Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Hidup itu pilihan


__ADS_3

Di bukit yang terjal dan dikelilingi jurang, Vander datang menemui Gauren yang ternyata sudah menunggunya disana.


"Kau akhirnya datang, ternyata kau masih gesit dan cepat berjalan diperbukitan terjal ini," tandas Gauren mengingat kenangan dulu saat ia sering mengajak Vander mendaki gunung dan bukit.


"Tidak usah banyak bicara, katakan aja apa maumu dan dimana Lara!" Vander benar-benar tidak bisa tenang sebelum mengetahui bagaimana keadaan istrinya saat ini.


Gauren tertawa kecil, pria itu bukannya segera memberitahukan soal Lara atau tujuannya, malahan mengajak Gauren minum.


"Jangan menguji kesabaranku dimana Lara sekarang!"


"Kau masih saja berapi-api, tenang saja istrimu berada ditempatku saat ini. Ia sedang dalam penanganan intensif dokter."


Apa?! Vander emosi dan mendekati Gauren lalu menarik kerah pakaiannya. "Kau apakan istriku, kenapa dengan dia?!"


Lagi-lagi Gauren hanya tersenyum, dan tiba-tiba ada beberapa anak buah pria itu muncul dan menodongkan pistol ke arah Vander.


Vander menyeringai. "Sudah kuduga kau pasti bawa anak buahmu kesini. Baiklah kita buat semua sederhana saja, apa maumu dan segera beritahu dimana istriku?"


Gauren menyuruh para anak buahnya untuk menurunkan senjata mereka. Ia kemudian mengajak bicara Vander empat mata sambil memandangi alam dari sisi tebing jurang yang begitu dalam. Gauren bercerita tentang masa lalu dirinya dan Vander. Sayangnya Vander sudah tak peduli dengan semua kenangan itu.


"Mungkin dulu aku sempat menganggap dirimu adalah figur ayah, tapi setelah apa yang kau lakukan sejauh ini padaku. Bagiku kau tak lebih dari sekedar manusia licik yang suka sekali berdrama."


Gauren tertawa, "Kau benar, tapi kau tahu tujuanku bukan?"


"Tujuanmu yang ingin memiliki negara sendiri, ingin bisa menguasai semuanya. Kau terlalu tamak pak tua!"


"Kau bisa bilang begitu, tapi apa kau tahu sebenarnya alasanku?"


"Apa?"


"Ini!" Gauren melemparkan sebuah liontin berbentuk hati ke arah Vander dan ditangkapnya.


"Apa ini?"


"Buka saja!"


Vander membuka liontin berbentuk hati itu, dan isinya adalah foto Gauren dengan adiknya Anika, ibu kandung Vander yang sudah lama sekali meninggal.


"Apa maksudmu ini, dan foto ini mereka...?"


"Itu aku dan ibumu."


Apa?! Tidak mungkin! Vander tampak tak percaya dengan perkataan Gauren, tapi meskipun begitu dirinya tidak bisa dengan mudah mengelak, karena bagaimanapun foto kedua anak kecil itu memang mirip sekali dengan Gauren dan ibunya.


"Anika satu-satunya keluargaku yang terisa saat itu, sayang kami harus berpisah karena keserakahan para orang-orang yang memanfaatkan kami berdua. Kakak beradik yang hidup beratapkan langit dan beralaskan tanah. Kami yang tak memiliki apa-apa di dunia ini pada akhirnya hanya akan menjadi alat bagi mereka yang berada di puncak hirarki sosial."

__ADS_1


"Apa maksudmu? Kenapa kau bicara seolah kau orang paling malang di dunia, dan kenapa kau tidak memberitahuku kalau ibuku adalah adikmu!" Vander sungguh tak habis pikir dengan semua ini.


Gauren akhirnya menceritakan kepada Vander tentang kisah masa kecilnya dan adiknya yang penuh dengan kemalangan. Tentang dimana dirinya begitu miskin, dan selalu disiksa serta terpaksa hidup terpisah dengan adiknya karena saat itu Anika mau dijual kepada seorang saudagar tua kaya raya.


"Lalu kenapa kau melakukan hal-hal gila kepadaku? Bukan salahku kalau kau hidup miskin dan menderita! Dan ibuku, aku tidak tahu apa-apa tentangnya!" Vander tampak emosional.


"Aku sempat membencimu saat aku tahu Lara meninggal di kebarakan itu saat menyelamatkanmu! Ditambah aku melihat wajahmu mirip dengan ayahmu yang tak berguna dan mati dipenjara itu! Aku benar-benar ingin membunuhmu! Tapi seketika aku sadar, kau satu-satunya peninggalan Anika."


Vander setengah tertawa, "Hei apa kau memintaku kemari untuk sebuah pengakuan. Kalaupun iya kau berharap apa dariku? Berharap aku tetap berada dipihakmu menghancurkan kota iya? Berharap aku melunak dengan cara kau menyandra istriku! Apa maumu sekarang!" Vander sungguh emosional saat ini. Ia sudah tidak tahu lagi harus apa dengan pria tua ini, yang ia inginkan saat ini hanya satu yakni melihat istrinya.


"Sejujurnya aku sudah kalah sejak awal, aku tahu kau pasti berhasil menggagalkan semua kegilaanku. Dan sejujurnya tujuanku adalah ingin kau punya obsesi yang sama denganku, menciptakan negara dengan kita sebagai pemiliknya sehingga tidak akan ada yang berani menginjak-injak kita lagi. Tapi sayangnya kau lebih kuat dariku... Pada akhirnya kau menemukan cahaya hidupmu sendiri untuk bertahan hidup, dan tidak tenggelam pada rasa dendam yang pada akhirnya mengikis rasa kemanusiaanmu."


"Kau memang lebih baik mati saja Gauren!"


"Ya, itu memang tujuan akhirku. Dan semua masalah yang aku buat terhadapmu semua pada akhirnya bisa kau tangani kan? Bahkan kota yang saat ini sedang kacau, kau bisa menanganinya demi banyak orang, meski kenyataannya hatimu sendiri sebenarnya tengah merasa gusar mengingat istrimu yang saat ini hilang."


"Jadi apa maumu? Aku sudah cukup dengar semuanya. Tentangmu, kenyataan hubungan kita yang ternyata masih ada hubungan darah. Tapi sayangnya kesalahanmu terlalu banyak Gauren, aku sudah tidak peduli masa lalu. Yang aku tahu, aku punya keluarga yang harus aku lindungi. Jadi jangan berharap aku memaafkanmu!" Vander menodongkan pistolnya tepat didepan wajah Gauren. Sontak para pengawal Gauren pun langsung pasang badan dna balik menodongkan pistol mereka ke arah Vander.


"Aku rasa tak semudah itu kau membunuhku, karena disaat anak buahku menarik pelatuknya, maka lima peluru akan menembus tubuhmu. Aku tahu kau kuat, kau cerdas, kau sangat handal, tapi dengan lima peluru yang menembus tubuhmu secara bersamaan apa kau bisa bertahan?" Gauren menantang Vander.


Vander diam dan tiba-tiba menjatuhkan pistolnya seraya menyerah.


"Kau menyerah?"


"Aku ingin melihat istriku." Vander sadar kalau seandainya ia mati bagaimana dengan Lara?


"Kau terlalu banyak bicara."


Gauren akhirnya menyuruh para anak buahnya berhenti menodongkan pistolnya ke arah Vander.


Dan di saat bersamaan Vander tiba-tiba saja mengeluarkan pistolnya yang lain, menembak dengan cepat para anak buah Gauren saat itu juga, dan terakhir ia menodongkan pistol itu ke arah Gauren.


Pria tua itu malah tersenyum bangga. "Ternyata kau masih ingat cara yang kuajarkan untuk menipu lawan."


"Semua yang kau ajarkan padaku, tidak pernah aku lupa. Aku memakan habis semua yang kau berikan padaku, bahkan sikap kejam dan licikmu pun kumakan sampai habis."


"Aku harus bangga atau apa?"


"Tidak perlu apapun, yang jelas dari sifatmu yang kejam kau pasti sudah tahu aku tidak akan segan-segan padamu."


"Jadi kau mau menghabisiku secepat ini?"


"Tergantung. Apa kau punya permintaan terakhir tuan Gauren? Atau kau ingin kupanggil... Paman Gauren?"


"Bertarunglah dengan tangan kosong denganku," tantang Gauren.

__ADS_1


"Kau yakin? Kau sudah tua. Kau pikir kau masih sama seperti dua puluh tahun lalu?"


"Jangan pernah meremehkan orang tua nak... Bagaimanapun aku jauh lebih tua darimu."


"Terserah!"


Vander akhirnya melepaskan blazernya, begitupun Gauren melepaskan mantelnya. Keduanya pun akhirnya bertarung dengan tangan kosong, mereka saling memukul dan menangkis. Dan seperti dugaan secara kecepatan dan stamina Vander jauh unggul diatas Gauren, namun dari skill bertarung bisa dibilang mereka imbang. Ya terima atau tidak, cara dan gaya bertarung Vander 80% adalah apa yang diajarkan pria tua itu.


"Kau masih cukup bagus untuk ukuran pria berusia lima puluh tujuh tahun."


"Terima kasih atas pujiannya tapi, kau lengah!"


Gauren mengambil kesempatan untuk menyerang bagian tubuh vital Vander, untungnya dengan sigap pria itu segera menghindarinya dan langsung menyerang balik Gauren hingga pria itu pada akhirnya hilang keseimbangan dan terjatuh ke tebing jurang. Namun ia tidak jatuh karena tangannya masih ditahan oleh Vander.


"Kau mau menolongku? Kau bilang tak ada ampun lagi?" Tandas Gauren yang wajahnya tampak tanpa beban sama sekali.


"Katakan dimana istriku!?"


"Kalau aku tidak ingin katakan bagaimana?"


"Aku akan tetap mencarinya."


"Vander, aku minta maaf... "


Vander bergetar, selama mengenal Gauren, baru kali ini ia mendengar ucapan maaf keluar dari mulutnya. "Heh! Sayangnya aku sudah tak peduli padamu pria tua. Meskipun kenyataannya kau adalah pamanku."


"Aku paham, dan aku mengerti. Tapi setidaknya aku sudah lega karena sudah minta maaf dan mengatakan semua kebenaran padamu tentang ini semua. Dan untuk masalah yang sudah aku lakukan padamu, penyiksaan, dan segala ancaman yang kuberikan, pada kenyataannya tak ada yang berhasil."


Aku sudah lama kalah dari Vander, aku tak berhasil membawanya kembali ke dunia hitam. Aku tak sehebat dan seberuntung dirinya yang saat tersesat malah dipertemukan dengan Lara, wanita yang menarikmu dari kegelapan yang pernah kuwariskan. Gadis itu memberimu jalan cahaya yang terang dan hangat. Sementara aku, sejauh apapun yang aku lakukan, tempatku tetap saja berakhir di dalam jurang gelap yang dingin.


"Di dunia ini, sepertinya aku memang tak akan menemukan kebahagiaan. Tapi jujur aku iri padamu, aku iri karena kau bisa keluar dari jurang gelap kehidupan sementara aku tidak," ungkap Gauren sambil tersenyum


"Aku tidak butuh pengaduan nasibmu, semua yang dialami manusia sampai detik ini. Itu adalah jawaban atas apa yang telah mereka pilih sendiri. Maka dari itu aku memilih untukโ€”"


Vander melepaskan pegangan tangannya dari tangan Gauren. Pria itu kini hanya bertahan dengan tanggannya yang bergelayut pada tepi jurang itu.


"Vander... sekali lagi maafkan aku nak..."


"Terima kasih untuk semuanya paman... tapi ini saatnya kau bilang selamat tinggal!" Vander akhirnya menembak Gauren, dan pria tua itu pun jatuh ke jurang yang dalam bersama dengan dosa-dosanya.


"Maafkan aku ibu, aku sudah menembak mati kakakmu. Tapi aku rasa itu lebih baik, karena ia sudah tak punya tempat di dunia ini. Aku harap kau, ayah, dan paman bisa saling bertemu di alam lain."


Vander mengambil blazernya kemudian meninggalkan tempat itu untuk segara menemui Lara.


Setiap orang punya dosa mereka masing-masing. Tapi dalam hidup kau yang menentukan sendiri pilihanmu, baik, buruk, sedih, senang, luka, sakit, kecewa sejatinya semua manusia merasakan semuanya. Namun disetiap cerita hidup kita harus ada pilihan. Apakah jatuh tenggelam dan terluka, atau bangkit dan sembuh dengan perlahan?

__ADS_1


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS


__ADS_2