
Di akhir pekan, Lara dan putranya besarta Emika terlihat tengah berjalan-jalan ke sebuah mall pusat perbelanjaan di pusat kota. Disana mereka bertiga terlihat mengunjungi berbagai jenis toko, dan salah satunya toko mainan anak-anak. Di dalam toko mainan, Rey yang memang sangat suka dengan action figure dan mainan alat transportasi mesin, tiba-tiba saja melihat pesawat RC aeromodelling keluaran terbaru, yang sudah sangat ia inginkan sejak beberapa bulan yang lalu. Alhasil pria kecil itu pun merengek pada mamanya minta dibelikan.
Sayangnya oleh Lara permintaan anaknya itu langsung ditolak, mengingat selain harganya yang cukup mahal, Rey sendiri minggu lalu baru saja membeli mainan baru alhasil ia pun tidak akan membelikannya.
"Mama kan tahu aku sudah suka RC aeromodelling sejak masih di Kanada, mama kan juga sebelumnya pernah janji mau belikan, ayolah belikan," bujuk Rey agar mamanya mau membelikan dengan tampangnya yang memelas.
"Kapan mama janji, lagipula ada mainan lain yang lebih murah. Beli saja yang lain," ucap Lara yang sebenarnya dirinya ingat memang pernah menjanjikan membelikan aeromodelling untuk Rey, namun kala itu ia pada dasarnya hanya asal bicara saja agar Rey mau makan sayuran.
"Huh! Mama suka pura-pura lupa, padahal sudah pernah bilang dulu!" Rey tampak kesal.
"Sayang, kau sediri tahu kan cara memainkan pesawat aeromodelling itu susah. Kalau kau beli, lalu siapa yang mau mengajarimu merakit dan mengoperasikannya? Sementara mama sendiri tidak tahu cara mainnya."
"Tenang saja, aku bisa mama, you know i'm so clever!"
"Aku tau kau anak yang cerdas dan cepat mempelajari semua hal, tapi tetap saja kau masih kecil, kau butuh orang yang ahli untuk mengajarimu mengoperasikannya dengan benar, jadi sekali tidak tetap tidak!" Tegas Lara.
"Mama please!"
"No!"
"Kumohon mamaku yang paling cantik dan baik hati."
"Semua orang tau aku cantik dan baik hati."
"Mama kenapa jadi pelit sekali sih!" Rey mulai ngambek dan kesal pada mamanya.
"Mama bukan pelit sayang, tapi kau harus tahu aku tidak mengizinkan karena ada alasannya."
"Tapi Mama kan sudah pernah janji!" Desak Rey.
Merasa tidak enak karena berdebat dengan Rey di dalam toko, Lara pun mengajak Rey keluar dari toko dan mengajaknya kembali bicara baik-baik.
Huft Lara bahkan sampai menghela nafas karena diskusinya dengan Rey yang sungguh berjalan alot, melihat sang putra yang masih saja bersikukuh ingin membeli pesawar RC Aeromodelling.
"Okey, mama akan belikan tapi tidak hari ini tapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya?"
"Syaratnya adalah, kau harus rajin belajar serta harus jadi anak baik disekolah selama sebulan full baru setelah itu mama belikan."
"Oke!" Rey dengan yakin menyanggupinya.
"Oke deal!" Pasangan ibu dan anak itu pun saling berjabat tangan, tanda saling setuju dengan kesepakatan tersebut.
...πππ...
Di tempat lain, Vander yang kini tengah berada di dalam mobil terlihat sedang menunggu info dari anak buahnya yang saat ini sedang melakukan pengejaran pada orang suruhan Gauren.
Dengan raut wajah tenang pria itu hanya duduk sambil menunggu info masuk.
"Tuan, apa anda yakin orang suruhan Gauren ada disekitaran mall ini? Sementara info dari tim Crux yang kini beroperasi mengatakan, orang-orang itu tengah melarikan diri ke area stasiun bawah tanah," Ucap Robert yang juga ada dikursi kemudi.
Vander tak menjawab dan hanya berkata, "Tunggu saja Robert!"
Tidak lama kemudian, lewat pengeras suara dimobil anak buah Vander memberitahukan kalau dua orang pria yang diduga adalah mata-mata suruhan Gauren ternyata berlari ke arah pusat perbelanjaan dan keduanya sama-sama membawa pistol.
Vander setengah tersenyum seolah sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Pria yang kini mengenakan pakaian serba hitam dengan jaket kulit berwarna senada pun langsung memakai masker hitamnya untuk menutupi sebagian wajahnya.
"Tuan anda mau mengejar masuk ke dalam mall?" Tanya Robert.
