
Di sebuah ruangan yang sudah usang, Lara yang duduk dikursi kayu dengan keadaan kaki dan tangan terikat serta mulut dan mata di tutup, akhirnya tersadar dari pingsannya.
Astaga! Kenapa ini gelap? Kenapa aku diikat? Dan kenapa mata dan mulutku juga di tutup? Tidak! Aku dimana? Pekik gadis itu dalam hati mengingat ia tidak bisa berteriak karena mulutnya ditutup. Lara sendiri tidak tau persis kenapa ia bisa sampai disini. Yang diingat hanya saat itu dirinya baru saja keluar dalam toilet, lalu tiba-tiba saja ada orang yang menyergapnya dari belakang dan setelah itu kepalanya terasa pusing dan tubuhnya merasa lemas sampai pada akhirnya, Lara tidak ingat apa-apa lagi dan tau-tau sudah berakhir di tempat ini.
Lara meronta sebisa mungkin, berusaha berteriak saat itu juga meski hanya suara dari tenggorokannya yang terdengar. Ada apa sebenarnya? Kenapa mereka menculikku? Apa yang ingin mereka lakukan, aku tidak bisa melihat apa-apa! Dimana ini?
"Nona lebih baik kau diam, dan menurut sampai bos kami datang, atau kau mau aku melukai wajah cantikmu itu karena terus berisik!" Ancam seorang pria yang menculik Lara.
Bos kami? Jadi mereka disuruh seseorang untuk menculikku tapi siapa?
Tak lama kemudian Lara yang tidak bisa melihat apapun, mendengar suara pintu kayu terbuka. Dari suara engsel pintunya Lara bisa menebak kalau ruangan ini pasti sudah jelek dan tak terurus.
"Bos! kami sudah berhasil menangkap wanita ini," ucap pria peculik itu.
Bos? Jadi bos mereka sudah datang tapi siapa, setidaknya aku ingin tau suaranya dulu.
Tiba-tiba suara langkah sepatu wanita berjalan mendekati Lara.
Jadi dia yang menyuruh menculikku, apa dia seorang wanita? Siapa sebenarnya dia?
"Hai Nona Lara bagaimana kabarmu hari ini?"
Seketika jantung Lara bedegup kencang sesaat, setelah mendengar suara wanita itu berbicara padanya. Oh tidak, suara ini kan...?
**
Vander yang masih belum tahu harus mencari Lara dimana pun tampak frustasi. Dengan kecepatan penuh, pria itu melajukan mobilnya sambil terus memutar otak, menebak dimana kira kira Lara dibawa pergi.
"Sial! Aku harus mencarinya kemana?!" Vander memiliki nama-nama yang sangat mungkin ia curigai telah menculik Lara. Eva? Tidak, Eva tidak akan menculik tiba-tiba tanpa maksud jelas seperti ini dan ini sangat klasik aku tau cara kerja Crux, merek tidak akan menggunakan cara kampungan ini. Ah pasti si betina licik Karina!
Sorot Vander semakin menajam, seolah yakin dengan intuisinya. Tak lama kemudian ada pesan masuk ke ponsel Vander, pria itu pun langsung menghentikan mobilnya dan segera membuka isi pesan tersebut.
Pesan itu berupa video dimana dibawahnya ditulis pesan ;
From : 0xxx-xxx-xxx
^^^Lihat videonya!^^^
Vander lalu membuka kiriman video tersebut, dan seketika dirinya dibuat terkesiap kala melihat sosok yang tengah dicarinya itu di berada dalam video tersebut dengan kondisi disandera.
"Baj¡ngan! Beraninya mereka menyandera istriku!"
Tak lama kemudian Karina menelepon Vander.
Karina : Halo sayangku Vander, bagaimana sudah lihat istrimu?
Vander : Betina sialan! Apa mau mu sebenarnya?!
