Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Beban berat dipundaknya.


__ADS_3

Van dan Lara kemudian membaca artikel yang diperlihatkan oleh Miranda tersebut.


Di artikel tersebut judulnya tertulis 'KERJASAMA YANG MALAH MERUGIKAN ' didalam isi artikelnya tertulis pernyataan Karina yang mengatakan bahwa, Appletree bekerjasama dengan Miracle adalah sebuah kesalahan besar mengingat performa Miracle yang beberapa bulan terakhir ini sering mengalami punurunan dan masalah internal.


"Sial! Bisa-bisanya Karina mengatakan hal seburuk itu tentang perusahaan ini!" Ungkap Lara terlihat marah setelah membaca artikel itu.


Sementara Vander setelah membaca artikel barusan jadi merasa kalau, artikel ini adalah salah satu ancaman yang dimaksud Karina. Sial wanita itu benar-benar licik, jadi bisa dibilang tujuan awal ia mau bekerjasama dengan Nona Lara adalah untuk menjadikan Miracle sebagai senjatanya. Kurang ajar!


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Nona?" Tanya Miranda.


Akibat statement Karina di media, Lara yakin pasti kedepannya akan banyak investor yang tidak mau bahkan membatalkan niat mereka untuk menjadi investor di Miracle. Hal itu benar-benar merugikan pihak Miracle. Lara yang kecewa dan tidak terima dengan ucapan Karina di media tentang perusahaannya pun langsung meraih ponselnya, dan menghubungi Karina.


Lara : Halo!


Karina : Ada apa? (Seolah tidak terjadi apa-apa)


Lara : Apa maksudmu dengan berkata di media kalau bekerjasama dengan perusahaanku adalah kesalahan!


Karina : Oh kau sudah baca ya, baguslah kalau begitu.


Lara : Karina sebenarnya tujuanmu itu apa sih! Apa jangan-jangan dari awal memang tujuanmu bersedia bekerjasama denganku bukan karena bisnis, tapi ada maksud lain?


Karina : (Tertaws kecil) Nona Hazel kau itu ternyata memang masih saja bodoh dan naif. Kau seharusnya tau sejak awal kalau aku memang tidak berminat bekerjasama denganmu. Dan dengan aku yang tiba-tiba saja setuju bekerjasama bukankah itu sudah hal yang aneh? Harusnya kau sadar itu, dasar bodoh!


Lara mengepalkan tangannya menandakan dirinya tengah menahan emosinya yang kini meledak-ledak.


Lara : Jadi apa sebenarnya tujuanmu? (Suara Lara tiba-tiba bernada rendah)


Karina : Kau tanyakan saja pada pengawalmu!


Lara : Ap- apa maksud perkataanmu?!


Karina : Nanti kau juga tau setelah tanya dia. Sudah ya bye! Oh iya, sampaikan salamku untuk pengawalmu yang tampan itu.


Tut tut tut!


Setelah percakapan dengan Karina berakhir, Lara langsung menoleh ke arah Van dan memandanginya dengan tatapan sayu dan penuh tanya.


Ada apa? Kenapa Nona Lara menatapku seperti itu?


"Nona Lara apa yang Nona Karina katakan padamu di telepon?" Tanya Miranda.


"Mira tolong kau cek indeks saham kita, dan cari tahu berapa investor yang masih mau bertahan lalu laporkan semuanya padaku!"


"Ta- tapi Nona..."

__ADS_1


"Lakukan saja!" Tegas Lara dengan wajah serius.


"Ba- baik akan aku lakukan," Miranda pun pergi meninggalkan ruangan Lara.


Van yang merasa ada yang aneh pun bertanya apa yang telah dikatakan Karina di telepon tadi. "Nona sebenarnya wanita itu bilang apa?"


"Dia bilang alasan dirinya mau kerjasama denganku adalah karenamu," jelasnya.


Lara berjalan mendekati Van lalu mentapnya dan bertanya, "Van sebenarnya apa hubunganmu dengan Karina? Kenapa, kenapa dia sepertinya sangat menginginkanmu?"


"Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan wanita itu, dia memang menginginkanku...."


"Dan kau juga menginginkannya kah?"


"Tidak, aku tidak... Aku..."


"Sstt..." Lara menutup bibir Van dengan jemarinya. "Jangan katakan apapun, saat ini aku seperti merasa lelah sekali dan takut. Aku- aku takut tidak bisa memenuhi tugasku sebagai pewaris perusahaan ini. Semua yang terjadi sekarang, kebakaran itu, saham yang selalu turun. Semua itu seolah menjelaskan kalau aku telah gagal sebagai pewaris perusahaan ini," ungkap Lara yang sudah tak bisa lagi membendung air mata keluar dari pelupuknya. Lara pun menangis di hadapan sang pengawal.


Melihat Nonanya menangis, hati Van seolah teriris rasanya. Ia pun langsung memeluk gadis itu ke dalam dekapannya dan menenangkannya. "Nona tidak usah takut, aku akan selalu ada bersamamu."


