
Di ruangannya, seperti biasanya Lara terlihat kembali bekerja menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai direktur pemasaran. Meski dirinya masih dalam suasa sedih karena insiden kebakaran rumah yang menimpanya kemarin, namun bagaimana pun ia harus tetap profesional dalam bekerja. Wanita itu tampak menggoreskan pena di tangannya ke tiap berkas-berkas yang harus ia revisi dan amati. Di sela-sela pekerjaannya, seringkali Lara terlihat melirik ke arah ponselnya, dengan harapan ada panggilan atau sekedar pesan singkat dari sang suami, mengingat sejak tadi pagi Lara belum melihat sosok suaminya tersebut.
Setelah beberapa jam terpaku pada kertas-kertas dokumen pekerjaan, Lara akhirnya mulai merasa penat dan lelah. Dirinya pun langsung bersandar dikursi sambil memijat pelipisnya sendiri dan menghela nafas.
"Jam berapa sekarang?" Lara yang sejak tadi fokus kerja jadi lupa waktu. Ia lalu melihat ke arah jam digital diatas mejanya dimana waktu sudah menunjukan pukul 11.35 pagi.
"Sudah mau masuk jam makan siang ternyata."
Lara langsung meraih ponselnya dan melihat daftar pesan dan panggilan yang masuk. Dilihat dari semua daftar panggilan dan pesan yang masuk ke nomornya, tidak ada satupun pesan balasan dari Vander, padahal Lara sudah puluhan kali mengirimi pesan ke suaminya. Alhasil Wanita itu pun langsung memasang wajah murung dan kecewa.
"Kenapa dia sama sekali tidak mengirimiku pesan balasan atau meneleponku? Apa dia lupa pada istrinya?" Lara merasa jadi jengkel sendiri dibuatnya.
Tak lama kemudian ponsel Lara berdering, dengan antusias Lara segera meraih ponselnya dan berharap jika panggilan masuk itu dari suaminya tercinta. Namun sayang, rasa antusiasnya seketika memudar saat ia menatap layar ponsel dan ternyata panggilan itu bukanlah dari Vander melainkan Jeden.
"Ya Tuan Jeden ada apa?"
...
"Baik, aku akan segera membawa berkas itu ke ruangan anda."
Setelah mematikan panggilannya Lara yang masij tampak kecewa pun langsung bangkit dari kursi kerjanya, dan beregas pergi menemui Jeden di ruangannya.
Bel di ruangan Jeden berdering. Ia yang sudah tau kalau itu pasti Lara, pun langsung menyuruhnya masuk.
Lara masuk ke ruangan Jeden dengan membawa berkas dokumen yang diminta oleh Jeden tadi di telepon.
"Silakan duduk," Ucap pria yang kini rambutnya sedikit gondrong itu.
Kalau dilihat-lihat Jeden ini memang tampan hanya saja sifatnya bagi Lara sungguh menyebalkan.
Setelah duduk dan menghadap Jeden, Lara pun segera menyerahkan berkas itu kepada bosnya. "Ini berkas dokumen yang anda minta tuan."
"Terima kasih," Jeden langsung memeriksanya dan menandatanganinya segara. Tiba-tiba suasana pun hening, Lara sendiri malah terlihat tengah merenung memikirkan sesuatu. Menyadari hal itu Jeden pun langsung membuyarkan lamunan Lara seketika dengan suara dehamannya.
"Ah Tuan Jeden sudah anda tanda tangani kah?"
__ADS_1
"Sudah,"
"Kalau begitu aku—"
"Lara tunggu!"
Lara yang baru saja mau beranjak dari kursi langsung seketika duduk lagi.
"Iya, ada apa lagi Tuan?" Ucapnya dengan intonasi yang tak setegas biasanya. Jeden jadi merasa khawatir, ditambah ia melihat Lara saat ini juga tampak lesu.
"Oh iya Lara, aku turut prihatin atas kejadian yang menimpamu kemarin. Kau pasti sangat terpukul melihat kediaman peninggalan keluargamu terbakar hangus."
Tatapan mata Lara memang jelas menunjukan kalau dirinya masih bersedih, namun ia memutuskan untuk tak mau terlalu hanyut dengan kesedihannya.
"Terimakasih Jed atas perhatianmu. Hal ini memang memberikan pukulan berat untukku, tapi mau bagaimana lagi hidup terus berlanjut terlalu lama sedih juga tak ada gunanya."
Jeden mengangguk seraya bangga mendengar jawaban Lara. "Lara, jika kau butuh bantuan katakan saja padaku jangan sukan. Bagaimanapun kita ini kan sudah kenal sejak lama."
Wanita itu tersenyum hambar. "Terima kasih atas kepedulianmu padaku. Ternyata sifatmu yang baik masih tersisa, aku senang mengetahuinya."
"Sudahlah, aku tidak mau bahas yang lalu-lalu. Lagipula kenyataannya sekarang kau memang CEO Miracle yang sah, dan aku adalah bawahanmu. Jadi lebih baik kita profesional saja."
"Ya kau benar. Oh iya Lara apa kau sudah makan?"
"Ya, aku sarapan tadi di rumah." Lara memang sudah sarapan dengan roti panggang buatan Vander tadi pagi.
"Kau tampak lesu hari ini apa kau baik-baik saja Lara?"
Wanita itu tersenyum hambar. "Ya aku baik-baik saja, mungkin hanya masih kalut dan syok saja atas kejadian kebakaran kemarin."
"Kalau kau masih bersedih dan tidak nyaman, kau boleh ambil cuti beberapa hari aku tidak masalah sama sekali," usul Jeden.
Sayangnya Lara langsung menolak usulan Jeden itu, ia tidak ingin di cap sebagai pegawai yang manja dan seenaknya hanya karena ia mengenal Jeden.
"Kau tidak perlu takut, aku sendiri yang akan bertanggung jawab. Jadi tidak akan ada pegawai yang berani mengatakan hal macam-macam padamu," pungkas Jeden supaya Lara tak perlu khawatir.
__ADS_1
"Terima kasih tawarannya, tapi aku sungguh tidak apa-apa kok! Um— kalau sudah tidak ada lagi yang dibicarakan, aku permisi kembali ke ruanganku ya," pungkas Lara yang sudah berdiri lalu berbalik pergi.
"Lara!" Seru Jeden.
"Ya?" Lara berbalik badan. "Ada yang lain lagi Tuan Jeden?"
"Um— jaga kesehatanmu."
Lara lalu tersenyum kecil. "Terima kasih atas perhatianmu Jed, aku permisi dulu."
Jeden mengepalkan tangannya lalu memukulkannya keatas meja. "Sial, padahal aku tadi mau meminta maaf soal perlakuanku dulu yang pernah memaksanya dan kasar. Tapi kenapa aku malah tidak katakan!?"
Mengingat Lara yang tadi tampak lesu, seketika tatapan Jeden pun berubah marah. Ia langsung berpikir kalau Vander tak becus menjaga istrinya sendiri. "Baj¡ngan itu, apa dia tidak bisa mengurus istrinya!" Kalau Lara terus begitu, Jeden yang beberapa hari terakhir mulai berpikir untuk melepaskan Lara tiba-tiba berubah jadi ingin merebutnya lagi dari Van. "Lihat saja! Kalau Lara sampai dibuat sedih oleh si brengsek sialan itu, aku tidak akan tinggal diam."
**
Lara yang sudah kembali ke ruangannya, lagi-lagi segera memeriksa ponselnya mengecek,apakah ada pesan atau panggilan dari suaminya. Ternyata sampai saat ini Vander belum juga menelepon, bahkan sekedara mengiriminya pesan pun tidak.
"Sepertinya Vander memang benar-benar sibuk hari ini. Sudahlah, sebagai istri yang pengertian aku tak boleh mengganggunya dan harus percaya padanya." Meskipun bibirnya berkata begitu, sebenarnya perasaan Lara mengatakan sebalikanya. Saat ini ia hanya sedang mencoba menghalau prasangka buruknya.
**
Hari berganti malam, Lara terlihat duduk di depan meja makan yang di atasnya sudah dipenuhi menu makan malam yang sudah ia masak. Lara dengan sabar terus menunggu sang suami pulang, sampai-sampai karena saking terlalu lamanya menunggu, dirinya malah jadi ketiduran di meja makan.
"Astaga, aku ketiduran! Jam berapa sekarang?" Lara langsung melihat ke arah jam dinding yang kini sudah menunjukan pukul 11.30 malam. Ia pun segera memeriksa ponselnya berharap barangkali Vander menelepon tapi dirinya tidak dengar karena ketiduran. Namun lagi-lagi harapan itu patah seketika saat ia tau di ponselnya tidak ada satupun panggilan ataupun pesan dari sang suami. Dan untuk kesekian kalinya Lara kembali mengirimi pesan kepada Vander. Ia bisa melihat kalau status pesannya sejak tadi pagi sama sekali belum dibaca oleh Vander. "Sesibuk itukah dia?" Pikir Lara.
Wanita itu iba-tiba beranjak dari kursi dan berjalan ke arah jendela apartemennya. Lara membuka tirai besar yang menutupi kaca jendela. Dirinya langsung emandangi langit yang tanpa bintang itu dari balik jendela kaca apartemennya. Tatapan Lara tampak sendu, binar matanya menunjukan rasa rindu yang berkabut dalam dinginnya sunyi.
"Vander kau dimana? Kau pasti hanya sedang sibuk saja kan? Aku janji tidak akan mengganggumu, tapi kau harus janji kalau kau akan kembali secepatnya. Aku rindu padamu Vander."
Siapapun yang mendengarnya tahu, Lara mengucapkan kata-kata itu seolah tengah menghibur dirinya yang kini sendirian, merindu, dan tengah menunggu tanpa kejelasan kapan suaminya akan kembali.
...🌿🌿🌿...
TEMEN-TEMEN JANGAN LUPA DI VOTE, LIKE, COMMENT, SHARE DAN DI LOVE. 🙏
__ADS_1