
Van membawa Lara yang mabuk masuk ke dalam mobil.
Tiba-tiba Lara menarik kerah baju Van. "Aku mau duduk di sebelahmu saja," pinta Lara yang tidak mau duduk dibelakang.
"Ta- tapi..."
"Sudah lakukan saja apa yang aku minta," rengek Lara yang setengah hilang kesadaran.
Mau tidak mau Vander pun menuruti apa yang dimau Nonanya tersebut. Ia pun memindahkan Lara dan meletakannya di kursi depan.
Setelah keduanya duduk di dalam mobil, Vander bermaksud memasangkan sabuk pengaman ke bosnya, namun oleh Lara pria itu malah mendorong, dan ia mulai bicara ngelantur. "Vander kenapa kau tampan sekali?" Ujarnya tiba-tiba.
Jemari Lara mulai menyentuh ditiap bagian wajah Vander, "Hidungmu mancung dan tinggi, alismu tebal, bulu matamu juga lentik. Kau sadar tidak sih kalau kau itu sangat tampan?" Ucap Lara tertawa.
Dan Vander hanya bisa menghela nafas melihat tingkah dan ucapan Lara yang sedang mabuk. "Nona tolong kau diam sebentar, biar aku pasangkan dulu sabuk pengamanmu," Van mencoba kembali memasangkan sabuk pengaman untuk Lara namun tiba-tiba.
MMUAH...! Lara malah mencium pipi Vander.
Alhasil lagi-lagi Van gagal memasangkan sabuk pengaman pada Lara. Pria itu malah dibuat syok dan tak berkutik. Sementara Lara malah senyam-senyum sendiri setelah melakukan hal tersebut pada pengawalnya.
Wajah Van yang kini memerah hanya bisa terpaku sambil menatap Lara yang senyum-senyum setengah sadar menatap dirinya.
"Nona, apa kau sadar dengan yang lakukan barusan? "
Lara langsung menyentuh pipi kanan Vander dan berkata, "Kau tidak suka dengan hadiahku ya?"
"Bukan begitu Nona, hanya saja..."
"Ssttt..." Lara meletakan jari telujuknya dibibir Van. "Aku masih mau memberimu satu hadiah lagi."
Van mengerutkan keningnya, Hadiah untuk apa lagi? Pikir Van.
Tiba-tiba saja Lara mendorong Van agar kembali duduk diam dikursinya.
"Um— Nona kenapa kau medorong aku?!"
"Sudah, lebih baik kau duduk saja disitu dan terima saja apa yang aku lakukan," perintah Lara.
Pria itu pun pada akhirnya hanya bisa menurut. Jujur saja Vander sama sekali tidak tau apa yang ingin dilakukan Lara saat ini. DEGH!! Seketika Lara membuat Vander syok tak terkira.
Lara tiba-tiba saja beranjak dari kursi lalu sengaja duduk dipangkuan Vander dan menghadap dirinya. Kini kedua wajah mereka menghadap sejajar dan saling menatapa satu sama Lain. "Nona Lara a- apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Vander gugup dan tidak tau harus berbuat apa. Lara berada duduk diatas pangkuan Van, wajah mereka kini saling melihat satu sama lain dengan sangat dekat.
__ADS_1
Raut wajah Lara menunjukan ekspresi yang tidak biasa, hingga membuat Vander tidak percaya melihatnya. Gadis ini jadi agresif sekali kalau mabuk. Apa ini sungguh dirinya?
Lara memegangi wajah Vander dan bertanya, "Vander jawab, apa aku cantik?"
Van menelan ludah sambil menatap Lara seolah tak berkedip.
"Kenapa kau tidak jawab, apa aku cantik?" Desak Lara lagi
"Iya sangat cantik," jawab Van.
"Dibanding Karina?"
"Kau jauh lebih segala-galanya Nona," balas Van lagi.
Lara lalu tersenyum senang, "Jawabanmu bagus, aku akan memberimu hadiah."
"Hadiah ?" Van tidak paham maksud ucapan Lara.
Lara tiba-tiba saja mengecup bibir Vander lalu berkata, "Itu hadiahnya."
Lagi-lagi Vander dibuat syok dan tidak percaya dengan apa yang Lara lakukan padanya. Sungguh, hanya gadis ini yang bisa membuat seorang Vander seolah tak berdaya hingga pasrah tak melawan.
Lara tersenyum dan bertanya apa Van suka dengan hadiah yang diberikan Lara barusan. Vander terdiam misterius ia tidak menjawab sama sekali.
Van kemudian tiba-tiba saja mentap Lara dengan tajam dan intens. "Taukah kau betapa sulitnya aku menahan diri darimu, tapi kau dengan sengaja malah membangunkan sisi liarku." Van memeluk tubuh Lara. "Kau bertanya aku suka atau tidak? Ya, jawabannya aku sangat suka hadiahmu Nona, dan aku ingin hadiah seperti itu lagi," ucap Van yang kemudian langsung melahap bibir merona gadis itu.
