
Wanita tua yang bergaya agak nyentrik itu pun langsung tersenyum gembira dan langsung memeluk Vander. "Jadi kau benar Vander anaknya Zenry?! Iya ini aku Zoe! Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi disini!"
Zoe lalu memandangi Vander dari bawah sampai ke atas kepala. "Ternyata memang sudah lama sekali, sekarang kau sudah tumbuh jadi sangat tinggi! Dulu terakhir kali aku melihatmu saat kau berusia sepuluh tahun, kau masih setinggi telingaku. Dan sekarang, wow kau bahkan sangat tampan! Andai saja usiaku sepuluh tahun lebih muda, mungkin aku akan medekatimu," kelakar wanita itu.
"Vander jadi kau kenal dengan nyonya ini?" Ucap Lara dengan tatapan polosnya.
"Wah cantik sekali, kau siapa nak?" Ucap Zoe tanpa canggung langsung membelai wajah Lara.
"Aku Lara, aku— aku istrinya Vander, salam kenal," jawab Lara malu-malu.
"Aku Zoe. Wah kalau sainganku sepertimu aku mundur saja deh," gurau wanita tua itu. "Aku tak menyangka Vander kecilku ternyata benar-benar sudah dewasa sekarang, kau bahkan sudah menikah," pungkas Zoe seraya terharu.
Penasaran ingin lebih banyak bercerita, Zoe pun mengajak Lara dan Vander duduk di area restoran penginapan, dan meminta tolong Lola yang juga resepsionisnya, untuk segera menyiapakan makanan dan minuman untuk Vander dan Lara.
"Baik Ibu," ucap Lola yang kemudian bergegas mengerjakan apa yang diperintahkan Zoe.
"Ibu?" Tanya Vander menatap Zoe.
Zoe pun akhirnya menceritakan semua yang terjadi, beberapa tahun setelah Vander pergi meninggalkan kampung halamannya.
"Jadi resepsionis wanita itu anakmu ya Nyonya?" Tanya Lara.
"Oh ayolah sayang, jangan panggil aku begitu aku tak terbiasa sekali rasanya, panggil saja Zoe."
"Baiklah— Zoe."
Zoe pun menjelaskan kalau Lola itu bukanlah anak kandungnya, melainkan hanya anak angkatnya yang ia adopsi lima belas tahun yang lalu. Dan Lola juga yang sudah membantunya mengelola penginapan ini selama sepuluh tahun berjalan.
Sementara Zoe sendiri dulunya adalah seorang mucikari paling terkenal di wilayah ini. Karena sebelum jadi penginapan, tempat ini adalah tempat pelacuran yang dikelola Zoe. Namun beberapa tahun setelah kepergian Vander dan dirinya mengadopsi Lola, ia pun memutuskan untuk menutup tempat itu dan mengubahnya menjadi penginapan seperti sekarang.
"Aku merasa pekerjaan ini jauh lebih baik dibanding pekerjaanku dulu yang kau tau, itu pekerjaan yang rendahan sekali," ungkap Zoe merasa malu dan menyesal ingat masa lalunya.
"Sudahlah Zoe, tidak ada yang salah dengan masa lalumu! Lagipula kau tidak pernah memaksa siapapun untuk bekerja jadi wanita panggilan kan? Para wanita itu sendiri yang datang padamu dan memintamu mencarikan pelanggan untuk mereka agar dapat uang," ucap Vander terang-terangan.
Zoe tertawa lalu bicara sambil berkelakar. "Ternyata sifat cuek dan blak blakan-mu mirip sekali dengan ayahmu ya?!"
Sebaliknya, raut wajah Vander justru tampak kurang suka jika disamakan oleh ayahnya. "Jangan samakan aku dengan baj¡ngan itu!"
Melihat suaminya berujar tentang ayahnya begitu Lara pun kaget. Dirinya jadi semakin penasaran dengan masa lalunya saat kecil. Ada apa sebenarnya dengan hubungan Vander dengan ayahnya? Sepertinya dia benar-benar punya masa lalu yang tak menyenangkan saat kecil? Aku jadi semakin ingin tahu.
"Penginapan ini cukup ramai ya?" ucap Lara melihat lumayan banyak orang keluar masuk penginapan tersebut. Tak hanya resto, di tempat itu juga terlihat ada semacam kasino mini yang suka dipakai warga sekitar dan para pengunjung penginapan untuk main kartu.
