Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Percaya padaku


__ADS_3

Hari ini Eiji terlihat datang menemui Vander di ruangannya, untuk membicarakan terkait pembangunan resort yang semakin baik saja progressnya.


"Aku rasa kalau cara kerjanya konsisten seperti ini, mungkin tidak sampai tiga bulan sudah bisa selesai semua pembangunannya," ungkap Eiji.


"Bagus, kalau ada yang kiranya kau butuhkan tolong langsung hubungi saja aku."


"Tentu tuan Vander, anda juga jika ada komplen dengan kinerja tim dari perusahaan kami silakan bicara padaku."


Beberapa saat kemudian datanglah Lara yang membawa nampan berisi secangkir teh diatasnya.


"Permisi, silakan diminum teh nya tuan Eiji," ucap Lara sambil menyuguhkan secangkir teh kepada teman sekaligus klien suaminya tersebut.


"Terima kasih nona Lara, hari ini anda sangat cantik seperti biasanya," balas pria itu sambil menatap sekretaris Vander yang hari ini mengenakan dress berwarna cukup terang. Dipuji begitu oleh Eiji di depan Vander Lara seketika punya perasaan tidak enak.


"Te- terima kasih pujiannya, kalau begitu aku permisi dulu.." Lara kemudian segera pergi dari sana.


"Sepertinya tuan Eiji sudah belajar bagaimana cara menggombali wanita," ujar Vander seraya menyindir rekan bisnisnya itu.


"Begitukah menurut anda? Tapi yang barusan aku katakan tentang sekretaris anda itu fakta bukan gombalan. Nyatanya sekretaris anda memang sangat cantik, sampai-sampai bosnya pun jadi agak posesif."


Vander langsung menatap ke arah Eiji yang duduk berhadapan dengannya. "Haruskah kita membahas hal di luar pekerjaan tuan Eiji Hartman?"


"Tergantung, aku ini orangnya hanya mengikuti arus orang jadi lawan bicaraku," balas Eiji yang kemudian menyesap tehnya.


"Oh ternyata kita berlawanan, kalau aku justru suka sekali yang nqamanya melawan arus. Semakin deras arus makan akan makin seru untuk diterjang." Lagi, Vander memberi tatapan pada Eiji seolah memberi penekanan.


"Melawan arus?" Eiji tersenyum kecil, "Termasuk melawan derasanya rumor anda dengan seorang model itu?"


Vander setengah tertawa. "Tidak aku sangka, ternyata tuan Eiji suka mengikuti berita macam begitu juga."


"Tuan, anda sangat terkenal, aku rasa anda cocok jadi selebriti dan punya pacar sesama selebriti. Pasti anda akan jadi bintang besar."


"Terima kasih pujiannya, tapi maaf aku tidak tertarik dengan selebriti."


"Lalu kau tertarik dengan siapa? Dengan wanita cantik yang bukan artis atau sejenisnya kah?"


Vander menyeringai. "Kau sepertinya sedang mencoba mendeklarasikan perang denganku ya?"


"Tidak, aku hanya penasaran saja tipenya tuan Vander seperti apa dan siapa."


"Tipeku sepertinya sama dengan selera tuan Eiji," balas Vander.


"Jadi begitu," Eiji tersenyum getir. "Baiklah, sepertinya aku harus pamit pergi karena masih ada pekerjaan lain."


Eiji kemudian bangkit dari duduknya dan pamit pergi meninggalkan ruangan Vander.


Vander lalu mengantar Eiji keluar ruanganya. Namun sebelum Eiji benar-benar keluar dari ruangan itu, ia kembali menoleh ke arah Vander.


"Ada apa?" Tanya Vander.


"Aku ingin katakan padamu satu hal, bukan sebagai Eiji Hartman yang kolega bisnismu, melainkan sebagai pria pada umumnya. Aku minta padamu, tolong jangan buat Lara sulit, hidupnya sudah banyak mengalami kesulitan di masa lalu. Kalau kau ingin lihat dia bahagia lebih baik kau berhenti memberinya sebuah harapan."


Vander hanya tersenyum datar. "Bukan kau atau aku yang menentukan kebahagiannya. Lara tahu yang terbaik baginya, dan kau juga tidak perlu repot menceramahiku, karena kau bukan siapa-siapanya. Jadi aku harap tuan Eiji, berhentilah ikut campur urusanku dengan Lara, karena kau sama sekali tidak berhak."