"Tapi bagaimana nasib Miracle sekarang? Siapa yang bisa membantuku Van... aku benar-benar wanita tidak berguna. Jangankan membuatnya semakin besar bahkan menjaga perusahaan ini saja seolah tak mampu huhu..." Dengan tesedu-sedu Lara terus menyalahkan dirinya.


Van tidak tahu persis tekanan apa yang tengah dirasakan Lara saat ini. Tapi hanya dengan mendengarkannya berkata begitu dengan suara bergetar, membuatnya yakin kalau saat ini emosi Lara sendang diambang batas. Memikirkan nasib perusahaan, karyawan, dan semuanya sendirian pasti berat. Dan bagaimanapun dia tetaplah seorang wanita yang punya sisi rapuh dan butuh sandaran.


Tapi kenyataannya, kalau hanya menjadi seorang pengawal saja rasanya tidak cukup untuk melindungi dan menjaga Nona Lara sepenuhnya. Aku tidak bisa hanya jadi seorang pengawal untuk bisa melindungi gadis ini sepenuhnya, aku harus berada dititik dimana tidak ada seorangpun yang mampu menyentuh kuasaku. Dan sayangnya Van tidak memiliki itu saat ini.


**


Di ruangannya Karina tampak puas setelah mengatakan hal tadi pada Lara di telepon. "Kau pikir aku bercanda? Vander, cepat atau lambat kau yang akan datang sendiri menyerahkan dirimu padaku. Dan Lara dia pasti akan terpuruk."


Sepertinya bagi Karina, Vander adalah obsesi cintanya sekaligus cara yang ia gunakan untuk membuat Lara merasa kalah darinya. "Aku Karina Foster tidak akan membiarkan kali ini wanita busuk itu menang dan jumawa!"


**


Van terlihat menghisap rokoknya diatas rooftop. Ia terus menerus berpikir, kalau dirinya memang tidak bisa hanya seperti ini saja. "Jika aku menyerah kepada Karina apa mungkin Nona Lara akan lebih bahagia?" Ungkap penuh tanya. Karena hanya dengan menjadi pengawal tentunya tidak mungkin cukup untuk dirinya melindungi Lara dari banyak musuh.


Van tiba-tiba mengambil ponselnya dan menelepon Aron.


Van : Aku ingin bertemu denganmu sekarang!


Aron : Baiklah!


Dengan segera Vander pergi menemui Aron di sebuah kafe yang tidak jauh dari Miracle.


**

__ADS_1


Van dan Aron terlihat duduk di kafe. Keduanya tampak serius berbicara ditemani secangkir kopi di hadapan masing-masing.


"Jadi, apa yang mau kau katakan?" Tanya Aron setelah menyesap kopinya.


"Eva, dia adalah dalang dari pembakaran gudang Miracle."


"Apa? Jadi dugaanmu benar kalau dia pelakunya?" Aron terkesiap mendengarnya. Ia tidak tau apa alasannya melakukan hal itu.


"Sejak awal dia memang ingin memancing aku keluar dan salah satunya dengan cara ini." Van menghela nafas.


"Ada apa? Sepertinya kau tengah ada dalam suatu kebimbangan?" tanya Aron.


"Aku hanya merasa, saat ini meski aku adalah pengawalnya Nona Lara, tapi pada kenyataannya aku malah menambah masalah untuknya."


Aron tertawa kecil melihat Van yang saat ini tampak bimbang. "Kau sudah jatuh cinta terlalu dalam pada Nona Lara-mu itu sepertinya hingga membuatmu jadi bimbang melakukan sesuatu," tebak Aron.


"Jatuh cinta?" Van tertawa mengejek, "Ya, aku memang jatuh cinta padanya, tapi apa mungkin seorang pengawal sepertiku—"


"Hei! Sejak kapan seorang Vander Liuzen sang serigala malam dari Crux tampak tidak percaya diri dan selemah ini," ejek Aron.


Vander hanya bisa tersenyum hambar. "Aku sudah lama bukan lagi bagian dari organisasi itu."


"Tapi sayangnya sampai detik ini, Crux masih menginginkanmu kembali."


Van termenung, menurutnya jika Van kembali lagi ke Crux hal itu malah akan membuat Lara semakin berada dalam bahaya. Ia tidak mau lagi orang yang ia cintai harus kehilangan nyawa karena dirinya.


DRIP DRIP! ponsel Vander bergetar. Ia pun merogoh saku celanannya dan mengangkat panggilan dari Miranda tersebut.


Van : Halo ada apa?


....


Van : Apa? Baik aku segera kesana!


Wajah Van langsung terlihat panik setelah mengangkat panggilan barusan.


"Ada apa? Tidak biasanya kau terlihat panik?!"


"Aku harus pergi sekarang, tolong bayar minumannya dengan ini." Setelah meletakan selembar uang lima puluh dollar, dengan raut wajah penuh kekhawatiran Vander pun pergi dengan cepat.


"Ada apa sebenarnya? Vander hampir tidak pernah menampakan rasa khawatir ataupun panik, kecuali menyangkut hal yang memang sangat berharga dalam hidupnya."


Bersambung...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH💜

__ADS_1


__ADS_2