Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Menyetir sendirian


__ADS_3

Ditemani Vander yang berjalan dibelakangnya, Lara akhirnya datang menemui polisi tersebut di area lobi. Disana polisi memberitahukan kepada Lara kalau pelaku pembakaran gudang semalam adalah matan pegawai Miracle itu sendiri.


"Apa?" Lara kaget tak menyangka "Tapi kenapa dia melakukannya?"


"Soal itu, silakan Nona ikut kami ke kantor kepolisian," ujar polisi tersebut.


Lara ditemani pengawalnya akhirnya pergi ke kantor polisi untuk menemui pelaku pembakaran gudang semalam.


**


Setibanya di kantor polisi Lara dibawa ke ruang tahanan sementara. Disana tampak pria berusia empat puluhan tahun mendekam di jeruji besi. Polisi memanggilnya untuk bertemu Lara. Pria itu pun langsung bersujud di depan kaki Lara dengan posisi kedua tangannya di borgol meminta pengampunan.


"Nona Hazel tolong ampuni aku, aku menyesalinya tolong ampuni diriku Nona," jelasnya sambil terus menghiba dan menangis menyesali perbuatannya di depan Lara.


"Kenapa kau tega lakukan itu padaku?" Pungkas Lara dengan wajah serius.


Pria itu pun menjelaskan sambil menangis alasan mengapa dirinya membakar gudang Miracle. Ia mengatakan kalau dirinya sakit hati karena dipecat dari Miracle, akibat dipecat ia jadi tak punya pekerjaan lagi apalagi istrinya baru saja melahirkan. Mendengar alasan pria itu Lara jadi merasa iba mendengarnya.


"Aku bersalah, tapi Nona aku punya dua anak dan yang satu baru lahir, kalau aku dipenjara siapa yang akan membiayai mereka," jelasnya sambil sesenggukan karena isak tangisnya.


Sebaliknya, Vander justru muak mendengar alasan pria tersebut dan ingin sekali menendang wajah pria itu saat ini.


Van membisiki Lara, "Nona apa yang akan kau lakukan padanya? Bagaimana pun dia bersalah dia harus dapat hukuman."


Apa yang dikatakan Van menang benar, tapi hati kecil Lara sesungguhnya merasa tidak tega mengingat pria ini bilang punya istri dan dua anak yang harus dinafkahi, sedangkan dari sisi hukum dia jelas bersalah. Dan bagaimanapun Lara harus memutuskannya dengan bijak.


**


Setelah selesai mengurus perkara di kantor polisi, Van dan Lara kembali ke kantor. Di perjalanan menuju kantor Van masih menyayangkan sikap Lara yang malah mengampuni mantan pegawainya itu.


"Menurutku Nona tidak seharusnya melepaskan dia begitu saja, dia sudah bersalah dan menyebabkan Miracle mengalami kerugian akibat perbuatannya."


"Aku tau, tapi kau tadi dengar sendiri kan— dia melakukan itu semua karena apa? Lagi-lagi karena masalah ekonominya Van..."


"Iya aku paham tapi—" Van menghela napas, "Sudahlah Nona, lagipula aku tidak akan menang melawanmu," pungkas Vander memilih menyerah beradu argumen dengan bosnya.


Menurut Vander kelebihan sekaligus kelemahan Lara memanglah terlalu mudah simpatik pada orang lain, dan jujur saja sifat seperti itu seringkali membuat Van kesal.


Tapi bagaimanapun yang salah tetap harus dapat  balasan yang setimpal bukan? Vander menyeringai penuh arti, sepertinya dia punya rencana.


**


Sudah masuk waktu jam makan siang, di restoran Verona Karina yang sudah beberapa menit yang lalu terlihat menunggu di salah satu meja ditemani segelas minuman yang sudah ia pesan duluan. Ya, Karina memang tengah menunggu Vander datang. Wanita itu tampak berkaca di ponselnya menastikan kalau tampilan wajahnya sudah on point.