Mata Eiji menatap tajam ke arah Vander yang ada di hadapannya. "Kau memang terlalu dominan dalam hal apapun, tapi aku tidak akan tinggal diam. Aku tidak akan membiarkan siapapun membuat Lara menderita lagi. Permisi..."


Eiji akhirnya pergi meninggalkan ruangan Vander.


"Kau hanya tidak tahu dengan siapa kau berani bicara begitu Eiji Hartman."


...🍁🍁🍁...


Di kedai kopinya, Mira yang tengah melayani pembeli entah mengapa merasa aneh dengan salah satu pengunjung kedainya. Di salah satu meja dekat jendela, seorang pria yang mengenakan jaket dengan penutup kepala, sejak tadi terlihat sendirian disana dan tidak kunjung keluar padahal sudah lebih dari dua jam minumannya habis. Pria itu kenapa agaknya mencurigakan begitu? Sepertinya dia sedang mengawasi sesuatu.


Karena takut pria itu punya niat buruk, Miranda pun menelepon suaminya agar segera datang ke kedai.


Gavin : Ada apa istriku?


Mira : Gavin kau bisa ke kedai sekarang?


Gavin : Ehβ€” memang ada apa? Aku sebenarnya masih harus mengecek salah satu mobil klienku dulu.


Mira : Sudah itu nanti saja, sekarang kau datang kesini. Aku lihat ada pria yang mencurigakan di kedai kita.


Gavin : Apa mencurigakan? Oke baiklah istriku aku segera kesana!


Mira : Oke.


Gavin akhirnya segera beres-beres dan bersiap pergi menuju ke kedai kopi miliknya.


"Kak Gavin ada apa?" Tanya pegawai bengkel milik Gavin.


"Aku ada urusan penting, kalian tolong jaga bengkel dengan baik," tandas Gavin yang kemudian langsung menunggangi motor sportnya dan bergegas pergi.


"Hati-hati kak!"


Dan selagi menunggu Gavin tiba, Miranda yang berada di kedai masih terus memperhatikan gerak-gerik pria mencurigakan tersebut.


Pria itu sebenarnya mau apa sih! Kenapa dia terus saja melirik ke arahku atau tidak ke arah pintu masuk, sebenarnya apa yang dia cari?


"Bu Manajer, kenapa dari tadi kau terus melihat ke arah pria disana?" Pungkas salah satu pegawai di kedai Miranda.


"Aku melihat pria itu sejak tadi tidak pergi, dan gerak geriknya mencurigakan. Apa sebelumnya, kalian pernah lihat dia sering kemari?"

__ADS_1


"Tidak tahu, lagipula wajahnya saja tertutup penutup kepala mana kita tahu."


......................


Akhirnya Gavin tiba juga di kedai, setelah parkir motor ia pun buru-buru masuk untuk menemui istrinya, namun saat baru mau masuk dirinya malah harus bertubrukan dengan pria yang mengenakan jaket dengan penutup kepala.


"Maafkan aku ya," ujar Gavin karena merasa bersalah tidak hati-hati. Sayangnya pria itu malah tak membalas apa-apa dan malah buru-buru pergi seolah ingin menghindarinya.


"Orang itu aneh, tapi kenapa rasanya aku seperti tidak asing ya dengannya?" gumam Gavin.


Setibanya di dalam kedai, Gavin langsung menghampiri istrinya dan bertanya dimana pria yang ia maksud mencurigakan itu.


"Sayang sekali dia baru saja pergi."


"Oh... Apa pria yang kau maksud adalah pria yang pakai jaket dan penutup kepala rapat itu?"


"Iya, kau melihatnya Gavin?"


"Ya, tadi kami sempat bertabrakan, dan dia bersikap aneh seperti ingin buru-buru pergi menghindariku."


"Kok aku jadi semakin yakin kalau pria itu punya niat tertentu ya?" Ungkap Miranda.


...🍁🍁🍁...


Pria berjaket dengan penutup kepala itu akhirnya melepas penutup kepalanya setelah pergi jauh dari kedai Miracle.


"Sial! Ternyata aku hanya buang-buang waktu saja disana! Hampir saja aku ketahuan pria bodoh temannya Vander itu," ucap pria yang tidak lain adalah Jeden. Tujuan Jeden sendiri datang ke kedai Mira adalah, ia ingin mata-matai Lara. Hal itu karena info yang ia dapat mengatakan kalau Lara cukup sering ke Miracle, sayang hari ini wanita itu tidak datang. Alhasil rencana Jeden gagal dan ia pun marah-marah. "Argh!" Jeden langsung meninju pohon yang ada didekatnya karena saking emosi, namun pada akhirnya ia malah kesakitan sendiri.


