
Lara seketika tecengang dibuatnya melihat apa yang ada dihadapannya saat ini. "Naomi ini...?" Ia melihat ke arah Naomi dengan wajah bingung penuh tanya.
"Ini tempat anda melaksanakan ucapara pemberkatan nona," ungkap Naomi sambil tersenyum.
Benarkah itu?
Lara melangkah mendekati area perkebunan yang sudah didekor dengan indah. Bunga-bunga musim gugur yang menggantung dengan cantik, dikelilingi pohon apel yang daunya mulai berguguran. Kursi-kursi yang berbaris dengan rapi dengan balutan serba putih dan pita warna rosegold. Meja panjang berisi banyak makanan, serta kue pernikahan yang sudah memejeng kokoh dengan cantiknya. Dan yang terpenting adalah, sebuah altar pernikahan yang berhiaskan berbagai bunga dimusim gugur nampak terlihat jelas di depan netranya.
"I- ini, ini sungguh tempat untukku?" Lara seolah masih belum percaya.
Melihat dekorasi tempat ini seraya menggambarkan tempat pernikahan yang pernah ia impikan selama ini. "Ya Tuhan, apa ini hanya mimpi?"
"Ini bukan mimpi Lara," sahut Miranda yang tiba-tiba saja muncul mendekatinya.
"Miranda kau?"
Wanita itu hanya tersenyum lalu menggandeng tangan Lara dan mengajaknya untuk bersiap.
"Eh bersiap untuk apa Mira?" Lara semakin bingung dengan maksud perkataan temannya itu.
"Tentu saja bersiap untuk pemberkatanmu!"
"Tu- tunggu ma- maksudmu ini..."
Miranda mengedipkan satu matanya sambil berkata, "Kau ikuti saja aku oke!"
Wanita itu pada akhirnya menurut pada Miranda.
Di sebuah ruangan, Lara akhirnya mengganti bajunya tadi dengan gaun pernikahan berwarna putih gading dengan lengan sabrina pendek. Gaun itu berhiaskan manik-manik berlian dengan motif siluet bunga yang cantik.
"Ah kau sangat-sangat cantik Lara, kau benar-benar cocok dengan gaun itu!" Seru Miranda takjub.
"Benar, nona sangat cantik!" Imbuh Naomi.
"Terima kasih, tapi aku agak bingung, kenapa gaun ini sepertinya mirip dengan gambar gaun yang aku buat?"
"Umβ soal itu kau tanyakan sama suamimu saja deh. Soalnya aku juga tidak diberitahu olehnya."
Jadi? Ini semua idenya Vander? Dia itu gila tapi romantisnya tiada tanding.
...
"Sudahlah, sekarang saatnya make up! Karena kau aslinya sudah cantik aku rasa flawless make up adalah pilihan terbaik," tandas Miranda yang langsung meminta MUA untuk merias wajah Lara dengan sebaik mungkin.
...πππ...
Sementara itu di ruangan pengantin pria, Vander yang baru saja selesai berganti jas pengantin berwarna putih, langsung di puji dan digoda habis-habisan oleh Gavin dan yang lainnya.
"Kakak, kau tampan sekali. Jujur, aku tidak pernah menyangka kalau kau akan pakai jas seperti ini. Soalnya dulu kan kau pernah bilang tidak mau menikah," ujar Gavin.
"Kalau bukan Lara, aku mungkin sampai detik ini tidak akan menikah."
"Tuan Vander anda sangat serasi dengan nyonya. Aku berdoa semoga kalian selalu bahagia dan dikarunia banyak anak," tandas Tori.
"Dibanding pernikahan, aku lebih tidak menyangka dengan tuan yang ternyata seromantis ini. Anda bahkan memikirkan semua konsep dengan detail dan sempurna sendiri," puji Robert yang nantinya akan jadi wali Lara saat menuju altar.
"Ah kakakku memang begitu. Dia memang kejam, tapi seketika akan jadi super romantis plus penurut layaknya anak anjing, kalau sudah sama pawangnya," ledek Gavin yang kemudian malah dipukul Vander.
"Jangan kebanyakan mengomentariku, bocah!"
