Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Merasa Bersalah


__ADS_3

Seperti biasa Lara tiba di kantor tepat pukul 8 pagi. Wanita itu mengenakan dress merah jambu diatas lutut dengan luaran blazer motif floral dan scarf putih gading yang melingkar manis di lehernya yang jenjang sambil menenteng tas branded di tangannya. Mengenakan heels Lara berjalan santai melewati lobi sambil menyapa beberapa karyawannya yang lewat. Namun kali ini seperti ada yang berbeda, sejak ia memasuki gedung kantor Lara seolah merasa ditatap aneh oleh sebagian besar pegawainya. Ia pun jadi bertanya-tanya sendiri, ada apa ini? Kenapa? Hal-hal itu seolah mengusik pikirannya.


Bahkan sampai Lara keluar dari lift, dia masi bisa mendapati beberapa karyawan yang meskipun menyapanya seperti biasa namun tatapan mata mereka seolah berkata lain. "Ini cuma perasaanku saja atau memang sejak tadi mereka memandangiku aneh begitu sih?" Tentu saja bagi Lara yang mudah kepikiran, hal itu sangat mempengaruhi konsentrasinya.


Ditengah jalan menuju ruangannya, Lara tiba-tiba saja kebelet ingin buang air kecil. Alhasil ia mencari toilet terdekatnya yakni toilet karyawan yang ada lantai tersebut. Setelah selesai buang air kecil Lara tidak langsung keluar toilet, ia malah tidak sengaja mendengar pembicaraan dua orang pegawai yang tidak lain adalah Dona dan Tara yang tengah berkaca di wastafel.


Tara  : Eh kau sudah lihat belum, foto yang baru sekali beredar.


Dona : Foto Nona Lara yang ada di tempat pelacuran itu?


Tara : Iya! Aku tidak menyangka keturunan keluarga Hazel bisa semurahan itu. Menurutmu untuk apa dia ada disana?


Dona : Hahaha apalagi? Pasti mencari pria tampan untuk dijadikannya pacar bayarannya atau kita sebut saja pria yang dibayar agar bisa memuaskan dia diranjang.


Tara : Apa iya dia begitu, kalau dilihat-lihat sepertinya dia tidak begitu.


Dona : Jangan tertipu pada penampilannya yang seolah berkelas, bisa jadi itu semua hanya kamuflase belaka. Buktinya saja kau lihatkan kan foto yang aku perlihatkan padamu waktu itu di basemant, dia tampak sedang berciuman dengan seorang pria yang tidak dikenal. Bisa jadi itu salah satu pria bayarannya.


Tara : Benar juga, apalagi dia itu tidak pernah terdengar punya pacar, bisa jadi dia lebih suka memacari pria-pria random yang bisa kapan saja dibuang kalau dia sudah bosan.


Dona : Menjijikan sekali membayangkannya. Padahal dia masih sangat muda, tapi malah memilih jadi sugar mommy yang membiayai pria demi kepuasannya, tidak tahu malu!


Tara : Dia sudah mencoret reputasi perusahaan ini, kalau aku jadi dia aku sih malu sekali. Bayangkan saja betapa menjijikannya orang berpikir mengetahui bos kita itu sudah digilir oleh banyak pria!


Geraham Lara mengatup kuat, ia sudah hilang kesabaran karena tidak tahan lagi mendengar pegawainya sendiri bicara hal menjijikan tentangnya. Dirinya yang sudah emosi langsung keluar dari toilet dan menegur kedua pegawai itu.


"Jadi mulut sampah kalian itu fungsinya untuk membicarakanku dibelakang?"


Kedua pegawai itu langsung pucat pasi dibuatnya melihat sosok Lara yang muncul tiba-tiba.


"No- Nona Lara kami..."


Lara berjalan mendekati kedua pegawai yang kini wajahnya ketakutan itu.


"Kenapa sekarang diam? Coba katakan langsung didepanku bagaimana kalian menyebutku murahan, menjijikan, tidak tau malu!" Seru Lara seraya menantang.


"K- ka- kami, kami..."


