
Setelah diperiksa dokter dan dinyatakan kalau Rey sudah baik-baik saja. Lara yang khawatir pun nampak sedikit bisa lebih tenang dibuatnya.
"Kalau begitu Tuan dan nyonya, aku permisi dulu."
"Terima kasih dokter," tandas Lara yang langsung berada disisi Rey sambil menggenggam tangan kecilnya.
"Tuan, kalau begitu aku akan antar dokter keluar dulu," ucap Robert izin..
Di luar kamar, semua orang yang ada disana terutama Mira dan Gavin, terlihat ikut cemas dibuatnya dengan keadaan Rey saat ini.
"Semuanya sudah bisa tenang. Tan kecil sudah baik-baik saja," ungkap Robert yang baru saja keluar bersama dokter yang menangani Rey barusan.
"Syukurlah..." Semua orang pun merasa lega mengatahui hal itu.
Di dalam kamar, Lara tampak sedih menatap putranya yang saat ini belum bangun. Sementara Vander yang hanya diam saja berdiri tanpa sepatah katapun hanya bisa tertuduk menyesal dan kecewa pada dirinya sendiri, karena tidak bisa menjaga putranya dengan baik.
"Maafkan aku Lara..." Lirih pria itu dengan nada penuh penyesalan. "Semua ini salah dari keegoisanku. Aku benar-benar kepala rumah tangga yang buruk! Terlalu banyak kesalahanku padamu dan Rey.. Bahkan jika aku minta maaf sambil bersujud dihadapanmu dan Rey, itu tidak akan cukup untuk menebus kesalahanku."
Saat ini jujur saja Lara tidak tahu harus berkomentar apa. Yang jelas ia berharap agar hubungan suami dan anaknya bisa kembali baik, dan kembali menjadi keluarga yang penuh suka cita.
"Vander, lebih baik sekarang kau ganti bajumu dulu. Pakaianmu basah kuyub, nanti kau bisa sakit."
"Aku tidak akan sakit! Aku ingin menemani Reynder dan melihatnya sadar."
"Tolong jangan keras kepala dan turuti ucapanku Vander, please!"
Tiap kali Vander keras kepala dan gegabah seenakny yang terjadi malah hal yang tidak menyenangkan. Akhirnya ita pun menuruti Lara dan segera mengganti pakaiannya dengan yang kering.
Saat mengganti bajunya, Vander yang begitu kecewa pada dirinya sendiri malah meninju kaca yang ada didepannya sampai pecah. "Tidak berguna!" Pekiknya dengan suara penuh kepedihan.
Bagi Vander, tidak bisa menjaga keluarganya sendiri adalah hal paling buruk. Ia bahkan tak berhenti menyalahkan dirinya sendiri atas tenggelamnya Rey.
...----------------...
Rey akhirnya tersadarkan diri
"Mama.."
"Rey sayang," Lara langsung memeluk putranya tersebut sambil menangis lega karena akhirnya sadar.
"Mama jangan menangis... aku sudah tidak apa-apa kok," ucap Rey tidak mau melihat sang mama khawatir dan sedih.
Tak lama kemudian, Vander kembali masuk ke dalam kamar Rey. Dan saat melihat Reynder sudah sadar, ia pun ikut merasa senang meskipun hatinya tak sepenuhnya demikian.
Dari tempatnya berdiri, Van bisa melihat putranya begitu dingin bahkan tidak mau menatapnya sama sekali. Merasakan kecanggungan ini, Lara kemudian meminta Rey untuk istirahat dulu disini, sementara ia mengajak Vander keluar untuk bicara padanya.
Lara membawa Vander ke kamar mereka untuk bicara serius mengenai Rey. Tapi sebelum bicara serius, Lara melihat tangan Vander terluka karena meninju kaca tadi.
"Vander tanganmu terluka!" Melihat luka itu meski tak parah tetap harus diobati. Ia pun menyuruh Vander duduk di pinggir ranjang dan segera mengambil kotak obat untuk mengobati luka suaminya.
"Kau marah dan menyalahkan dirimu lagi ya?" Tanya Lara tampak kesal.
"Aku tidak berguna, dan aku ayah yang buruk Lara... Rey pasti sangat membenciku," ungkapnya seraya putus asa.
Setelah selesai membalut luka suaminya Lara mendongakan kelapa Vander dan menatapnya dalam-dalam. "Dan kau hanya terus menyalahkan dirimu? Apa itu bisa merubah persaan Rey saat ini?"