"Iya- iya, galak sekali sih!" Keluh Gavin.
Tiba-tiba saja Reynder yang sudah mengenakan jas putih juga datang menghampiri Vander. "Papa!"
"Hei, kau kemana saja?" Tanya Vander.
"Papa, kau keren sekali! Tadi aku habis lihat mama. Dia sangat-sangat cantik. Hati-hati mama dilirik pria lain loh," ujar pria kecil itu menggodanya.
Vander lalu tertawa kecil dan berkata, "Tenang saja tidak akan ada yang berani merebut Lara dariku. "
Tentu saja, mencoba merebut Lara sama dengan membangunkan iblis yang tertidur. Memang siapa yang mau mati konyol demi dapatkan wanita.
"Oh iya Tuan, sudah hampir waktunya... Kita semua harus segera bersiap dan menuju tempat acara pemberkatan," ucap Robert.
...πππ...
Di tempat acara berlangsung, akhirnya prosesi pemberkatan pernikahan Lara dan Vander akan dimulai. Disana orang-orang terdekat dan beberapa kerabat tampak sudah memenuhi kursi tamu. Dengan nuansa serba putih dan rosegold para tamu termasuk kerabat dekat Lara dan Vander, sudah sangat tidak sabar menyaksikan prosesi pemberkatan. Terutama Reynder yang didapuk sebagai pembawa cincin untuk kedua orang tuannya nanti.
"Rey, apa kau gugup?" Tanya Hana yang saat itu menemani Rey sebagai pembawa cincin.
__ADS_1
"Sedikit, tapi sudah tidak karena kan ada kau yang temani aku," jawab Rey membuat gadis kecil itu tersipu malu.
Dan tiba saatnya alunan musik pun dimainkan. Vander yang sudah berdiri di altar bersama seorang pendeta, menunggu pengantin wanita datang menaiki altar untuk pemberkataan.
Dari ujung karpet menuju altar, tampak Robert berjalan menggandeng Lara yang tanpak sangat cantik dan luar biasa mengenakan gaun putih panjang, dengan kepala ditutup tudung kain.
Cantiknya...!
Kak Lara sangat cantik.
Nyonya sangat cantik, kalau banyak pria jatuh cinta padanya sepertinya wajar sekali.
Nona Lara anda sangat cantik!
Lara sahabatku, akhirnya kau menikah dengan semestinya.
πΆ
Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave?
How can I love when I'm afraid to fall?
But watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer
I have died every day waiting for you
Darling, don't be afraid
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
Alunan permainan musik pun semakin terasa sakral kala Lara berjalan semakin dekat menuju tempat pemberkatan. Senyum cantiknya seolah tak bisa luntur melihat Vander yang ada di Altar berdiri menunggunya. Begitupun Vander, pria itu tampak tak sabar menjalani janji pernikahan dengan wanita paling dicintainya dimuka bumi itu.
"Aku bersedia."
"Lara Hazel, apa engkau bersedia menerima, Vander Liuzen sebagai suamimu, mencintainya dalam susah maupun senang, sehat ataupun sakit. Menjadikannya pemimpin dan melayaninya dengan sepenuh hati?"
"Aku bersedia."
Pendeta akhirnya menyatakan Lara dan Vander sah sebagai suami istri.
Setelah melantunkan janji pernikahan. Tiba saatnya pemasangan cincin. Rey dan Hana pun datang membawakan sepasang cincin untuk saling dipakaikan oleh kedua mempelai.
Setelah saling memakaikan cincin, Vander pun akhirnya membuka tudung kepala Lara dan mereka pun berciuman. Sontak semua tamu undangan pun bertepuk tangan,dan bersorak gembira seraya ikut merasakan kebahagiaan Lara dan Vander.
Setelah sesi pemberkatan selesai, sepasang pengantin itu pun turun kebawah dan menghampiri para tamu undangan. Semuanya memberikan selamat kepada Lara dan Vander, mendoakan mereka, dan saling bergantian berfoto bersama kedua mempelai.
Senyum Lara benar-benar seperti bunga baru yang mekar, cantik dan berseri.
