
Di ujung barat daya kota ZR, Gavin yang diminta menyelidiki markas Gauren diam-diam, tampak memantau tempat itu dari jauh. Dari atas motor yang ia tunggangi, Gavin meneropong dari jauh area yang tampak dijaga oleh beberapa orang diluar itu dengan seksama.
"Tidak salah lagi, itu pasti markasnya. Apalagi tempat ini sangat jarang dilewati masyarakat umum." Gavin meletakan teropongnya lalu mengeluarkan ponselnya, dan mengambil beberapa gambar tempat itu untuk ia kirimkan pada Vander. "Aku harus segera memberitahukan tempat ini pada kakak," ujarnya bersiap meninggalkan tempat itu.
Namun sial, saat Gavin mau pergi, ia malah kepergok oleh Mez, tangan kanan Vander yang baru saja tiba
"Hei siapa kau!" Mez berteriak pada semua penjaga untuk waspada.
"Sial, aku ketahuan." Untungnya Gavin sudah memakai lengkap atribut naik motornya, sehingga ia bisa segera melesat pergi menunggangi motornya menghindari Mez.
"Kurang ajar, dia kabur. Tapi siapa orang itu ya? Aku yakin dia pasti mata-mata, aku harus segera memberitahu tuan Gauren segera," pungkas Mez langsung menyuruh penjaga semua kembali waspada dalam penjagaan.
Setelah dirasa aman, Gavin menurunkan kecepatan laju motornya tersebut dan menghela nafas. "Hampir saja aku tertangkap tadi, gila....! Penjagaannya ketat sekali, benar-benar harus waspada saat mengintai."
...πππ...
Saat ssedang meeting, Vander tampaknya tidak terlalu fokus, karena masih kepikiran dengan istrinya tadi. Ia yang sangat jarang bahkan hampir tak pernah membentak Lara, seketika jadi merasa agak tidak enak hati dibuatnya saat ini.
"Tuan Vander, tuan?" panggil salah satu bawahannya saat meeting.
"Oh maaf, sepertinya aku agak melamun hari ini. Jadi soal projek yang akan dijalin bersama salah satu perusahaan besar amerika tolong pelajari lagi. Dan aku rasa hari ini meetingnya cukup sampai disini dulu, jadi silakan kalian semua kembali ke ruangan masing-masing," ucap Vander menutup meetingnya hari ini.
Setelah semua bawahannya keluar ruangan meeting, Vander yang hanya tersisa bersama asistennya itu pun ditanya oleh Robert. "Tuan, anda kenapa? Apa anda masih kepikiran dengan nona Lara?"
"Ya itu salah satunya, aku hari ini agak tidak fokus memikirkan banyak hal. Ditambah lagi Gavin belum melaporkan apapun padaku tentang pengintaiannya hari ini."
"Tuan, kalau soal nona lebih baik anda minta maaf duluan saja, karena setahuku hormon wanita yang sedang hamil memang seringkali tidak stabil, dan jika berlarut-larut dibiarkan aku takut malah tidak baik untuk kesehatan ibu dan bayinya."
"Kau benar Robert, sepertinya aku memang harus buat permintaan maaf untuk Lara."
"Dan untuk masalah markas Gauren, aku rasa tak lama lagi tuan Gavin akan menghubungi anda."
Dan benar saja, tak lama kemudian Vander langsung mendapati panggilan dari Gavin.
Vander : Halo, bagaimana?
Gavin : Kak, aku sudah tau jelas lokasi lab Gauren berada, dan aku akan kirimkan gambar lokasinya ke ponselmu.
Vander : Kerja bagus,
Gavin : Tapi kak, ada sedikit masalah.
Vander : Apa?
Gavin : Tadi aku hampir saja ketahuan oleh anak buah Gauren. Untungnya aku sudah pakai helm jadi mereka tidak tahu wajahku.
Vander : Kalau begitu bakar saja motormu, atau sembunyikan. Karrna bukan tidak mungkin mereka tetap akan mencarimu lewat jenis motor dan nomor kendaraannya.