Disana Jeden seketika mendapati panggilan dari Cindy. Karena tangan kanannya nyeri dan sakitkatena meninju pohon, Jeden pada akhirnya mengangkat panggilan itu dengan tangan kirinya.


Jeden : Halo, bagaimana apa kau sudah buat threadnya seperti yang kuminta?


Cindy : Ya aku sudah buat dan sudah aku posting ke sosial media. Ingat ya tuan, kau harus melindungi identitasku!


Jeden : Kau tenang saja, semua aman ditanganku. Sekarang kita lihat saja, kurang dari dua pulun empat jam, aku yakin jagat media aka geger.


Cindy : Aku sudah tidak peduli hal itu, yang aku pedulikan hanya keselamatanku. Kalau begitu sudah ya, bye!


Jeden tersenyum puas, bahkan sangking puasnya ia sampai agak sejenak lupa kalau tangan kanannya sakit dan terluka.


...🍁🍁🍁...


Dan benar, belum ada satu jam yang lalu thread palsu karangan Cindy diposting di media sosial, berita itu langsung naik jadi salah satu trend terpopuler saat ini. Terutama dikalangan pegawai Laizen grup, semua karyawan sampai heboh membicarakan thread itu. Termasuk Olga dan Jeha teman kantor Lara, keduanya yang tengah istirahat di kantin perusahaan tampak syok dengan thread tersebut.


"Wah Jeha, ini sih gila sekali!"


Di threadnya wanita anonim itu bilang, kalau tuan Vander pernah memiliki hubungan dengan seorang wanita pekerja kelab malam, bahkan hubungan mereka cukup serius hingga membuat wanita itu hamil. Dan disana juga anomin menulis kalau dengan kejinya tuan Vander malah memaksanya menggugurkan kandungan itu dan memberinya sejumlah uang agar segera pergi jauh dari kota ZR.


"Aduh kalau ini benar, aku tidak menyangka ternyata bos kita sekejam itu," tandas Olga.


Tak hanya Jeha dan Olga, hampir seluruh karyawan di Laizen Grup di berbagai cabang pun ikut memberi tanggapan yang beragam, bahkan ada yang memberikan sumpah serapah, terutama kaun wanita yang mengagumi Vander langsung kecewa berat dengan berita itu.


...🍁🍁🍁...


Di kedai Miracle pun begitu, termasuk Gavin dan istrinya Mira. Mereka benar benar syok dan tidak percaya dengan thread rumor ittu.


"Kalau ini sih sudah parah sekali, tidak bisa dibiarkan. Ini namanya fitnah secara masif, dan bodohnya mereka yang hanya baca berita saja seenaknya berkomentar kata-kata sampah pada kak Vander!" Seru Gavin yang tidak terima Vander di fitnah dan di ujari kebencian seperti itu.


Di salah satu postingan berita yang memuat berita itu terlihat sudah hampir lima ribu komentar membanjiri, dan hampir 70 % komentarnya adalah komentar yang buruk.


-Ternyata orang tampan dan kaya raya itu semuanya bejat!


-Kasihan wanita itu harus hidup dalam tekanan pria sinting yang punya kuasa.


-Kalau dia tidak mau bertanggung jawab, kenapa ia menghamilinya? Dasar Vander bodoh!


-Nona Emily apa dia yakin akan berkencan dengan tuan Vander yang jahat itu? Bisa jadi dia korban berikutnya.


-Tuan Liuzen sangat tampan, tapi sifat aslinya membuat dia jadi terlihat menjijikan.


-Hanya karena dia punya segalanya jadi bisa seenaknya, dasar Vander brengsek! Bagaimana mungkin Emily Hasaki mau dengan pria psikopat itu!'


-Lebih baik aku, meski tidak kaya, dan setampan dia setidaknya aku tetap punya hati hahaha


"Aku muak melihat ocehan warganet tolol yang tidak tahu apa-apa itu berkomentar."


"Ah ya kau benar, tapi kan Gavin, selama empat tahun ini kita tidak pernah bertemu Vander, ya hal itu mungkinβ€”"


"Mira! Aku kenal kakak, dia meskipun brengsek dan kejam, dia tidak pernah sekalipun mempermainkan wanita apalagi berbuat sekeji itu!" Tandas Gavin dengan nada tinggi.