Setelah menyalami semua tamu, Vander selaku pemilik pesta pun memberikan ucapan sambutan dan terima kasih kepada semua yang telah hadir dan mendoakan dirinya dan Lara.
"Untuk itu semuanya angkat gelas kalian, kita bersulang untuk kebahagiaan hari ini," ujar pria itu mengajak bersulang bersama.
Cheers! Selamat atas pernikahaannya tuan dan nyonya Vander Liuzen!
Suka cita perayaan pernikahan Lara dan Vander pun berlanjut. Setelah acara pemotongan kue, setelahnya adalah acara dansa. Lara dan Vander serta yang lainnyan pun berdansa mengikuti iringan lagu. Mulai dari waltz sampai dansa bebas, pasangan pengantin itu tidak pernah lepas untuk saling memandang, memeluk, dan mecium.
"Lara, apa kau bahagia?" Tanya Vander sambil berdansa.
"Aku sangat bahagia. Kau mewujudkan apa yang aku impikan. Pemberkatan di perkebunan saat musim gugur. Aku tidak tahu lagi, apa yang harus aku minta, ini semua lebih dari cukup. Terima kasih Vander, terima kasih..."
"Tidak perlu berterima kasih, kau berhak mendapatkan ini semua. Kau adalah hidupku Lara, aku hanya ingin bisa membahagiakanmu disisa hidupku."
"Kita akan bahagia sayang... Kita akan menua bersama sambil melihat anak-anak kita tumbuh dewasa."
"Lara aku sangat mencintaimu..."
"Aku juga sangat mencintaimu sayang..."
Dan akhirnya mimpiku terwujud, menikah dengan pria impianku di tempat impianku. Vander, aku tidak punya banyak kejutan untukmu. Tapi aku janji akan selalu menjadi istrimu yang patuh dan mencintaimu dengan segenap hatiku. Tolong cintai aku melebihi aku mencintaimu, agar aku bisa selalu berusaha untuk lebih mencintaimu setiap harinya.
__ADS_1
...πππ...
"Jadi dia masih berhubungan bahkan menjalani pemberkatan pernikahan dengan istrinya?" Ucap Gauren seraya tersenyum saat menerima laporan dari anak buahnya, kalau Vander kini sudah melangsungkan acara pemberkatan pernikahan. "Aku kira dia benar-benar meninggalkan wanita itu, setelah ku ancam empat tahun lalu."
"Jadi tuan Gauren, setelah ini apa yang akan kita lakukan?" tanya Mez salah satu informan kepercayaan Gauren.
"Kita bergerak pelan-pelan saja, jangan tergesa-gesa. Lagipula, aku masih harus melatih Jeden dan membuatnya kuat untuk bisa membantuku menghadapi Vander," ungkap Gauren.
Ya, setelah memutuskan untuk memanfaatkan Jeden. Gauren pun melatih pria itu dengan banyak latihan fisik dan mental. Bagaimana pun untuk mengalahkan Vander ia butuh senjata yang setara.
"Vander sangat kuat dalam segi apapun, bahkan Jeden pun tak mampu mengalahkannya. Tapi dengan sokongan kecerdasanku dan latihan, aku yakin kita bisa mecari celah untuk meruntuhkan kedigdayaan Vander. Ditambah kini aku sudah tahu jelas kelemahan terbesar Vander." Gauren tersenyum simpul.
Vander, pertarungan kita belum dimulai. Kau silakan berbahagia dulu nak, tapi itu tidak akan lama.
...πππ...
Di kamar, Vander dan Lara tampak bermesraan di dalam kamar. Bahkan setelah acara mereka sama sekali belum keluar kamar. Mereka terus saja bercumbu mesra tanpa henti, sampai-sampai Gavin yang tengah bersantai bersama Miranda di beranda luar pun berkomentar. "Padahal bukan pengantin baru, tapi mereka tidak keluar kamar sama sekali!"
"Jangan iri!" Balas Miranda.
"Aku tidak iri kok istriku,"
Tiba-tiba Miranda bersandar mesra dipundak Gavin. "Hey Gav, menurutmu malam ini bagaimana?"
