Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Suami dan Anakku


__ADS_3

Pagi harinya Vander yang baru saja membuka matanya seolah tidak mau bangun. Entah kenapa ia merasa begitu nyaman dan hangat sekali rasanya. Wajahnya seperti berada diantara benda yang sangat Lembut dan baunya enak. Ini bahkan jauh lebih lembut dari bantal sutra yang biasa ia gunakan, dan baunya sangat harum. Sampai akhirnya ia menyadari kalau kini ia berada dalam dekapan dada Lara.


"Selamat pagi tukang tidur," sapa suara lembut yang mana berasal dari wanita yang kini mendekapnya.


Vander pun mendongak dan melihat keatas, dan mengedipkan matanya berkali-kali. "Ini bukan mimpikan?" Tuturnya.


"Mimpi? Kau pikir kau masih tidur ya?" Ujar Lara menatap Vander dengan tatapan matanya yang sayu dan ekspresi wajahnya yang menggoda.


"Ah aku suka sekali tidur dipelukanmu, lain kali bisa tidak aku tidur sambil menyesap buah dadamu?"


"Dasar mesum!" Balas Lara agak malu.


"Tapi aku suka, aku ingin!" Pria itu menarik kebawah bagian dada gaun tidur Lara yang memang berpotongan rendah.


"No!" Sayangnya Lara langsung mengehtikan ulah suaminya itu.


"Kenapa?" Tanya Vander dengan sorot matanya yang polos.


Lara mengatakan kalau ini sudah pagi dan dirinya harus berangkat ke kantor.


"Kau bisa libur, kau kan istriku jadi libur saja sesukamu," jawab Vander dengan entengnya.


"Tidak bisa, bagaimanapun aku ini karyawan jadi harus profesional," ungkap Lara yang kini sudah berdiri mengenakan kiminonya dan bersiap untuk ke dapur membuat sarapan.


"Tapi kan aku masih ingin bercengkrama denganmu..," ucap Vander terdengar merajuk.


Lara menoleh menatap suaminya yang masih bergelung selimut itu dan berkata, "Kau jangan nakal ya Tuan, sekarang aku mau buat sarapan untukmu dulu setelah itu kau harus minum obat."


"Kenapa aku harus minum obat terus? Itu menyebalkan kau tahu!" Keluh Vander yang akhirnya bangun dari tidurnya. Pria yang hanya mengenakan celana tidur panjang tersebut memeluk Lara dari belakang dan menicumi lehernya.


"Kalau kau tidak minum obat, maka aku akan marah dan sedih. Apa kau ingin melihat aku marah dan sedih karenamu?"


"Tidak, aku akan menurutimu Lara."


"Anak baik, sekarang lepaskan aku karena aku mau buat sarapan untuk kita."


Vander yang sudah janji mau menurut pun akhirnya terpaksa melepaskan pelukannya.


"Suamiku sayang, kau pergilah mandi duluan, setelah itu kita sarapan bersama okey?" Ucap Lara yang kemudian mencium bibir Vander lalu tersenyum dan pergi keluar kamar.


Seketika Vander pun tersenyum senang, dan perasaannya terasa begitu hangat. Perasaan yang sudah lama tidak pernah aku rasakan, kini aku rasakan kembali. Aku sungguh ingin sekali bisa mengingat semua kenanganku dengannya dulu.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Di ruangan kerjanya, tiba-tiba saja Lara mendapati kedatangan Yuna Vergara. Tentu saja ia kaget melihat tiba-tiba saja desainer idolanya datang tanpa pemberitahuan sama sekali, ditambah saat ini Vander sedang cuti. Apa yang nona Yuna lakukan disini ya?


"Nona Yuna maaf, tapi Tuan Vander dia sedang ambil cuti jadiโ€”"


Yuna terkekeh kecil. "Nona Lara, kau ini aneh. Memangnya kalau aku datang kemari sudah pasti akan bertemu bosmu?"


"Eh? Jadi maksudnya?" Lara tidak paham dengan maksud perkataan Yuna barusan.


"Ini!" Tiba-tiba saja Yuna memberikan sebuah surat untuk Lara.


"Apa ini?"


"Baca saja, nanti kau juga akan tahu."


Lara akhirnya membaca surat tersebut, dan seketika senyumnya pun mengembang setelah membacanya.


"Bagaimana?" Ujar Yuna.

__ADS_1


"Tu- tunggu, ini- ini sungguhan? A- aku terpilih sebagai desainer yang akan ditampilkan rancangannya di acara fashion tahunan Lavioletta?" Lara sampai terbata-bata saking tak menyangka dibuatnya.


"Ya! Selamat Nona Lara!" Ucap Yuna memberi selamat dan menjabat tangan Lara.


"Terima kasih Nona Yuna, sungguh ini impianku sejak dulu. Dan akhirnya aku bisa menampilkan rancanganku bersama diacara yang sama denganmu, aku sungguh tak menyangka," ucap Lara tak bisa membendung rasa senangnya.


