Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Sama Tapi berbeda.


__ADS_3

Malam harinya saat tengah makan malam bersama, Rey bertanya soal wawancara kerja Lara hari ini. Lara bilang semuanya berjalan lancar hanya saja final keputusannya baru besok diumumkan.


"Memangnya Kak Lara kerja diperusahaan apa sih dan bagian apa?" Tanya Emika.


"Aku melamar jadi sekretaris CEO Laizen Grup."


"Eh? Benarkah?"


"Iya, memangnya kenapa kau agak tidak percaya begitu kelihatannya?"


"Bukan, hanya saja setauku perusahaan sebesar itu mencari sekretaris untuk CEO tidak biasanya dibuka untuk umum."


Ah iya Emika benar juga, aku sampe tidak berpikir kesana. "Pantas saja saat aku mangirim CV lamaran servernya sempat down, aku juga baru tahu kalau ternyata dalam satu jam, yang drop CV sebagai sekretaris itu sudah sampe ratusan ribu orang."


"Huh? Dan kakak terpilih dari ratusan ribu orang itu? Wah pasti dimasa lalu kau adalah penyelamat dunia kak," pungkas Emika takjub.


"Memangnya bos mama nanti laki-laki atau perempuan?" Rey penasaran.


"Tentu saja seorang laki-laki. Yang aku dengar CEO Laizen itu sangat tampan dan berkarisma, tidak heran kalau sekali buka lowongan langsung ratusan ribu orang mendaftar," terang Emika sambil membayankan pria tampan diotaknya.


"Ah itu kan masih gosip, bisa saja tampangnya malah sebaliknya, jangan suka terlalu percaya pada berita yang beredar di internet!" Ujar Lara yang sebenarnya juga ada rasa penasaran.


...🍁🍁🍁...


Setibanya di kantor Laizen, Lara yang mengenakan dress fit body diatas lutut berwarna peach dengan luaran blazer putih, tampak elegan dan percaya diri berjalan mengenakan sepatu heels sambil menenteng tasnya, masuk ke dalam lift menuju ke lantai 79. Lantai itu adalah lantai dimana ruangan calon bosnya itu berada. 


Sendirian di dalam lift, Lara pun menyempatkan diri berkaca dengan kaca bedaknya untuk memastikan kalau riasan wajah sudah sempurna. Mengenakan riasan make up minimalis dipadu warna merah tipis dibibirnya, Lara terlihat anggun dan percaya diri keluar lift.


"Oke, aku siap bekerja!" Ucap Lara penuh keyakinan.


Tak lama muncul Robert yang langsung menghampiri Lara.


"Selamat pagi Nona Lara Hazel," ucap Robert menyambut dirinya.


"Pagi..." Lara melihat sekeliling, namun tidak ada oran lain sama sekali selain dirinya dan Robert.


"Um... Tuan Robert, lalu kandidat sekretaris satu lagi dimana?"


"Tidak ada, karena pada akhirnya aku merasa hanya anda yang masuk kualifikasi untuk sekretaris Tuan," jelas Robert.


Masa sih? Apa iya? Lara seolah tidak percaya.


Tanpa banyak basa-basi Robert pun langsung mengantar Lara untuk bertemu dengan CEO Laizen group yang terkenal itu.


"Ini ruangan Tuan, silakan masuk."


Lara melangkah memasuki ruangan itu. Dirinya jadi merasa gugup tiba-tiba, karena tidak menyangka akan jadi sekretarisnya pebisnis nomor satu di asia.


Tenang-tenang, Lara kau harus tenang...


"Permisi Tuan, aku datang mengantar sekretaris baru anda," ucap Robert lalu pergi dan meninggalkan Lara diruang kerja yang besar dan dingin itu sendirian, bersama pria yang kini masih  tampak berdiri memunggunginya.

__ADS_1


Lara menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan. Setelah merasa rileks Lara pun segera menyapa dan memperkenalkan diri.


"Selamat pagi Tuan, aku Lara Hazel. Mulai hari ini, aku yang akan bertugas sebagai sekretaris anda, semoga kita bisa bekerja sema." Lara menunduk sopan.