"Tentu saja, sudah lama juga kan aku tidak main kejar-kejaran dengan penjahat," ucap Vander tampak senang. "Robert kau sendiri segera beritahu pihak keamanan mall, beritahukan agar menginfokan kepada para pengunjung mall untuk waspada, karena ada dua orang bersenjata api di dalam sana."
"Baik tuan, anda hati-hati."
Vander pun langsung berlari memasuki mall, Vander sendiri tidak masuk lewat pintu masuk mall, melainkan ia masuk lewat pintu emergency mengingat dirinya yang juga bawa pistol pasti tidak akan lolos mesin metal detector kalau lewat pintu masuk mall.
Vander menuju pintu emergency, dirinya yakin kalau orang suruhan Gauren pasti juga akan lewat pintu yang sama dengannya. Dan ternyata benar, gagang pintu emergency-nya ternyata sudah dalam keadaan diruk. Vander pun yakin kalau itu ulah anak buah Gauren yang kini sedang berusaha untuk membuat kekacauan di salah satu mall milik Laizen grup.
Di dalam mall, Vander berjalan dengan tenang sambil matanya yang tajam itu terus memperhatikan orang-orang yang ada di semua sudut. Sayang sekali, Vander tidak membawa peralatan lengkap sehingga dirinya bisa leluasa begerak di keramaian, apalagi dirinya kini wajahnya sudah lumayan dikenal sebagai CEO Laizen, sehingga ia tidak mungkin menampakan wajahnya. Itu sebabnya ia memakai masker hitam untuk menutupi sebagian wajahnya agar tidak ketahuan banyak orang.
Itu mereka! Vander yang sudah menemukan targetnya seketika langsung menerobos kerumunan untuk mengejar dua orang berbahaya itu.
...πππ...
Sementara itu, di area dekat toilet tampak terlihat Emika sedang menunggu Rey yang kini sedang buang air kecil. Saat sedang sibuk menunggu, tiba-tiba saja kerumunan mendadak terjadi seketika setelah pusat informasi memberitahukan kalau ada dua orang yang membawa pistol berkeliaran di mall saat ini.
Ditambah, tiba-tiba saja tak jauh dari tempat Emika saat ini, terdengar suara tembakan menggelegar, ternyata disana ada salah satu pengunjung mall yang seketika tergeletak dilantai besimbah dara karena tertembak. Sontak semua orang disana menjadi ketakutan dan saling berdesakan untuk segera meninggalkan mall, akibatnya Emika yang juga panik malah terdorong pengunjung lain yang kini heboh berlarian dan saling mendorong.
"Tidak jangan dorong aku, keponakanku masih ada di dalam toilet!" Pekik Emika namun sia-sia, yang ada dirinya malah semakin sulit lewat dan terdorong jauh hingga terjatuh.
__ADS_1
Sementara itu, Lara yang awalnya sedang sibuk berbelanja kebutuhan dapur, setelah tau info itu langsung bergegas pergi mencari anaknya serta Emika. Diiringi rasa takut dan khawatir pada putra semata wayangnya, Lara terus berlari sebisa mungkin menerabas kumpulan orang-orang yang juga saling berdorong-dorongan.
"Minggir kalian aku harus cari anakku!" Seru Lara dengan keras berkali-kali kepada orang-orang itu. "Minggir kalian!" Pekik Lara. Namun apa daya satupun tidak ada yang peduli, orang-orang itu kini hanya fokus menyelamatkan diri masing-masing.
"Kumohon beri aku jalan aku mau cari anakku!" Lara berteriak sambil menangis karena mengkhawatirkan putranya yang saat ini tak bersamanya.
Dimana Rey dan Emika! Tuhan, tolong lindungi mereka, terlebih Rey, dia adalah hidupku! Lara yang berjalan berdesakan terus berusaha mencari Rey. Lara sendiri sejatinya ingin menelepon Emika, namun melihat orang-orang yang terus mendorongnya kesegala arah membuatnya sulit untuk mengeluarkan ponselnya.
**
Sementara di toilet, Rey kini juga merasa dan takut tidak berani keluar membuka pintu. Di dalam, Rey hanya merapat ke tembok ujung toilet sambil menutup mulutnya agar tidak terdengar suaranya oleh para penjahat yang ada diluar pintu.
Bagaimana ini? Aku takut kalau sampai ketahuan oleh para penjahat itu? Rey memejamkan matanya untuk menahan rasa takutnya saat ini.
"Tolong aku tidak kenal kalian jangan bunuh aku tolong tuan, kumohon."
Di dalam toilet Rey tiba-tiba mendengar suara pria yang memohon sambil merintih ketakutan, dan tidak lama kemudian terdengar suara tembakan dilesatkan.
