
Di ruangannya Lara terlihat tengah memegangin kalender dan mencoret coret setiap tanggal yang sudah lewat sejak Vander pergi. Terhitung sudah hampir satu minggu dirinya tidak bertemu ataupun berkomunikasi dengan kekasihnya itu. Lara tampak kesal dan murung karena Van benar-benar belum sama sekali menghubunginya bahkan mengirimi pesan pun tidak. "Apa dia sudah lupa padaku dan dapat pacar baru disana!" ujar Lara merasa kesal sendiri. "Tapi... kan aku sendiri yang mengiriminya pesan sejak awal, supaya dia tidak usah menghubungiku kalau sedang sibuk." Lara jadi menyesal sekali karena sudah mengiriminya pesan itu. "Harusnya aku bilang saja, sesibuk apapun harus menghubungiku! Huft aku ini memang bodoh!" Lara memaki diri sendiri.
Sebenarnya Lara ingin sekali menelepon Vander tapi dia gengsi, ia takut pria itu jadi besar kepala karena tau aku merindukannya. "Argh aku rindu dia, kenapa sih dia itu suka tidak peka!" Lara menopang dagu dan bertanya-tanya. "Kira-kira Vander sedang apa ya sekarang?"
**
Di ladang kapas Vander tampak serius mencatat dan mengamati pertumbuhan serta kapas yang dihasilkan. Ia berpikir jika hasil kapas dari ladang ini bagus, maka ini bisa dijadikan bahan baku utama pembuatan tekstil di Miracle. Apalagi harga jual di RK tergolong lebih murah dibanding harga jual hasil dari perkebunan di kota-kota lain yang memang sudah lebih dulu terkenal hasil panennya.
"Ehm, sepertinya kau lelah? Ini kau minum dulu," tiba-tiba saja Akina datang dan memberikan sebotol air mineral kepada Vander.
Vander pun menerima air mineral itu dan langsung meneguknya sampai habis. "Ah... Ini segar sekali terima kasih Nona Akina," ucap Van.
"Sama-sama, tapi... tidak usah panggil Nona, panggil saja aku Akina lagipula sepertinya kita seumuran," ungkap wanita itu.
"Oh memang berapa usiamu?"
"Aku... duapuluh tujuh tahun."
"Oh, aku tahun ini hampir duapuluh sembilan," ungkap Vander.
"Begitu ya?" Akina jadi senyum-senyum mengetahui dirinya dan Van sepantaran. "Oh iya Vander, ini sudah jam makan siang kenapa kau tidak ke ruang makan? Apa kau tidak suka makanan yang dibuat oleh kami?"
"Oh bukan begitu, aku hanya terlalu fokus saja meneliti kapas-kapas ini hingga lupa untuk makan," jelas Vander.
Akina tersenyum kecil melihat Van yang begitu bekerja keras. "Kau sangat bekerja keras, apa kau ingin membuat pabrik kapas atau semacamnya?" Akina jadi penasaran alasan Van ikut program ini.
"Aku memang punya rencana, tapi..." Vander terdiam.
"Tapi apa?"
"Bukan apa-apa, sepertinya aku benar-benar merasa lapar kali ini. Sebaiknya aku segera ke ruang makan." Van meraih tangan Akina dan mengembalikan botol mineral tadi ke Akina. "Ini botolnya, sekali lagi terima kasih atas minumannya, aku duluan!" Vander lalu pergi meninggalkan Akina menuju ke ruang makan.
"Tadi dia memegang tanganku?" wanita jadi itu senyum-senyum sendiri memandangi botol air mineral bekas minum Vander tadi.
**
Di kantin Miracle Gavin terlihat makan siang dengan Miranda. Entah sejak kapan, tapi beberapa hari ini komunikasi antara Mira dan Gavin mulai membaik. Keduanya kini terlihat jadi sering makan siang bersama ataupun sekedar nongkrong sambil minum kopi.
Gavin menyeruput mie ramen dari sumpitnya. "Oh iwya Miwanda, aku rasa kita memang sudah hawus bewdamai," ucap Gavin dengan mulutnya yang penuh ramen.
"Telan dulu makananmu baru bicara!" Tegur Miranda.
"Iya maaf, ya intinya kita harus berdamai demi ketentraman Kak Lara."
Yang dikatakan Gavin ada benarnya juga, lagipula tidak ada untungnya sama sekali bagi Mira terus ribut dengan Gavin.
"Aku setuju, tapi dengan syarat kau berhenti menyebutku bibi!"