Pria itu menyeringai kecil setelah mendengar Lara memperkenalkan diri. Ia pun langsung berbalik badan melihat ke arah Lara yang saat ini masih menunduk.


"Jadi kau, wanita yang akan jadi sekretaris baruku?"


DEGH!


Seketika jantung Lara bergedup kencang mendengar suara pria itu berbicara.


Suara ini kan...? Suara yang tidak asing bagi Lara, namun sudah lama tidak ia dengar. Lara yang menunduk seketika langsung mengangkat kepalanya untuk melihat sosok pria pemilik suara tersebut.


Suaranya yang berat, sorot matanya yang tajam, rambutnya yang berwarna gelap, postur tubuhnya yang tegap tinggi, hingga caranya berdiri dan menatap. Tidak salah lagi, pria dihadapan Lara daat ini adalah pria yang sudah lama sekali tidak pernah Lara jumpai. Tubuh Lara kini seolah mematung tak bisa bergerak, matanya yang membesar hanya menatap lurus seolah tak berkedip memandangi sosok pria parlente di hadapannya saat ini.


"Vander?" Ucap Lara lewat gerak bibirnya tanpa suara. Lara seolah kehabisan kata-kata untuk mengutarakan apa yang ia rasakan saat ini. Perasaannya kini campur aduk, bingung, dan terombang-ambing.


Vander kenapa dia— dia ada disini?


Lara melihat pria itu berjalan ke arahnya dengan begitu santai, namun matanya yang mengintimidasi seolah tak berhenti memandangi sosok Lara yang kini sudah ada dihadapannya. Ia tersenyum kecil sambil menundukan wajahnya dan berbisik ditelinga Lara. "Selamat datang dikantorku Nona Lara Hazel, semoga kau bisa jadi sekretarisku yang kompeten."


Lara pun hanya bisa bergeming mendapati Vander yang sudah lama tidak ia lihat, berada sedekat ini dengannya saat ini.


Dengan matanya yang tajam Vander mengamati Lara dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. "Selera Robert bagus juga dalam memilih," ucapnya tersenyum puas.


Sementara Lara yang masih syok dengan semua ini, masih bertanya-tanya apa benar pria yang ada di depannnya ini suaminya? Karena meski fisik dan suaranya sama persis, tapi Lara merasa ada yang berbeda darinya, Vander dihadapannya ini terasa seperti orang asing bagi Lara. Apa karena sudah lama tidak bertemu?


"Ck! Nona Hazel, jika kau disini hanya untuk menjadi patung, maka silakan keluar dari ruanganku!" Hardik pria itu.


Sontak Lara pun kaget dibuatnya, seketika dirinya jadi semakin tidak yakin kalau pria ini adalah Vander suami yang ia kenal. Karena Vander suaminya tidak akan mungkin berkata dengan nada membentak begitu padanya.


"Uhm- i- iya Tuan, aku minta maaf," ucap Lara.


"Yasudah, kalau begitu segera taruh tasmu di meja kerjamu, dan bawakan aku secangkir kopi."


Lara lagi-lagi malah diam saja mendengar perintah Van barusan.


"Lara Hazel!" Tegur Vander


"Eh i- iya Tuan, Um— tadi kau minta apa?"


"Aku minta— kau bawakan aku kopi, apa aku perlu mengulang untuk ketiga kalinya agar kau paham Nona Hazel?" Ucap Vander dengan nada penuh penekanan.


"Tidak Tuan, ba- baik, aku akan segera membawakan anda kopi."


Lara pun akhirnya pergi mengambilkan kopi untuk bosnya itu.


Di pantry Lara yang tengah membuat kopi masih tampak linglung. Ia masih berpikir sebenarnya siapa bosnya itu? Di ruang kerjanya tertulis namanya Vander Liuzen dimana itu jelas nama Vander suami Lara. Tapi- tapi kenapa dia seperti orang asing? Apa dia sedang usil pura-pura tidak kenal denganku? Tapi buat apa? Apa Van punya saudara kembar?


