diam saja sampai kutanya." Tatapan Vander tampak sendu, ia seketika sangat merasa bersalah karena akibat dirinya yang banyak musuh, hidup istri dan anaknya jadi seringkali terancam bahaya. "Bahkan status pernikahan kami pun terpaksa disembunyikan karena takut dimanfaatkan musuh."
"Tuan anda tidak perlu merasa begitu. Apa yang anda lakukan semua demi nona dan tuan kecil, jadi jangan menyalahkan diri sendiri, karena ini semua ini diluar keinginan anda."
"Terima kasih Robert, karena sselalu mengingatkanku."
"Sama-sama tuan."
__ADS_1
...🍁🍁🍁...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS 🙏