BANG!
Sontak, Rey pun langsung syok dan semakin takut dibuatnya karena ia tau pria yang memohon tadi baru saja telah ditembak.
Mama aku takut...! Pekik Rey dalam hati.
Beruntungnya Rey anak yang berani, sehigga ia tetap berusaha menahan diri agar tidak berteriak dan menangis. Karena ia tahu jika dirinya bersuara penjahat itu pasti juga akan mencari dan menembaknya. Rey kini hanya bisa berharap agar penjahat itu segera pergi, atau setidaknya ada orang yang datang untuk.menolongnya segera. Tapi sialnya, Reynder malah tiba-tiba saja bersin.
Gawat! Bagaimana ini aku takut sekali...
Para penjahat itu pun mendengarnya dan segera satu persatu membuka pintu toilet disana, hingga akhirnya pintu toilet tempat Rey berada pun terbuka.
Langsung wajah Rey kelihatan tegang dan ketakutan dibuatnya, melihat dua sosok pria berwajah jahat yang membwa pistol tersebut menatap ke arahnya.
"Ternyata ada bocah kecil ini! Kita apakan dia sebaikanya?"
"Hmm... bagaimana kalau kita bawa saja kepada bos, dilihat dari tampangnya dia sepertinya anak yang berkualitas pasti daya jualnya sangat tinggi!"
Apa! dua penjahat ini mau menjualku!?
Tentu saja pria kecil itu pun segera berusaha melarikan diri, namun sayang ia keburu tertangkap.
"Mau kemana kau bocah nakal, kau akan ikut aku ke tempat bosku!"
"Jangan melawan dasar kau bocah tengik!" Pekik penjahat itu bermaksud membawa pergi Rey.
Bepikir sudah tidak diikuti oleh anggota Crux nyatanya saat mau keluar toilet mereka malah harus berhadapan dengan pria bemasker hitam yang tidak lain adalah Vander
"Lepaskan bocah itu!"
"Jangan harap!"
"Bosan hidup ya kalian?" Vander melangkah untuk menyerang, namun pria itu malah mengancam menembak kepala Rey kalau ia berani maju dan menyerang.
Paman bermasker ini mau menolongku, kalau begitu aku harus membantunya. Tiba-tiba saja Rey menggigit dengan sekeras mungkin tangan penjahat yang membawanya itu hingga membuatnya kesakitan. Alhasil penjahat itu pun refleks melepaskan tangannya dari Rey dengan cara melempar pria kecil itu. Untungnya Vander dengan sigap langsung menangkapnya.
"Kau tidak apa-apa?"
Rey mengangguk pelan sambil menatap mata pria yang kini menggendongnya itu.
Vander pun menurunkan Rey dan mengatakan, "Menjauh dari sini, lalu tutup mata dan telingamu serta jangan berteriak kau paham?"
"Ya!" Rey mengangguk paham dan akhirnya berdiri menjauh sambil melakukan apa yang diminta Vander padanya.
Sementara Vander langsung bergerak menyerang kedua orang itu secara bersamaan. Ia berusaha tidak menghabisi kedua orang itu dan hanya melumpuhkannya karena Van masih butuh info Gauren dari mereka. Sayangnya salah seorang dari kedua pria itu tidak mau koperatif dengannya, alhasil Vander pun terpaksa menembak kepala pria itu. Hingga akhirnya hanya tersisa satu orang saja yang kini juga telah dihajarnya hingga babak belur terkuali lemah diatas lantai.
"Dimana bosmu saat ini?"
Tidak mau menjawab, Vander pun kesal dan langsung menedang wajahnya hingga tersungkur berlumuran darah.
"Tidak mau bicara, karena kau sudah diacam pria busuk itukan?" Vander tertawa mengejek. "Memang, manusia tidak berguna sepertimu lebih pantas mati daripada hidup menyusahkan!" Vander lalu mendekati pria itu sambil mengeluarkan korek api dari sakunya dan menyalakannya.
"A- ampun..." Pria itu merintih memohon ampun pada Vander yang kini berdiri dihadapannya dengan sebuah korek api menyala ditangannya. Tentu saja Vander bukan pria yang murah hati, baginya semakin ketakutan musuhnya maka ia semakin senang dibuatnya. Vander tiba-tiba langsung megarahkan korek api itu dibagian resleting celana pria itu dimana bagian itu adalah tempat alat vitalnya berada. Sontak pria itu pun meraung kesakitan dan berteriak histeris. Sementara Vander ia malah tampak menikmati menyaksikan pria itu tersiksa.
"Aku pastikan setelah terbakar hangus, kau tidak akan bisa bercinta, punya anak, bahkan mungkin kau akan jadi pria cacat!" ucap Vander sambil tertawa seraya meledek.
