
Pagi harinya Lara terbangun dari tidurnya yang pulas. Gadis itu menoleh dan mendapati sudah tidak ada Vander di sebelahnya, ia juga melihat belati yang diletakan diatas nakas pun sudah hilang. "Sepertinya Vander sudah bangun dan bersiap-siap duluan."
Layar Ponsel Lara menunjukan pukul 07.15 pagi. "Astaga aku telat bangun," pungkasnya lalu beranjak turun. Setelah meregangkan sendi-sendi pada lengan dan lehernya Lara kemudian merapikan ranjang dan bergegas keluar dari kamar.
**
"Dimana dia?" Lara mencari dimana saat ini pengawalnya itu. Hingga rasa haus akhirnya membawa Lara berjalan ke arah dapur untuk mengambil segelas air.
Itu dia! Van ternyata yang sudah berpakaian rapi tengah membuat sesuatu di dapur.
"Selamat pagi," sapa Lara menghampiri pria berpakaian semi formal itu.
"Selamat pagi Nona, apa tidurmu nyenyak?"
"Ya," jawab Lara sambil menarik kursi lalu duduk, kemudian menuang air ke gelas lalu meminumnya.
"Nona apa kau mau aku buatkan coklat panas?"
"Boleh."
Van kemudian menyeduh coklat panas untuk Lara.
"Oh iya, kenapa kau tidak bangunkan aku lebih pagi?"
"Aku tidak berani, saat melihat Nona begitu pulasnya tidurnya."
Van membawakan coklat panas yang telah dibuatnya itu kepada Lara. "Ini Nona silakan diminum."
"Terima kasih." Lara kemudian mengangkat cankir itu dan menyeruput pelan coklat panas yang dibuatkan Van untuknya. "Hem... Ini enak," pungkas Lara.
Vander merasa senang mendengarnya. "Maaf Nona aku tidak bisa buatkan kau sarapan, tapi kalau kau mau aku bisa segera pesankan untukmu. Atau kau mau aku buatkan roti panggang, kalau sekedar roti panggang aku tidak terlalu buruk dalam membuatnya."
Lara tersenyum sambil memegangi sisi cangkirnya yang hangat. "Tidak usah, biar nanti aku sarapan di kantor saja. Lagipula secangkir coklat panas buatanmu sudah cukup buatku."
Melihat senyum Lara yang beberapa hari ini di setiap pagi, Van seolah mendapatkan energi berkali lipat.
"Oh iya Van, terima kasih."
"Untuk apa?"
"Untuk semalam, karena berkat kau mau tinggal dikamar, aku jadi merasa tidak takut dan bisa tidur dengan nyenyak."
"Syukurlah kalau begitu, lagipula memang sudah seharusnya aku begitu kan?"
__ADS_1
"Kau tenang saja, pagi ini akan aku transfer uang yang aku janjikan padamu semalam," jelas Lara. Ia tak mau sampai dikira hanya membual mengatakan akan memberi imbalan seratus ribu dollar.
"Nona tidak perlu lakukan itu, gaji yang kau berikan padaku semuanya lebih dari cukup."
"Tidak, aku sudah janji mana boleh mengingkarinya." Lara tetap ngotot untuk mentransfer uang itu ke rekening Van.
"Van, soal semalam... Kenapa kau sampai menyiapkan belati itu untukku, apakah—"
"Nona aku kan sudah bilang, bagaimana pun aku ini pria dewasa yang normal jadi..." Van tiba-tiba menatap ke arah dua gudukan besar di dada Lara yang belahannya nampak tereskpose karena potongan gaun tidurnya yang rendah. Menyadari mata Vander melirik bagian miliknya, Lara langsung menutupinya dengan tangannya. Akhirnya gadis itu paham arti kata 'pria normal' yang dimaksud Vander.
"Yasudah kalau begitu aku— mau bersiap-siap dulu, setengah jam lagi kita berangkat," ujar Lara lalu segera beranjak pergi.
Vander tersenyum miring sambil memegangi keningnya karena tak habis pikir. "Gadis itu seringkali nampak berani menunjukan pesonanya tapi nyatanya dia naif dan bodoh. Bagaimana bisa dia tidak menyadari kalau dirinya itu seperti bunga yang dikelilingi banyak serangga ganas yang ingin mengambil nektarnya."
**
Karina terlihat berjalan memasuki ruangannya dengan kruk karena kakinya yang cedera.
"Nona apa kau yakin akan bekerja dengan kondisi kaki seperti itu?" Ujar sekretaris Karina melihat bosnya itu memaksa untuk masuk.
