Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Aku... Jatuh cinta padamu


__ADS_3

Jeden terlihat tergesa-gesa, suara langkah kaki yang timbul dari sepatunya yang berdecit menggesek lantai marmer Mircale yang mengkilat. Pria itu berjalan dengan cepat menuju sebuah ruangan tempat dimana Miranda bekerja.


Dan dengan tanpa permisi Jeden langsung mendobrak pintu ruangan Miranda tersebut dan menyelonong masuk ke ruangan Lara.


Mengetahui hal itu Miranda selaku pemilik ruangan itu pun langsung bangkit dari duduk dan menegur Jeden.


"Apa kau sudah tidak memiliki sopan santun tuan Jeden?!"


Jeden tidak memperdulikan ucapan Miranda tersebut, ia yang tengah emosi justru langsung menyerbu Mira dengan berbagai macam pertanyaan.


"Katakan diman Lara sekarang?" Ucap Jeden. "Kau pasti bersekongkol dengan pria gembel busuk itu kan membawa Lara pergi?!" Jeden baru tau kalau Lara pingsan makanya dirinya langsung bertanya pada Mira karena teleponnya tidak diangkat oleh Lara. "Katakan dimana rumah sakitnya?"


"Tuan Jeden Lee, jaga sikap dan ucapanmu! Bagaimana pun ini ruanganku, dan aku tidak suka ada keributan disini!"


"Kalau kau tidak mau ada keributan cepat jawab pertanyaanku dimana Lara sekarang!?"


Miranda mana mungkin dengan semudah itu memberitahukan dimana Lara saat ini ke Jeden. Apalagi mengingat Jeden seringkali berseteru dengan Van, kalau ia tau Lara sedang bersama Van sudah pasti malah akan menambah runyam saja.


"Kenapa kau diam, kau pasti tau dimana Lara iya kan?"


"Kalau aku tau lalu kenapa? Itu bukan urusanmu!"


Jeden menggeretakan gerahamnnya, jari-jari tangannya mengepal kuat. Pria itu mulai naik pitam.


"Beraninya kau menjawab pertanyaanku seperti itu Miranda Jah?!"


"Kenapa aku harus tidak berani? Lagipula kalau bukan urusan pekerjaan aku rasa kau tidak perlu tau dimana keadaan Nona Lara saat ini!"


"Wanita sialan!"


"Apa! Kau mau memukulku iya?" Tantang Miranda melihat Jeden yang seperti ingin memukulnya. "Dengan kau memukul wanita sama kau mengakui kau itu pecundang! Dan sampai kapanpun Lara tidak akan pernah menyukaimu tau! Berbeda sekali dengan Van meskipun wajahnya dingin tapi dia—"


"Diam! Jangan pernah kau bandingkan aku dengan manusa rendahan itu!" Jeden semakin marah karena tidak terima dibanding-bandingkan dengan Vander.


"Dengar, daripada kau marah-marah tidak jelas denganku, lebih baik kau sebagai pemegang saham terbesar kedua di Miracle fokus untuk menangani performa perusahaan kita. Karena sejak statement dari Karina mencuat di media, perusahaan kita benar-benar kian semakin memburuk," jelas Miranda serius.


Jeden terdiam dan berpikir kalau, apa yang dikatakan Mira benar. Akibat perkataan Karina di media menyebabkan investor banyak yang mundur dan tidak tertarik untuk menginvestasikan saham mereka di Miracle Group. Karina, dia menang sungguh licik dan berbahaya. Jeden lalu menghela napas dan pergi dengan tanpa informasi apa-apa tentang Lara.


Melihat Jeden Miranda jadi agak sedikit kasihan. padahal pria itu memang sejak lama sudah menyukai Lara tapi malah tidak pernah sedikipun mendapatkan hatinya. "Pria malang!" Ungkap Mira.


**


Setelah dari ruangan Mira, Jeden tampak marah dan langsung mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Miranda.


Jeden : Wanita licik, kau sengaja mau menghancurkan perusahaanku!


Karina : (Tertawa geli) kenapa kau emosi sekali?


Jeden : Dengar, kau itu sudah mencoba menyerang dan menjatuhkan Mircle, itu artinya kau sudah megusikku juga.


