Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Rencana Kabur


__ADS_3

"Jeden?" Mata Lara terbelalak lebar menatap ke arah pria dihadapannya itu.


Ini tidak mungkin!


"Akhirnya kau memanggil nama lamaku. Kenapa menatapku seperti itu? Apa kau kaget sayang? Apa kau pikir aku sudah mati? Sayangnya tidak semudah itu membuatku mati..."


"Jeden kau—"


"Diam! Jangan pernah panggil nama itu lagi. Jeden yang kau sebut itu sudah mati, yang ada saat ini hanyalah Reki Helian. Pria yang akan mendampingimu selamanya..." Reki tersenyum puas, menatap Lara dan ingin membelai pipinya yang memerah karena bekas cengkraman tangannya. Sayangnya Lara lansung memalingkan wajah karena tak mau disentuh oleh pria itu.


"Heh, kau masih saja sombong di hadapanku. Kau pikir kau masih berhak sombong?!"


PLAK!


Reki menampar Lara hingga ia terpelanting diatas ranjang.


"Dengar, aku bukan lagi Jeden yang tidak berani nekat. Aku yang sekarang adalah Reki, aku bisa lakukan apapun terhadapmu jika kau tidak menurut! Oleh karena itu jika kau tak mau kupukul jadilah wanita yang baik!"


Lara tak menjawab apapun ia hanya diam memegangi pipinya yang terasa perih, sambil mengumpat dalam kemarahan atas apa yang ia alami saat ini.


"Aku pergi dulu, sebentar lagi akan ada yang membawakan makanan untukmu. Aku tidak mau calon istriku mati kelaparan."


Calon istri? Lara terkaget ia yang terdiam pun langsung buka suara. "Apa maksud ucapanmu! Calon istri apa?"


"Kau akan tahu sebentar lagi... Sekarang bersabarlah dulu disini. Aku ada urusan lain,"


"Urusan apa? Reki! Jeden! Jawab aku kau mau apakan diriku Reki!!!"


Sayangnya Reki tak menggubris seruan Lara sama sekali, ia malah terus saja berjalan keluar dan mengunci Lara lagi dari luar. Lara pun mendekati pintu itu lalu berteriak sambil memukul-mukul pintunya. "Buka pintunya! Lepaskan aku! Reki!! Buka! Buka pintunya kumohon...!" Namun hal itu sia-sia saja, bakan meski tenggorokannya sudah kering hingga tangan halusnya sudah terasa sakit akibat memukul-mukul pintu kayu itu dengan keras, semua itu tak membuatnya bisa bebas dari tempat itu. Ia hanya bisa duduk dan bersandar di balik pintu sambil berurai air mata meratapi nasibnya saat ini. "Kenapa jadi begini? Vander... selamatkan aku...!


Setelah menemui Lara, Reki mengangkat panggilan dari Gauren.


Reki : Ya ada apa Tuan?


Gauren : Kenapa kau menculik istrinya Vander lebih cepat dari rencana kita?


Reki : Aku tidak bisa menahannya, lagipula bukankah sama saja, toh pada akhirnya kita akan menculiknya.


Gauren : Kau benar, tapi kau harus ingat. Tujuan menculik wanita itu bukan untuk alasan pribadimu. Bagaimana pun wanita itu adalah kelemahan Vander, jadi jangan bertindak terlalu jauh tanpa persetujuan dariku.


Reki : Aku paham.


Reki menyeringai, "Tua bangka sialan. Kau pikir aku akan terus menurutimu. Bagiku kau dan Vander sama, sama-sama pengganggu tujuanku!"


...🍁🍁🍁...


Di dalam mobil saat perjalanan pulang dari kantornya, Eiji tiba-tiba saja mendengar berita di radio tentang teror misterius terhadap kedai Miracle.


"Kedai Miracle? Bukankah itu kedai kopi milik Miranda dan Gavin?"


Karena penasaran dengan berita itu, akhirnya Eiji mencoba menelepon Miranda untuk memastikan keadaan mereka terkait berita tersebut.


Mira: Halo Eiji ada apa?


Eiji : Mira, aku barusan dengar di radio kalau kedaimu mendapat serangan teror apa benar?


Mira : Ya, itu benar.


Eiji : Lalu kau dan Gavin?


Mira : Kami baik-baik saja, hanya saja kami memutuskan untuk menutup kedai sementara sampai batas yang bisa ditentukan.


