Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Kencan Terindah


__ADS_3

Mereka berdua menikmati suasana pasar malam dengan bergandengan tangan. Lara yang tampak nyaman sesekali memeluk lengan Vander yang kekar sambil menyandarkan kepalanya.


"Ah lihat ada permainan itu, ayo kita kesana!" Tunjuk Lara pada satu tempat permainan lempar kaleng.


"Kau mau kesana?"


"Iya."


Mereka pun menghampiri stand permainan tersebut. Lara terlihat tertarik memainkannya saat melihat ada anak kecil yang memenangkan hadiah sebuah boneka.


"Tuan aku mau coba main!" Ujar Lara pada penjaga stand permainan.


Penjaga stand itu memberikan tiga bola untuk Lara lempar ke sasaran.


"Memangnya kau bisa?" Tanya Van seperti meremehkan.


"Bisa kok, kau lihat saja!" Jawab Lara dengan sangat percaya diri.


"Baiklah..." Van hanya bisa menyaksikan.


Satu persatu Lara melempar bola itu, dan nyatanya sudah dua bola dilempar dan tak satupun bola mengenai sasaran. Vander pun hanya bisa menahan tawa melihatnya.


"Kau jangan tertawa, tadi itu aku baru pemanasan saja tau!" Pungkas Lara tak terima diremehkan.


"Iya iya pemanasan, itu masih ada satu bola lagi cepat lempar sana!" Balas Vander.


"Okey lihat ini!" Lara sebenarnya ragu tapi ia tidak mau kalah sebelum mencoba. Ia pun melempar bola terakhirnya dan seperti perkiraan Van, gadis itu tetap gagal melempar.


Van dibuat tertawa geli pada akhirnya.


Lara yang kesal pun menantang balik, "Kau dari tadi menertawakanku, memangnya kau bisa?"


"Bisa!"


"Yasudah coba lakukan!"


Tentu saja dengan senang hati Vander langsung melakukannya. Satu bola sudah dipegang untuk dilempar, sebelum melempar Van bertanya kepada Lara, "Kau mau hadiah yang mana?"


"Em...baiklah aku mau yang itu!" Lara menunjuk sebuah boneka beruang warna putih yang ada dikolom rak hadiah utama.


"Oke aku akan dapatkan buatmu," ujar Van dengan santai dan percaya diri.


Awas saja kalau gagal aku tertawakan dia sampai malu!


Bola pertama dilempar dan Van dapat hadiah popcorn.


"Hu... mana katanya mau dapatkan aku boneka?" Ledek Lara.


"Aku punya tiga bola, tidak seru kan kalau sekali main langsung dapat hadiah utama," ucap Vander dengan gayanya yang tengil.


"Alasan!" Jawab Lara yang malah memakan segelas popcorn yang didapat Van barusan.


Selanjutnya bola kedua di lempar, kali ini Van dapat mangkuk cantik yang mana malah ia berikan ke wanita paruh baya yang lewat.


"Ya Tuhan anak muda yang tampan mau memberiku mangkuk ini, terima kasih ya... Kalau aku masih muda aku ingin melamarmu saat ini juga!" Pungkas nyonya yang diberi mangkuk oleh Vander.


Ya ampun bahkan wanita paruh baya juga tertarik pada pacarku ini! Lara jadi tidak sabar dengan lemparan bola terakhirnya, apa akan berhasil? Van sudah memegang bola terakhirnya dan... BOOM!


Van berhasil dapatkan boneka yang diminta Lara.


"Kau minta ini kan," ucap Van sambil memberikan boneka beruang tersebut kepada Lara. Sementara gadis itu masih terperangai tidak menyangka. "Ka- kau bisa dengan mudah menjatuhkan kalengnya?"


"Tentu saja," ungkap Vander santai.


"Kau hebat, sedangkan aku seumur hidup main itu tidak pernah berhasil dapat satu hadiahpun." Keluh Lara.


"Tidak apa-apa, mulai sekarang kalau Lara mau hadiah aku akan dapatkan buatmu."


Tiba-tiba saja terdengar suara anak perempuan menangis, gadis kecil itu merengek pada ibunya ingin boneka yang dipegang Lara. Sang ibu mencoba memberi pengertian tapi si anak tetap tidak mau berhenti menangis.


"Aku mau boneka itu ibu... Aku menginginkannya sejak kemarin... Hua..."


"Nanti ibu carikan yang lain ya, bonekanya sudah didapat orang lain."


Merasa tidak tega Lara pun langsung menghampiri anak kecil itu. "Hai anak cantik ini buatmu, jangan menangis lagi ya..." Bujuk Lara sambil memberikan bonekanya kepada gadis kecil itu. Dan benar saja, anak itu langsung terdiam setelah mendapati boneka dari Lara.


"Serius kakak berikan boneka ini buatku?"