"Hei Zoe! Mana makanannya!" Seru pria tua yang tengah main kartu di ujung meja kasino. Melihat para pria itu tampak seru bermain kartu sambil minum-minum, Vander pun tertarik untuk bergabung.
"Sayang, aku mau bergabung dengan mereka bolehkan?" Ucap Vander seraya meminta izin pada istrinya.
Lara pun mengangguk tanda mengizinkan.
Sementara Vander sibuk bergabung dengan pria-pria lain disana, Lara berpikir ini saatnya ia mengambil kesempatan untuk bisa bertanya lebih jauh soal masa lalu Vander lewat Zoe.
"Ngomong-ngomong, tempat ini terasa sekali kekeluargaanya," puji Lara melihat suasana penginapan tersebut terasa sekali nuansa kehangatannya.
"Ya begitulah, bagi warga pinggiran kota seperti kami beginilah cara menikmati hidup, dengan bersenang-senang bersama keluarga dan kerabat," terangnya sambil bersantai minum alkohol lokal yang Lara tidak tau namanya.
"Hei aku agak penasaran bagaimana kau bisa menjinakannya?" Zoe menggoda Lara soal Vander.
__ADS_1
"Oh i- itu aku juga tidak tahu Zoe, kenapa kau tanya begitu?"
"Karena aku kenal anak itu sejak dia masih dalam kandungan. Aku hanya tidak menyangka saja Vander yang susah diataur itu tau-tau sudah jadi seorang suami."
"Kau sepertinya banyak tau ya soal Vander dan keluarganya?"
"Begitulah," Zoe kembali meneguk minumannya.
"Oh iya Zoe tadi aku habis diajak berziarah ke makam ibu mertuaku untuk pertama kalinya, jujur saja aku tidak banyak tau soal keluarga dan masa kecil Vander. Jadi kalau tidak keberatan— bisakah kau menceritakan padaku tentang Van dan keluarganya dulu saat masih tinggal disini? Aku mohon..."
Zoe terdiam, ia berpikir bukankah akan lebih baik jika Lara bertanya langsung pada suaminya itu.
"Vander dia— dia sepertinya tidak terlalu suka kalau aku tanya soal silsilah keluarganya. Jadi Zoe, aku berharap kau mau sedikit berbagi denganku," ungkap Lara penuh harap.
Melihat Lara yang tulus dan begitu sangat ingin tahu soal Van di masa lalu, Zoe pun akhirnya bersedia meceritakannya.
Zoe bercerita kalau Vander kecil adalah anak laki-laki yang baik. Dia sangat cerdas, setia kawan, pemberani, dan suka membantu orang. Hanya saja— sifatnya yang suka memberontak dan seenaknya sendiri, seringkali membuat orang lain berpikir kalau Vander adalah anak yang nakal. "Padahal semua kerusuhan yang Vander perbuat dan hal apapun yang ia lakukan, semua itu pasti ada alasannya. Walaupun alasannya kadang suka aneh sih...!"
Lara tersenyum seraya mengiyakan perkataan Zoe tentang sifat suaminya itu. "Dan orang tua Vander, apa kau juga mengenal mereka sejak lama?"
"Ya! Aku kenal keduanya dengan sangat baik. Bisa dibilang, aku adalah jembatan penghubung diantara orang tua Vander hingga mereka berakhir menikah."
"Benarkah itu?" Lara penasran.
Zoe pun mengingat masa lalu orang tua Vander, dan menceritakannya kepada Lara;
Vander adalah putra satu-satunya Zenry Liuzen dengan Anika. Ayah Vander sendiri adalah seorang pengusaha perkebunan yang cukup kaya raya dan terkenal di wilayah ini. Dia bukan hanya terkenal karena seorang pemilik kebun yang kaya raya, tapi juga terkenal karena fisiknya yang digilai banyak kaum hawa, ditambah lagi dia itu terkenal playboy.
Zenry memang cukup sukses menjalankan perkebunannya, tapi tidak dengan hubungan cintanya. Pria itu cenderung suka gonta ganti wanita hampir setiap hari, bahkan Zoe sendiri yang merupakan teman Zenry sampai lelah melihat temannya itu selalu saja memintanya mencarikan wanita untuk menemaninya.
"Bisa dibilang begitu. Karena Zenry sendiri memang pada dasarnya suka sekali kalau dikerumuni wanita-wanita cantik," ungkapnya.
Pantas saja Vander pernah bilang kalau dia suka sama perempuan cantik, ternyata turunan ayahnya begitu, pikir Lara.
