
Lara langsung menoleh ke arah darimana suara pria itu berasal. Ternyata itu Vander yang sudah datang menemuinya. Pria yang mengenakan blazer hitam itu langsung berjalan mengahampiri Lara dan memeluk gadis itu. "Kenapa kau pergi tidak memberitahuku, kau ingin membuatku mati ketakutan ya?" Dari nada suaranya terdengar jelas Vander sangat mengkhawatirkan kekasihnya itu
"Maafkan aku," ucap Lara dengan nada Lirih.
"Nona ada apa sebenarnya? Kenapa kau kesini sendirian?"
"Vander aku gagal, aku menyedihkan...." Lara langsung menangis di pelukan sang pria.
"Apa maksudnya? Kenapa Nona malah menangis?"
"Vander sebenarnya..."
Setelah merasa cukup tenang, Lara dan Vander duduk diberampingan di pinggir danau. Lara pada akhirnya menceritakan semua yang yang terjadi hari ini pada kekasihnya itu. Gadis itu sampai mengatakan kalau dirinya seperti tidak berguna untuk perusahaan. "Kau tau Vander, jika performa Miracle seperti ini terus maka bisa-bisa aku bankrut dan jatuh miskin. Kalau aku miskin, apa kau masih mau bersamaku?" Ungkap Lara terdengar pasrah.
Mendengar Lara bicara pasrah begitu membuat Vander jadi kesal sampai mencubit kedua pipi gadis itu dan menasehatinya.
"Dengar ya Nona, kau itu CEO Miracle kau tidak seharusnya bicara begitu! Aku yakin meski berat, kau pasti bisa melewati ini semua, jadi jangan menyerah semudah itu. Kalau kau menyerah dengan mudah, musuh-musuhmu diluar sana pasti akan berpesta pora karena berhasil membuatmu terpuruk!"
Dengan raut wajahnya yang lesu, gadis itu mengusap-usap kedua pipinya yang jadi merah karena dicubit oleh Van. "Tapi bagaimana caranya? Jujur saja aku ini bodoh soal memimpin perusahaan sebesar ini!" Keluh gadis itu tidak tau harus berbuat apa.
"Soal itu aku akan membantumu," pungkas Vander terdengar serius.
Lara langsung tercengang mendengar ucapan Vander barusan.
"Mem- membantu apa maksudmu?"
"Ya aku akan ikut membantumu mencari jalan keluar untuk memajukan Miracle. Itu sebabnya aku sudah mendaftar di dalam pelatihan umum pengembangan tanaman tekstil yang akan dimulai lusa."
"Apa?!" Lara sungguh kaget dibuatnya karena sama sekali tidak tahu kalau, Vander diam-diam telah mendaftar program semacam itu.
"Jadi minggu depan ya?"
"Iya, dan kegiatan itu dilakukan di wilayah RK selama tiga puluh hari. Disana nanti akan dilakukan kegiatannya yang berfokus pada penelitian tentang bahan baku tekstil terbaik seperti kapas, sutra, linen yang bisa jadi masih bisa dikembangkan sebagai kualitas terbaik."
"... Mm... Maksudnya?" Lara masih belum paham.
"Maksudnya, dengan ikut pelatihan ini aku jadi bisa meneliti bahan baku tekstil di RK, karena yang aku tau kalau disana banyak sumber daya yang bisa diolah menjadi bahan tektil. Wilayah RK juga masih minim dijangkau perusahaan lain, ini bisa jadi kesempatan besar untuk Nona membuat ladang bahan baku di RK."
"Jadi ikau mau membantuku mencari pasokan bahan baku untuk perusahaan secara sukarela?"
Vander mengangguk.
"Nona yang bilang sendiri kalau perkebunan kapas milik Miracle saat ini sedang sangat buruk kan? Oleh karena itu aku akan coba mencari alternatif bahan baku tekstil lain di RK, agar tidak perlu impor. Dengan begitu kita bisa menekan pengeluaran perusahaan setidaknya hingga tiga puluh persen."
__ADS_1
Seketika Lara dibuat takjub dan tak menyangka mendengar penjabaran Vander barusan. Siapa yang mengira pemikiran Vander ternyata sebrilian itu. "Vander kau sungguh luar biasa!" Lara tidak bis menyembunyikan rasa kagumnya pada kekasihnya itu
"Um... Terima kasih Nona pujiannya," Vander tampak tersipu malu dipuji oleh Lara. "Tapi... Kalau aku pergi ke luar kota kita akan jadi jarang bertemu," ungkap Vander tiba-tiba dengan wajah polosnya.
Seketika Lara pun langsung mendaratkan ciuman manis pipi kekasihnya itu.
"Tidak apa-apa kita saling menahan rindu dulu untuk beberapa waktu. Lagipula aku senang mendengarmu mau berkembang seperti ini, aku justru sangat bangga padamu."
"Kau sungguh bangga padaku?" Tanya Vander seolah tak percaya.
"Sungguh, aku bangga sekali pada pacarku yang tampan ini," ungkap Lara sambil mengusap kepala pria itu dengan penuh rasa bangga.
Ungkapan bangga Lara langsung membuat mata Vander seketika berbinar cerah. Raut wajahnya kini tampak seperti anak kecil yang kegirangan karena baru saja dapat nilai terbaik dikelasnya. Dia terlihat senang sekali aku puji seperti ini, apa waktu kecil... Lara hampir lupa sejak balita Vander kan tidak punya sosok ibu di hidupnya. Tapi dia sungguh sangat manis kalau seperti ini, tatapan matanya lembut dan murni, aku jadi ingin membukusnya untuk diriku sendiri.
Lara memang paling tidak tahan melihat Vander menampakan sisi inner child-nya yang murni dan cenderung manja, karena baginya itu sangat manis dan menggemaskan.
"Hei, karena kau sudah membuatku bangga maka kau pantas dapat hadiah dariku!" Lara lalu seketik mengecup singkat bibir Van.
Vander sendiri masih terdiam dengan tatapan polosnya.
"Kau diam saja, tidak suka hadiahku ya?"
Van menggeleng, "Bukan tidak suka, tapi aku mau yang lebih dari itu."
"Dasar anak nakal," pungkas Lara yang kemudian langsung memberikan ciuman keduanya. Kali ini Lara mencium Vander dengan intens dan keduanya pun saling berpelukan dan beciuman mesra dipinggir danau yang sepi dan tenang.
Di perjalanan pulang, Lara kaget mengetahui Vander yang ternyata pergi mencarinya tidak mengendarai mobil.
"Kenapa tidak naik mobil saja, mobil yang diberikan Pak Jah sejak pertama kali kau bekerja untukku kan kuncinya selalu ada bersamamu," pungkas Lara.
"Aku terlalu khawatir jadinya aku asal berlari saja, diotakku yang terpikirkan hanyalah yang terpenting Nona segera ketemu," jelas Van dengan wajah datarnya yang fokus menyetir mobil.
Lara sampai tak habis pikir dengan apa yang dilakukan pacarnya itu. "Untung saja aku bawa mobil sendiri jadinya kita tidak harus pulang jalan kaki," ucap Lara.
"Kalau Nona tidak diam-diam pergi juga kita tidak akan pulang jalan kaki."
"Jadi kau menyalahkan aku!"
"Tapi kan memang kenyataannya begitu," balas Vander.
Kali ini Lara tidak membalas balik ucapan Vander, karena bagaimana pun ia sendiri sadar, kalau ini semua terjadi memang karena dirinya yang pergi tanpa mengabari sang pengawal terlebih dahulu.
"Yasudah aku salah, maaf ya sudah merepotkanmu," ungkap Lara meminta maaf.
__ADS_1
"Tidak usah minta maaf Nona, yang penting kau sudah lebih baik kan sekarang?" Van mengusap lembut kepala Lara dengan satu tangannya yang tidak memegang kemudi.
"Oh iya Vander, lusa kau berangkat ke RK naik mobilkah?"
"Iya."
Lara terdiam tiba-tiba memandang ke depan dengan tatapan matanya seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Ada apa?" Tanya Vander sambil menggenggam satu tangan Lara yang lebih kecil darinya itu.
"Tidak apa-apa hanya saja... Aku takut akan merindukanmu nantinya."
Pria itu tersenyum kecil melirik sang kekasih disebelahnya. "Aku juga pasti sangat merindukanmu disana, tapi kita kan bisa tetap berkomunikasi. Aku akan selalu meneleponmu mengatakan 'aku mencintaimu' setiap hari."
Lara tak kuasa menahan senyumnya mendengar ucapan manis Vander padanya. Gadis itu penuh senyum menatap ke arah Van yang tengah menyetir. "Terima kasih sayang."
"Sama-sama. Oh iya, aku sudah memutuskan saat aku tidak bisa bersamamu, aku minta tolong Gavin yang akan menggantikanku sementara."
"Apa? Gavin," Lara terlihat senang mendengar Gavin yang akan menggantikan Vander.
"Kenapa kau tampak senang sekali mengetahui Gavin akan menggantikanku!?" Ujar Vander sewot.
"Kau cemburu?"
"Aku tidak, tapi aku sangat tidak senang melihat wanitaku segembira itu membicarakan pria lain!"
Lara tertawa geli melihat tingkah Van cemburu pada Gavin.
"Oh ayolah Vander, aku tidak akan berpaling darimu kok! Lagipula Gavin kan sudah aku anggap adikku sendiri."
"Kau tidak, tapi pria lain bagaimana? Mereka pasti menggodamu. Lagipula Gavin lebih tua darimu jadi jangan anggap dia adik!"
"Tapi Gavin sangat manis dan menggemaskan jadi— aduh!" Van tiba-tiba mengerem mendadak. "Van kau kenapa tiba-tiba sih hmm...."
Bibir Lara seketika terkunci saat Van tiba-tiba mengecup manis bibirnya.
"Jangan pernah memuji pria lain di hadapanku Nona. Kau ingat, aku ini bukan pencemburu tapi aku ini super posesif." Mata elang Vander menatap Lara seraya mengintimidasinya hingga membuat gadis itu tak mampu untuk berkata-kata apalagi melawan.
"Kau harus tau, kau, tubuhmu, pikiranmu dan hatimu itu semua hanya untukku," Dengan suaranya yang berat dan sensual, Vander seraya memperingatkan kalau Lara adalah miliknya.
Lara hampir dibuat bergidik ngeri dengan tatapan Vander padanya, namun disisi lain hatinya berdesir bahagia melihat kekasihnya itu begitu posesif padanya.
Gadis itu menyunggingkan senyum miringnya dan langsung mengecup lembut bibir Vander, "Kau tenang saja, aku milikmu seorang!"
__ADS_1
Bersambung...
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