"Tapi dia membenciku saat ia tahu akulah ayah kandungnya."
"Lalu?" Ujar Lara kesal. "Dengar Vander, mau Rey itu benci padamu saat ini dia tetap saja darah dagingmu. Ditambah dia masih kecil dan emosinya belum stabil, kau seharusnya paham itu. Bukan terus menyalahkan diri sendiri, lagipula saat itu kau tidak tahu kalau aku hamil kan. Jadi berhenti jadi pria bodoh yang merasa bersalah dan jadilah pria yang mana seharusnya."
"Lara aku..."
"Kau tahu, saat kau dulu tidak ada. Banyak pria yang ingin menikahiku dan mengatakan ingin jadi ayahnya Rey, tapi kau tahu apa yang anakmu katakan waktu itu?"
Vander mengerutkan alisnya tanda penasaran.
"Putramu bilang, 'Aku hanya punya satu papa yang saat ini tinggal jauh.' sampai pada akhirnya dia bertemu langsung denganmu, dan baru kali itu aku melihat Rey sesuka itu pada pria bahkan memujimu. Kau tahu apa artinya itu, itu artinya sejak awal Rey memang menyukaimu. Hanya mungkin saat ini dia butuh waktu menerima kenyataan ini. Jadi jangan putus asa, dapatkan kembali hatinya!" Ucap Lara tersenyum meyakinkan suaminya. "Kau tenang saja, aku akan membantumu juga. Aku akan pelan-pelan jelaskan pada anak itu kalau kau tidaklah bermaksud meninggalkan waktu itu."
"Lara..." Vander memeluk pinggang istrinya dan berterima kasih. "Terima kasih karena selalu memberiku kesempatan."
"Vander kalau kau tidak bisa merebut hati Rey, aku tidak akan memaafkanmu."
"Aku paham."
...----------------...
Di kamarnya Rey tampak murung, bahkan bubur yang dibawakan bibi Frida saja sama sekali tidak ia sentuh. Tidak lama kemudian Lara masuk lagi, dan menanyakan kepada putranya itu kenapa makanannya tidak dimakan.
"Apa mau mama suapi?" Tanya Lara mendekati sang putra.
Rey mengangguk mengiyakan. Akhirnya Lara pun menyuapi anaknya tersebut.
"Ma, kenapa kau tidak marah?" Tanya Rey tiba-tiba saat disuapi.
"Marah? Apa maksudmu?" Ucap Lara.
"Suamimu itu, dia kanβ" Rey bahkan kini enggan menyebut Vander papanya.
"Dia pria yang baik dan aku mencintainya," jawab Lara jelas.
Seketika Rey menolak disuapi lagi. Tidak mau memaksa anaknya, Lara kali ini memilih mengikuti cara berpikir putranya itu dulu. Setelah minum Lara pun bermaksud meninggalkan Rey agar bisa istirahat. Namun tiba-tiba saja Rey bertanya. "Kenapa dia dulu meninggalkan kita Ma...? Apa dia dulu tidak menginginkanku?"
Lara membelai pipi putranya. "Apa kau pernah melihat Vander membencimu? Atau apa kau pernah merasa Vander tidak menginginkanmu?"
Rey terdiam berpikir, dirinya memang sama sekali tidak merasakan hal-hal itu. Tapi...
"Reynder sayang, mama tidak akan memaksa perasaanmu. Tapi mama hanya ingin kau tahu kalau semua orang berhak atas kesempatan kedua. Karena sejatinya manusia itu pasti pernah berbuat salah, begitupun aku dan kau. Dan jika kau ingin tahu alasan kenapa semua ini, kau bisa tanyakan pada Vander langsung."
Lara kemudian mengangkat nampan berisi mamgkuk bekas makan Rey untuk dibawanya keluar.
__ADS_1
"Mama...!"
"Ya?" Lara menoleh.
"Kenapa kau sangat mencintainya?"
"Tidak tahu, yang jelas dari dulu sampai sekarang aku hanya mencintai satu orang suami, yaitu papamu," ucap Lara tersenyum lalu pergi.
"Apa aku bisa juga?" Ucap Rey.
...πππ...