"Iya maaf aku tidak bermaksud kok," sesal Mira.


...🍁🍁🍁...


Sementara di ruangannya, Lara yang sejak tadi sibuk menolak telepon dari para awak media yang menghubunginya terus pun mulai kewalahan, alhasil Vander malah langsung menarik kabel sambungan teleponnya.


Vander yang kini duduk di kursi kerjanya, sepertinya mulai agak terusik dengan segala pemberitaan ngawur di luar sana.


Meskipun ia terlihat tenang, namun Lara tahu kalau suaminya itu saat ini pasti juga sedang pusing, karena bagaimanapun berita ini benar-benar akan berdampak pada sektor usahanya juga.


Ingin mencoba menenangkanya Lara pun menghampiri sang suami dan langsung bertanya, "Kau baik-baik saja Vander?"


Vander yang duduk dikursinya mendongak menatap Lara yang berdiri hadapannya lalu balik bertanya, "Lara kau percaya padaku kan?"

__ADS_1


"Iya, aku percaya padamu. Aku tahu dirimu, kau tidak mungkin seperti itu."


Vander lalu tersenyum tipis dan langsung memeluk Lara yang berdiri di hadapannya.


"Eh, Vander?"


"Kau tenang saja Lara, selagi kau percaya padaku itu semua sudah cukup. Sekarang yang aku butuhkan hanya ketenangan sejenak. Tolong peluk aku..."


Lara pun mendekap Vander dalam pelukannya yang hangat. Berada dalam dekapan tubuh sang istri adalah hal yang memang paling Vander butuhkan saat ini. Hangat, tenang, dan nyaman, hal itu setidaknya yang Vander rasakan saat ini.


Apa yang bisa aku lakukan untukmu saat ini? Aku juga ingin melindungimu Vander, rintih Lara dalam hatinya. Semakin aku melihat bagaimana caramu menghadapi semua tuduhan ini, entah kenapa aku malah semakin percaya pada Vander, aku tahu dia tidak akan mungkin sengaja ingin menggugurkan anaknya sendiri. Lara kemudian melepaskan pelukannya dan berkata, "Aku lelah jika harus berdiri dan memelukmu begini. Sekarang kau matikan ponselmu dan turuti yang aku katakan."


"Lara ka- kau?"


"Ssttt... Turuti saja apa yang aku katakan, okey?"


Vander pun mengangguk dan menurutinya.


Setelah mematikan ponselnya, Lara kemudian mengajak suaminya itu duduk disofa panjang yang ada di ruangan mereka.


"Lara kau mau apa?"


Lara yang duduk disebelah Vander langsung meminta agar suaminya itu berbaring di pangkuannya. Pria itu pun tentu saja langsung menurutinya, setelah itu Lara tiba-tiba melepas kancing kemejanya hingga membuat gumpalan daging kembar yang bulat padat itu nampak jelas seperti buah melon yang ranum dan menggugah selera.


Tanpa perlu diberi tahu Vander yang langsung tahu apa maksud sang istri pun segera menyesap buah itu.


"Ya saat ini anggap saja dirimu bayi biasa yang tidak perlu memikirkan apapun diluar sana. Fokus hanya padaku, Vander..."


Ini memang agak memalukan, tapi hanya ini yang aku bisa lakukan untuk suamiku sementara, setidaknya sampai ia benar-benar tenang dan bisa berpikir lebih jernih menyelesaikan semua ini.


"Egh!" Rintih Lara saat suaminya menggigit ujung buah dadanya.


Setelah puas menyesapi kedua buah itu, Lara langsung menyuruh Vande berbaring disofa, ia langsung menanggalkan seluruh pakaian suaminya itu. Dengan tatapannya yang menggoda Lara yang baru saja selesai membuka seluruh pakaiannya pun duduk diatas perut sixpack sang suami.


"Lara... Aku tidak tahan lagi, biarkan aku memakanmu," ucap Vander dengan tatapan polosnya.


"Aku tahu kau sudah tidak sabar, oleh karena itu biarkan aku yaβ€”nghh!"


Tiba-tiba saja Vander bergerak dan membalik posisinya. Pria itu kini berada diatas tubuh Lara dan berkata, "Maaf sayang, tapi aku tidak bisa sesabar dan setabah dirimu. Jadi biar aku saja..."


