Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Bertengkar Di kantor


__ADS_3

Hari itu acara grand opening Resort Laizen Group yang diberi nama OHANA RESORT akhirnya dilaksanakan. Dihadiri berbagai orang penting dan wartawan, Vander secara resmi mengumumkan kalau OHANA RESORT akhirnya resmi dibuka.


Setelah proses pengguntingan pita, Vander selaku CEO pun memberikan pidatonya. Disana pria itu berterima kasih kepada para pekerja serta penduduk lokal yang sangat mendukung pembangunan Resortnya.


"Resort ini tidak akan berdiri indah jika tidak ada para SDM yang berkualitas. Terutama untuk partner rekonstruksi, aku sungguh berterima kasih projek ini sudah dikerjakan dengan sangat baik oleh Tuan Eiji Hartman dan timnya." Vander menatap Eiji lalu meminta semuanya bertepuk tangan untuk Eiji.


"Tuan Vander untuk nama resortnya sendiri kenapa diberi nama Ohana?" Tanya salah seorang awak media.


"Pertanyaan bagus. Ohana itu artinya keluarga dalam bahasa Hawai'i. Dengan nama itu aku ingin semua yang menginap di Resort ini diperlakukan sebaik dan sehangat mungkin layaknya di dalam keluarga."


Wah filosofi yang keren. Lalu tuan kenapa anda tidak datang membawa kekasih anda?


"No comment soal itu. Dan untuk merayakan pembukaan Ohana Resort, setelah membagian seribu voucher gratis menginap disini selama dua hari. Aku akan bagikan seratus lagi voucher gratis menginap kepada pemesan pertama hari ini."


Semua bersorak mengetahui hal itu, dan tak lama banyak panggilan reservasi pun masuk. Sepertinya Resort ini diterima baik, melihat antusias para pengunjung lokal dan non lokal lumaya tinggi meski baru hari pertama resmi dibuka.


Setelah acara selesai, Vander pun bersiap untuk kembali. Tapi sebelum kembali pria itu menghampiri Eiji untuk khusus memberikan ucapan terima kasih pada arsitek itu.


"Tuan Eiji sekali lagi terima kasih atas dedikasimu membangun resortku." Vander mengulurkan tangan untuk berjabat.


Meski awalnya ragu, Eiji pada akhirnya menjabat tangan Vander. "Ya, sama-sama tuan Vander."


"Dan setelah ini apa kau ada project pembangunan lain?"


"Ya, aku sudah menerima proposal beberapa proyek yang minta aku tangani pembangunannya."


"Good, kau memang sangat profesional tuan Eiji jadi pantas kalau banyak yang butuh jasamu."


Eiji tersenyum getir. "Kau sedang mengiburku kah, tuan Vander?"


"Kenapa kau berpikir begitu?"


"Sudahlah, aku tahu kau bukan orang bodoh. Kau pasti paham maksudku."


Vander menyeringai kecil. "Jadi kau sudah menerima hubunganku dengan Lara?"


"Jangan terlalu senang, aku hanya ingin Lara bahagia itu saja." Eiji menatap Vander dengan tatapan serius. "Dan aku ingatkan padamu, jika kau sampai menyakiti Lara aku tidak segan-segan merebutnya darimu."


"Kau tenang saja, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Dan aku tidak akan membiarkan kau merebutnya dariku," tandas Vander sambil menepuk pundak Eiji. "Kalau begitu aku duluan tuan Eiji, sampai jumpa lagi."


...🍁🍁🍁...


Di kamar, Lara yang tengah duduk bersandar di ranjang sambil menatap laptop, terlihat baru saja selesai mengirim hasil desainnya ke Yuna untuk di nilai. Wanita itu tampak agak lelah sampai harus membunyikan tulang-tulangnya jemarinya.


"Huft... akhirnya selesai juga."


Tak lama kemudian, masuklah Vander sambil membawa nampan berisi teh jahe untuk ia berikan kepada istrinya.


"Sayang, kau sudah selesai kerjanya? Ini aku bawakan teh untukmu," ucap Vander menghampiri Lara.


Melihat sang suami datang membawakannya minuman Lara pun tersenyum senang. Ia kemudian meraih cangkir dari nampan itu dan meminumnya perlahan.


Setelah meminum teh itu, tubuh Lara jadi lebih baik rasanya.


"Terima kasih Vander, setelah minum tehmu aku jadi lebih segar."