Lara tersenyum geli melihat keduanya. "Kalian pikir dengan bicara buruk tentangku kalian lebih baik?"


Kedua pegawai itu hanya diam dan menciut ketakutan dihadapan Lara saat ini.


"Hei, kemana perginya jiwa penggosip kalian? Bukankah tadi kalian lancar sekali menyebutku wanita kesepian yang suka bayar laki-laki! Kenapa sekarang diam!" pekik Lara mengepalkan tangannya. Ingin sekali rasanya Lara menampar kedua pegawai sialannya ini sekeras mungkin, tapi dirinya langsung sadar hal itu hanya akan mengotori tangannya.


Lara setengah tertawa, "Oh iya kalian menyebutku wanita kesepian. Tapi kalau dipikir-pikir, meski begitu tetap saja banyak pria mengantri padaku, sedangkan kalian?" Lara tergelak mengejek. "Kalian itu hanya dua wanita bermulut kotor yang tidak lebih baik daripada seorang pelacur jalanan!"


"Nona tolong maafkan kami..." Kedua wanita itu menghiba.


Lara menghela nafas. "Tidak ada gunanya memohon, karena mulai hari ini kalian berdua aku pecat!"


"Apa?! Nona Lara kumohon jangan pecat kami," Dona dan Tara meraung memohon dengan tidak tau diri.


"Nona aku punya adik yang masih harus aku biayai," pungkas Tara mengharap belas kasihan.


Lara biasanya akan mempertimbangkan seseorang dengan faktor kemanusiaan, tapi kali ini ia seolah tidak tergugah sama sekali. Dua pegawai wanita yang tengah memohon padanya ini sudah keterlaluan mencabik dan menginjak-injak harga dirinya sebagai wanita.


"Maaf tapi aku tidak membutuhkan pegawai bermulut jahat dan suka menebar kebencian, lebih baik cepat bereskan semua barang kalian dan pergi dari kantor ini! Aku akan minta bagian pesonalia mengurus surat pemecatan dan pesangon kalian!" Ucap Lara lalu pergi meninggalkan dua wanita menyedihkan itu.


Lara berjalan dengan wajah tenang, namun siapa sangka di dalam hatinya ia sungguh terluka mendengar orang lain berpikir dirinya serendah itu.

__ADS_1


Di dalam ruangannya ia duduk dengan raut wajahnya yang jelas melukiskan kesedihan diliputi rasa pedih yang mencekik. "Kenapa mereka pegawaiku sendiri tega mengatakan diriku begitu? Apa dimata mereka aku terlihat serendah dan semenjijikan itu?" Baru dua orang, mungkin bisa jadi masih ada sebagian pegawai lain yang berpikiran sama seperti Dona dan Tara tentang dirinya.


"Ini menyedihkan!" Tapi bagaimanapun Lara tidak boleh goyah, ia harus bisa tetap mengontrol dirinya sendiri dalam menghadapi ini semua. Tiba-tiba saja Lara berpikiran untuk membuka akun media sosialnya, ia pun syok saat melihat diberanda ternyata benar ada foto dirinya kemarin saat berada di tempat pelacuran itu.  "Ternyata kemarin itu aku benar-benar dijebak berada ditempat itu supaya reputasiku buruk dimata orang banyak!" Tandas Lara.


Siapa yang merencanakan ini semua? Lara sungguh tak habis pikir, musuhnya ini benar-benar selicik ini.


Di rooftop Vander terlihat sendang berbicara dengan Aron di telepon sambil menghisap sebatang rokok yang dipengannya. Ada yang sedikit berbeda dari penampilan Vander. Ya, pria tampan itu terlihat mengenakan jam tangan hadiah ulangtahun pemberian Lara. Tangannya yang kokoh dan berurat dihiasi jam tangan klasik warna gelap sangat cocok di kulit Vander yang cerah dan cenderung agak eksotis.


Aron : Jadi bagaimana? Kau suka hadiah dari pacarmu itu?


Vander : (Tersenyum kecil) Ya, apapun darinya aku akan selalu suka.


Aron : Nona Lara aku lihat dia sangat mencintaimu, jadi kau harus jaga dia dengan baik. Jangan sampai terjadi kejadian seperti kemarin lusa terjadi lagi.