"Panas!! sakit sekali! hentikan ini panas...! Hentikan! Kumohon! Sakit sekali!"
"Salahmu sendiri tidak menjawabku!"
"Aku jawab, tuan Gauren sekarangβ arghh di- dia ad- ada arrggh di- dia ada di Kolombia."
__ADS_1
"Kau serius?"
"Ya! Sekarang tolong matikan apinya!" Rintih pria itu.
Van lalu hanya tersenyum lebar dan berkata, "Ini toilet pasti ada air kan, jadi matikan saja sendiri, aku malas!" Ucap Vander lalu pergi meninggalkan pria yang kini sudah terbakar hidup-hidup.
Di luar Vander segera menemui Rey dan menyuruhnya membuka mata dan telinganya.
"Eh, Paman kau tidak apa-apa kan?" Tanya Rey mengkhawatirkan pria bermasker itu.
"Ya,"
"Lalu penjahatnya?"
"Sudah beres! Kau tidak takut?"
"Takut, tapi saat kau datang aku tidak takut lagi," jawab Rey.
Ah kenapa ini? Kenapa perasaanku seperti senang sekali mendengar anak ini merasa tidak takut lagi saat aku datang, seolah dia menganggapku pahlawannya. Perasaan aneh apa ini?
Tidak mau terlalu memikirkannya, Vanderpun mengajak Rey ke pusat informasi.
"Baiklah, sekarang aku antar kau ke pusat informasi anak hilang untuk cari ibumu," ucap Van bermaksud menuntun Rey
"Tunggu dulu!" Balas Rey.
"Ada apa lagi bocah kecil?"
"Paman, bisakah kau perlihatkan wajahmu padaku?" Pinta Rey tiba-tiba.
Vander sontak langsung mengerutkan keningnya mendengar permintaan pria kecil dihadapannya saat ini. Vander pun seketika berjongkok dan menghadap Rey lalu berkata, "Begini, aku akan buka maskerku asal kau janji padaku, jangan beritahu siapapun tentang siapa aku."
"Em!" Rey mengangguk janji.
"Kau tahu tuan kecil, pria itu harus bisa memegang semua ucapannya!"
"Aku tahu, makanya aku bersumpah tidak akan bilang kepada siapapun tentang paman!"
Entah kenapa Vander merasa yakin dan tidak bisa menolak permintaan anak itu, ia pun langsung segera membuka maskernya saat itu juga.
Dan seketika Rey pun langsung dibuat terkesiap kaget, saat dirinya mengetahui rupa asli pria bermasker yang telah menolongnya itu.
"Pa- paman? Kau kan..."
"Sstt.."
Vander segera memakai maskernya lagi dan berkata, "Ingat, kau sudah janji tidak bilang ke siapapun tentang siapa aku oke?"
Rey tampak serius. "Aku janji!"
"Baiklah, sekarang aku antar kau ke tempat infromasi anak hilang," ucap Vander kali ini sambil menggendong Rey.
...πππ...
Lara yang panik dan menangis ketakutan pun masih mencari Rey, meski sudah mulai kondusif suasana mall namun dirinya tetap masih belum bisa menemukan anaknya itu.
"Kak Lara!" Panggil Emika menghampiri Lara.
"Emika dimana anakku! Kenapa kau sendirian, tadi kan dia pergi bersamamu!" Desak Lara tampak sekali cemas
"Maafkan aku kak, tadiβ itu akuβ"
Tak lama ada terdengar pengumuman lewat pengeras suara tentang anak hilang. Setelah disebutkan ciri-cirinya persis sekali dengan Rey, Lara dan Emika pun langsung bergegas ke ruang informasi untuk menemui anak tersebut.
Dan setibanya di ruang informasi, Lara pun langsung berlari dan memeluk buah hatinya tersebut memastikannya baik-baik saja. "Kau tidak apa-apa kan sayang, apa kau terluka? atau ada yang sakit? Katakan padaku!"
"Mama aku baik-baik saja kok!"
Lara yang masih menangis menatap putranya itu sambil bersyukur, "Syukurlah kau baik-baik saja, mama takut sekali tadi."
"Mama kau menangis ya?"
Rey yang paling tidak tega melihat mamanya menangis pun langsung memeluk Lara, dan minta maaf karena sudah membuatnya cemas. Sementara Emika malah ikut menangis dan minta maaf karena merasa tidak menjaga Rey dengan baik.
Tidak mau menyalahkan Erika, Lara pun meminta agar semua melupakan hal buruk hari ini dan mengajak pulang.
...πππ...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS π
__ADS_1