Lara mengangguk sambil senyum.


"Terima kasih kakak yang cantik."


"Sama-sama."

__ADS_1


"Maaf Nona kau jadi harus berikan milikmu untuk putriku," ucap ibu dari anak kecil tersebut.


"Tidak apa-apa."


**


Setelah itu Lara dan Van kembali  berkeliling mencari stand lain. Terlihat Van tersenyum kagum sambil memandangi Lara.


"Kau kenapa sih daritadi melihatiku begitu, apa wajahku aneh?" Tanya Lara.


"Tidak, aku hanya sedang mengagumi pacarku yang cantik dan baik hati saja."


"Ya ampun sudahlah aku jadi malu tau," ungkap Lara.


Seketika Lara kaget karena Van tiba-tiba menarik tangannya berjalan menuju ke stand menembak poin.


"Eh Van kau mau main ini?" Tanya Lara penasaran.


"Iya, karena boneka beruangnya kau malah berikan pada anak kecil tadi, jadi aku akan dapatkan hadiah lain untukmu," jelas Vander.


"Eh tidak usah repot-repot."


"Tidak repot kok!" Van kemudian mengambil senapan untuk menembak.


"Lara mau hadiah yang mana?" Tanya Vander sambil mengokang senapannya


"Yang itu saja, eh itu saja deh, eh tidak yang itu saja, aduh aku bingung memilihnya."


"Semuanya saja kalau begitu," Kata Vander yang kemudian mulai menembaki poin-poin di papan yang berputar.


"Wow!" Lara sampai berdecak kagum melihat Vander menembak papan-papan angka itu dengan tanpa meleset satupun. Ternyata bukan cuma Lara, banyak pengunjung lain juga ikut dibuat kagum dan memuji aksi Vander terutama kaum wanita yang ada disana.


"Wah gayanya menembak seperti sniper profesional," ungkap seorang pengunjung pria memuji Vander.


"Dia tampan!"


"Tuan kau keren sekali!"


"Tuan kau sangat hebat!"


"Tuan tampah menikah denganku!"


Lara jadi ikut merasa bangga melihat orang-orang berteriak kagum pada kekasihnya itu. Sayangnya ada sedikit rasa cemburu Lara muncul melihat ada beberapa wanita yang terlihat genit mencoba menggoda Vander.


Van agak kaget dibuatnya, sedangkan para wanita yang genit itu langsung dibuat mundur dan tidak jadi menggoda Vander.


"Aku sudah dapatkan semua hadiahnya," kata Van.


"Itu kebanyakan, aku mau yang ini saja!" Lara mengambil snow globe sebagai hadiahnya, sisanya ia menyuruh Van untuk bagikan saja ke pengujung lain.


**


Setelah puas bermain Lara terlihat duduk di bangku yang memang disediakan untuk istirahat. Kaki Lara sakit karena terlalu lama berjalan pakai higheels, akhirnya ia memutuskan menunggu sementara Van pergi membelikan kue beras kukus untuknya. Karena tangannya merasa kedinginan Lara pun memasukan tangannya ke dalam saku jas Vander yang ia pakai saat ini, dan tiba-tiba saja Lara menemukan sesuatu di saku dalam jasnya.


"Eh apa ini?" Lara mengeluarkan benda tersebut dari dalam sakunya.


"Topeng? Milik siapa?"


Lara penasaran dengan topeng pesta di saku jas Vander. "Coba aku tanyakan Van nanti!" Ucap Lara yang kemudian kembali memasukan topeng itu ke dalam saku jas Vander.


Sementara Vander yang terlihat sedang membeli kue beras hangat kukus buat Lara, tiba-tiba saja melihat pemandangan sepasang adik kakak yang juga mau membeli kue tapi tidak bisa karena uangnya kurang. Ia pun langsung mengahampiri kedua bocah itu dan menyuruh mereka agar pesan apa yang mereka suka.


"Tapi uang kami kurang paman," kata si anak yang lebih besar.


"Aku yang bayar," tegas Vander.


"Ah sungguh?! Asyik!" Kedua anak itu pun memesan kue yang sama.


"Paman terima kasih ya," ucap kedua anak itu pada Vander.


"Iya, sudah sana pergi," balas Van merasa puas.


Kedua anak itu pun pergi dengan hati riang.


"Aku tidak menyangka kau sebaik itu pada anak-anak," ungkap seseorang dari arah belakang Vander.


Vander lalu menoleh. "Nona kenapa kau kesini, kau bilang tadi kau lelah berjalan dan mau duduk saja?"


"Dari jauh aku tiba-tiba merasa penasaran melihatmu dengan dua anak tadi jadi aku menyusul kesini, Van kau suka anak-anak ya?"


Van tersenyum hambar, "Aku bukan suka anak-anak, hanya saja melihat mereka aku jadi teringat diriku sendiri. Waktu kecil aku juga sama seperti mereka, sering tidak punya cukup uang kalau mau membeli jajan."