Bagi Zoe Zenry itu unik. Bagaimana tidak? Ia sering menyewa para wanita, namun wanitanya tidak pernah diajak tidur. Mungkin ada, tapi hanya satu dua orang, itupun hanya sebatas cinta semalam setelah itu ia tidak mau kenal lagi. Terkadang juga, alasan Zenry menyewa wanita di tempatnya hanya untuk alasan agar bisa membantu wanita yang butuh uang. Zenry sendiri pernah bilang kepada Zoe kalau, dirinya tidak akan mau terlibat hubungan lebih dengan wanita. Karena menurutnya hal itu hanya akan merepotkan dirinya. Hingga pada akhirnya ia bertemu dengan peri manis pujaan hatinya Anika, yang merubah segala pikirannya soal cinta.
"Anika ibunya Vander?" Tanya Lara semakin penasaran dengan cerita Zoe.
"Ya, dan pertemuan mereka itu terjadi tiga puluh tahun lalu, tepatnya dimusim semi dikota ini."
#Flashback
Waktu itu Zoe yang berumur 27 tahun seperti biasa dimalam hari, ia yang sambil merokok akan menunggu dan mengawasi tempat usaha pelacurannya. Tiba-tiba saja saat dia sedang bersantai disana, muncul seorang gadis muda berambut panjang, dan berpakaian kebesaran memakai topi datang menghampirinya.
Zoe menatap aneh pada sosok gadis kurus yang bajunya kebesaran itu.
"Nona, bisakah aku bekerja ditempatmu?" Ucap gadis kurus itu pelan sambil menundukan wajahnya.
Melihat penampilannya yang tidak menarik, serta wajahnya yang tertunduk mengenakan topi membuat Zoe ragu. Bagaimana bisa wanita ini menarik hati pria dengan tampilannya begini?
"Maaf tapi kau yakin mau bekerja disini? Memang usiamu berapa? Aku tidak menerima wanita dibawah usia legal (usia legal di cerita ini umur 19 tahun)"
"A- aku sembilan belas tahun Nona,"
"Kau terus menunduk dongakan kepalamu!" Perintah Zoe.
__ADS_1
Wanita muda itu lalu membuka topinya dan mendongakan kepalanya. Alhasil Zoe pun kaget setelah melihat langsung. Ia tidak menyangka betapa gadis itu wajahnya sangat cantik meski tanpa polesan sedikitpun. Mengetahui wanita itu sudah berusia legal dan punya fisik yang bagus, Zoe pun menerimanya. Tanpa berlama-lama Zoe langsung membawa gadis itu lalu merias wajahnya, dan memakaikannya gaun yang cukup seksi.
"Wow kau sangat cantik! Aku rasa pegawaiku yang lain pasti akan iri padamu," celetuk Zoe seraya memuji. "Tapi ngomong-ngomong aku belum tau namamu, siapa namamu?"
"Aku Anika," ucapnya malu-malu sambil menutupi bagian dadanya yang lumayan cukup terekspose karena model belahan dada gaunnya yang sangat rendah.
Zoe lalu membawa Anika untuk dikenalkan pada kliennya, dan kebetulan saat itu Zenry yang baru datang tiba-tiba saja menghampirinya dan berkata minta carikan teman wanita. Dan seketika mata pria itu langsung menatap Anika yang berdiri di belakang Zoe.
Zenry yang terpesona pun langsung bertanya, "Hei Zoe, apa wanita cantik dibelakangmu itu orang baru?"
"Iya, kenapa memangnya?"
"Aku tidak mau tau, pokoknya jangan beri dia pada siapapun, karena aku mau dia buatku saja malam ini!" Zenry yang sangat memaksa, membuat Zoe mau tak mau pun mengiyakan permintaan sahabatnya itu.
Akhirnya Zenry dan Anika berkenalan untuk pertama kalinya. Dan untuk pertama kalinya juga, Zoe melihat Zenry tersenyum menatap lembut pada seorang wanita yang ditemuinya.
Dan setelah malam itu, Zenry setiap hari datang ke tempat Zoe dan meminta khusus agar Anika yang selalu menemaninya. Mereka berdua pun kian hari semakin dekat. Kedekatan mereka lambat laun akhirnya berubah, dimana bukan lagi sebagai pelanggan dan wanita bayarannya. Melaikan mereka berdua dekat layaknya pria dan wanita yang saling jatuh cinta. Hingga akhirnya Zenry merasa sangat yakin untuk melamar Anika lalu menikahinya.
#Flashback selesai.