Gavin : Ah baiklah kalau memang harus begitu... (Pasrah)
Vander : Kalau begitu sebaiknya kau jaga diri dan istrimu saja baik-baik, sisanya aku akan urus soal markasnya. Dan satu. lagi, jangan lakukan apapun yang ada hubungannya dengan Gauren tanpa ada perintah dariku.
Gavin : Baik kak.
__ADS_1
Vander lalu membuka beberapa gambar foto lokasi markas Gauren yang baru saja dikirimkan Gavin.
"Jadi ditempat ini pria tua itu bersembunyi?" Vander merasa harus bergerak cepat, untuk menghentikan semua kegilaan Gauren, kalau tidak kota ini bisa kacau. Tapi sebelum itu, Vander harus segera selesaikan urusannya dengan sang istri, ia harus segera berbaikan dengan Lara agar setelahnya ia bisa tenang melakukan hal apapun.
Vander bangkit dari kursi duduknya dan mengajak Robert pergi. "Ikut aku!"
"Tuan mau kemana anda?"
"Melakukan misi berbaikan dengan istri."
...πππ...
Sementara di kamarnya, Lara tampak masih jengkel dengan sikap suaminya tadi. Jujur, ia tak menyangka kalau Vander akan bicara begitu keras padanya saat marah. "Keterlaluan kau Vander, huft..." Keluh Lara hanya bisa pasrah sambil memasang wajah murung.
Tak sampai lima menit, tiba-tiba saja bibi Frida datang sambil membawakan cemilan buah untuk Lara.
"Nyonya silakan kau makanlah buah-buahan ini dulu," ucap Frida berharap Lara akan kembali baik-baik saja setelah makan buah-buahan itu. Lara pun akhirnya memakan buah-buahan itu sambil mengeluh soal sikap Vander tadi.
"Nyonya maaf bukan aku ingin ikut campur, tapi aku rasa tuan melakukan hal itu karena rasa sayang tuan yang begitu besar pada nyonya. Sama halnya saat nyonya memarahi tuan kecil karena sayang. Jadi aku harapa nyonya jarang terlalu kesal dengan tuan."
Lara termenung dan berpikir kalau, memang betul apa yang dilakukan oleh Vander tadi pasti untuk kebaikannya. Hanya saja, ia mungkin agak syok melihat Vander yang tiba-tiba saja malah membentaknya dengan keras.
"Nyonya, tuan itu sangat amat menyayangi anda dan tuan kecil. Jadi aku rasa anda tidak perlu terlalu marah padanya, anda dan tuan hany harus lebih saling memahami saja. Aku yakin tuan pasti saat ini menyesal karena sudah membentak anda tadi."
"Ya kau benar bibi, mungkin karena salahku juga yang terlalu manja, sampai-sampai aku selalu ingin dipahami tanpa aku mau memahami suamiku."
"Tidak apa nyonya, dalam berumah tangga memang akan ada riak-riak yang akan menghiasi kehidupan kalian sebagai suami istri. Selanjutnya tinggal bagaimana pasangan itu menghadapinya. Dan aku yakin kalian bisa, karena nyonya dan tuan, kalian saling mencintai."
"Terima kasih nasihatnya ya Bi, aku jadi lebih lega rasanya."
Selang beberapa menit, Lara pun mendapati pesan permintaan maaf dari suaminya.
Dari suamiku tersanyang.
Lara sayang, aku minta maaf sudah membentakmu tadi. Kumohon jangan marah padaku lama-lma, aku tak bermaksud kasar padamu, maaf ya sayangku... (Emot memelas)
Lara tersenyum. "Dasar Vander, dia tau saja aku paling tidak bisa marah padanya lama-lama kalau sudah memelas."
Lara pun segera membalas chat dari suaminya itu. suaminya
^^^Kau tahu Vander, aku paling tidak bisa marah padamu kalau kau sudah mode merayu seperti anak kecil. Sudahlah aku sudah memaafkanmu, aku juga minta maaf karena tak mau menurut padamu.^^^
Sayangnya baru mau dikirim, ponsel Lara malah keburu mati duluan.
