Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Bulan Madu


__ADS_3

Hari itu, Lara dan Vander yang tengah berada di atas kapal pesiar untuk bulan madu.


Mereka terlihat modis mengenakan pakaian santai berdiri diatas deck menikmati indahnya laut lepas di malam hari.


"Sayang, terima kasih ya sudah memberi kejutan ini untuk bulan madu kita," ucap Lara yang kini berdiri bersandar dipelukan suaminya.


"Sama-sama, tapi apa kau tidak kedinginan? Ini sudah malam dan ini bukan musim semi ataupun panas, pasti udaranya lebih dingin," pungkas Vander melihat Lara yang hanya pakai dress selutut dengan lengan pajang. Meski ia juga mengenakan selimut kecil hangat untuk melapisi bagian atas tubuhnya, tetap saja Vander takut istrinya kena flu.


Lara tersenyum lalu menggeleng, "Tidak, aku justru senang karena sudah lama tidak naik kapal pesiar lagi jadi aku senang. Lagipula suamiku memelukku begini jadinya tidak dingin."


Vander tiba-tiba membelai wajah sang istri. Ia menyelipkan rambut Lara yang tertiup angin ke telinganya dan menatapnya dengan lembut. "Aku senang melihatmu bahagia seperti ini."


Dikecupnya tangan Vander yang membelai wajah Lara. "Terimakasih sudah jadi suami terbaik."


Vander lalu membalas dengan mengecup mesra bibir istrinya. Mereka berpagutan cukup lama hingga akhirnya perut Lara berbunyi tanda minta diisi.


Suami Lara itu tertawa kecil mendengarnya. "Sepertinya ada yang merengek minta perutnya diisi," goda Vander pada sang istri. Tentu saja hal itu membuat Lara jadi malu rasanya. Akhirnya mereka berdua pun bergegas pergi ke restoran untuk menikmati makan malam.


~


Suasana restoran yang tenang, hangat, dan tampak berkelas karena diiringi suara aluna musik klasik membuat suasana makan malam pasangan itu semakin nyaman dan romantis.


Namun tiba-tiba dengan tak sengaja Lara malah jadi fokus memperhatikan cara suaminya memakai alat makan. Lara merasa heran melihat cara suaminya itu makan, bukan heran karena Van tidak bisa menggunakan pisau dan garpu tapi sebaliknya, ia justru heran karena sang suami tampak begitu lihai menggunakan alat makan saat menyantap steak daging wellington mewah di hadapannya. Hal itu membuat Lara jadi bertanya-tanya. Apa wajar jika pria yang katanya sejak dulu miskin bahkan pernah jadi gelandangan bisa se pro ini menggunakan alat-alat makan di restoran bintang lima?


"Vander..."


"Ya?"


"Aku boleh tanya sesuatu?"


Vander mengangguk lalu berhenti makan sejenak untuk mendengar apa yang ingin istrinya itu katakan.


"Van, apa sebelumnya kau ini sebenarnya orang kaya?" Tanya Lara tiba-tiba.


"Eh?" Vander kaget dan seketika baru sadar. Pasti istrinya itu merasa aneh melihat dirinya yang begitu lihai menggunakan garpu dan pisau serta alat makan lainnya. Bahkan menu makanan yang biasanya hanya ada di restoran bintang lima Vander bisa tau semua.


"Um— pasti kau berpikir begitu karena lihat aku makan ya? Sebenarnya aku..." Vander setenang mungkin mencari alasan dengan mengatakan kalau, ia sebelumnya pernah kerja di restoran mewah. Ia juga bilang kalau dirinya sempat menonton tayangan soal apa saja hal-hal di kapal pesiar sebelum mengajak Lara kemari.


Vander berharap Lara percaya, karena sebetulnya saat di crux dulu hidup Vander benar-benar seperti bangsawan. Ditambah lagi bekerja untuk Crux dulu memaksanya harus tau bagaimana kehidupan orang-orang kalangan elit di seluruh dunia yang ia targetkan.


"Begitu ya? Tapi tadi kau juga bisa bicara bahasa inggris dan sedikit bahasa prancis dengan chef disini?" Tanya Lara lagi.


"Ah kalau itu... aku ini kan memang cerdas, jadi kalau sering dengar orang bicara aku paham. Dan lagi aku suka nonton film hollywood yang mana aku bisa sambil belajar bahasa mereka pakai subtitle. Lagipula... negara kita ini kan bahasa keduanya juga bahasa inggris dan jepang. Negara kita berdekatan jepang dan kita menjalin diplomasi kuat dengan singapura jadi aku rasa tidak aneh kan kalau bisa berbahasa asing untuk orang kita?"


"Iya sih..." Lara mengangguk paham meskipun sebenarnya ia masih merasa ada yang mengganjal dengan jawaban sang suami.


"Um— sudah lebih baik teruskan makanmu," ucap Vander mengalihkan pikiran Lara.


Semoga Lara percaya dengan semua yang aku katakan. Semoga dia tidak bertanya lebih jauh lagi, dan sepertinya aku memang herusnya lebih hati-hati.


~


Sementar itu di lain tempat Gavin dan Miranda ketemuan di bar holyfree. Disana mereka saling curhat satu sama lain dan berkeluh kesah, hingga keduanya tak sadar kalau kian hari mereka jadi semakin dekat


"Aku tidak tau kau suka minum?" Pungkas Gavin melihat Miranda yang sudah habis dua gelas minuman.

__ADS_1


Miranda tersenyum remeh. "Asal kau tau saja, aku ini sejak kuliah di juluki ratu minum. Hanya saja setelah Lara jadi CEO dan aku jadi asistennya aku jadi jarang ke bar."


"Apa kak Lara juga suka ke tempat seperti ini?"


Suara Mira tergelitik kecil. "Lara ya? Kalau dia itu anaknya tidak terlalu suka tempat seperti ini. Dia juga toleransi alkoholnya sangat buruk, minum satu gelas saja sudah mabuk."


"Aku juga tidak terlalu jago minum," ungkap Gavin.


"Kalau Vander?"


"Kalau dia rajanya minum, dia minum vodka saja seperti minum air mineral. Ah apa ini? Kenapa kita malah bahas mereka yang sedang bulan madu. Kenapa tidak— kita membahas tentang kita saja," Gavin menatap Miranda lalu melepas kacamata wanita itu.


"Kau terlihat lebih muda dan lebih manis kalau tidak pakai kacamata. Miranda bisakah kau tidak usah sering pakai kacamata?"


Wajah Mira tiba-tiba merah, ia pun langsung merampas kembali kacamatanya dari Gavin. "Jangan menggomba padakul aku tidak suka pria yang lebih muda."


"Oh ayolah kau hanya setahun lebih tua saja. Lagipula aku..." Gavin menatap Mira lamat-lamat dan hampir saja mendaratkan ciuman di pipi Mira namun, hal itu buyar seketika terdengar suara ribut-ribut dari arah lain.


"Ada apa sih mengganggu saja!" Gavin pun kesal.


"Ah itu bukannya Karina?" Pungkas Mira saat menyadari, ternyata keributan yang terjadi saat ini adalah ulah Karina yang mabuk dan tiba-tiba saja mengamuk. Gavin dan Mira pun langsung beranjak dari kursi dan berjalan mendekatinya.


"Ah kenapa wanita itu mengamuk?" Tanya Gavin pada salah satu pengunjung yang menyaksikan.


"Entahlah, wanita itu mabuk dan tiba-tiba saja malah berteriak lalu mengamuk pada pengunjung lain," jelasnya.


Dan seketika otak licik Gavin pun bekerja, pria itu segera mengeluarkan ponselnya dan merekam tingkah gila Karina dibar.


"Hei kenapa kau malah merekamnya?" Tanya Mira heran.


~


Lara yang sudah bersih-bersih dan memakai gaun tidur pun keluar dari kamar mandi.


Saat dirinya keluar, ia melihat sosok suaminya yang sudah bertelanjang dada seolah tengah menunggu Lara naik keatas ranjang. Melihat Lara berjalan menuju ke arahnya pria itu langsung tersenyum penuh arti.


"Um— Vander sebenarnya aku—," ucap Lara tiba-tiba.


Vander mengerutkan alisnya yang tebal seolah kesal melihat istrinya tidak segera naik ke ranjang. Vander yang tidak sabaran pun langsung menyambar tubuh istrinya itu dan menariknya naik ke atas ranjang. Ia mengangkat Lara duduk dipangkuannya.


"Vander aku..." Lara sebenarnya ingin menolak Vander malam ini dikarenakan ia merasa lelah, tapi melihat Vander yang sudah bersemangat, serta idak menerima sebuah penolakan pun membuatnya tidak berani berkata-kata.


Pria itu menggigit lalu ditariknya pita gaun tidur sang istri yang terikat dibagian dadanya. Vander menanggalkan gaun tidur Lara perlahan sampai akhirnya tubuh polosnya terekspos jelas. Tanpa bertanya pria itu pun langsung menyesap kuat ujung buah dada Lara hingga membuat sang istri memejamkan matanya.


"Van—der...hghh" Desah Lara memanggil nama suaminya.


Lara menyentuh milik suaminya yang besar dan sudah mengeras dan mengusapnya. Tak lama pria itu langsung meminta istrinya berbaring diatas ranjang dan melepaskan semua pakaiannya. Tanpa protes Lara melakukannya wajah polosnya menatap Vander yang berada diatasnya dengan tatapan liarnya yang tajam dan sensual. "Buka kakimu!" Titahnya pada sang istri yang mana langsung dikabulkan oleh Lara.


"Aku suka melihatmu basah," ucap pria itu dengan nada menggoda.


Dan setelah puas mengekploitasi bagian paling sensitif sang istri dengan jari dan lidahnya ia pun bersiap untuk hidangan utama.


"Istriku bersiaplah," bisik Vander yang kemudian langsung menerkam istrinya.


Sayang, percintaan ini tak akan pernah selesai hanya dengan satu malam.

__ADS_1


 --


Sementar dimobil Gavin terlihat tertawa gelisambil menatapi layar ponselnya. Miranda yang duduk di sebelahnya pun menatap heran. "Gavin kau kenapa sih?"


"Lihat ini!" Gavin menunjukan video rekaman Karina saat mabuk dan mengambuk di bar tadi yang sudah ia upload ke media sosial.


"Jadi maksudmu merekam tadi untuk ini?" Mira tak menyangka Gavin akan melakukan hal seperti itu.


"Tentu saja memang apa lagi? Aku sengaja melakukan ini, anggap saja ini balasan karena dia pernah membuat kak Lara dituduh wanita tidak benar karna menyebarkan foto kak Lara di tempat pelacuran waktu itu," ungkap Gavin.


"Wah! Kau benar juga, ternyata kau cerdas juga ya," puji Miranda.


"Jadi kau baru sadar kalau aku ini cerdas?"


"Iya aku baru sadar, dan Gavin..."


"Ya?" Gavin menoleh ke arah Mira dan tiba-tiba saja Mira mencium bibirnya. Pria itu pun syok dan tercengang jadinya.


Dengan malu-malu Mira mengatakan, "Soal hubungan kita... Mungkin kita bisa mencobanya."


"Eh ap- apa maksudmu jadi kita...?"


"Ya, kita coba jalin hubungan," ungkap Mira.


Gavin tersenyum dan mereka pun berciuman di dalam mobil.


*


Setelah selesai melakukan hubungan suami istri, Vander pun tiba-tiba terbangun dalam keadaan tanpa busana dengan posisinya yang berada berbaring sambil memeluk sang istri yang tidur dengan kepala diatas dekapan dada suaminya.


Vander lalu mengusap lembut kepala Lara dan mengecup keningnya dengan lembut. "Maaf ya sayang kau jadi sampai kelelahan begini," ungkap Vander sambil membenarkan selimut yang menutupi tubuh sang istri yang tanpa sehelai benang pun.


Merasa ada perlu, Vander pun perlahan melepaskan diri dari pelukan sang istri lalu mengambil celananya dan memakainya. Pria itu berjalan mengambil ponselnya diatas meja yang memang sejak pagi sengaja ia non aktifkan agar tidak mengganggu dirinya yang tengah berbulan madu.


Setelah ponselnya menyala Vander pun langsung mendapati beberapa pesan dan panggilan masuk sejak tadi pagi. Dan salah satun pesan itu adalah dari Gavin yang mana ia mengiriminkan video Karina yang tengah mabuk dan mengamuk di bar.


From Gavin :


^^^*Kakak aku mengambil video Karina ini dan aku sudah menguploadnya ke media sosial! *emot tertawa licik*.^^^


Vander pun tersenyum senang mengetahuinya, Tak lama ia pun membalas pesan Gavin


To Gavin :


^^^Kerja bagus!^^^


Setelah itu Vander pun kembali mengecek pesan masuk lain, dan siapa sangka ternyata salah satunya adalah dari Eva, yang mana ia mengiriminya pesan bernada peringatan.


From Eva :


^^^Aku tau kau sedang berbulan madu, dan aku tidak menyangka kau seserius ini dengan wanita itu. Tapi kau perlu tau orang-ornag di crux tidak pernah setengah-setengah melalukan apapun demi tujuannya. Oleh karena itu pikirkan tawaran kami, dan jangan sampai menyesal.^^^


"Cih! Licik dan serakah memang slogan orang-orang di Crux!" Vander menatap Lara yang yang kini sedang tertidur nyeyak diatas dengan wajahnya yang polos. "Lara... aku sangat mencintainya, tapi kadangkala aku juga takut kalau cintaku ini akan bisa melukainya suatu saaat nanti.. Apa aku sudah salah langkah dengan menikahinya?" Vander tertunduk seolah frustasi. "Bagaimanapun aku harus menjaga istriku dari orang-orang di masa laluku!"


...🌿🌿🌿...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜


__ADS_2