Karena sibuk melamun, Lara pun sampai tak sadar kalau dia sudah kelebihan menuang kopi ke dalam cangkir, alhasil kopinya jadi meluber dan tumpah.

__ADS_1


"Astaga, cerobohnya aku..!"


Lara pun segera mengganti kopinya dengan yang baru. Tapi kali ini Lara malah bingung, mengingat apa selera kopinya Vander yang ini sama seperti Vander suaminya?


"Apa aku tanya saja ya? Tapi..."


Lara tidak berani, mengingat aura bosnya tampak jauh lebih menakutkan dibanding Vander suaminya.


"Memang sih, Nama, wajah, sampai fisik semua sama persis, tapi auranya beda sekali dengan yang dulu ku kenal. Apa Vander amnesia? Tapi kenapa bisa amnesia? Apa mungkin dia kecelakaan parah seperti di film-film lalu jadi amnesia begini?"


"Huft!" Lara sampai menghela nafas karena saking banyak pertanyaan yang muncul dibenaknya saat ini tentang pria yang kini jadi bosnya itu.


Wanita itu kembali melihat ke cangkir kopinya, ia membuat Americano tanpa gula. Lara membuat kopi yang biasa diminum Vander suaminya, tapi kalau Vander yang ini apa seleranya sama?


Dan tiba-tiba saja ada Robert masuk ke pantry. Karena kebetulan ada Robert, Lara akhirnya bertanya kepada pria itu tentang kopi apa yang biasa diminum bosnya.


Robert menatap secangkir kopi yang dipengang Lara dan berkata, "Bukannya yang ditangan Nona itu buat Tuan Vander, kenapa masih tanya?"


"Eh jadi begitu?" Jadi seleranya masih sama, syukurlah kalau begitu. "Baiklah kalau begitu aku antar ini ke mejanya dulu."


"Nona Lara tunggu," panggil Robert


Lara pun balik menoleh ke arah pria itu. "Ada apa tuan Robert?"


"Aku hanya ingin ingatkan, tolong bersabarlah dengan Tuan Vander ya..."


"Oh, oke! Kalau begitu aku duluan ya Tuan Robert, permisi..!"


Robert menatap Lara yang baru saja keluar. "Semoga kali ini setidaknya gadis itu bisa tahan sampai dua atau tiga minggu." Karena kalau sampai lagi-lagi tidak cocok, Robert tidak tahu lagi harus cari sekretaris yang bagaimana lagi. Mengingat sekretaris Van yang paling lama hanya bertahan 10 hari saja. Itu pun karena sekretarisnya seorang nyonya yang seusia dengan Robert jadi agak bisa lebih sabar.


Setibanya diruangan Vander, Lara langsung meletakan kopi tersebut diatas meja kerja bosnya.


"Tuan ini kopi anda."


"Ya!"


Setelah memberikan kopi itu, Lara yang bukannya pergi malah masih disana sambil terus memandangi bosnya yang tengah serius bekerja. Pria ini sebenarnya siapa sih? Aku jadi bingung! Dibilang uami tapi dia tidak kenal aku, bukan suami tapi jelas dia suamiku.


"Nona Lara apa anda sesuka itu memandangiku, sampai tidak mau beranjak pergi?" Ujar Vander tanpa menoleh.


"Eh, um— i- iya maaf Tuan, kalau begitu aku- aku  permisi."


Lara pun segera kabur ke ruangannya, yang ada persis disebelah ruangan Vander.


Didalam ruangannya Lara langsung memegangi dadanya, jantungnya kini tiba-tiba berdetak cepat sekeli, sama seperti yang ia rasakan dulu saat pertama kali menyukai Vander.


"Ya Tuhan... apa yang harus aku lakukan? Aku sungguh benar-benar ingin tau apa yang sebenarnya sudah terjadi pada Vander, kenapa dia tiba-tiba bisa jadi CEO? Dan kenapa dia jadi seperti orang yang tidak kenal denganku sama sekali?"


...🍁🍁🍁...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, DAN KASIH GIFT TANG BANYAK... PLIS PLIS PLIS 💜

__ADS_1


__ADS_2