"Iya, iya..., lagian aku memanggilmu itukan karena kau duluan yang mulai menyebutku bocah tengik!" Gerutu Gavin lalu kembali menyeruput ramennya.
"Ya, habisnya wajahmu memang terlihat masih sangat muda. Jadinya aku pikir kau masih berusia belasan, makanya kusebut kau bocah."
Memang benar sih, meski usianya 25 tapi wajah Gavin masih seperti anak remaja 18 tahun.
"Oke kalau begitu mulai hari ini kita berdamai," Gavin mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Mira.
Dengan wajahnya yang datar Miranda pun menjabat tangan Gavin. "Setuju!"
Akhirnya Mira dan Gavin pun bardamai. Kini mereka terlihat lebih kompak bekerjasama terutama dalam menjaga Lara.
"Eh iya Miranda, si Jeden itu... Dia menyukai kak Lara ya?"
"Ya... Begitulah, sejak dulu Jeden kan memang selalu mengejar Lara. Sayangnya Lara tidak pernah menanggapinya," jelas Miranda yang sudah mengenal Lara dan Jeden sejak mereka kecil.
"Kukira dia mantan kak Lara atau pacarnya."
"Kenapa bisa kau berpikir begitu?"
"Habisnya dia terlihat maksa sekali seolah dia itu pacarnya. Kak Vander biarpun kejam dan sangat galak tapi kalau sama wanita terutama kak Lara di tidak pernah kasar tuh!" Ungkap Gavin.
"Aku kenal Lara sejak kecil, bagiku dia sudah seperti adikku sendiri. Dan setauku di usianya yang hampir dua puluh dua dia benar-benar baru pertama kali jatuh cinta pada pria."
"Benarkah? Jadi sekarang Kak Lara sudah punya pacar, siapa?" Selidik Gavin.
"Heh! Memang kau tidak tahu hubungan kakak angkatmu dan Nona Lara?"
Gavin menggeleng tak menyangka. "Ja- jadi benar mereka berdua itu..." Gavin menempelkan kedua ujung jarinya.
"Iya..."
Wajah Gavin sumringah dan langsung berucap syukur, "Terima kasih Tuhan, akhirnya dia tidak menjomblo lagi!"
Miranda yang melihatnya pun jadi penasaran kenapa Gavin sesenang itu mengetahuinya. "Kenapa kau senang sekali?"
"Aku senang akhirnya Kak Vander menemukan cinta lagi,"
"Lagi? Apa maksudmu?" Miranda menyipitkan matanya ke arah Gavin
__ADS_1
"Ummm... itu..." Gavin akhirnya menceritakan kepada Miranda sosok mantan kekasih Vander yang bernama Nagisa yang meninggal 6 tahun lalu.
"Wah jadi dia punya mantan, ya sebenarnya tidak heran sih. Vander itu memang sangat tampan, kalaupun dia punya mantan puluhan juga aku tidak kaget."
"Tapi kau jangan bilang Kak Van aku cerita ini padamu ya Mira!"
"Tenang saja! Aku juga tidak akan bilang pada Nona Lara soal ini. Aku takut hubungan mereka malah jadi renggang kalau Lara tau soal ini." Melihat Gavin yang cukup luwes menceritakan masa lalu Vander membuat Miranda berpikir untuk mengorek lebih dalam rasa penasarannya terhadap Vander yang baginya misterius.
"Oh iya Gavin, kau kenal Van sudah lama bukan? Kau bisa ceritakan padaku tentangnya, kau pasti tau banyak tau soal pria itu kan?"
Wajah Gavin langsung panik dicecar begitu. Aduh bagaimana ini, Miranda sepertinya penasaran dengan latar belakang Kak Vander, tapikan aku tidak bisa bilang. Akan terlalu berbahaya kalau semakin banyak yang tau kalau sebenarnya Vander itu mantan anggota crux yang sedang dicari-cari saat ini.
"Um— soal masa lalu Kak Vander, di- dia hanya orang miskin biasa yang kerjanya serabutan dan berakhir jadi gelandangan," terang Gavin.
Dari nada bicaranya, Gavin sepertinya belum mau jujur. Itu wajar saja mengingat Vander pasti sudah mengingatkannya agar tidak memberitahu siapa-siapa. Tapi bagaimanapun ia tetap harus tau dengan jelas siapa sebenarnya sosok pria yang dipacari Lara saat ini, dan Lara juga harus tau itu.