"Kau tenang saja, aku memang sengaja memaksakan diri masuk karena ada perlu."
"Tapi kaki anda sudah tidak sakit kan?"
"Oh iya apa hadiah yang aku pesan sudah kau siapkan kan semua?" Tanya Karina.
"Sudah Nona, aku sudah menyiapkan hadiah yang kau minta."
"Bagus, karena sebentar lagi kita akan ke Miracle," ujar Karina tersenyum penuh arti. Sebenarnya rencana apa yang tengah dipikirkan Karina saat ini?
**
Miranda yang baru saja pulang dari pertemuan klien melihat Van tengah duduk di area lobby sendirian. Mira pun bermaksud menghampiri Van sekalian mencoba mengorek informasi latar belakang pria itu.
"Sedang apa kau sendirian disini?" Ujar Miranda datang menghampiri.
"Menikmati hidup," Balas Van datar.
Mira yang kemudian duduk disebelah kanan Van, melihat disebelah kiri dari tempat pria itu duduk terdapat beberapa cup kopi yang sudah kosong. "Bekas-bekas cup kopi itu milikmu?"
"Iya."
Miranda kaget, "Ini masih jam sebelas pagi dan kau sudah menghabiskan kopi sebanyak itu, apa kau gila? Lambungmu bisa rusak kau tau!"
__ADS_1
Vander lantas menjawab, "Aku mengantuk."
"Memangnya kau tidak tidur semalam?"
"Tidak!" Jawabnya.
Miranda jadi curiga, ada apa sampai tidak tidur semalam, apa ada terjadi sesuatu di apartemen? Oh jangan-jangan? Miranda baru ingat kalau Lara sejak kemarin tinggal bersama Vander. "Hei katakan padaku! Apa terjadi sesuatu dengan Nona Lara?" Miranda khawatir hingga menginterogasi Van.
Ck! Van berdecak kesal."Kau berisik sekali, lagipula memang apa urusannya Nona Lara dengan aku yang tidak tidur semalam?"
"Ya, maksudku kau dan Lara kalian kan pria wanita dewasa, apa mungkin— um itu... ah sudahlah!"
"Wah apa isi otakmu sedang berpikir yang tidak-tidak soal aku dan Nona, ayo jawab?" Goda Vander.
Mira pun langsung memerah wajahnya karena malu otaknya terbaca oleh Van. "Sial kau Van!"
Van terkekeh geli. "Aku tidak menyangka Miranda Jah ternyata lumayan kotor juga otaknya."
"Diam kau!" Balas Miranda merasa malu sendiri.
"Oh iya Nona Mira kau habis darimana? Dokumen apa yang kau pegang itu?" Van akhir-akhir ini memang jadi agak tertarik mempelajari perusahaan.
"Ini laporan keuangan Miracle. Untuk apa kau bertanya, memang kau paham?"
"Memangnya tidak boleh aku bertanya? Lagipula aku juga tidak akan ikut campur, kecuali Nona Lara memberikan instruksi untukku ikut campur urusan perusahaannya ini. Meski sebenarnya aku khawatir dengan kerjasama Miracle dan Appletree."
Miranda syok, "Eh apa maksudmu bicara begitu?"
Van menjelaskan pertemuan antara Lara dengan Karina kemarin terkait kontrak kerjasama Miracle dan Appletree. Van merasa kerjasama antara Miracle Appletree saat ini bisa dibilang tidak terlalu menguntungkan Miracle, mengingat performa saham Appletree saat ini jauh lebih stabil dibanding Miracle. Belum lagi soal pasokan bahan baku pembuatan tekstil Miracle yang ia tau saat ini sedang banyak masalah. Ditambah kualitas hasil Miracle tiap bulan bukannya naik malah menurun.
Miranda tercengang mendengar Van menjelaskan detail dan permasalahan perusahaan secara detail bahkan melebihi Lara yang sejatinya CEO miracle.
Pria ini misterius dan tidak bisa ditebak. "Van, sebelumnya kau ini pernah bekerja dimana? Jangan membodohiku, dari analisamu barusan jelas kalau kau bukanlah pria bodoh tak bependidikan."
"Kenapa heran, bukankah sejak ada internet semua orang bisa jadi pintar," balasnya santai.
"Ya ya kau pintar besilat lidah Van,"
Van tiba-tiba tecengang melihat ke arah pintu masuk. "Ada apa wanita itu datang kemari?"
"Siapa maksudmu?" Tanya Miranda kemudian melihat ke arah pintu masuk. "Itu Karina Foster kan?"
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, dan komentarnya ya guys 💜