Karina : Mauku? Mundah saja. Aku mau sekarang ini kau datang ke tempat yang akan aku bagikan lokasinya. Oh iya tapi kau harus ingat, kau harus datang sendirian, karena jika kau berani datang dengan orang lain apalagi membawa polisi, aku pastikan Lara hanya akan tinggal nama saja.
Vander : Persetan kau Karina!
Karina : Terserah, tapi kau lihat sendiri kan, semua orangku membawa senjata api, sekali pelatuk itu ditarik maka tamat riwayat Nona Lara kesayanganmu itu.
Vander : (Van mencoba setenang mungkin) Oke, sekarang bagikan dimana lokasimu berada.
Karina : Okey, aku tunggu dirimu sayang.
__ADS_1
"Argh!" Vander berteriak murka.
Matanya sorot mata tajamnya jelas menunjukan betapa mendidih darahnya saat ini. "Aku harus tenang," Vander tak mau tergesa-gesa melakukan perintah Karina begitu saja. Dirinya tau Karina licik oleh karena itu Vander menelepon Gavin untuk membantunya.
Gavin : Halo kak, bagaimana? Aku sudah mengecek cctv dan aku lihat kak Lara dibawa dua orang tak dikanal.
Vander : Aku sudah tau siapa penculiknya.
Gavin : Benarkah? Si-siapa?
Vander : Karina. Aku tidak ada waktu menjelaskannya padamu alasannya, yang pasti aku minta kau agar ikuti semua yang aku perintahakan, kau paham?
Gavin : Ba- baik Kak aku paham!
Vander : Jadi begini ...... (Vander menjelaskan rencananya pada Gavin)
Gavin : Baik aku mengerti.
Vander : Bagus!
Vander pun menjalankan rencananya. "Karina Foster, kali ini aku tidak akan mengampunimu!"
**
"Buka penutup matanya!" Karina menyuruh orang bayarannya itu membuka penutup mata Lara.
Lara pun langsung membulatkan matanya menatap ke arah Karina dengan tatapan kaget tak menyangka.
"Sekarang buka juga penutup mulutnya," titah Karina lagi. Penutup mulut Lara pun dibuka dan segera ia pun berteriak pada Karina, "Karina teganya kau! Kau melakaukan ini untuk menekan suamiku kan!? Apa sebenarnya rencana busukmu?!"
Karina menampar pipi Lara dengan keras hingga wajahnya memerah.
"Karina kenapa kau menamparku?!" Lara tidak terima diperlakukan begitu oleh Karina.
Sayangnya Karina seolah tak peduli sama sekali ia hanya memiringkan senyum liciknya dan berkata, "Itu belum seberapa, sebentar lagi kau akan merasakan sakit yang lebih dari sekedar tamparan!"
"Apa maksudmu?"
Karina hanya menyunggingkan senyumnya yang angkuh, dan meminta anak buahnya kembali menutup mata dan mulut Lara.
"Tidak, aku tidak mau Karina kumohon jangan tutup mata dan mulutku Karin- mhhh...." Lara berusaha bersuara meski mulutnya lagi-lagi dibungkam. Kenapa wanita ini jahat sekali? Apa yang dia rencanakan sebenarnya terhadap Vander? Lara terus bertanya-tanya dalam hati apa sebenarnya rencana busuk Karina.
Tidak sampai setengah jam, Vander pun akhirnya datang ke tempat itu sendirian, didampingi oleh dua orang anak buah Karina yang berjaga di luar.
Vander langsung naik pitam melihat keadaan istrinya saat ini.
"Karina beraninya kau menyandera istriku!" Pekiknya.
Vander? Dia sudah datang! Lara langsung berontak dan berusaha mengeluarkan suaranya seraya minta tolong, meski hanya suara erangan dari kerongkongan semata.
Vander tolong aku... Vander!
"Lara...," ucap Vander yang tidak sanggup melihat istrinya diperlakukan begitu.