**
Setelah selesai makan siang, tiba-tiba saja Vander dapat panggilan masuk dari Gavin. Ia pun langsung mengangkatnya.
Van : Ya halo ada apa? Apa ada hal buruk yang terjadi?
Gavin : Kak! Kenapa kau seminggu ini belum juga menghubungin Kak Lara?!
Van :..... Memang dia kenapa?
Gavin : Kak Lara jadi sering terlihat tidak semangat, dia sepertinya sangat berharap kau meneleponnya. Kasihan dia, kenapa kau jahat sekali! Kalau begini lebih baik aku saja yang jadi pacarnya.
Van : Hei apa maksudmu!
Gavin : Sudahlah Kak, aku sudah tau semuanya dari Miranda. Kau dan Kak Lara sebenarnya kalian itu pacaran kan?
Van : Menghela nafas... Apa dia baik-baik saja? (Terdengar khawatir)
Gavin : Kau telepon saja sendiri kalau mau tau. Aku cuma mau ingatkan, pacarmu itu cantik masih muda dan manis. Jadi jangan menyesal kalau dia diambil sama pria lain hanya karena kau tidak peka! Sudah ya bye!
Van : Halo! Halo!
"Argh sial! Dimatikan!" Van berdecak kesal.
"Kau kenapa Nak?" Tanya paman Johan yang tiba-tiba saja datang menghampiri Vander di meja makan.
"Tidak apa, aku hanya habis telepon seseorang."
Paman Johan mengangguk paham. "Oh iya anak muda, apa kau sudah punya pacar atau istri?"
"Sekedar ingin tau saja, karena wanita-wanita disini terutama yang seusia denganmu mereka sepertinya menyukaimu. Termasuk Nona Akina yang ada disana!" Van melihat ke arah dimana Akina tengah memperhatikannya saat ini.
"Nona Akina dia sepertinya menyukaimu, dia selalu melihat kearahmu. Aku lihat Nona Akina cantik dan dia pintar, kalau kau single cobalah beri dia kesempatan, barangkali kalian cocok," ungkap Johan.
Van tertawa singkat, "Kau sedang mencoba menjodohkanku ya pak tua?"
"Tidak aku hanya—"
"Terima kasih atas perhatianmu, tapi sayangnya aku sudah punya wanita yang tidak bisa digantikan oleh siapapun. Jadi maaf aku tidak bisa memberi kesempatan pada Akina, permisi..." Van melenggang pergi.
"Ternyata dia pria tampan yang setia, hebat!" puji paman Johan tersenyum.
**
Di apartemennya Lara dibantu Miranda tengah menyiapkan makan malam. Sejak Van pergi Lara memang tinggal ditemani Miranda dan Gavin.
"Gavin tolong kau bawa kari sapi ini ke meja makan!" Perintah Lara.
"Baik Kak!" Gavin pun melakukan apa yang diminta oleh Lara, ia membawa kari sapi itu ke meja makan. Setelah semua makanan siapa mereka bertiga pun berkumpul di meja makan untuk mulai makan malam bersama.
"Selamat makan..." Ucap mereka bertiga.
Gavin yang baru kali ini makan masakan Lara pun antusis mencicipinya.
"Bagaimana enak kan?" Tanya Lara.
"Hemmm... Ini enak sekali! Kak Lara kau memang istri idaman sejuta umat!" puji Gavin dengan sangat jujur.
Melihat Gavin yang memuji masakanya dan bertingkah polos begitu, tiba-tiba saja Lara jadi teringat Vander. Pria itu biasanya selalu memuji masakan buatannya dengan wajah sumringah.
"Huft!" Desah Lara menghela nafas
"Nona Lara kenapa kau tidak makan?" Ujar Mira.
Lara menaikan kedua pundaknya. "Entahlah aku tiba-tiba saja tidak selera makan."
"Kak Lara, kau rindu sama Kak Vander ya?" Ucap Gavin.
Lara hanya tersenyum hambar menganggapinya, tak lama kemudian ponsel Lara yang ada diatas meja bergetar ada panggilan masuk. Gadis itu pun langsung meraih ponselnya. Melihat layar ponselnya, seketika wajah Lara jadi terlihat bersemangat.
Akhirnya dia meneleponku! Pekik kegirangan di dalam hati.
__ADS_1
Lara pun pamit ke kamar untuk angkat telepon. "Kalian berdua makan saja dengan nikmat, aku mau ke kamar angkat telepon! Bye!"