Hari pun berganti. Di ruang makan terlihat lagi-lagi Rey tidak mau makan bersama disana. Semuanya pun sudah jelas tahu alasannya. Jujur bagi Vander saat ini ia sangat tertekan, ia tidak senang dengan keadaan saat ini. Pria itu pun tiba-tiba bangkit dari kursinya lalu bergegas meninggalkan ruang makan.
"Sayang, tapi makananmu belum habis," ucap Lara.
Namun Vander tak menjawab dan tetap memilih pergi.
"Huft!" Lara menghela nafas dan memijat pelipisnya. Sebagai penyambung diantara pasangan anak dan ayah itu Lara pun ikut dibuat tidak nyaman dan agak kelimpungan.
"Kak Lara kau sabar ya, aku yakin ini hanya masalah waktu saja."
"Gavin benar, kau bersabarlah dulu. Bagaimanapun ini semua tidak mudah buat Rey yang masih kecil," imbuh Miranda.
"Nyonya, aku harap semuanya segera membaik," tandas Tori.
"Terima kasih semuanya. Kalau begitu aku mau bawakan makanan untuk anakku dulu ke kamarnya."
...πππ...
Saat Vander tengah menikmati sebatang rokok sambil memandangi langit gelap di malam yang dingin. Tiba-tiba munculah Robert yang datang mengingatkan tuannya yang hanya pakai baju selapis itu agar masuk, karena udara semakin dingin.
"Tuan, anda jangan menyiksa diri dengan tidak peduli kesehatan anda. Nyonya bilang anda sejak kemarin makan hanya sedikit dan terus merokok serta minum. Itu tidak baik tuan, meski fisik dan antibodi anda kuat tapi tetap saja mengkonsumsi zat-zat itu secara berlebihan bisa perlahan merusak tubuh anda."
Vander setengah tertawa. "Robert, kalau kau jadi ayah seperti aku, apa yang akan kau lakukan saat ini?"
"Aku tidak tahu tuan. Menurutku hal itu tidak bisa kau tanyakan padaku yang tidak mengalaminya sama sekali. Tapi satu hal yang harus anda ingat, anda punya alasan kenapa meninggalkan nyonya saat itu. Ditambah anda tidak tahu kan kalau saat itu nyonya tengah mengandung."
"Aku takut Robert, aku jadi semakin takut tidak mampu melindungi mereka."
"Tuan aku tahu betul anda pria yang baik. Dan tuan kecil, dia juga anak yang baik dan pintar. Aku yakin dengan perlahan-lahan dia akan mengerti dan kembali menerima anda.. Oleh karena itu tuan berusahalah dan jangan menyerah menunjukan, kalau anda memang satu-satunya papa terbaik buat tuan kecil."
"Terima kasih nasihatnya Robertβ"
"Sam- sam..."
"Kakak!" Seru Gavin dengan nafas terengah-engah menghampiri Vander dan Robert.
"Ada apa tuan Gavin, kenapa anda panik?"
"Ada apa Gavin?"
"Apa?!" Robert syok. "Hilang kemana?"
"Aku juga tidak tahu. Yang aku tahu, tadi kak Lara menangis berteriak memanggil-manggil Rey namun tidak ada. Kak Lara hampir mau ke hutan sendirian, untungnya Tori segera menghalanginya."
Vander pun langsung membuang rokoknya dan menginjaknya, lalu berjalan menuju ke bawah.
...----------------...
Di ruangan utama ramai semuanya menenangkan Lara yang kini menangis karena mengkhawatirkan putranya.
"Aku harus cari anakku Mira!"
"Iya aku tahu, tapi kau harus tetap tenang."
Vander pun akhirnya datang dan langsung menghampiri sang istri.
"Vander, Rey hilang...!" Ujarnya menangis sambil memeluk suaminya.
"Sayang kau tenang ya, aku janji akan menemukan Rey."
"Tuan, terakhir kali aku melihat tuan kecil tadi, sedang bermain dengan Shin di teras belakang," ungkap Mahiro penjaga Villa.
Taman belakang kan dekat hutan, besar kemungkinan Rey pergi ke hutan sekarang.
"Kalian semua disini jaga Lara. Sementara aku dan Robert yang akan pergi mecari Rey. Gavin dan Tori kalian stand by jaga disini, dan tunggu perintah dariku."
"Baik!"
Woff wogghh!
"Shin, dimana Rey?" Tanya Mahiro. Shin yang baru datang itu pun menggigit celana Vander seraya ingin memberitahunya dimana Rey.
...πππ...