"Baguslah, aku buat teh itu khusus untukmu. Aku tidak ingin istri dan calon anak keduaku kelelahan." Vander lalu meletakan nampan itu di meja dekat ranjang, kemudian duduk di tepi ranjang menghadap Lara dan menggenggap tangannya. "Kau jangan sampai kelelahan. Jangan terlalu sering bekerja saat malam hari, aku akan minta Yuna untukβ€”"


"Tidak sayang, kumohon kau jangan terlalu ikut campur pekerjaanku. Aku ingin bekerja dengan profesional. Lagipula apa kau lupa, meski kau CEOnya Laizen, tetap saja akulah pemilik perusahaannya."


"Tapi..."


"Stt..." Lara meletakan telunjuknya di bibir sang suami. "Jangan protes lagi, lagipula kalau aku lelah kan ada dirimu yang akan selalu membantuku."


Vander tersenyum mengecup tangan sang istri. "Aku senang kau selalu mengandalkanku. Aku merasa sangat berguna setiap kali kau memintaku banyak hal. Tolong lebih banyak bergantung padaku."


"Kalau begitu setiap malam bawakan aku teh jahe ya..."


"Hanya itu sajakah?"


"Memang apa lagi?"


"Apapun, kau minta dilayani apa saja, disini kau adalah ratunya. Kau bebas meminta dilayani siapapun."


Lara medekatkan dirinya menatap sang suami dan membelai wajahnya. "Aku memang ratunya. Tapi aku ingin suamiku jadi rajaku bukan jadi pelayanku. Jadi santai saja Vander, kau jangan terbebani dengan ketakutan kalau kau tidak akan bisa jadi suami siaga."


Lara tahu, sejak Lara hamil lagi, Vander sedikit banyak pasti dihantui perasaan bersalah saat dirinya dulu hamil Rey, tapi ia tidak ada untuknya. "Aku tidak mau kau merasa bersalah di kehamilanku ini, yang lalu sudah berlalu. Bagiku saat ini kau sudah lebih dari suami yang aku harapkan. Kau perhatian, memanjakanku, dan yang terpenting kau sangat sayang padaku dan bayi kita. Itu sudah cukup bagiku," ungkap Lara.


"Lara..." Vander menatap sang istri dengan tatapan penuh haru.

__ADS_1


"Kau suami dan ayah terbaik bagiku."


Mereka pun berpelukan.


"Oh iya," Lara tiba-tiba melepaskan pelukannya dan bertanya kepada sang suami apa sebenarnya yang dilakukan Vander di Crux beberapa hari lalu.


"Itu..." Vander menghela nafas karena merasa sudah tidak bisa lagi menyembunyikannya dari sang istri. Ia pun akhirnya menjelaskan kepada sang istri tentang apa yang telah ia lakukan selama di Crux. Dan Lara pun seketika terkesiap kaget mendengarnya.


"Tapi- tapi tubuhmu tidak apa-apa kan? Kau baik-baik saja kan Vander, apa kau merasakan sakit?" Tanya Lara cemas.


"Aku sudah baik-baik saja saat ini. Dominic behasil membuat serumnya."


"Syukurlah kalau begitu. Aku tidak mau kalau sampai terjadi hal buruk padamu," ungkap Lara yang benar-benar takut terjadi hal buruk pada sang suami. Ia kemudian memeluk Vander erat.


"Kau secemas itu padaku?" Tanya Vander menggodanya.


"Tentu saja! Kau pikir ada istri tidak mencemaskan suaminya yang ternyata melakukan hal mengancam nyawa!"


"Yasudah maaf..."


"Aku akan maafkan, asal kau janji mau mengajakku ke pulau Crux," ujar Lara.


"Eh ta- tapi?"


Vander sebenarnya tidak ingin Lara ke pulau itu, tapi menyembunyikan banyak hal dari istrinya juga bukan hal yang benar.


"Huft, okey... Nanti kalau aku kesana lagi aku akan membawamu bersamaku."


"Ah terima kasih sayang, muahh..." Lara sampi berulang kali mencium pipi dan kening suaminya saking senangnya. Karena jujur sejak dulu Vander cerita soal Crux ia sudah dibuat penasaran dengan tempat itu.


...🍁🍁🍁...


Dua bulan kemudian...


Kandungan Lara yang semakin membesar pun kini tak lagi bisa ia sembunyikan. Apalagi usia kandungannya sudah menginjak enam bulan.


Di kantornya beberapa orang pun bertanya-tanya Lara hamil anak siapa, karena sebagian pegawai tidak tahu kalau Lara sudah menikah. Termasuk Yesi, pegawai yang sering iri pada Lara. Saat jam makan siang Lara yang saat itu tidak kebawah karena sudah bawa bekalnya sendiri dihampiri oleh Yesi di meja kerjanya.


"Ada apa?" Tanya Lara melihat Yesi datang menghampiri.


"Kau itu sudah berapa lama sampai bisa mengandung?"


"Ya, kau itu punya hubungan dengan siapa sampai bisa hamil. Setahuku kau bahkan tidak punya pacar apalagi suami, bagaimana bisa kau tiba-tiba sudah hamil sebesar ini? Oh atau jangan-jangan..."


"Jangan-jangan apa?" Lara mulai tidak senang dengan arah pembicaraan Yesi yang terus memojokannya seolah ia wanita tidak baik.


"Jangan-jangan itu anak hasil tidur dengan suami orang yang kaya raya ya?"


PLAK! Lara langsung menampar Yesi saat itu juga, hingga membuat pegawai divisi lain yang melihatnya pun kaget.


"Jaga bicaramu nona Yesi! Selama ini aku terus berusaha tidak ribut denganmu, tapi tuduhanmu barusan itu sungguh keterlaluan!"


Yesi yang memegangi pipinya pun tak terima dan ingin membalas tamparannya itu, namun oleh Lara tangan Yesi langsung ditahan dan Lara malah langsung menyiram wanita itu dengan segelas air yang ada di mejanya.


"Kau sialan!" Pekik Yesi.


"Kau yang tidak punya etika bicara! Aku sudah peringatkan kau jangan ganggu aku, atauβ€”!" Lara hampir saja kelepasan bicara soal suaminya adalah Vander. Untungnya ia segera menahan diri, mengingat orang-orang di Lavioletta taunya Lara menikah dengan pria yang saat ini ada di luar kota.


Dan tak lama kemudian Yuna pun datang. Ia langsung bertanya apa yang sebenarnya terjadi diantara Lara dan Yesi.


"Nona, pegawai baru ini sudah menamparku!" Ucap Yesi menunjuk Lara.


"Lara benarkah itu?"


"Iya, aku memang menampar dan menyiramnya. Dan aku tidak menyesal sama sekali karena wanita bermulut jahat ini pantas menerimanya!"


"Apa kau bilang! Dasar kau murahan!"


"Hentikan!" Tegas Yuna yang kemudian meminta Lara dan Yesi ke ruangannya.


Setelah bicara di ruangan Yuna, baik Lara maupun Yesi sama-sama diberi peringatan.


"Aku harap ini terakhir kalinya terjadi. Kalian adalah pegawai di divisi tingkat atas, jadi jangan buat malu divisi kreatif dan didepan para junior, paham?"


"Baik nona Yuna, aku minta maaf," ucap Lara.


"Iya Nona yuna aku juga," sahut Yesi.


"Yasudah Yesi kau kembali ke ruang kerjamu dan keringkan pakaianmu. Sementara nona Lara kau tetap disini, ada yang ingin aku katakan padamu."

__ADS_1


Setelah Yesi pergi Lara bertanya apa sebenarnya yang ingin dikatakan oleh Yuna padanya.


"Lara, aku tahu kau pegawai yang baik dan profesional. Aku sungguh tidak ingin melihatmu kena masalah, dan untuk teguran ini. Meski kita cukup kenal baik tapi bagaimanapun aku sebagai pimpinan harus adil, jadi kuharap kau paham."


"Ya aku juga minta maaf nona," Lara tampak menyesalinya.


"Dan soal kehamilanmu yang sudah masuk enam bulan, sepertinya kau harus segera ambil cuti. Bagaimana pun bekerja dengan perut sebesar itu agak sulit Lara."


"Iya, aku sudah urus surat cutiku. Dan kemungkinan seminggu lagi aku akan cuti. Jadi maaf kalau beberapa bulan kedepan aku tak bisa bekerja langsung. Tapi nona tetap bisa menghubungiku kok."


"Sudahlah, hal itu tidak usah kau pikirkan. Kau fokus saja pada bayi diperutmu."


"Terima kasih nona Yuna, kalau begitu aku permisi."


"Silakan."


...🍁🍁🍁...


Di sebuah pusat perbelanjaan, Lara yang tengah menemani Miranda berbelanja bulanan pun terlihat masih kesal, saat ia menceritakan kejadian di kantornya tadi dengan Yesi pada Mira. "Aku tidak mengerti, kenapa wanita lain suka menuduhku jadi simpanan! Dulu Karina, lalu Akina, setelah itu Emily, dan sekarang Yesi! Memang aku semurahan itu apa!" Gerutu Lara.