"Dan setelah itu?" Lara tampak antusias sekali mendengar kelanjutannya.
"Setahun menikah, Anika akhirnya melahirkan Vander, keluarga itu tampak sangat bahagia. Sayangnya, dua tahun berselang setelah kelahiran Vander musibah malah datang." Wajah Zoe terlihat sedih mengingat tragedi dua puluh tujuh tahun silam di kediaman Zenry.
Malam itu seperti biasanya, Anika akan menghabiskan waktu dengan putranya sambil menunggu suaminya pulang. Namun siapa sangka tiba-tiba malah terjadi kebakaran hebat di kediamannya. Sebagai seorang ibu tentu hal yang pertama yang Anika pikirkan adalah, segera selamatkan putranya yang masih sangat kecil.
Setelah berusaha Anika akhirnya berhasil membawa Vander yang menangis keluar dari kebakaran dengan bantuan Zoe. Namun naas, saat Anika sendiri ingin berusaha keluar, wanita itu malah lebih dulu terjebak reruntuhan sebelum sempat menyelamatkan diri.
"Aku masih ingat sekali, Vander saat itu masih dua tahun, dia menangis keras digendonganku sementara aku hanya bisa melihat ibunya tengah berjuang menyelamatkan diri waktu itu keena tidak ada yang berani mendekat. Akhirnya karena kehabisan oksigen Anika punmeninggal ditempat saat itu juga." Zoe tiba-tiba menitikan air matanya mengingat kejadian itu.
"Dan kau tau, yang aku pikirkan saat tau kalau Anika sudah meninggal adalah, bagaimana Vander yang sekecil itu harus bertahan mengingat ibu yang biasa bersamanya tiba-tiba hilang? Oleh karenanya setelah Anika meninggal aku dan dibantu orang baik lain bergantian mengurus Vander."
"Lalu— ayahnya Vander dimana?" Tanya Lara penasaran.
"Zenry— sejak Anika meninggal pria itu seperti kehilangan arah tujuan hidup. Kerjanya mabuk, judi dan bermain wanita. Dia bahkan tidak mau sekalipun memperdulikan putranya. Bahkan di hari acara keluarga setiap tahunnya di sekolah Zenry sama sekali tidak mau hadir. Setiap tahun di acara itu Vander hanya akan jadi murid yang makan sendirian sambil melihat anak-anak lain bercengkrama dengan ayah dan ibunya."
"Ke- kenapa ayahnya setega itu?" Tanya Lara lirih menahan tangis.
"Karena Zenry selalu menganggap kematian istrinya adalah karena salah Vander, pria itu berpikir jika Anika tidak menyelamatkan Vander pada saat itu mungkin Anika masih akan hidup."
Pada akhirnya air mata Lara pun tak sanggup lagi dibendungnya. Air matanya seketika mengalir tatkala tak kuasa mendengar kisah pilu suaminya dimasa lalu, yang bahkan lukanya mungkin masih sangat terasa sampai saat ini.
"Ah maafkan aku, gara-gara bercerita terlalu tertawa emosi kau jadi ikut menangis juga," tutur Zoe minta maaf.
Lara menggeleng sambil sambil mengusap air matanya. "Tidak Zoe kau tidak salah, justru aku berterimakasih karena kau sudah mau menceritakan kisah Vander yang tidak pernah aku tahu sebelumnya. Aku justru senang, karena setelah ini aku akan jadi bisa lebih memahaminya lagi."
Lara menoleh ke arah Vander yang saat ini tengah bermain kartu dengan pengunjung lain. Mata sayu Lara memandangi suaminya itu dari jauh dengan penuh rasa bersalah. Andai aku biss lebih cepat tau soal Vander dan masa kecilnya yang sulit, pasti aku akan lebih baik lagi mempelakukannya.
Tiba-tiba saja Zoe menggenggam tangan Lara dan berpesan, "Nak, aku tau kau wanita yang sangat baik dan sangat dicintai oleh Vander. Aku hanya ingin berpesan padamu, tolong beri anak itu cinta sebanyak mungkin. Vander mungkin tampak tidak peduli dan merasa semua baik-baik saja, tapi jauh di ruang hatinya yang tak tersentuh, ada kerapuhan yang ia sembunyikan. Jadi aku harap kau jangan berhenti mencintainya ya?"
Lara mengangguk paham. "Aku mengerti."
Aku hanya berharap bisa terus tulus mencintainya dengan tanpa pamrih.
...🌿🌿🌿...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE. PLIS PLIS PLIS 💜