Eiji : Kenapa?


Mira : Aku tak bisa jelaskan semuanya di telepon, yang jelas ini masalah yang gawat dan kemungkinan semua orang yang kenal dengan Vander atau Lara pasti kena imbasnya, termasuk dirimu.

__ADS_1


Eiji : Tu- tunggu dulu, apa maksud semua ucapanmu, aku tidak mengerti.


Mira : Kalau kau ingin tahu lebih baik kau tanyakan langsung pada Vander. Tapi dibanding hal itu, ada hal lain yang lebih penting yang harus kau tahu.


Eiji : Apa itu?


Mira : Lara hilang, dia diculik secara misterius.


Eiji : Apa?! Lalu, apa Vander sudah tahu dimana penculik membawanya?


Mira : Sayangnya belum.


Eiji : Baiklah aku akan bantu mencari Lara.


Eiji langsung mempercepat laju mobilnya. Ia benar-benar merasa khawatir pada Lara. "Lara kau dimana sebenarnya? Semoga kau baik-baik saja!"


...🍁🍁🍁...


Di kamarnya, Vander terlihat menyalakan ponsel istrinya yang mati. Saat ponsel itu sudah menyala, ia melihat ke history chat Lara tadi siang dengannya. Disana Vander melihat draft pesan balasan yang ingin dikirim Lara kepadanya, namun tidak sempat karena ponselnya keburu mati.


Di draft itu Lara menulis pesan kalau ia sudah memaafkan Vander,  dipesan itu ia juga menyelipkan permohonan maafnya kepada Vander karena merasa terlalu ingin dimengerti.


"Kau tidak perlu minta maaf, aku yang seharusnya minta maaf karena sudah lalai melindungimu," ungkapnya dengan tatapan bersalah.


Tak lama kemudian Robert muncul di depan pintu kamar Vander yang kebetulan tidak tertutup.


"Tuan anda masih disini?"


"Ada apa Robert, apa sudah ada yang berhasil menemukan istriku?"


"Sayangnya belum tuan, polisi dan semua anak buah yang anda kerahkan belum bisa menemukan nona."


Vander menghela nafas lalu memaki dengan kesal. "****! Semua tidak berguna! Dan kenyataannya akulah yang paling tidak berguna!" Vander tampak semakin frustasi dibuatnya.


"Tuan anda belum makan apapun sejak siang tadi, kalau bisa makanlah meskipun hanya sedikit."


"Tuan kecil juga tidak mau makan, dia bilang akan makan jika ada kabar dari mamanya."


"Apa kau sudah membujuknya?"


"Sudah tuan, tapi baik aku, Frida, maupun Tori, tidak satupun dari kami berhasil membujuknya. Aku rasa tuan bisa membujuknya makan, karena sejak tadi siang tuan kecil belum makan apa-apa. Aku takut putra anda sakit."


Mendengar putranya seperti itu, Vander pun langsung bangkit dari duduknya dan menemui Rey dikamarnya.


Vander masuk ke kamar putranya itu sambil membawa nampan berisikan makanan. Di kamarnya Rey terlihat duduk di atas ranjang sambil memandangi foto dirinya dan sang mama dengan tatapan rindu. Vander pun menghampirinya lalu duduk diselahnya.


"Kau sejak tadi terus memandangi foto itu dan tidak mau makan, kenapa?"


"Aku tidak lapar Pa, yang aku inginkan hanya mamaku..."


Vander menghela nafas. "Aku tahu perasaanmu, tapi Lara akan sedih kalau tahu anaknya tidak makan dengan baik."


"Bagaimana aku bisa makan, sementara mamaku saja tidak tahu apakah dia makan dengan baik juga saat ini?" Tandas Rey dengan nada sedih bercampur khawatir.


"Maafkan aku karena belum bisa menemukannya. Tapi aku akan berusaha, dan sambil menunggu kau harus tetap sehat.. Kalau tidak, Lara akan marah padaku karena tidak menjagamu dengan baik."


Rey menatap wajah papanya yang tampak tenang. Tapi meski begitu Rey bisa melihat sorot mata Vander tak bisa bohong. Ia tahu papanya pasti saat ini juga sedang merasa khawatir dan cemas namun berusaha tak ia tampakan.


Papa pasti juga sangat khawatir saat ini, aku tidak boleh membuatnya semakin susah.