"Huh? Ba- bagaimana apanya?"Gavin bingung dengan ucapan Miranda.
Mira tiba-tiba mencium bibir suaminya dan berkata, "Gavin, kau bilang ingin punya anak kan?"
"I- iya,"
"Kalau begitu mari kita coba mewujudkannya," ungkap Mira malu-malu.
"Be- benarkah itu Miranda? Ka- kau mau punya anak denganku?"
"Iya..."
Gavin seketika terharu dan langsung memeluk sang istri. "Miranda aku senang sekali, akhirnya kau mau punya anak denganku..."
"Iya, iya sudah janga menangis! Ayo kita segera berusaha wujudkan!" Tandas Mira yang kemudian langsung menarik tangan sang suami mengajaknya ke kamar.
...----------------...
Di kursi taman, terlihat Naomi yang duduk sambil senyum meratapi bunga yang berhasil ia tangkap saat sesi lempar bunga tadi. Orang bilang, siapa yang dapat lemparan bunga dari pengantin maka dia akan menyusulnya menikah.
"Apa iya aku juga akan menikah seperti nona Lara dan tuan Vander? Tapi aku tidak secantik dan semenarik nona Lara, apa mungkin ada yang mau denganku?"
"Pasti ada," sahut seorang pria yang tiba-tiba datang membawakan secangkir coklat hangat.
"To- Tori? Ap- apa yang kau lakukan disini? Ka- kau dengar apa yang aku katakan tadi?" Naomi tampak malu sekali rasanya saat ini, ia bahkan takut unruk melihat ke arah Tori.
Tori tertawa kecil lalu memberikan secangkir coklat panas itu kepada Naomi. "Minumlah dulu agar kau hangat," ucap Tori yang kemudian duduk disebelah Naomi.
Naomi langsung meminum coklat panas itu. "Ini enak sekali, terima kasih ya Tori."
"Sama-sama, dan Naomi, kau itu tidak seharusnya merasa rendah diri. Kau tidak perlu membandingkan kecantikan ataupun hal yang ada pada dirimu dengan orang lain. Karena setiap wanita memiliki kecantikannya masing-masing, termasuk kau. Menurutku kau cantik, bukan hanya soal paras tapi hal lain. Dimataku kau gadis yang spesial," ungkap Tori lalu tersenyum.
Ya ampun pria ini? Tori dia...
"Naomi, akuβ"
"Ya?"
Keduanya saling menatap, semakin dekat danβ
"Wog woff!" Seketika gong gongan Shin mengacaukan segalanya.
Hei anjing nakal, kau itu menganggu kesenangan orang saja sih! Gerutu Tori dalam hati.
...πππ...
Sementara di kamarnya, Rey yang ternyata belum tidur ternyata masih senyum-senyum diatas ranjang sambil memandangi album yang berisi foto-foto pernikahan kedua orang tuannya hari ini. Bagi Rey album tersebut adalah harta karun dihidupnya. Karena di album banyak sekali foto-foto berharga papa, mamanya, dan dirinya.
"Aku senang sekali, akhirnya papa dan mama sudah menikah. Papa Vander sudah resmi jadi papaku!" Tandasnya bahagia.
Namun seketika Rey teringat akan ayah kandungnya yang sampai detik ini ia belum tahu siapa. Sejujurnya Rey masih ingin tahu siapa papa kandungnya, tapi melihat keadaan saat ini, baginya hal itu tidaklah lagi penting. "Aku tidak peduli lagi siapa papa kandungku. Yang aku tahu hanya papa Vander yang sangat sayang padaku dan mama. Lagipula dia bukan pria baik."
Sorot mata Rey menatap sedih dan kecewa. "Dia sudah meninggalkan aku dan mama sejak lama, untuk apalagi diingat-ingat. Kalau dia orang baik, pasti tidak akan meninggalkan kami. Untukmu papa kandungku... Maaf, tapi mulai hari ini aku memutuskan untuk melupakanmu, dan menganggapmu tidak ada. Mulai sekarang papaku hanya papa Vander tidak ada yang lain!"
...πππ...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS π