
Malam harinya dimana Vander yang baru saja selesai menelepon Lara, tiba-tiba saja mendengar suara teriakan histeris dari arah mess khusus wanita.
"Suara itu, aku harus segera kesana!" Tanpa berpikir panjang, Vander pun langaung berlari pergi ketempat darimana sumber teriakan itu berasal.
Setibanya Van di mess wanita ia langsung disuguhkan dengan kerumunan, bukan hanya orang-orang dari mess wanita, bahkan para pria dari mess sebelahpun hampir semuanya berkumpul ditempat ini.
"Tolong beri aku jalan!" Van menyuruh orang-orang yang menghalanginya agar menyingki. Setelahnya Vander pun dibuat cekup terkejut saat melihat seorang perampok yang wajahnya ditutupi penutup wajah sedang menodongkan pisaunya ke arah Akina.
"Hei! Menyingkir dari wanita itu!" Seru Vander dengan lantang ke arah penjahat tersebut.
"Sok pahlawan!" Desis si perampok.
Vander pun berjalan dengan tenang ke arah dimana perampok itu berdiri.
"Jangan mendekat! Atau... Atau aku bunuh wanita ini!" Perampok itu tiba-tiba saja menyandera Akina sambil menodongkan belati ke lehernya.
Akina langsung histeris ketakutan, "Tolong aku Vander!" Ujarnya sambil menatap Vander yang bergeming dengan tatapan tajam.
"Lepaskan dia atau kami lapor polisi!" Seru Tuan Johan.
"Telepon saja, setelah itu kalian akan lihat wanita ini mati konyol!" Ancam perampok itu.
Perampok sialan, membuatku jadi banyak kerjaan saja! Umpat Vander menatap tajam ke arah perampok.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" Vander seolah ingin bernegosiasi dengan si perampok.
"Aku ingin uang hasil panen bulan ini kalian berikan padaku! Kalian para orang kaya pemilik ladang yang serakah, tidak seharusnya menyimpan sendiri hasil panen di ladang kapas ini!"
Van semakin menajamkan matanya. Ia merasa kalau perampok ini sepertinya bukan orang luar melainkan warga lokal disini. Argh mau tidak mau aku harus keluar tenaga sedikit! Vander yang bergeming tiba-tiba saja kembali berjalan tenang mendekati perampok itu.
"Mau apa kau! Sudah kubilang kan, jangan mendekat atau kubunuh wanita ini!"
Sayangnya Van tidak peduli ucapan perampok itu, bagi Vander ia tidak punya waktu untuk main-main dengan ancaman serangga kecil seperti dia.
"Kubilang jangan mendekat!"
"Berisik!" Vander dengan cepat langsung merebut belati itu dari tangan si perampok, dan menyuruh Akina segera minggir. Karena si perampok ingin melawannya Vander pun tidak ada pilihan lain, ia langsung menendang perut perampok itu hingga tubuhnya terpelanting keras. Van lalu menyuruh yang lainnya segera mengikat perampok itu. Setelah diikat Van membuka penutup wajah perampok itu, dan benar ternyata perampok itu tidak lain adalah warga lokal sekitar. Pria itu mengaku kalau alasannya merampok adalah karena pembagian upah pada buruh sepertinya sangat kecil, sementara ia butuh uang untuk biaya istrinya melahirkan.
Lagi-lagi alasannya karena masalah ekonomi! Keluh Vander.
"Aku tau kau melakukan ini semua demi keluargamu, tapi bagaimanapun kau bersalah jadi kau harus tetap diadili!" Ucap Vander.
"Tapi tuan bagaimana istriku, dia mau melahirkan aku mohon ampuni aku," perampok itu menangis memohon ampun.
"Hukumanmu akan diputuskan oleh pemimpin di wilayah ini nanti. Dan untuk urusan istrimu, aku akan minta pemilik ladang ini untuk memberikan hak anak dan istrimu!"
"Be- benarkah?"
"Ya!"
"Terima kasih tuan!" Ujar si perampok berlinang air mata.
"Sekarang lebih baik kalian bawa dia ke pihak berwajib!" Titah Vander.
Akhirnya perampok itu pun dibawa ke kantor polisi setempat. Semua orang disana pun langsung berterima kasih dan memberikan pujian kepada Vander karena telah mengalahkan perampok itu.
"Astaga! sudah tampan, pemberani, keren! Beruntung sekali wanita yang jadi pasangannya!" Ujar seorang wanita.
"Aku mau jadi pacarnya tuan Vander walau cuma sehari!"
"Tuan Vander anda keren sekali!" Seru pria lain.
Sementara itu Akina terlihat mendekati Vander untuk mengucapkan terima kasih. "Vander— terima kasih ya sudah menolongku tadi, kalau tidak ada kau mungkin aku sudah—"
"Jangan bicara hal bodoh, sudah tugas manusia menolong manusia lain kan?"
Akina tidak sengaja melihat telapak tangan Vander yang ternyata agak tergores terkena belati saat merebutnya dari perampok tadi. "Van tanganmu terluka!" Akina meraih tangan Vander yang tergores itu.
"Oh, aku malah tidak tau kalau aku tergores!" Pungkas Vander.
"Kau ikut aku, akan aku obati lukamu!" Akina lalu menarik tangan Van agar mengikutinya untuk diobati.
**
Ini luka yang tidak berarti bagi Van, tapi Akina ngotot mau mengobatinya. Padahal besok juga langsung sembuh sendiri! Pikir Vander.
Akina akhirnya selesai mengobati luka goresan di telapak tangan Vander.
"Padahal kau tidak perlu sampai diperban begini, tapi terima kasih ya," ucap Vander tulus.
"Sama-sama," wajah Akina tiba-tiba memerah.
__ADS_1
"Vander...!"
"Ya?"
Tiba-tiba sajs Akina mencium pipi Vander. Sontak Vander pun syok dan langsung berdiri menjauhi Akina. "Apa yang kau lakukan!?" Tanya Vander dengan suaranya yang berat.
"I- itu tanda terima kasihku padamu," Akina tampak malu-malu. "Aku... Aku menyukaimu Vander!" Ungkap Akina pada akhirnya.
Dengan raut wajahnya yang tetap datar Vander hanya terdiam.
"Kenapa kau diam, ka- kau juga menyukaiku kan Vander?" Akina menegaskan.
Van seketika menyeringai kecil diikutin deham tawa. "Kau tau Akina, sepertinya kau sudah salah sangka padaku."
"Apa maksudmu salah sangka?" Tandas Akina.
"Kau sudah salah mengira aku suka padamu,"
Akina membelalak kaget tak percaya. "Ta- tapi selama ini kau baik padaku dan perhatian. Bukankah itu—"
"Aku hanya mencoba bersikap baik pada orang yang juga baik padaku. Termasuk kau, dan ayahmu Johan!"
Akina kaget, bagaimana Van bisa tau kalau ternyata pria tua yang bernama Johan itu ayahnya?
"Tidak usah terkejut begitu, aku sudah tau sejak awal hanya saja aku memang tidak ingin bilang. Dan soal perasaanmu maaf, aku tidak bisa membalasnya."
"Kenapa?! Apa kau sudah punya wanita lain!"
"Itu bukan urusanmu, yang jelas aku tidak bisa menerima rasa sukamu. Jadi jangan berharap apa-apa dariku." Van lalu beranjak pergi.
"Vander jawab aku! Jangan pergi dulu! Vander!"
"Ini sudah malam kembalilah ke kamarmu!" Titah Van yang sambil terus melangkah pergi.
"Kumohon jangan pergi...!" Akina menangis sedih karena pada akhirnya malah berakhir ditolak cintanya oleh Vander. "Kenapa kau menolakku... Huhu..."
**
Di pagi hari di hari akhir pekan, Lara, Mira, dan Gavin terlihat tengah berkemas dan bersiap untuk pergi. Ya hari ini mereka bertiga memang berencana pergi mengunjungi Vander di kota RK. Ini hari ke lima belas Lara ditinggal Vander, dan setelah dirinya tau kalau ia boleh mengunjungi Vander disana ia pun memutuskan untuk memberi kejutan pada Vander dengan datang tiba-tiba.
"Semuanya lihat aku...!" Lara muncul dengan mengenakan pakaian yang super modis dipadu blazer abu-abu dengan skinny jeans dan sepatu boots ia bertanya kepada Mira dan Gavin tentang penampilannya.
"Bagaiama? Bagus tidak aku pakai ini?" Lara berdiri bergaya layaknya model.
"Ya kau kan memang dilahirkan jadi wanita yang selalu cantik dan modis," tandas Mira dengan ekspresi datarnya.
"Ah kalian memujiku berlebihan aku kan jadi malu," ucap Lara sambil senyum-senyum.
"Oh iya Kak Lara, kenapa sih kita tidak bilang saja sama Kak Vander mau mengujunginya, dengan begitukan kita bisa langsung dapat denah lokasinya tanpa perlu repot browsing peta," keluh Gavin yang sejak tadi sibuk browsing wilayah tempat Van berada saat ini.
"Aduh... Kan sudah aku bilang mau mengejutkan dia, sudah jangan banyak protes!"
"Oke..." Gavin pasrah tidak bisa melawan.
"Nona Lara apa bawaan ini tidak kebanyakan?" Tanya Miranda yang baru saja selesai mengemasi koper dan tas yang akan dibawanya. Padahal palingan cuma dua hari disana, tapi bawaannya Nona seperti mau minggat berbulan-bulan. Dari lima koper yang ada memang tiga diantaranya milik Lara, pantas saja Mira protes.
Setelah selesai berkemas dan memasukan koper dan tas bawaan mereka ke dalam bagasi mobil, mereka bertiga pun berangkat menuju RK.
**
Gavin yang membawa mobil pun fokus menyetir, ditemani Miranda yang duduk disebelahnya membantu mengarahkan jalan. Sementara Lara dikursi belakang malah sibuk ber-touch up!
"Gavin, kira-kira berama lama lagi kita sampai?" Tanya Lara sambil mengenakan maskara.
"Um itu—" Gavin menoleh menatap Miranda disebelahnya.
"Kenapa lihat aku sih!" Protes Miranda.
"Kau bilang sana, kalau kita sebenarnya tuh salah jalan!"
"Tidak, kau yang menyetir kenapa aku yang bilang!"
Gavin dan Mira saling menunjuk.
"Hei, kenapa kalian berdua malah ribut, jadi kita sudah dimana?" Tanya Lara lagi.
Gavin pun akhirnya jujur pada Lara.
"Apa?! Ja- jadi sudah dua jam berjalan kau tidak tau kita sampai mana?" Lara syok.
"Ya mau bagaimana lagi, kota RK ini jalannya kan memang masih banyak yang belum diaspal, ditambah daerah wilayahnya juga sebagian masih dikelilingi hutan yang tak bernama, wajar saja kalau di map namanya tidak tercantum," jelas Miranda.
__ADS_1
Lara langsung panik. "Lalu, bagaimana ini Miranda,. Gavin?"
"Aku juga tidak tau, mana jalanan disini sepi aku jadi takut," ujar Gavin melihat jalan yang dilewatinya sejak tadi selalu saja dikelilingi hutan disepanjang sisi jalan.
"Kau benar, hawanya juga menyeramkan, aku jadi agak merinding rasanya," timpal Miranda.
"Aduh kenapa kalian malah bicara begitu sih!" Protes Lara yang memang takut dengan hal-hal seram.
"Kenapa disini kabutnya tebal ya?" Ungkap Gavin melihat kaca mobilnya jadi berembun tebal.
"Ini karena sudah akhir musim gugur!" Sahut Lara tidak mau berpikiran aneh.
"Kabut tebal dan dikelilingi hutan, aku jadi ingat cerita leluhurku tentang gerbang dunia gaib, katanya tampat seperti itu banyak dijumpai di wilayah seperti ini..."
"Miranda stop! kalau kau cerita seram lagi aku buang kau ke hutan!" Ancam Lara yang benar-benar takut hantu. "Gavin lebih baik kau ngebut deh! Disini makin seram auranya!"
"Kak Lara benar, kita harus segera pergi sebelum kita terjebak di dunia arwah!"
"Gavin sudah cepat kita pergi!"
"Baik-baik!"
Setelah ngebut akhirnya mereka bertiga keluar dari jalanan yang bekabut tebal tadi, kini mereka dijalan utama menuju Ladang kapas utama. "Ah kita sudah dijalan utama menuju ke ladang RK!" Ujar Gavin melihat petunjuk di map.
"Benarkah? Huft...syukurlah," Lara merasa lega karena akhirnya sudah mau sampai ke tempat Vander.
Tidak sampai setengah jam akhirnya mereka bertiga tiba juga di salah satu wilayah RK tempat dimana Vander ikut program penelitian. Setelah memarkirkan mobil, mereka bertiga masih harus melewati jalan yang belum diaspal untuk sampai di camp tempat penelitan.
"Hati-hati kalian, jalannya masih banyak yang tidak rata," kata Gavin memperingatkan Lara dan Mira yang jalan bergandengan.
"Astaga aku belum pernah jalan dijalan seperti ini sebelumnya, apa disini jangan-jangan juga belum ada listrik," celetuk Lara yang dari tadi terus saja mengoceh dan berkomentar.
Bagi Lara yang dari kecil tinggal di kota besar dan penuh kemewahan, sudah pasti tidak pernah merasakan tinggal diwilayah seperti ini.
"Untung kita pakai sepatu boots," ungkap Miranda yang merasa agak susah berjalan karena jalannanya bergelombang.
"Ah akhirnya kita sampai," ujar Gavin senang. Mereka bertiga akhirnya sampai di tujuan setelah bersusah payah dari pagi sampai sesore ini.
"Um maaf, nak... Kalian sepertinya bukan orang asli sini?' Tanya seseorang pria berumur.
"Iya paman, aku dan kedua temanku kami dari kota ZR, kami mau menemui seseorang yang ikut penelitian di tempat ini," jelas Lara.
"Oh kalian datang berkunjung, wah kebetulan sekali aku panitia program ini. Kalian bisa ikut aku kalau mau!"
Mereka bertiga akhirnya ikut salah satu paman panitia program penelitian di RK. Lara sedari tadi celingak celinguk mencari orang, tapi sejak tadi malah sepi. "Paman, kenapa disini sepi?" Tanya Lara.
"Itu karena ini sudah hampir malam, semua orang sudah masuk ke mess masing-masing dan bersiap untuk makan malam. Kalau kalian mau, kalian bisa tinggal di mess tamu, disana menerima tamu kunjungan."
Mereka bertiga saling menatap satu sama lain. "Baiklah sudah diputuskan, kita akan menginap di mess tamu!" Ucap Lara. Sebenarnya Lara ingin menginap dihotel berbintang, tapi karena ia benar-benar sudah lelah, ia pun memilih tempat terdekat untuk bermalam. Tubuhnya juga lengket ingin cepat bersih-bersih, ditambah ia juga sudah tidak sabar bertemu kekasihnya segera.
*
Saat ruang makan, tiba-tiba Van yang tengah mengobrol santai sambil menikmati makan malamnya dihampiri oleh salah satu panitia memberitahukan kalau ada tamu yang mengunjunginya.
"Tamu apa?" Van mengerutkan alisnya.
"Itu mereka!" Kata si panitia menunjuk ke arah Lara yang kini memakai piyama sutra dan sandal bulu warna merah muda berjalan ke arahnya.
"Nona Lara?" Ucapnya tidak menyangka sama sekali.
Lara berjalan anggun menghampiri Van dengan wajah sumringah, hingga membuat orang-orang disana bertanya-tanya dan memujinya.
Dia cantik sekali, siapa ya wanitu itu?
Wah jalannya bagus sekali, apa dia model?
Bajunya sangat bagus dia orang kaya dari kota kah?
Dan tak sedikit pria-pria disana terpesona dengan Lara hingga ada yang bersiul mengajaknya berkenalan. Tentu saja Vander yang sudah memasang mata tajam seperti serigala tidak suka wanitanya digoda. Pria itu pun langsung berjalan menghampiri Lara.
"Vander aku mh—"
Vander menunduk dan langsung mencium bibir Lara didepan banyak orang tanpa ragu.
"Oh- my- god!" Pungkas Mira yang tampak malu-malu melihat Van dan Lara berciuman.
"Ya ampun aku jadi iri, enak ya kalau punya pasangan," ungkap Gavin yang berdiri disebelah Miranda.
Semua orang di ruang makan langsung bersorak bersiul melihat kemesraan keduanya.
Sementara itu, Akina yang sejak tadi ternyata juga melihat kemesraan Van dan Lara pun langsung membanting nampan makanannya, dan pergi sambil menangis.
__ADS_1
Bersambung...
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT, DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