"Oke kalau begitu aku pamit, aku tunggu kau di kantor Lavioletta minggu depan, ciao!" Ujar Yuna yang kemudian langsung pergi meninggalkan Lara yang masih terlalu senang medapati berita itu.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Di kediamannya telihat Vander bersama Robert dan Dominic sedang membahas hal penting di ruang kerjanya. Disana ketiga pria itu terdengar sedang membicarakan soal Vander yang pada akhirnya malah bertemu lagi dengan istrinya yang padahal ia sudah hapus dari ingatannya waktu itu.


"Jadi bagaimana sekarang? Kenyataannya hanya ingatanmu saja yang hilang, sementara perasaan cintamu padanya sama sekali tidak terhapus, buktinya saja kau sudah menghapusnya dari ingatan tapi ujung-ujungnya kau jatuh cinta dengan wanita yang sama," celetuk Dominic.


Vander yang duduk di kursi kerjanya sambil melipat tangannya di dada hanya bisa menghela nafas tak menjawab. Ia merasa memang apa yang dikatan Dominic memanglah benar adanya. Vander memang tidak bisa menghapus perasaannya sama sekali dari sang istri.


"Lalu, tuan apa yang anda akan lakukan kedepannya?" Tanya Robert.


"Entah, tapi yang jelas aku harus melindungi istriku dan... Anakku."


"Apa?" Dominic melotot kaget mendengar ucapan Vander soal anak. "Anak- ka- kau punya anak juga?"


"Ya, Lara melahirkan seorang putra saat aku tidak bersamanya. Tapi... Arghh entahlah, sejujurnya aku masih belum paham dengan situasi ini. Aku masih seperti orang asing yang dipaksa menerima sesuatu yang aku bahkan tidak tahu sama sekali," pungkas Vander sambil memegangi sebelah keningnya.


"Tuan anda jangan memaksakan diri!"


"Robert benar, kau tidak perlu memaksakan dirimu mengingat dan menerima sesuatu santai saja. Lagipula, aku lihat Lara bisa memahamimu, apa dia menuntutmu untuk langsung menerima dirinya dan anaknya?" Sahut Dominic.


"Tidak, Laraโ€” dia terlalu baik, dia sangat peduli padaku. Dia bahkan memintaku tak memaksakan diri untuk mengingat masa lalu kami. Jujur, aku benar-benar merasa bersalah padanya. Diaโ€” terlalu baik," Vander tersenyumย seraya mengejek dirinya. "Aku saja heran, bagaimana bisa bajยกngan iblis sepertiku membuatnya jatuh cinta? Sementara kalian saja tahu, aku ini kurang brengsek apa?"


"Ya selain fisikmu, memang tidak ada yang bagus darimu," ucap Dominic berkelakar.


"Jadi, apa tuan ingin membuat konferensi pers tentang hubungan anda dan Nona?"


"Tujuan utamanyaโ€”"


"Ya kau benar Dom, tujuan utama Gauren adalah adalah membuat sebuah negara baru yang mana bisa ia kendalikan secara penuh. Dan jangan lupa, dia terobsesi membuat serum gila yang bisa meracuni otak manusia. Oleh karena itu dia menjadikanku sebagai bahan percobaannya," ungkap Vander yang langsung mengepalkan tangannya mengingat betapa kejinya pria itu memperlakukannya sejak kecil.


"Vander tenangkan dirimu, aku mohon jangan terlalu terbawa suasana," pinta Dominic, Dom takut trauma Vander kumat jika terlalu dalam mengingat masa lalunya yang buruk itu.


Vander pun langsung mengehal nafas perlahan agar tenang. Aku bersumpah, aku pasti akan membunuhmu Gauren!


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Di taman sekolahnya Rey yang sedang istirahat makan siang menikmati bekal bersama teman-temannya, tiba-tiba saja dihampiri oleh Leo yang tiba-tiba saja memamerkan foto dirinya bersama sang papa sedang menunggang kuda.


Alhasil semua anak yang melihat foto itu pun dibuat kagum melihatnya. Kecuali Rey, pria kecil itu tampak sama sekali tidak peduli dengan ocehan Leo yang sedang pamer saat ini.


"Lihat, kuda ini adalah milikku. Papaku yang memberikannya sebagai hadiah ulang tahunku seminggu yang lalu," jelas Leo dengan sombongnya.


"Aku juga sudah pernah naik kuda sama ayah, iyakan Jeny?" Ucap Jody.


"Iya, aku dan Jody sudah beberapa kali naik kuda bersama."


"Iya tapi bukan kuda milik kalian kan? Kalau aku kan kuda difoto ini memang milikku sendiri, kalian tahu tidak kudaku harganya sangat mahal lho, dia didatangkan langsung dari eropa."


"Wah, Leo orang tuamu sungguhan kaya raya ya?" Celetuk salah satu teman Rey bernama Haru.


"Tentu saja, aku orang kaya karena papaku sangat kaya. Aku sih tidak pernah bohong soal diriku, tidak seperti Rey yang suka bohong bilang papanya hebat, tapi mana?" Ucap Leo yang sengaja menyindir Rey.


Sayangnya Rey sendiri malah sibuk makan, seolah tidak terpengaruh dengan ucapan temannya yang menyebalkan itu.

__ADS_1


"Rey sudah jangan dengarkan Leo," ucap Jeny membela.


"Memang benar kan, Rey itu tukang bohong! Buktinya saja sampai sekarang papanya tidak pernah kita lihat!"


"Mungkin papa Rey sibuk sekali makanya tidak pernah muncul," sanggah Haru.


"Mana mungkin, bilang saja dia ituโ€”"


"Berisik!" Pekik Rey yang langsung menatap Leo dengan tatapan tajamnya.


"Ke- kenapa kau lihat aku begitu? Ka- kau mau memukulku lagi? Ka- kalau kau memukul akan aku adukan bu guru," ucap Leo tampak takut.


"Aku tidak akan memukulmu, lagipula kau lemah tidak bisa diajak berkelahi. Hanya saja aku bosan mendengar dirimu selalu saja pamer dan bicara omong kosong. Memangnya kenapa kalau tidak punya kuda sendiri dan tidak kaya raya? Apa itu dosa? Lagipula, yang kaya itu papamu bukan dirimu Leo! Dasar tukang pamer!" Ucap Rey.


Leo yang tampak kesal dengan ucapan Rey pun membalas, "Kau bicara begitu karena kau iri kan, kau iri tidak bisa sepertiku? Kau iri papamu tidak pernah begitu padamu. Kau iri karena kau sebenarnya memang tidak punya papa!"


"Aku punya papa!" Pekik Rey yang semakin kesal. "Kau tunggu saja Leo, sebentar lagi kalian semua akan lihat papaku. Yang pasti papaku sejuta kali lebih hebat dari papanya Leo!" Ujar Rey yang kemudian membawa bekalnya dan kembali masuk kelas.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Sehabis keluar dari kamar mandi, Vander yang masih hanya mengenakan handuk langsung berjalan menghampiri Lara seketika melihat istrinya itu sepertinya habis teleponan dengan seseorang.


"Kau habis menelepon siapa sayang?" Ucap Vander yang tiba-tiba saja memeluk Lara dari belakang.


"Kau baru selesai mandi, kenapa tidak pakai baju dulu?"


"Aku tidak tahan ingin memelukku, so kau belum jawab pertanyaanku, siapa yang barusan kau telepon?"


"Akuโ€” aku menelepon Rey, aku sangat rindu padanya," jawab Lara yang tidak bisa bohong kalau dirinya sangat rindu putranya.


"Oh...." Vander seketika terdiam.


Kenapa dia diam ya? Vander apa dia masih belum bisa terima kalau Rey adalah anaknya? Wajar sih kalau dia tidak suka, dia kan tidak tahu sama sekali kalau aku ternyata hamil dan punya anak, apalagi Vander pernah bilang kalau dirinya tidak terlalu suka anak kecil.


"Maafkan aku," ucap Vander.


"Eh?" Lara bingung kenapa Vander tiba-tiba minta maaf.


"Aku minta maaf karena belum bisa sepenuhnya menerima keadaan ini. Aku aku belum bisa menerima kalau aku ternyata sudah punya anak. Akuโ€” minta maaf Lara," ucapnya terdengar sedih dan marah.


Lara tersenyum kecil lalu bertanya. "Vander apa kau tidak suka pada Rey?"


"Huh?" Vander kaget dengan pertanyaan Lara. "Kenapa kau tanya begitu?"


"Aku hanya takut kau tidak suka pada Rey, sementara Rey begitu menyukaimu."


Vander semakin erat memeluk sang istri. "Aku tidak membencinya sama sekali, aku hanya sedang butuh waktu menerimanya. Aku pun tidak mau berpura-pura didepannya menjadi ayahnya namun hatiku belum sepenuhnya menerima. Tapi percayalah, aku tidak membencinya. Aku menyukai Rey bukan hanya karena dia anakmu, tapi karena aku memang sejak pertama melihatnya aku menyukainya."


"Terima kasih, aku yakin Rey akan senang sekali kalau nanti dia tahu kau sungguhan papanya yang ia tunggu kehadirannya selama ini."


"Lara..."


Vander membalik tubuh Lara menghadapnya. "Ada apa?"


"Besok kan akhir pekan, ayo kita temui Rey, aku juga ingin melihatnya. Aku kebetulan juga sudah anji bertemu dengannya lagi. Kau mau kan?"


"Ya aku mau!" Mata Lara pun berkaca-kaca dan langsung memeluk suaminya. "Terima kasih Vander..."


Meski perlahan aku semakin yakin suatu hari nanti keluarga kami pasti akan bersatu dengan semestinya. Suamiku dan anakku, mereka adalah hartaku yang paling berharga.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS ๐Ÿ™


__ADS_2