Lara langsung terenyuh mendengar cerita sedih Vander barusan. Ia pun mendekati Van dan mengusap-usap lembut kepala pria itu, "Sudah ya, jangan bersedih."

__ADS_1


"Aku kan bukan anak kecil lagi kenapa kau mengelus kepalaku seperti anak umur lima tahun?" ucap Vander malu-malu.


"Habisnya... setiap kali kau cerita tentang pengalaman hidupmu yang pilu, sorot matamu jadi seperti anak anjing yang malang, aku kan jadi tidak tahan ingin membelaimu, menyayangimu, dan memanjakanmu," ungkap Lara.


"Aku tidak apa-apa kok! Lagipula kalau Nona mau menyayangi dan memanjakanku caranya bukan begini."


"Lalu bagaimana?"


"Caranya begini!" Vander langsung memeluk Lara dan mencium bibirnya.


Dibawah langit malam diantara ribuan pengunjung pasar malam yang ramai mereka berciuman tanpa rasa khawatir dan takut terlihat orang.


Lara tiba-tiba mengehentikan ciumannya.


"Kenapa Lara, kau marah?"


"Bu- bukan, aku hanya agak malu saja kalau lama-lama berciuman di kerumunan begini," ungkap Lara karena melihat ada beberapa orang yang memperhatikan mereka.


"Kenapa malu? Kita kan bukan pasangan hasil selingkuh!" Jawab Van santai.


"Iya tetap saja ini di pinggiran kota bukan pusat kota, pasti masih ada sebagian orang yang belum terbiasa melihat pasangan terlalu intim di depan publik," jelasnya.


"Iya iya, lalu sekarang apa kita mau pulang?" Tanya Vander.


Lara mengangguk "Tapi kakiku..." Lara melihat kakinya seperti sudah tidak kuat jalan karena sakit sekali pakai heels berjam-jam.


"Kalau gitu biar aku gendong," ucap Vander.


"Eh apa tidak apa-apa?"


"Tentu saja, sudah lepaskan sepatumu."


Lara melepaskan sepatunya dan kemudian digendong dipunggung Van menuju ke mobil.


"Oh iya Van bahumu lebar dan kokoh, kau sering olahraga ya?" Tanya Lara.


"Iya lumayan."


"Tapi aku lihat di apartemen tidak ada alat fitness atau sejenisnya?"


"Aku olahraganya saat kau sedag bekerja diruangan, naik turun tangga sepuluh lantai, push up, sit up dua ratus kali dan sejenisnya."


"Masa sih? Kok aku tidak pernah mencium bau keringatnya?"


"Mungkin karena Nona terlalu cinta padaku sampai-sampi bau keringatku saja tetap harum bagimu," gurau Vander.


"Ah kau ini! Tapi sungguh kau sangat hebat melakukan banyak hal, padahal sejak kecil ku hidup susah bukan? Tapi kenapa kau bisa menguasai banyak keterampilan seperti layaknya pria yang di didik di keluarga berkecukupan?"


"Nona, kau pernah dengar pepatah kalau keterbatasan membuatmu lebih kreatif tidak?"


"Iya lalu?"


"Hidupku serba kekurangan, jadi kalau aku ingin apapun aku akan mencari alternatif yang mirip dan murah. Contohnya berkuda, aku tidak sekolah berkuda tapi aku bisa naik kuda, caranya dengan aku membantu menggembala kuda dan imbalannya aku bisa menunggangi kuda pemilik perternakan."


"Vander kau cerdas sekali! Aku bangga sekali padamu!"


"Nona jangan banyak gerak nanti kau jatuh!"


"Tidak mungkin jatuh kau kan kuat, lagipula kalaupun aku mau jatuh pasti kau akan menahanku kan?"


"Iya sayang,"


Lara senang sekali mendengar Van memanggilnya sayang. "Coba panggil sayang lagi!" Pinta Lara agak memaksa.


"Sayang..."


"Lagi!"


"Sayangku..."


"Lagi, lagi!"


"Sayangku Lara yang palingku sayang aku sayang padamu sayang, sudah?"


Lara kegirangan. "Vander kau manis sekali sih!" Ucapnya gemas jadi semakin erat menemplok dipunggung Van.


*


Van masuk ke dalam mobil setelah menaruh Lara dan memakaikannya sabuk.


"Huft pasti dia kelelahan," ucap Van melihat Lara yang tertidur. "Kalau tidur begini dia jadi kalem sekali, tapi kalau sudah bangun dia hampir mengoceh terus." Vander tersenyum sambil mengusap lembut pipi Lara yang merona. "Terima kasih untuk kencan terindahnya hari ini sayang," ucap Vander dengan mesra.


Bersambung...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜


__ADS_2