Lara yang awalnya kaget tak lama langsung terbuai oleh kecupan panas Vander, keduanya pun akhirnya berciuman dengan intim selama beberapa saat. Hingga akhirnya Lara yang mulai merasa sulit bernafas pun menarik diri. Nafas Lara terengah- engah. Netranya memandangi Van sayup-sayup, ia bisa melihat bibir pria dihadapannya itu basah dan ada sedikit noda lipstik menempel. Lara pun ingin mengusap bibir Van, namun Van malah berbalik mencium jemari kecil Lara yang cukup lentik. "Tidak usah kau bersihkan Nona, baku lebih suka membersihkannya dengan lidahku," tutur Vander menjilati bibirnya sendiri. Melihat itu kupu-kupu diperut Lara seolah berterbangan.
Tak lama kemudian, wajah Lara berubah kaget, ia merasakan beda besar dan keras yang dari tadi menyentuh pangkal paha miliknya Lara seperti semakin tambah besar dan keras "Vander, kenapa itunya semakin keras?" Ucap Lara dengan ekspresi datar dan mata sayu
"Itu kan gara-gara Nona yang bangunkan."
"Lalu aku harus apa?" Tanya Lara yang sepertinya makin ngelantur.
Vander menyeringai lalu berbisik di telinga Lara. "Kau harus membuatnya kembali normal Nona."
"Normal apanya? Aku kok malah jadi merasa sedang berputar ya," Ucap Lara yang merasa kepalanya saat ini tengah berputar-putar, dan tak lama ia pun pingsan dipundak sang pengawal. Vander yang sudah diambang batas alhasil hanya bisa pasrah.
"Bagaimana kau sekejam ini padaku Nona. Kau sudah membangkitkannya tapi ditengah jalan kau malah pingsan. Kau sungguh mau menyiksaku ya Nona?"
Pada akhirnya Van harus memindahkan Lara dulu ke posisi duduk yang benar dan memasangkan sabuk pengaman.
__ADS_1
Sbeelum pergi Van memandangi Lara yang tertidur tak sadarkan diri. "Lara Hazel, kau benar-benar berhasil meruntuhkan tembok pembatas yang sudah aku bangun hanya dalam waktu semalam,"ujarnya.
Van tersenyum miring. "Tapi meski begitu, ciuman tadi rasanya enak, sayangnya kau masih amatir Nona," ungkap Vander yang kemudian tancap gas menuju apartemen.
**
Sesampainya di apartemen Van langsung membawa Lara ke kamar dan meletakkan tubuh wanita itu diatas ranjang lalu menyelimutinya.
"Sebaiknya aku tidak lama-lama berada di dalam sini." Vander takut dirinya tak bisa menahan diri, mengingat tubuh Van yang sudah berkeringat dan tersiksa karena dari tadi sudah menahan diri.
Setelah membawa Lara ke kamar, Van langsung ke kamar mandi menyengarkan dirinya."Sial, aku hampir jadi gila selama di dalam mobil menahan diri," keluh Vander.
***
Di kediamannya, Karina yang perban kakinya kini sudah dilepas terlihat sumringah karena sudah berhasil mendapatkan nomor Vander. "Akhirnya aku bisa menghubunginya tanpa harus melalui Lara!" Karina yang sudah tidak sabar bicara secara personal dengan Van pun langsung menghubunginya saat itu juga.
"Ayolah angkat Van cepat angkat!" Ujar Karina yang sudah tidak sabar untuk teleponan dengan pria pujaan hatinya.
Van : Halo
Karina : Ah Vander ini aku Karina.
Van : Ada apa Nona Karina? Bukankah ini sudah malam?
Karina : iya aku tau tapi... Aku ingin sekali menghibungimu, tidak boleh ya?
Van : Hoam... Tapi Nona Karina, sepertinya aku sudah sangat mengantuk dan ingin tidur. Aku rasa lain waktu saja kalau mau ngobrol di telepon.
Karina : Oh, be-begitu ya? Yasudah kalau begitu kau tidurlah.
Van : Ya, selamat malam.
Karina : Selamat malam.
"Padahal belum terlalu malam, tapi kenapa dia sudah mau tidur!" Gerutu Karina merasa kesal tidak jadi ngobrol secara personal dengan Vander.
**
Vander yang tengah berada di ruang tengah terlihat duduk disofa sambil menikmati sebotol liquor. Dirinya masih sangat teringat kejadian di mobil tadi. Van menyentuh bibirnya, "Tadi itu benar-benar terjadi. Aku bahkan masih bisa merasakan bibir Nona yang lembut dan manis seperti buah ceri."
Mungkinkah pertahanan Vander terhadap Lara akan benar-benar runtuh setelah ini?
__ADS_1
Bersambung...
Jangan Lupa VOTE, LIKE, COMMENT 💜