Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Pria Bertopeng


__ADS_3

"Van mana yang lebih bagus? Yang hitam atau yang warna ungu? Oh atau yang ada payet berliannya saja? Yang mana?"


Lewat video call Van yang tidak sama sekali paham fashion mode tampak frustasi ditanya begitu sejak tadi oleh kekasihnya.


"Sudah baju keberapa yang kau tanyakan padaku? Padahal sudah aku bilang, kau itu sudah cantik dari lahir jadi pakai apa saja sudah pasti bagus dan cantik, lagipula hanya pergi dengan Jeden tidak usah dadan bagus-bagus!" Ujar Van tampak kesal.


"Kau cemburu ya?" Goda Lara.


"Iya aku cemburu kenapa memangnya? Aku tidak suka kau berusaha tampil cantik selain untukku. Semalam kau tidak ada aku jadi susah tidur, kau biasa mengusap kepalaku dan memelukku, dan setiap pagi aku dapat ciuman selamat pagi tapi hari ini tidak, aku kesal sekali! Jadi jangan tambah buatku kesal Nona Lara Hazel," keluh Vander dengan tampang polos.


Lara yang awalnya kesal karena Van yang tidak mau membantunya memilih gaun pun jadi tidak jadi marah, melihat ekspresi Vander saat ini layar tabletnya sangat menggemaskan.


"Aduh aduh kasihan sekali, maaf ya sayang," ucap Lara seraya meledek Vander seperti anak kecil. Entah kenapa melihat Van bertingkah agak manja begitu malah membuat Lara senang dan gemas dibuatnya. Andai dia disini bersamaku, sudah aku peluk cium sejak tadi! Ujar Lara dalam hati karena gemas.


"Yasudah anak baik, jangan ngambek lagi," ucap Lara sambil tertawa geli melihat ekspresi wajah Vander saat ini.


"Nona jangan tertawa, kau harus tau kalau kau sering kejam padaku."


"Huh? Kejam? Kejam apanya?" Tanya Lara bingung.


"Kejam karena kau selalu membuatku harus memuaskan diriku sendiri pada akhirnya setiap hari!" Pekiknya kesal.


"Eh?" Wajah Lara memerah ia paham maksud Vander, jujur dirinya juga ingin memberikan dirinya seutuhnya untuk Van, tapi entah kenapa masih ada sedikit keraguan dihati Lara. Karena Lara hanya ingin memberikan mahkota miliknya yang paling berharga pada pria yang ia yakini akan jadi satu-satunya di sisah hidupnya.


"Sudahlah soal itu nanti saja, sekarang yang penting kau pilih satu gaun yang mana saja yang menurutmu paling bagus," pungkas Lara seraya mengalihkan pembicaraan intim yang dimaksud Vander.


**


Karina terlihat tengah bersiap untuk acara pestanya yang akan dimulai sekitar satu jam lagi. Bagaimanapun Karina ingin jadi yang paling mencuri perhatian di pestanya, mengingat juga akan ada awak media juga datang nanti disana.


Wanita itu memutar badannya berkali-kali di depan cermin memastikan gaun tanpa lengan yang berwarna biru tosca dengan sentuhan warna gold sudah terpakai dengan pas dan benar. "Bagaimana apa aku tampak sempurna?" Ucap Karina di depan para stylistnya.


"Iya kau cantik sekali Nona Karina, diulang tahunmu yang kedua puluh lima memang penampilanmu harus spesial."


Bukan hanya penampilan, tapi tamuku malam ini juga spesial! Karina tersenyum penuh arti. Ia kemudian mengambil ponselnya dan menelepon Vander.


Van : Halo!


Karina : Kau sudah dimana? Kau sudah menerina tuxedo yang aku kirimkan untuk kau pakai malam ini kan?


Van : Hem!


Karina : Yasudah aku tunggu ya, sampai jumpa tampanku!


Van :... Ya!


**


Di apartemen, Vander sudah tampak rapi mengenakan setelan tuxedo mahal dengan dasi kupu-kupu di kerahnya. Rambutnya yang ditata serapi dan senatural mungkin membuat karisma pria itu kian terpancar.


Menatap dirinya sendiri di cermin Van hanya bisa berharap di pesta Karina nanti tidak akan ada hal buruk terjadi. Karena entah kenapa Van punya firasat tidak baik hari ini. "Yang jelas disana aku harus terus memastikan kalau Nona Lara baik-baik saja selama pesta."


**


Lara dan Jeden akhirnya tiba ballroom di hotel Rosevelt.


Lara tampak cantik dan berkelas mengenakan gaun bodycon panjang berwarna rosegold dengan potongan sabrina yang menampakan bahunya yang mulus dan indah. Jeden yang berdiri disebelah Lara membuka satu lengannya seraya bermaksud agar Lara menggandeng lengannya. Sayangnya gadis itu tidak tak sadar, dan malah berjalan masuk duluan ke dalam ballroom.


"Seperti dugaan Lara konsep pestanya pasti mewah," puji Lara. Meski tak suka Karina tapi harus akui kalau ballroom hotel itu berhasil disulap oleh Karina layaknya pesta disebuah kerajaan yang mewah. Tidak hanya itu, pesta ulangtahun Karina kali ini juga terlihat didatangi oleh beberapa awak media yang datang untuk meliput.

__ADS_1


Lara mengamati sekeliling ballroom. Seketika dirinya jadi teringat dengan Vander. Andai dia disini pasti akan jauh lebih menyenangkan buatku.


Tak lama kemudian beberapa wartawan dari media cetak tiba-tiba saja datang menghampiri Lara. Gadis itu pun jadi agak terkejut dibuatnya karena para wartawan itu langsung membombardir dirinya dengan banyak pertanyaan secara tiba-tiba.


"Nona Lara Hazel anda sangat cantik malam ini, kami dari media bisnis lokal bisakah kita wawancara sebentar?"


"Ah Nona Hazel kau tampak mengagumkan dengan gaun itu, tolong beri kami sedikit waktu anda?"


"Nona soal kerjasama dengan Appletree apa dirimu dan Nona Karina ada konflik?"


"Nona Lara kau bisa jelaskan tentang harga saham Miracle yang digadang-gandang kian memburuk?"


"Nona Lara tolong jawab?"


Diberondong pertanyaan sebanyak itu secara tiba-tiba Lara pun jadi kikuk tidak tahu harus menjawab bagaimana. Aku harus bagaimana ini? 


Tiba-tiba saja muncul Jeden dari belakang dan langsung merangkul pundak Lara seolah menenangkannya.


Jeden?


"Maaf para wartawan yang terhormat, tapi hari ini Nona Lara datang kemari untuk menjadi tamu dan menikmati pesta bukan untuk wawancara jadi tolong jangan memberikannya pertanyaan berat yang menyulitkannya," terang Jeden.


Lara melirik ke arah Jeden yang tengah menghadapi wartawan dengan tenang. Pria ini sungguhan membantuku kah?


"Iyakan Nona Lara?" Tanya Jeden menatap Lara.


"Eh i- iya," jawab Lara.


"Wah Tuan anda sepertinya sangat menjaga Nona Lara, apa mungkin kau pria spesialnya Nona Lara?" Celetuk salah satu wartawan.


Lara langsung bereaksi kaget mendengar ucapan wartawaan itu. "Eh itu kami hanya —"


Lara langsung mengernyitkan matanya melihat ke arah Jaden disebelahnya. Maksudnya bicara begitu apa sih!


"Maaf tapi aku dan Jeden kami—"


"Kami sangat dekat oleh karena itu kami datang ke pesta ini bersama, karena bagiku Lara adalah gadis yang sangat spesial dan harus selalu aku jaga," ucap Jeden.


Apa-apaan ini? Tidak bisa, aku harus segera meluruskan hal ini sebelum semuanya salah paham.


"Semuanya sebenarnya kami berdua—"


"Wah, Nona Lara dan Tuan Jeden dari Miracle apa kalian sudah resmi berpacaran?" Sambar salah satu tamu lain yang hadir disana. Akibat ucapan Jeden yang ambigu beberapa kolega di pesta Karina banyak yang malah mengira Lara dan Jeden sungguhan punya hubungan khusus.


Bagaimana ini mereka semua sepertinya salah paham dengan hubunganku dan Jeden. Sial! Jeden dia ini maksudnya apa sih!


"Um tuan dan nyonya serta kalian wartawan, sebenarnya aku dan Jeden kami hanya partner kerja saja kok," jelas Lara mencoba meluruskan.


"Nona Lara kau tidak usah malu-malu begitu, tinggal akui saja kalau kau memang punya hubungan dengan Tuan Jeden Lee," ujar Karina yang mengenakan gaun berwarna biru tosca datang menghampiri.


"Wah itu nona Karina Foster! Selamat ulang tahun Nona Karina," Ucap para wartawan.


Sial! Karina apa dia sengaja bersekongkol dengan Jeden mensetting semua ini?! Pikir Lara sambil menatap Karina dengan tatapan tidak suka.


"Terima kasih semuanya sudah datang ke ulang tahunku, terkhusus Nona Lara dan Tuan Jeden kalian sungguh sangat serasi malam ini," pungkas Karina dengan raut wajah yang jelas sengaja membuat kesalahpahaman orang-orang bertambah tentang hubungannya dengan Jeden.


"Oh iya sebentar lagi pestanya akan dimulai, semua tamu silakan nikmati dulu makanan dan minumannya selagi menunggu acara benar-benar dimulai!" Ucap Karina seraya pemilik pesta.


Lara yang muak dengan keadaan saat ini pun memilih pergi mengambil minuman untuk menenangkan dirinya.

__ADS_1


Lara mengambil segelas anggur dan meminumnya. Gadis itu tampak menghela nafas seraya menenangkan emosinya yang hampir saja meledak-ledak.


"Kau baik-baik saja kan?" Tanya Jeden menghampirinya.


Lara langsung menatap murka pada Jeden saat itu juga.


"Ada apa Lara?"


"Tidak usah pura-pura bodoh, apa sebenarnya maksudmu bicara begitu di depan media dan tamu lain?"


"Kau ini kenapa marah, aku kan hanya mengatakan kebenaran kalau kita memang sudah saling kenal sejak kecil, lalu apa masalahnya?" Ujar Jeden merasa tidak ada masalah sama sekali.


"Kita memang saling kenal sejak kecil, tapi caramu menjawab seolah sengaja membuat mereka berpikir kalau kita punya hubungan lebih! Kenapa kau lakukan itu!"


"Memangnya kenapa kalau orang lain mengira kita punya hubungan, toh mereka semua bilang kita cocok kok! Lalu kenapa? Oh... Apa kau berharap kalau yang dikira pacarmu itu pengawal gelandanganmu itu, iya?"


"Diam Jed! Soal ini tidak ada hubungannya dengan Van, jadi berhenti kau membawa-bawa namanya!"


Jeden tergelak. "Kau selalu begini tiap kali aku menyebut namanya. Aku rasa Nona muda keluarga Hazel otaknya sudah benar-benar dicuci oleh si gembel itu! Lara kau harus sadar, level pria yang kau bela itu dimana. Kau dan dia bagai bumi dan langit jadi berhentilah memandang dia seakan dewa yang dipuja dewinya!"


"Aku rasa yang rusak itu hati dan pikiranmu Jeden, kau menyedihkan!" Ujar Lara lalu pergi meninggalkan Jeden.


Jeden mengatupkan gerahamnya, tangannya mengepal kuat menahan amarahnya. "Sial! Bahkan sekalipun tidak bersamanya kau masih saja membela gelandangan itu! Kalau sudah begini jangan salahkan aku kalau aku benar-benar kejam padamu Lara!"


Akhirnya tiba waktunya acara dimulai, MC pun mulai membuka acaranya dengan memanggil Karina sang pemilik pesta berdiri di spot utama untuk memberikan sambutannya.


"Selamat malam semuanya, aku Karina Foster mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada para tamu undangan karena sudah datang ke pesta ulang tahunku yang ke dua puluh lima," ucap wanita bergaun biru tosca itu.


Lara yang berdiri jauh dari tempat Karina bicara tampak tidak bersemangat dan ingin pulang saja rasanya.


Karina menatap Lara dari tempatnya berdiri. Lara kau sepertinya sudah mulai bosan dan kesal ya? Tapi ini semua belum apa-apa, setelah ini aku akan buat tensi pestanya akan semakin panas. Karina  tampak menyeringai kecil.


"Huh? Karina barusan kenapa menatapku begitu?" Gumam Lara sambil memegang gelas minuman di tangannya.


"Baiklah Nona Karina apa bisa kita mulai sekarang pestanya?" Tanya MC.


"Iya tuan MC, tapi sebelum pesta benar-benar dimulai, aku mau memanggil seseorang dulu sebagai pasanganku malam ini. Karena aku buat tema pestanya harus berpasangan, tidak adil kan jika hanya tamuku saja  yang berpasangan sedangkan aku tidak."


Semua tamu yang ada disana jadi dibuat penasaran dan bertanya-tanya, siapa seseorang yang dimaksud Karina sebagai pasangannya itu, termasuk Lara sendiri yang juga penasaran.


"Memangnya siapa sih, sok misterius sekali!" Gerutu Lara.


"Baiklah pasanganku malam ini silakan masuk!" Seru Karina.


Dan seketika semua mata tertuju pada seorang pria bertopeng yang baru saja muncul dari balik ruangan dan berjalan ke dekat Karina.


Wah siapa dia pacarnyakah? Kok pakai topeng?


Dilihat dari postur dan cara berjalannya sepertinya dia sangat gagah dan tampan.


Aku penasaran dengan wajahnya!


Dia pasti sangat hebat sampai bisa mendapatkan hati nona Karina Foster!


Semua tamu saling berkomentar melihat pria, kecuali Lara. Gadis itu malah langsung terdiam seperti patung es, matanya membulat seolah tak berkedip menatap terus ke arah pria bertopeng yang kini berdiri disebelah Karina. Caranya berjalan, caranya berdiri, Lara seolah sudah sangat familiar, dan topeng itu persis seperti yang dotemukan di saku jas miliknya saat dipasar malam waktu itu. Denyut jantung Lara pun tiba-tiba berdegup kencang saat menyadari kalau pria bertopeng itu adalah orang yang sangat ia kenal.


"Vander benarkah itu kau yang berdiri disebelah Karina saat ini? Tapi kenapa?"


Bersambung...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜


__ADS_2