Tak lama kemudian, Rey tiba-tiba saja meraih mangkuk di nampan yang dibawa Vander dan memakan makanannya.


Vander tersenyum kecil lalu mengusap kepala putranya dengan penuh rasa bangga. Terima kasih sudah memahami situasiku saat ini nak...


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


Di ruangan tempat Lara dikurung, tiba-tiba masuk seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan dengan membawa nampan berisi penuh makanan. Wanita itu meletakkan nampan makanan itu diatas meja yang ada disebelah ranjang tempat Lara berada saat ini.


"Nona silakan makan, tuan Reki minta agar anda memakannya," ucap wanita itu dengan nada lembut.


Sekilas Lara berpikir wanita itu baik. Tapi mana mungkin, mana ada orang baik bekerja untuk penjahat.


Lara tak menggubris sama sekali ucapan wanita itu. Ia malah terus saja buang muka dan tak sudi menyentuh makanan-makanan itu. Siapa yang mau makan makanan dari penjahat? Bisa jadi dimakanan itu sudah ditambahkan racun atau sejenisnya bukan?


"Nona tenang saja, aku pastikan makanan ini semua aman," tandas wanita itu seolah bisa membaca pikiran Lara. "Bagaimana pun anda harus makan, karena kalaupun anda tak lapar, tapi bayi diperut anda pasti lapar kan?"


Yang dibicarakan wanita itu benar, bagaimanapun bayi diperut Lara harus makan. "Kau— kenapa memberitahuku soal makanan itu?" Ucap Lara.


"Karena itu yang bisa kulakukan."


Entah kenapa Lara merasa yakin dengan apa yang dikatakan wanita itu, ia pun akhirnya mau memakan makanan itu.


Wanita itu tersenyum lalu izin keluar dari ruangan itu.


"Tung- tunggu!"


Wanita itu menoleh. "Ada apa nona?"


"Itu, siapa namamu?"


"Namaku Briana nona."


"Oke, Briana um— terima kasih."


"Sama-sama nona, aku permisi."


Lara pun melanjutkan makannya sambil memikirkan cara untuk dirinya kabur dari tempat itu.


...🍁🍁🍁...


Reki menemui Gauren dimarkas tempat pria itu berada saat ini.


"Akhirnya kau datang, jadi bagaimana wanita itu?"


"Dia baik-baik saja."


"Kau tidak takut dia kabur kalau kau tinggal kesini?"


Reki mendengus, "Memang apa yang bisa dilakukan wanita yang sedang hamil besar seperti dia? Sudahlah, Lara itu urusanku. Sekarang apa lagi yang harus kulakukan?"


"Kau harus terus menyebarkan serum buatanku keseluruh orang di kota ini. Bahkan kalau perlu seluruh dokter dirumah sakit ajak saja bekerja sama."


"Kau gila tuan Gauren, mana mungkin hal itu terjadi. Dokter yang mau bekerjasama dengan rencanamu ini hanya sebagian kecil. Sisanya dokter-dokter itu masih setia dengan sumpah mereka menyembuhkan pasien." Gauren sepertinya semakin gila saja melancarkan rencananya ini. Apa dia mau buat semua orang jadi pengikutnya? Benar-benar sinting!


Rena selaku dokter yang membantu menyempurnakan serum ciptaan Gauren pun datang. Ia mengatakan kalau dirinya sudah memproduksi seribu botol serum untuk disuntikan.


"Kerjamu bagus dokter Rena," puji Gauren.


"Terima kasih pujiannya, tapi sekarang aku butuh istirahat. Bisakah aku ambil cuti? Aku muak juga melihat manusia-manusia zombie ciptaanmu itu."


"Baiklah, kau boleh istirahat selama seminggu. Setelah itu kembalilah kemari..."


"Oke."


Rena pun pergi meninggalkan tempat itu.


"Dokter itu, kau percaya sekali padanya?" Tandas Reki sambil menatap Rena yang berjalan pergi.


"Dia membantuku tanpa kupaksa jadi untuk apa aku curiga? Kenapa? Apa kau berpikir ingin menghianatiku?"


"Tentu saja aku tak berani." Untuk saat ini aku masih belum berani, tapi kedepannya aku tidak akan mau jadi pionmu lagi pria tua sialan.

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS 🙏


__ADS_2