"Aku sudah datang, sekarang lepaskan Lara!" Pinta Vander, karena yang terpenting baginya saat ini hanya melihat sang istri bebas.
Karina tertawa geli. Ia mendekati Vander dan menatapnya, "Vander Liuzen apa kau berpikir aku wanita yang sangat murah hati?"
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Mata Vander menatap tajam Karina yang ada di hadapannya itu.
Wanita itu tersenyum licik. Ia tiba-tiba meminta anak buahnya itu agar membuka penutup mata dan mulut Lara.
"Baik bos!" Mereka pun melakukan apa yang Karina perintahkan.
Kini Lara bisa melihat Vander, "Vander! Kau jangan percaya pada Karina dia licik!" Pekik Lara.
"Jangan berisik! Atau kusuruh orangku untuk menyumpal mulutmu itu lagi!"
"Berani orangmu menyentuh istriku kau mati!" Ancam Vander pada Karina.
"Cih! Kalau kau ingin wanita itu selamat? Mudah saja kau ceraikan dia dan datang padaku!"
"Apa? Karina kau gila!" Seru Lara tidak terima. "Van kau jangan lakukan itu, aku- aku lebih baik disiksa daripada kau harus menceraikanku," ucap Lara dengan nada lirih.
"Karina kau jangan main-main!" Vander memperingatkan.
"Aku tidak main-main, kau lihat sendiri kan orang yang berdiri disebelah Lara? Dia memegang pistol. Sekali aku bilang tembak kepalanya maka tamat sudah nyawa istrimu. So lakukan yang aku minta, atau melihat istrimu mati dihadapanmu? Tapi... sebagai permulaan bagaimana kalau dimulai dengan—" Karina tiba-tiba menoleh ke arah Lara dengan raut wajah penuh arti.
"Kenapa kau melihatku begitu?"
"Vander, sebagai permulaan kau harus menciumku di depan istrimu yang sebentar lagi akan menjanda itu!"
"Tidak! Karina kau sudah tidak waras!" Lara benar-benar tidak sanggup jika harus melihat suaminya mencium wanita lain.
Vander tak menjawab apapun, ia hanya diam tertunduk menggertakan gerahamnya sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Vander waktu berjalan, atau kau ingin wanitamu mati konyol?"
"Diamlah!"
Wajah Lara langsung syok seketika melihat Vander suaminya itu mencium pipi Karina di depannya. Vander kenapa kau mau melakukan itu? Lirih gadis itu menatap sedih.
Maaf Lara aku hanya takut sekali mereka akan melukaimu.
"Vander!" Pekik Lara.
Karina tersenyum puas, "Bagus, tapi itu tidak cukup! Kau harus menciumku disini," Karina menyentuh bibirnya.
Wanita ini sungguh iblis!
"Vander tidak, tidak! Kau jangan lakukan itu aku tidak apa-apa kalau harus dipukul tapi jangan lakukan itu, kumohon...! Karina kalau kau ingin menyiksaku dengan memukulku terserah, tapi jangan suamiku," Lara memohon bersamaan air matanya yang sudah jatuh membasahi pipinya yang memerah.
Lara menatap Vander dengan tatapan memohon agar tak melakukannya. Aku tidak sanggup melihat suamiku mencium bibir wanita lain.
Vander memalingkan wajahnga dari Lara dan menatap Karina. Lalu perlahan ia mendekatkan bibirnya ke arah bibir Karina.
"Vander jangan! Kumohon...." Lara menangis memejamkan matanya, aku tidak ingin melihatnya aku tidak mau!
Belum sempat menempelkan bibirnya di bibir Karina, tiba-tiba saja terdengar pintu didobrak dari luar.
"Jangan ada yang bergerak kami dari kepolisian!"
...🌿🌿🌿...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA DI LIKE, COMMENT DAN JUGA DI VOTE YA.... PLIS PLIS PLIS! 🙏💜
__ADS_1