Karina : Well! Apa kau lupa apa yang aku katakan tempo hari padamau di telepon tuan Jeden? Aku tidak akan segan-segan berbuat hal seperti ini jika Lara masih tetap bersama Vander.


Jeden : Jadi kau sungguh terobsesi dengan gelandangan itu ya?


Karina : Terserah kau mau bilang itu obsesi atau apa. Yang jelas Van hanya boleh jadi miliku bukan Lara!


(Jeden menyunggimkan senyum liciknya)


Jeden : Oke, kalau memang tujuanmu adalah ingin Van dan Lara menjauh, itu tandanya kita punya satu misi yang sama.


Karina :... Lalu?


Jeden : Bagaimana kalau kita bekerjasama untuk memisahkan mereka. Dengan begitu kau akan dapatkan Van dan aku akan dapatkan Lara.

__ADS_1


Karina : Hem, menarik! Tapi jujur saja aku belum bisa langsung percaya padamu


Jeden : Terserah, yang jelas kita berada dihaluan yang sama bukan?


Karina : Oke kalau begitu aku setuju kita bekerjasama.


--


Apa yang akan direncanakan Jeden dan Karina untuk memisahkan Lara dan Vander?


**


Sementara itu di rumah sakit, Lara dan Vander terlihat akan kembali pulang. Sebelum pulang, dokter Yose pun mengingatkan Lara supaya makan yang teratur dan bernutrisi.


"Iya dokter selama ini aku makan dengan baik kok!" Ungkap Lara.


"Baiklah kalau begitu, tuan tolong jaga Nona Lara ya," ucap dokter Yose sambil menepuk pundak Van seraya mempecayakan Lara pada pria itu.


"Ya sudah aku ada pasien lain, kalian hati-hati di jalan," ujar dokter Yose lalu pergi meninggalkan Lara dan Van.


"Kalau begitu Van ayo kita pulang," Ajak Lara.


"Nona apa sungguh sudah baik-baik saja?" Tanya Van khawatir.


"Iya aku baik-baik saja kok," ungkap Lara menampakan dirinya yang sudah tampak bugar kembali.


Van merasa tidak yakin ia pun langsung menggedong Lara.


"Eh? Ke- kenapa kau tiba-tiba menggendongku begini?" Lara sampai terkesiap dibuatnya.


"Aku takut Nona masih lemah jadi biar aku gendong saja sampai ke mobil," ungkap Vander.


"Ta- tapi..." Lara sebenarnya senang sekali Van sangat perhatian pada dirinya, namun ia juga agak malu kalau sampai harus digendong begini.


Lara pada akhirnya menuruti Van dan langsung merangkulkan tangannya di pundak dan leher pengawalnya tersebut.


Vander berjalan dengan tegap sambil menggendong Lara bak tanpa beban. Di sepanjang koridor, orang-orang dan para pekerja di rumah sakit itu tak hentinya melirik dan melihat ke arah mereka berdua. Lara jadi agak malu dibuatnya.


"Van, orang-orang itu memperhatikan kita," ungkap Lara dengan suara pelan.


"Biarkan saja, mungkin mereka terpesona melihat kecantikan Nona Lara," jawab Van santai.


"Kau ini malah bercanda aku serius," gerutu Lara.


Aduh mereka serasi sekali ya?


Iya aku ingin jadi Nona itu deh rasanya.


Tuan itu sangat tampan dan Nona yang digendongnya juga sangat cantik.


Mereka serasi sekali.


Vander dan Lara bisa mendengar perkataan orang-orang itu terhadap mereka berdua. Dan rata-rata mereka mengatakan kalau Lara dan Van serasi. Mendengarnya dewi batin Lara seolah menari dengan riang dibuatnya.


"Van kau dengar yang mereka katakan tentang kita?" Tanya Lara.


"Ya,"


"Kau tidak masalah dengan perkataan mereka yang mengakatakan kalau kita—"


"Sama sekali tidak, kalau Nona?"


"Aku tidak masalah sama sekali," jawab Lara canggung.

__ADS_1


"Kalau begitu aku pun. Karena apapun itu asal Nona tidak merasa tersakiti atau keberatan maka aku tidak masalah."


"Kalau aku bilang aku suka ucapan mereka tentang kita yang seperti pasangan?"


"Maka aku juga akan suka."