"Itu karena mereka semua tidak tahu kalau ternyata suamimu itu CEO Laizen," jawab Miranda sambil mendorong troli belanjanya yang sudah berisi berbagai kebutuhan rumah tangga.


"Iya sih, tapi memang dimata mereka ini aku tipe suka menggoda suami orang?" Lara benar-benar jengkel rasanya.


"Mungkin mereka iri, karena kau itu selain cantik, pintar dan kerjamu bagus."


"Huft, menyebalkan sekali!"


"Oh ya Lara, bisa tolong ambilkan tisu gulung di dekatmu itu," pinta Miranda yang kebetulan harus mengambil cairan pembersih dahulu.


"Oh tentu."


Saat Lara mau mengambil tisu tersebut, tiba-tiba saja ada pengunjung lain yang nengambil tisu di tumpukan dengan tidak hati-hati hingga menyebabkan tumpukan tisu itu roboh dan hampir menimpa Lara. Untungnya seorang pria yang mengenakan masker hitam, dengan segera datang melindungi Lara dengan tubuhnya.


"Eh tu- tuan kau tidak apa-apa kan?" Tanya Lara saat tahu kalau seorang pria telah melindunginya dari kejatuhan tumpukan tisu itu.


Miranda yang sangat cemas pun segera memastikan kalau sahabatnya itu baik-baik saja.


"Lara, kau baik-baik saja kan, tidak terluka kan? Aku takut sekali!" Ucap Miranda tampak sangat khawatir.


"Iya aku baik-baik saja, tadi itu ada tuanβ€”" Lara menoleh celingak celinguk mencari pria yang tadi sudah melindunginya namun malah tidak ada.


"Kau cari siapa?"


"Tadi pria yang menolongku dari kejatuhan tumpukan gulungan tisu itu. Kemana dia? Aku belum bilang terima kasih."


"Sudahlah jangan dipikirkan, yang penting kau selamat. Aku sungguh takut sekali tadi, kalau terjadi apa-apa padamu aku akan sangat merasa bersalah, dan Vander bisa membunuhku."


"Aku tidak apa-apa kok... Sudah jangan takut lagi."


Β 


Setelah selesai berbelanja, Lara dan Miranda tampak duduk di lobi utama plaza sambil memperhatikan Gavin dan Rey yang kini sedang asyik bermain kejar kejaran. Sambil menikmati segelas mango moothies ditangannya, Lara tampak masih kepikiran dengan pria yang menolongnya tadi. Dirinya merasa masih mengganjal karena belum sempat berterima kasih pada pria itu.


"Kau masih kepikiran pria yang menolongmu tadi ya?" Tebak Mira.


"Iya, aku merasa belum lega karena belum mengucapkan terima kasih."


"Kau ini, kadang hal sepele saja kepikiran, pantas saja Vander itu suka over protective padamu."


"Begitu ya?"


"Iya, kau itu kan memang orangnya mudah kepikiran sejak dulu. Berbeda denganku, yang jarang memikirkan hal tak pasti. Tapi kali ini, aku kepikiran sesuatu," ucap Miranda terdengar agak sedih.


"Hei Mira ada apa?" Tanya Lara melihat sahabatnya itu nampak memandangi Gavin dan Rey yang sedang asyik bermain dengan tatapan penuh arti.


"Lara, kau lihat itu. Gavin terlihat senang sekali bermain dengan putramu. Gavin itu suka anak-anak, tapi sayangnya kami belum juga dikaruniai anak." Mira sepertinya jadi agak menyesal karena sempat menunda punya anak setelah kami menikah.


"Jujur aku iri padamu yang bahkan sudah mau punya anak dua. Sebenarnya yang paling aku takuti adalah aku takut Gavin kecewa," ungkap Miranda.


Lara merangkul sahabatnya itu dan menenangkannya. "Oh sudahlah, mungkin memang belum waktunya. Soal Gavin kau tenang saja, aku yakin Gavin pria yang baik. Dia pasti akan dengan sabar menunggumu hamil. Lagipula kalian masih sama-sama muda."


"Tahun ini aku sudah dua puluh sembilan tahun, sementara Gavin masih dua puluh tujuh. Aku takut dia akan cari wanita lain yang lebih muda kalau aku tak kunjung hamil."


"Ya ampun Mira, kau jangan berpikiran jelek begitu deh... Percaya padaku Gavin itu setia."


"Ya mudah-mudahan saja."


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS πŸ™


__ADS_2