Lara tersenyum lalu melingkarkan tangannya di leher sang suami, "Aku tahu, sekarang lakukan apapun yang kau inginkan padaku. Aku milikmu seutuhnya..."


"Lara aku mencintaimu..."


"Hhh..."


Mereka pada akhirnya sejenak mengabaikan semuanya dan memilih menikmati percikan gairah cinta dari keudanya tanpa peduli hal lain.


...🍁🍁🍁...


Dan di kediamannya, Jeden yang sejak tadi sibuk memantau berita di media sosial tampak tertawa girang karena telah merasa sukses membuat citra Vander tampak buruk dimata masyarakat saat ini. "Akhirnya, aku bisa melihat pria itu dihujat dan dihina oleh banyak orang haha..!"


Suasana hati Jeden pun semakin bertambah riang, saat ia melihat berita di televisi yang memberitakan, kalau saham Laizen di bursa dunia seketika menurun cukup banyak sejak berita itu beredar, bahkan diberitakan juga beberapa aktifis sosial telah membuat petisi untuk memboikot produk Laizen grup, terutama produk yang erat dengan wanita. Hal itu karena mereka menganggap perbuatan Vander yang telah menyuruh kekasihnya menggugurkan kandungan secara paksa, adalah bentuk kekerasan dan pelanggaran hak pada wanita.


Jeden pun semakin tertawa bahagia. "Ayo masyarakat bodoh, terus goreng beritanya, semakin besar dan melebar semakin bagus, dan aku pun akan bisa segera membuat Vander busuk itu jatuh sampai ke jurang."


...🍁🍁🍁...


Setelah puas bercinta dan melihat suasana hati suaminya lebih tenang, Lara yang baru saja selesai berpakaian pun bertanya, "Jadi, apa yang akan kau lakukan? Sepertinya diluar sana beritanya semakin kacau."


Vander tersenyum kecil lalu menatap sang istri. "Kau tenang saja, aku sudah punya rencana.


"Syukurlah kalau kau sudah punya rencana."


"Itu semua berkat istriku yang hebat, terima kasih ya telah memberikanku kekuatan hingga percaya diriku jadi semakin tinggi. Sekaranga aku lebih semangat menghadapi semua ini!" ucap Vander.


"Itu sebabnya aku harus selalu ada disisimu kan?"


Vander mendekati istrinya dan mengecup bibirnya. "Sekali lagi terima kasih sayang."


Tak lama Robert pun datang menghampiri Vander di ruangannya.


"Eh maaf, maaf tu- tuan a-aku tidak berma-ksud..." Robert yang datang tergesa-gesa alhasil malah harus melihat tuannya itu sedang berciuman dengan sang istri.


"Tidak masalah," Tandas Vander. "Robert, sekarang juga kau kumpulkan nama-nama media baik media besar ataupun kecil, lokal ataupun internasional yang sudah ikut menyebarkan berita thread sampah itu!"


"Baik tuan, lalu apa lagi tuan?"


"Setelah itu kau suruh mereka take down semua berita sampah terkait rumor apapun tentangku. Dan jika mereka tetap tidak mau juga, terpaksa aku minta IT dari Crux yang membobol sistem mereka."


"Baik tuan, lalu soal penyebar thread itu..."


"Itu urusanku, aku sendiri yang akan cari tahu manusia busuk yang sudah berani mengusikku. Dia harus tau siapa lawan yang dia hadapi."


"Baiklah kalau begitu aku permisi," ucap Robert lalu pergi.


"Um- tapi Vander, orang-orang pegawai bagaimana dengan mereka?" ungkap Lara yang khawatir kalau pegawai akan melakukan aksi seperti demonstrasi kepada Vander


"Kau tenang saja, soal karyawan bagaimana pun mereka tidak sepenuhnya salah. Mereka hanya terkena propaganda media saja, dan jika aku sudah dapatkan orang yang bertanggung jawab atas semua thread itu, aku yakin mereka semua pasti akan segera berubah pikiran. Kau tidak usah khawatir aku selalu lebih cerdas dari musuhku."


"Ya, aku percaya kok kalau suamiku memang sangat hebat."


Lihat saja kau, orang yang kini tengah diam-diam terus menyerangku dan mengintaiku, tidak lama lagi akan kubuat kau keluar dari sarang persembunyianmu dan masuk perangkapku!

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS πŸ™


__ADS_2