Mira dan Gavin saling menoleh dan mengangkat alisnya, seolah mereka tau siapa yang menelepon Lara saat ini.
*
Di kamarnya Lara bersiap mengangkat telepon dari Vander. "Tenang, tenang aku harus tenang tidak boleh terdengar terlalu bersemangat. Ehem!"
Lara : Halo...
Van : Hai, apa kabar? Maaf aku baru menelponmu. Kau tidak marah padaku kan?
Lara yang tadinya mau bertingkah cool nyatanya sulit. Ia tidak tahan ingin marah-marah dan juga mengomel pada pacarnya itu.
Lara : Kenapa baru telepon? Tidak ada sinyal? Ponselmu mati? Sibuk? Tidak ada waktu, atau kau memang sudah lupa padaku?
Van : Nona...
Lara : Van kenapa kau tidak meneleponku! Aku khawatir tau! Aku ingin meneleponmu tapi... Tapi aku takut kau sibuk, kau ini sengaja ya buat aku kesal! Huh!
Van : Kita video call saja ya?
Lara : Terserah!
(Lara dan Vander kini melakukan video call)
Meski hanya lewat virtual akhirnya keduanya bisa saling melihat satu sama lain.
Van : Nona Lara yang cantik dan manis kenapa kau cemberut?
Lara : Jangan merayuku!
Van : Aku tidak merayu. Aku sangat rindu padamu apa kau juga merindukanku? (terdengar serius)
Benteng pertahanan Lara akhirnya runtuh, dirinya tidak bisa bohong betapa ia juga sangat rindu pada kekasihnya itu.
Lara : Aku merindukanmu setiap hari tau...
Van : Aku pun, aku bahkan hampir gila. Setiap malam aku membayangkanmu bersamaku membuat adikkubberdiri, aku jadi harus melakukannya di kamar mandi sendirian.
Lara : Vander kenapa kau vulgar sekali sih bicaranya!
Van : Aku sungguh ingin menculikmu, menawanmu bersamaku disini. Oh iya apa ada Gavin macam-macam padamu?
Lara : Tidak, disini dia jadi anak yang manis dan penurut. Aku yang harusnya bertanya, selama tidak ada aku apa kau tergoda wanita lain. Bagaimanapun kau kan pria normal.
Van : Sejak aku melihatmu tidak ada wanita lain yang bisa membuat hasratku bergejolak, jadi Nona tenang saja.
Lara : Mana mungkin!
Van : Kau mau lihat milikku yang sekarang sudah tegak berdiri!
Lara : Ah iya-iya tidak usah! Aku percaya kok!
Van : Ini salah satu alasan kenapa aku tidak mau meneleponmu. Aku melihatmu tapi tak bisa menyentuhmu, rasanya sangat menyiksa. Bermain sendiri itu tidak enak rasanya.
Lara : Okey cukup! Wajah dan tubuhku jadi panas kalau kau bahas hal itu terus! (Lara malu-malu)
Van : Nona apa kini kau jadi basah? (Menggoda Lara)
Lara : Sudah hentikan membahas itu! Pokoknya kau sehat-sehat saja disana. Aku akan merindukanmu dari sini.
Van : Kau juga, jaga diri baik-baik ya. Hubungi aku segera kalau ada apa-apa.
Lara : Iya... Um— sepertinya memang cukup sampai disini dulu ya. Aku takut semakin jadi rindu.
Van : Ya baiklah, kalau begitu selamat malam nona kecilku...
Lara : Selamat malam sayang...
(Keduanya pun mematikan video call mereka)
Tak lama ponsel Lara berderap lagi, ternyata Van mengiriminya pesan. Lara pun langsung membaca pesan itu.
Dari Vander 💜 :
Lara cantikku yang paling cantik dan selalu jadi yang paling cantik. Terima kasih untuk pertemuan virtulanya hari ini. Aku tak pandai menggombal tapi aku hanya ingin bilang 'I love you to the moon and back with my whole life.
"Aku tidak menyangka dia bisa mengirimiku pesan semanis dan seromantis ini," Lara sampai tak bisa tersenyum manis, hatinya seolah seperti dipenuhi bunga-bunga bermekaran di musim semi. Ia pun membalas pesan itu.
Untuk Vander💜 :
I LOVE YOU TOO MY MAN... ❤️
Mood Lara kini jadi sangat bagus. "Aku senang Van baik-baik saja dan merindukanku. Aku jadi semakin tidak sabar bertemu dengannya langsung."
Bersambung...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