Vander : Lusa? Ada apa memangnya! (Vander terlihat tidak tau apa-apa)


Aron : Jadi kau tidak tau? (Aron akhirnya menceritakan kejadian kemarin dimana Lara hampir dijebak dan dibawa paksa ketempat pelacuran)


Vander :.... Begitu? Baik, terima kasih informasinya Ron!


Van langsung menutup teleponnya, seketika pria itu auranya terasa mencekam. Tatapannya dingin dan tidak tertebak, ia membuang putung rokoknya dan menginjaknya hingga tak berbekas lalu berjalan pergi.


**


Di basement terlihat Mira dan Gavin baru saja kembali luar, kebetulan hari ini memang jadwal Gavin datang untuk mengecek kendaraan pribadi Lara. Saat ia tengah mengambil perkakas bengkelnya tiba-tiba saja terdengar suara berat dan gahar berseru memanggilanya dengan nada yang jelas menunjukan amarah yang bergemuruh.


"Gavin!" Seru suara pria itu lagi yang mana Gavin merasa tidak asing dengan suara tersebut


"Kakak?" Pungkas Gavin. Ternyata suara berat dan terdengar garang itu berasal dari Vander yang kini berjalan ke arah Gavin dengan tatapan mata yang berhasil membuat dirinya maupun Mira, merasa ngeri melihatnya.


"Kak Vander ada apa pagi-pagi kau—"


Tiba-tiba saja Vander mendaratkan bogem mentah ke wajah Gavin hingga membuat pria itu jatuh terpelanting.


"Ka- kakak ada apa? Kenapa kau memukulku?" Gavin terlihat bingung sambil memegangi ujung bibirnya yang sudah berdarah.


"Anak sialan, cepat bangun! Hadapi aku!" Seru Vander yang marah namun juga seperti masih menahan diri.


Gavin tentu tidak melawannya toh melawan pun juga ia tidak akan menang. Namun dirinya tau persis kalau Van tidak mungkin memukulnya dengan seluruh tenaganya, karena kalau iya pasti lukanya akan lebih parah lagi dari ini.


Vander manarik kerah baju Gavin mengangkatnya dan menatap dengan penuh kesal lalu kembali memukul Gavin sekali lagi hingga tersungkur.


"Gavin!" Seru Miranda histeris dan langsung menghampiri pria itu. "Kau- kau terluka!" Seru Miranda tampak khawatir sekali. Wanita itu pun langsung mendongak menatap Van yang berdiri diselimuti rasa marah.


"Vander apa kau gila, kenapa kau memukul Gavin?!" Pekik Miranda.


"Si bodoh itu, dia tidak memenuhi tanggung jawabnya!"


"Tanggung jawab?" Gavin dan Mira bingung.


"Kenapa kau biarkan Lara pergi sendirian, padahal aku sudah mempercayakan dia padamu!"


Miranda langsung menatap marah pada Vander.


"Kau marah karena kejadian itu? Heh, sepertinya kau sudah salah mengira. Kenyataannya bukan salah Gavin yang tidak menjaga Lara tapi dia sendiri yang seenaknya pergi tanpa memberitahu Gavin ataupun aku!"


Van tersentak dan mulai berpikir kalau yang dikatakan Mira kemungkinan besar adalah benar, mengingat ia sudah lama kenal dan paham betul sifat Gavin yang tidak mungkin mengabaikan apapun ia perintahkan.


"Dan kau tau, saat Gavin meminta Lara agar memberitahumu segera kejadian itu dia malah memintaku dan Gavin agar tidak menceritakannya padamu," sambung Miranda.

__ADS_1


Vander mengatupkan gerahamnya lalu pergi tanpa sepatah katapun.


"Dasar pria arogan!" Maki Miranda sambil membantu Gavin berdiri.


"Biarkan saja Miranda," ucap Gavin.


"Tapi dia—"


"Kak Vander, pikirannya pasti sedang kacau saat ini."


"Huh, terserah! Lebih baik ayo kita segera obati lukamu," ucap Miranda.


**


Lara tidak tenang saat ini mengetahui foto dirinya tersebar di dunia maya. Ia merasa butuh teman untuk berbagi cerita tentang keluh kesahnya sebagai wanita saat ini. "Aku ingin menemui Miranda tapi... sepertinya dia masih marah padaku." Tapi Lara benar-benar ingin bicara dengan Mira saat ini, karena satu-satunya sesama wanita yang bisa memahaminya hanya Miranda.


Lara menghela nafas dan memutuskan untuk pergi menemui Miranda. "Kalaupun dia masih marah, aku akan terus meminta maaf sampai dia memaafkanku!" Tekad Lara.


Gadis itu pun kemudian langsung keluar ruangannya dan pergi menemui Mira di ruang kerjanya.


Setibanya di depan ruangan Miranda, Lara ingin mengetuk, tapi bukankah ini aneh mengingat biasanya Lara yang sudah menganggap Mira saudaranya sendiri lebih sering langsung masuk untuk menemui Mira.


"Miranda maaf aku mengganggumu tapi ada hal yang—" Lara seketika tak meneruskan perkataannya melihat Mira diruangannya tengah bersama Gavin yang terlihat terluka dan sedang diobati.


Lara yang ikut khawatir pun langsung menghampiri pria itu dan menanyakan apa dia baik-baik saja?


"Ya aku baik-baik saja, karena sudah lama tidak dipukul seperti ini jadinya agak syok," jelas pria berwajah imut tersebut.


Dengan wajah marah Lara ingin tau siapa yang sudah melukai Gavin. "Bilang padaku siapa yang telah melukaimu?"


Miranda tertawa garing seolah mengejek Lara. "Kau tanya siapa? Harusnya kau tanya semua ini terjadi karena siapa?!" Pekik Mira dihadapan Lara.


Gadis itu tersentak kaget, ini pertama kalinya Mira membentaknya sekeras ini. "Ma- maksudmu apa Miranda aku tidak paham."


Miranda benar-benar merasa kesal pada Lara.


"Sudahlah Mira kau jangan terlalu keras begitu pada Kak Lara, Kak Lara pasti juga tidak menyangka kalau Kak Vander akan memukulku begini," pungkas Gavin mencoba menurunkan tensi ketegangan saat ini.


"Vander? Jadi dia yang memukul Gavin?"


"Iya! Dan hal ini tidak akan terjadi jika saja kau tidak keras kepala, dan dengan ceroboh pergi sendirian waktu itu!"


Lara paham sekarang, jadi Vander sudah tau soal dirinya yang dibawa ke tempat pelacuran itu dan dia marah, mengira kalau Gavin tak menjaga dirinya.


"Maaf, aku minta maaf...," ucap Lara perlahan sambil menahan isak tangisnya karena rasa bersalah. "Gavin maafkan aku, aku sungguh minta maaf padamu dan Miranda karena sudah bertindak bodoh hingga membuat kalian susah. Aku minta maaf..." Lara sampai membungkukan badannya. "Aku memang bodoh seharusnya aku berpikir panjang sebelum bertindak, maafkan kebodohanku..." Lara terus menerus meminta maaf.


"Kak Lara sudah jangan seperti ini, aku tidak masalah sama sekali kok!" Pungkas Gavin yang tidak enak hati melihat Lara meminta maaf sampai seperti itu.


Bagitupun Mira yang melihatnya, ia seketika jadi tidak tega dan kasihan. Ia memang marah pada Lara tapi melihatnya menyalahkan dirinya membuatnya jadi tidak tega. Lara sampai mencengkeram kuat dressnya demi menahan tangis penyeselannya.


"Maafkan aku ya...," lirih Lara dengan suara bergetar menahan tangis. Tidak ingin dilihat menangis Lara pun langsung pergi dengan kepala tertunduk.


"Aku jadi merasa bersalah pada Kak Lara," ucap Gavin.


Miranda pun jadi terlihat sedih dan menyesal, jujur dirinya sama sekali tidak bermaksud memojokan Lara sama sekali.


...🌿🌿🌿...


TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜

__ADS_1


__ADS_2