Lara malah jadi dibuat bingung dengan jawaban Van. Kalau Van seperti itu terus responnya, bagaimana Lara bisa tau Van suka padanya juga atau tidak? Selama ini Van menjawab hanya seperti yang aku mau, seolah hal ini hanya karena dirinya yang ingin selalu mengabdi sebagai pengawalku.


Tak terasa Van dan Lara sudah tiba dia parkiran mobil. Setelah membukakan pintu untuk Lara, barulah Vander masuk ke dalam mobil.


Ia menyalakan mobilnya lalu menjalankannya. Di perjalanan Lara mengatakan kalau dirinya ingin mampir ke pantai sebelum pulang.


"Eh, tumben sekali?" Tanya Van heran.


"Aku mau melihat langit senja di pantai. Karena sudah lama tidak melihatnya."


"Baiklah kalau begitu," Van menuruti permitaan Lara lalu membawanya menuju pantai di kota ZR.


Setibanya dipantai, Lara tampak mengusap-usap tangan dan lengannya dikarenakan ia kedinginan. Apalagi Lara hanya mengenakan pakaian dress diatas lutut dan berlengan pendek. Melihatnya Van langsung membuka blazer hitamnya dan mamakaikannya ke tubuh Lara.


"Terima kasih," ucap Lara.


Mereka berdua pun berjalan-jalan di sekitaran pantai. Merasa akan sulit berjalan di pasir pantai jadi Lara pun melepas sepatu heels nya sejak tadi dan meninggalkannya di mobil.


"Disebelahmu aku jadi semakin terlihat kecil kalau lepas sepatu heels," ucap Lara melihat dirinya jadi hanya sebahu Vander berjalan tanpa heels 10 sentimeter yang biasa ia pakai.


Padahal tinggi Lara 165 senti meter, tapi tubuh Lara yang ramping besanding dengan tubuh Vander yang tinggi tegap dan berotot, membuat Lara seolah berubah jadi sangat kecil.


"Maaf ya aku tidak setinggi Karina. Kakiku juga tidak sejenjang dia jadi—"


Van yang kesal langsung behenti melangkah dan bekata, "Aku tidak peduli siapa lebih tinggi. Bagiku Nona Lara sudah sempurna!"


Van sungguh jengkel melihat Lara yang merasa rendah diri, padahal dirinya saja sudah sangat semouran secara fisik. Wajah cantik, bibir merona alami, bentuk tubuhnya yang seperti jam pasir, kaki jenjang, ditambah lagi ukuran dada dan bokongnya sangat proporsonal tidak kecil namun tak terlalu kebesaran semua yang ada ditubuhnya adalah impian banyak wanita di luaran sana, jadi kenapa harus merasa insecure?


Ya itulah wanita, ketika dia merasa cemburu pasti akan mulai merasa tidak percaya diri dan membading-bandingkan dirinya didepan pria yang disuka.


"Jadi Nona Lara, tolong jangan pernah membandingkan fisikmu atau apapun milikmu dengan siapapun," jelas Van.


"Ya kau benar." Van benar untuk apa aku cemburu? Natanya aku lebih muda cantik dan kaya raya, dan yang pasti Van lebih memilihku dibanding Karina.


Akhirnya Lara dan Van berdiri di pinggir pantai sambil memandangi langit yang berwanrna percampuran jingga dan ungu.


Van terlihat senang menikmati saat ini. Sejujurnya dirinya tidak pernah sama sekali merasakan kesenangan meperti ini saat memandang langit senja. Mungkin karena bersama Nona aku jadi merasa senang, Van melirik Lara,


Lara sadar dan balik menatap Van. Pria itu pun jadi salah tingkah.


"Van?"


"Ya," pria itu mengbhadap Lara.


"Jika seandainya aku bilang aku suka padamu apa jawabanmu?"


"... Eh?" Wajah Van langsung kaget dan bingung secara bersamaan. "No- nona apa maksudnya?"


"Mungkin terdengar aneh, tapi jujur saja aku sudah tidak bisa menahan perasaanku lagi kalau sebenarnya...."


Van menatap Lara lamat-lamat menanti dengan begitu penasaran apa yang akan diucapan Lara.


"Van aku jatuh cinta padamu," ungkap Lara pada akhirnya.


Bersambung...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA PLIS PLIS DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜

__ADS_1


__ADS_2