"Aduh... kenapa ponselnya mati sih!" Kesal Lara. Ia pun segera meminta Frida membawakan ponselnya untuk dicharge. Dan tak lama kemudian, terdengar suara bel yang mana adalah kurir yang datang ke apartemen Lara. Frida pun segera bergegas keluar untuk menemui kurir itu dan ternyata kurir itu mengantarkan bucket bunga untuk Lara.
Seteleh menerima buket itu, Frida pun langsung ke kamar Lara untuk memberitahukan hal itu. "Nona anda lihat ini, tuan mengirimi anda buket bunga mawar."
"Benarkah?" Lara langsung sumringah dan bergegas mengambil bucket mawar merah jambu itu dari tangan Frida.
"Tuan romantis sekali ya..."goda Frida.
Lara pun senyum-senyum dibuatnya, Vander memang paling pandai melakukan hal romantis.
__ADS_1
"Nona dibuket itu ternyata ada suratnya juga," tandas Frida.
"Oh iya, apa ya isinya...?" Lara pun penasaran dan langsung membaca isi surat yang terselip di buket bunga itu.
Disana tertulis, Lara diminta agar datang ke taman belakang apartemen, karena ada kejutan disana. Saking senangnya Lara pun segera memakai cardigannya lalu mengajak Frida menemaninya ke taman belakang area apartemen.
"Nyonya hati-hati..."
"Bibi, ayo cepat! Aku penasaran sekali suamiku mau memberiku kejutan apa!" tandas Lara tak sabar
"Iya... Iya... tapi nyonya tidak. perlu tergesa-gesa begitu."
...πππ...
Di mobilnya Vander masih menunggu istrinya yang tak kunjung membalas segera chat permintaan maafnya itu. Sampai saking kesalnya ia pun menelepon Lara namun sayang ponselnya ternyata malah mati.
"Wanita itu, apa dia serius marah padaku? Keterlaluan!" Keluh Vander kesal.
"Tuan mungkin nona mau menguji anda."
"Menguji? Menguji apaan?! Dia pasti sengaja mau buat aku naik pitam, huh Lara kalau tidak sedang hamil sudah kuhukum kau tak keluar kamar seharian!" Sahut Vander yang meski kesal namun tak bisa berbuat banyak. "Huh, sudahlah Robert, cepat kau bawa aku ke toko bunga, aku akan belikan dia bunga kesukaannya."
"Baik tuan."
Kita lihat saja, apa kau masih berani marah padaku Lara?
Setelah membeli bunga mawar merah kesukaan Lara, Vander pun langsung meminta Robert agar segera ke kediamannya. Ia tidak sabar ingin mengejutkan istrinya, namun saat itu juga ia malah mendapati telepon dari Tori yang tedengar panik.
Vander : Halo ada apa Tori?
Tori : Tuan- nyonya, nyonya menghilang, dia tidak ada di semua area apartemen dan ponselnya pun juga tidak dibawa. Aku rasa nyonya diculik.
Vander : Sekarang juga kau suruh penanggung jawab apartemen menyisir seluruh area Caelestis Garden, dan periksa semua cctv disana aku akan segera pulang.
Tori : Baik tuan.
Vander yang murka seketika meremukan buket bunga ditangannya. Ia pun meminta Robert segera ngebut menuju apartemen. "Siapa yang berani me
"Tuan ada apa memang, kenapa anda ma- rahβ"
"Jangan banyak tanya, lajukan saja mobilnya secepat mungkin!" Tegas Vander yang jelas terlihat murka saat ini.
"Baik tuan," Robert pun tak berani membantah dan langsung menaikan laju mobilnya secepat mungkin menuju Caelestis Garden.
...πππ...
Di markas, Mez yang datang menemui Gauren langsung melaporkan kalau tadi ia sempat memergoki ada seseorang yang mengintai markas mereka.
"Orangnya mengendarai motor dan mengintai dari luar markas. Sayangnya saat aku memergokinya dia dengan cepat bisa melarikan diri," jelas Mez.
"Hmm... Itu pasti orangnya Vander, tidak kusangka dia secepat ini tahu keberadaan markasku. Tapi its okey, karena setelah ini aku pastikan dia akan semalin dibuat pusing dan kalang kabut. Aku jadi semakin tidak sabar melihatnya kewalahan." Gauren tersenyum jumawa.
...πππ...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS