
Setibanya diruangan Lara, gadis itu langsung menyuruh Vander mengunci pintunya. Tanpa banyak tanya Van langsung melakukan apa yang diperintah kekasihnya itu.
"Ayo segera duduk," ajak Lara yang baru saja selesai menyiapkan bekal makan siang untuk mereka.
Mereka berdua duduk bersebelahan disofa panjang yang ada diruangan Lara. Van melihat bekal yang dibuat Lara sudah tertata rapi diatas meja yang ada di depannya.
"Nona kau masak ini semua pagi-pagi sekali, apa tidak merepotkanmu?" Ujar Van.
"Repot sih, tapi aku senang membuatnya. Oleh karena itu kau harus makan yang banyak ya, kalau tidak aku akan marah padamu." Ungkap Lara.
Lara mengambil sumpit untuk mengambil tamagoyaki dan menyuruh Van buka mulut
"Van ayo buka mulutmu aaa..."
"Eh Nona aku bisa makan sendiri kok," ungkap pria itu malu-malu.
"Sudah buka saja mulutmu cepat," kata Lara bersikukuh. Vander pun tak bisa melawan dan akhirnya mengikuti perintah Lara untuk membuka mulutnya.
Ummm...Van memakan tamagoyaki dari tangan Lara.
Gadis itu tampak puas dan senang melihat Van mengunyah dengan nikmatnya makanan dari suapan tangannya.
"Nona juga makan jangan melihatiku saja," pungkas pria itu yang akhirnya makan sendiri.
Lara pun akhirnya juga makan. Sambil mengobrol dan bersenda gurau sepasang kekasih itu menikmati makan siang mereka.
"Oh iya Van aku memutuskan untuk, lebih baik kau memang ikut kelas khusus bisnis!"
"Huh? Kenapa tiba-tiba Nona memutuskan begitu?" Tanya Vander sambil mengunyah.
"Karena aku yakin kau punya kemampuan luar biasa, dan aku tidak ingin kau menyia-nyiakan kemampuanmu itu. Setidaknya kalau kau ikut kelas khusus kau akan punya sertifikasi kecakapan resmi."
Van terdiam sejenak memikirkan ucapan Lara.
"Aku tau, ini kedengarannya seprti memaksamu tapi aku harap kau paham dengan maksudku ini."
"Iya Nona aku akan pikirkan."
Tidak terasa makan siang mereka sudah habis dan mereka berdua pun merasa kenyang. Van yang tengah memperhatikan Lara minum air putih melihat ada sisa makanan dibibir Lara.
"Nona ada sisa makanan di dekat bibirmu"
Saat Lara mau mengusap sisa makanan itu Van malah melarangnya.
"Jangan diusap!" Van kemudian malah menjilati sisa makanan itu dan memakannya.
Sontak Lara pun dibuat terperangai hingga matanya membelalak. Keduanya saling berpandangan dengan jarak yang sangat dekat.
"Sudah bersih," ucap Van.
"Terima kasih" Lara pun langsung mengecup bibir Vander dan mereka pun berciuman dengan intens. Pria itu memeluk Lara dengan kuat mengangkat wanita itu agar duduk diatas pangkuannya. Semakin intens pasangan kekasih itu berciuman dan saling memainkan lidahnya hingga mungkin keduanya tak lagi peduli jika mereka masih berada di kantor.
**
__ADS_1
Jeden terlihat menemui Karina yang sudah sejak tadi menunggu di restoran Oliver. Pria itu langsung duduk menghampiri Karina yang tengah sibuk menikmati segelas minuman.
"Kau sudah lama menunggu?" Tanya Jeden.
"Tidak terlalu, oh iya kau mau pesan apa Tuan Jeden? Biar sekalian aku pesankan sekalian, kebetulan aku belum pesan makanan."
"Aku pesan daging wagyu dan segelas anggur," ucap Jeden.
Setelah keduannya memesan makanan, sambil menunggu pesanan mereka datang Jeden tanpa basa basi langsung menanyakan soal rencana Karina yang dikatakannya di telepon tadi. "Jadi apa rencanamu?"
"Aku punya rencana di acara perayaan ulang tahunku yang akan diadakan tiga hari lagi di ballroom hotel Rosevelt."
Jeden mengernyitkan keningnya tanda belum paham maksud ucapan Karina.
"Jelaskan padaku intinya."
Karina lalu menjelaskan secara detail rencananya kepada Jeden.
"Kau serius? Tapi Vander bukan pria bodoh, sekalipun dia hanya seorang gelandangan tapi aku tau dia bukan pria bodoh yang mudah ditipu apalagi dibodohi," terang Jeden.
"Aku tau, oleh karena itu kita harus bekerjasama. Dengan begitu kau bisa dapatkan Lara dan aku akan dapatkan Vander, bagaimana?" Karina tersenyum seolah menyakinkan.
Jeden menghela nafas. "Baik, aku setuju dengan rencanamu."
"Bagus, kalau begitu tugasku adalah tinggal memberikan undangan pesta ulang tahunku kepada Lara dan Vander. Sisanya biar orang suruhanku yang akan melakukan tugas mereka di hari H nanti."
Jeden tampak terkesan dengan rencana Karina. "Heh, tidak salah jika aku menyebutmu wanita licik! Tapi itu bagus," ungkap Jeden seraya memuji kelicikan Karina.
**
"Kalau begitu Nona Lara, terima kasih makan siangnya, tadi itu sungguh lezat dan nikmat sekali," ungkap Van tersenyum penuh arti.
Lara berjalan mendekati Van untuk membantu merapikan kerah kemeja Vander yang agak berantakan, "Sama-sama, tapi Van... Bisakah kau tidak terlalu formal memanggilku saat kita hanya berdua saja? Bagaimanapun kita ini kan sudah jadi pasangan, tidak bisakah kau panggil aku dengan lebih mesra?" Ungkap Lara dengan nada manja.
Van menggenggam kedua tangan Lara.
"Lalu Nona mau aku bagaimana? Katakan saja akan aku lakukan apapun itu," ucap Van kemudian megecup punggung tangan Lara.
"Panggil aku Lara saat kita sedang berdua begini," pinta Lara.
"Lara...," bisik Van ditelinga Lara.
DEG! Hati Lara tiba-tiba berdeser mendengar namanya disebut oleh Vander dengan nada lembut.
"Seperti itu kan?"
Lara tersenyum dan langsung memeluk kekasihnya itu. "Terima kasih sayangku."
Sayangku? Van agak kaget mendengar Lara menyebutnya begitu.
"Sayang?" Ucap Van.
"Iya, Vander kan kesayanganku," ungkap Lara dengan polosnya.
__ADS_1
Raut Wajah Vander pun seketika jadi malu dibilang begitu.
"Nona um— maksudku, Lara juga..."
"Juga apa?"
"Juga kesayanganku, wanitaku yang paling berharga dan paling aku puja," ungkapnya.
Lara langsung tampak bahagia sekali mendengar perkataan Van tersebut.
"Aku mencintaimu Vander," ungkap Lara.
"Aku juga mencintaimu," balas Van.
Mereka pun berciuman lagi terkhir sebelum akhirnya Van meninggalkan ruangan Lara.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya," kata Vander sambil mengusap pipi Lara yang lembut dan putih merona.
"Ingat ya Vander! Dibelakangku lkau jangan genit dengan wanita lain, jangan terlalu baik pada gadis lain, jangan suka memuji perempuan lain, dan— hm.."
Van meletakan jemarinya dibibir Lara agar gadis itu berhenti bicara. "Untuk apa aku lakukan hal itu pada wanita lain kalau wanita didepanku ini sudah sangat sempurna."
"Dasar gombal! Sudah sana, kalau lama-lama disini kita bisa ketahuan."
Van tersenyum lalu pergi. "Sampai nanti Nona Lara."
"Sampai nanti Van, huft!" Lara menghela nafas. Gadis itu memegangi kedua pipinya. "Ternyata punya pasangan itu semenyenangkan ini! Kenapa tidak dari dulu saja ya aku pacaran? Tapi siapa peduli, lagipula para lelaki yang pernah menyatakan perasaannya padaku tidak ada yang seperti Vander jadi tidak cocok dengaku! Lagipula Van itu terlalu tampan kalau dibandingkan pria-pria yang menyatakan cinta padaku dulu," ungkap Lara sambil senyam-senyum.
**
Baru saja keluar dari ruangan Lara, Vander langsung berpapasan dengan Miranda yang sepertinya mau menemui Lara.
"Vander kau habis dari ruangan Nona?" Tanya Mira.
"Iya, sudah ya Nona Mira aku harus pergi!" Van kembali melenggang pergi.
"Hei tunggu!" Seru Mira.
Pria itu pun berhenti berjalan dan menoleh, "Ada apa lagi Nona Mira?"
Mira mendekati Van dan memperhatikan dengan seksama seluruh bagian pria itu terutama wajahnya.
"Kenapa kau memperhatikanku begitu? Aku tau aku sangat tampan jadi—"
"Itu! Didekat bibirmu ada seperti noda lipstik!"
Apa noda lipstik? Van langsung tampak kaget dibuatnya.
Gawat! Pasti ini lipstik nona Lara!
Bersambung...
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜
__ADS_1