Di dalam hutan Rey yang sudah terlalu jauh masuk masuk kedalam hutan mengejar Shin pun mulai ketakutan. "Shin... Kau dimana?" Teriaknya di dalam hutan yang dingin dan sepi. Yang terdengar hanya suara-suara hewan penyusup dan longlongan serigala malam.
Tubuh Rey yang merasa dingin mulai gemetaran. "Disini sangat menyeramkan, aku mau pulang...! Shin kau dimana?" Seru Rey lagi.
Ssksk!
"Siapa disana!" Pekik Rey sigap waspada l mendengar suara-suara aneh itu sejak tadi. Suara itu seperti langkah, tidak tahu apakah langkah hewan atau manusia, yang jelas membuat pria kecil itu merasa ketakutan sekali saat ini. Rey terus berjalan menyusuri hutan itu berharap melihat jalan keluar kembali ke villa. Sayangnya ia malah melihat seekor babi hutan, ia pun segera bersembunyi agar tidak terlihat.
Jantung Reynder berdegup dengan kerasnya karena takut.
Mama... Tolong aku, aku takut...! Rey ingin sekali menangis saat ini. Tapi jika ia menangis hewan liar itu pasti akan menyerangnya. Untung saja tak lama kemudian babi hutan itu lekas pergi.
Reynder! Rey!
__ADS_1
Huh? I- Itu seperti suara papa?!
"Papa aku disini!" Pekik pria kecil itu seraya memberitahu keberadaannya. Ia kemudian berlari dan mencari sumber suara papanya itu. Sialnya saat dirinya memiliki harapan segera keluar dari hutan, Rey malah harus melihat dua ekor serigala.
Gawat! Aku tidak boleh sampai ganggu serigala itu. Rey mencoba melangkah sepelan mungkin, sayangnya ia malah menginjak ranting kering dan membuat serigala itu sadar dan menoleh ke arahnya. Melihat taring-taring tajam serta mata yang begitu mengerikan serigala itu. Rey pun langsung berlari sekut tenanga menyelamatkan diri sambil berteriak minta tolong. Ini mustahil, Serigala adalah salah satu hewan buas dengan insting memburu paling mengerikan.
"Eghh sakit..!"
Rey terjatuh saat itu. Ia kemudian segera bangun dan berbalik badan. Bagaimana ini? Tubuhnya gemetar ketakutan melihat di depannya saat ini sudah ada dua ekor serigala buas yang siap menerkamnya. Rey meringsek kebelakang dan memejamkan matanya karena takut. Ia seolah pasrah dan tidak tahu lagi harus apa selain berteriak. "Papa!"
Ddrr! Ddrr!
Suara senapan terdengar! Rey seketika membuka matanya dan melihat dua ekor serigala itu tiba-tiba saja tumbang. Saat Rey mendongakan kepalanya ia melihat sosok Vander yang memegang senapan berjalan menghampirinya.
Namun tak lama Rey langsung dibuat tegang kala beberapa ekor serigala lain ternyata malah muncul dan ingin menyerang Vander.
"Papa awas!" Vander yang menyadari hal itu langsung menembakan senapan itu ke serigala-serigala itu. Namun sial ia malah tiba-tiba kehabisan peluru.
"Sialan! Kenapa habis disaat seperti ini!"
Tidak ada cara lain, apapun caranya aku harus membuat Rey selamat.
"Papa...!" Pekik Rey saat serigala lain ingin menyerangnya.
Vander pun langsung memeluk melindungi putranya. "Jangan takut, papa disini nak..."
"Papa...," lirih Rey ketakutan.
"Sekarang kau tutup matamu dan jangan buka sampai aku bilang buka!" Titah Vander.
Rey pun langsung menurut dan tetap menutup matanya. Sementara kenyataannya Vander malah sedang menahan sakit saat memeluk Rey, karena bahu kirinya sudah keburu digigit serigala.
Srigala sialan! Aku tidak bisa mewalannya dengan tangan kosong, meskipun bisa pasti akan membahayakan Rey yang bersamaku. Sepertinya aku harus menahan sakit gigitan ini sampai bantuan datang, setidaknya jangan sampai binatang ini mengoyak tubuhku duluan.
"Eugh...!" Vander mengerang karena taring serigala yang semakin dalam menusuk bahu Vander.
Papa kenapa seperti kesakitan? Aku harus lihat ada apa sebenarnya.
"Rey, maafkan papa belum bisa membahagiakanmu. Maaf karena aku meninggalkanmu saat itu. Tapi ketahuilah nak, aku sangat sayang padamu dan Lara. Aku akan lakukan apapun untuk kalian. Ughβ"
Rey tidak tahan lagi dan akhirnya membuka matanya. Sontak ia pun berteriak menangis kencang saat tau kalau ternyata serigala menggigit papanya. "Wa... Papa...! tolong!"
"Jangan menangis Rey, percaya padaku kita akan baik-baik saja."
"Kenapa kau melindungiku sampai seperti ini?"
Vander tersenyum. "Sebab itu sudah jadi kewajibanku sebagai seorang ayah. Kau anakku Rey, darah dagingku, aku tidak akan biarkan sesuatu terjadi padamu."
"Papa... Aku sayang papa, aku sungguh menyayangi papa! Papa harus selamat karena mama menunggu kita."
"Iya aku tahu."
Vander semakin pucat ia tidak bisa lagi kalau harus diam saja sementara serigala ini tampaknya mulai ingin mengoyaknya.
Tidak bisa diam saja, aku harus cari cara membunuh serigala ini secepat mungkin. Tiba-tiba saja Vander mengatakan kepada Rey agar segera lari setelah ia bilang lari.
"Papa ta- tapi kau kanβ"
"Dengar, Lara akan sedih dan kecewa padaku jika tidak membawamu pulang. Jadi ughβ bekerjasamalah denganku Rey. Kumohon..."
Meski berat dan tidak rela Rey akhirnya paham dan mengangguk setuju.
Vander melepaskan Rey dan menyuruhmya Lari. "Lari Rey!"
Rey berlari sambil menangis keras. "Papa aku akan cari bantuan. Papa bertahanlah..."
Sementara Vander dengan sekuat tenaganya harus melawan serigala itu. Waktu umur belasan di Crux, Vander pernah ditaruh dikandang buaya dan ular yang kelaparan oleh Gauren, dengan alasan melatihnya. Saat ini mungkin sama saja, hanya kekuatan serigala mungkin lebih besar dan cerdik. Vander mencoba melepaskan gigitan serigala itu sekuat tenaganya... Ia menggunakan senapan kosongnya untuk memukul mata serigala itu dan akhirnya bisa lepas. Vander memegangi punggung kirinya yang penuh darah.
"Serigala sialan, kau tahu aku mungkin manusia tapi caraku berkerja seperti dirimu, mengintai dan memburu. Tapi jelas aku jauh lebih cerdas darimu, kalaupun aku mati aku pastikan kau juga mati!" Mata itu menajam tatapan itu buas, Vander mengambil ranting besar tajam yang dia ambil sembarangan untuk menyerang serigala itu.
Serigala itu lalu kembali menyerangnya dan Vander langsung menusuk mata sang serigala dengan ranting itu. Hewan buas itu tampak kesakitan, namun serigala tak semudah itu dikalahkan, dia hewan yang tidak akan pergi sampai mangsanya ia dapatkan. Sayangnya Vander hampir tak punya tenanga lagi untuk melawannya, karena darahnya sejak tadi mengalir terus sehingga oksigen tubuhnya semakin berkurang.
Apa aku akan mati ditangan serigala ini? Aku menganggap diriku serigala nyatanya aku malah harus mati dimangsa serigala.
Ddarr!
Suara tembakan sebuah senapan terdengara dan serigala itu pun tumbang. Vander yang kehilangan banyak darah samar-samar menutup matanya.
"Papa!"
"Tuan Vander!" Seru Robert orang yang sudah menembak serigala tadi.
"Papa bangun! Jangan tinggalkan aku..." Rey menangis mengguncang tubuh Vander yang lunglai terbaring ditanah.
"Aku belum mati nak..."
"Tuan anda bertahanlah, bantuan akan datang sebentar lagi."
Rey menangis dan memeluk Rey, "Papa maafkan aku, aku sayang papa. Papa harus hidup untuk menjagaku dan mama."
Vander tersenyum senang, "Aku senang sekali, akhirnya kau menerimaku sebagai papa kandungmu. Rey a- aku sayang sekali padamu..."
"Papa!"
Aku janji akan menebus kesalahanku, aku janji akan jadi ayah terbaik bagimu Reynder Liuzen
...πππ...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS π
__ADS_1