Dan tak lama kemudian Van datang. Pria itu langsung menarik kursi dan duduk di hadapan Karina.


"Kau mau pesan apa?" Tanya Karina.


"Aku tidak datang untuk makan, langsung saja katakan Nona Karina ingin apa dariku?"


Wanita itu tak menjawab, ia malah sibuk membaca daftar menu dan memesan makanan. Van paham betul, kalau apa yang dilakukan Karina saat ini adalah hanya untuk mengulur waktunya saja. Benar-benar licik!


"Baiklah, kalau memang tidak ada yang mau kau katakan, aku akan segera pergi." Vander hampir beranjak dari kursi namun ditahan oleh Karina.

__ADS_1


"Van kenapa kau ingin pergi? Kita baru saja bertemu!"


"Tidak ada tujuan dalam pertemuan ini lalu untuk apa aku masih disini?" Ujar Vander.


"Kita bisa makan siang dulu lalu ngobrol—"


"Tapi aku tidak ada waktu untuk itu, aku harus pergi Nona—"


"Lara lagi?" Ungkap Karina dengan nada kesal. "Kenapa sih kau itu selalu saja Lara, Lara, Lara terus! Memangnya kau itu harus selalu sepanjang waktu bersama Lara!"


Di depan Van, Karina semakin menunjukan kalau dirinya memang tidak menyukai Lara.


"Aku pengawalnya Nona Lara jadi sudah seharusnya aku selalu menjaga Nonaku," tegas Van.


"Kalau begitu keluar saja dan jadilah pengawalku, aku bisa bayar dan berikan dirimu lebih dari yang Lara berikan!"


Van tersenyum kecut lalu bangkit dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan Karina.


"Kau mau pergi kemana Van! Vander!" Ujar Karina.


Sayangnya Van sama sekali tak menggubrisnya dan memilih tetap melangkah pergi.


Hati Karina benar-benar terbakar amarah hingga membuat gerahamnya mengatup. "Dasar Lara sialan! Kalau sudah begini aku tidak akan setengah-setengah lagi. Bagaimana pun Van harus memilihku bukan Lara!"


**


Van yang sudah berada di dalam mobil mengecek ponselnya dan mendapati pesan dari Lara yang menanyakan dirinya kapan kembali.


Vander pun membalas ;


Lara ;


Oke, tapi cepatlah kembali kalau sudah selesai.


Vander ;


Baik Nona.


Van merasa cukup lega karena sudah mendapati izin Lara untuk keluar, sekarang saatnya pria itu melakukan apa yang ia ingin lakukan.


DRIP DRIP!


Panggilan telepon masuk dari Gavin.


"Halo, bagaimana? Sudah kau lakukan apa yang aku minta?"


...


"Bagus! Aku akan segera kesana!"


Pria itu mengakhiri panggilannya. "Siapapun yang sudah berani menganggu dan menyakiti Nona maka dia harus dapat balasan dariku!" Tatapan mata Vander begitu tajam dan menusuk, entah apa isi di otaknya saat ini.


**

__ADS_1


Lara yang merasa bosan, tiba-tiba ingin pergi keluar sebentar untuk membeli bubble drink kesukaannya di kedai yang tidak jauh dari kantornya berada. Gadis itu pun memutuskan untuk pergi dengan menyetir mobil sendiri. Lara memang sudah cukup lama tidak menyetir sendirian.


"Nona Lara ini kunci mobilnya," ucap pegawai parkir sambil memberikan kunci mobil kepada Lara.


"Terima kasih."


"Tapi Nona, apa tidak apa-apa jika anda keluar sendiri? Kenapa tidak minta supir saja untuk mengantar anda?" Tanya petugas itu.


Lara menggeleng "Tidak perlu. Sudah ya aku pergi sebentar."


"Hati-hati dijalan Nona Lara," pungkas pegawai itu.


Dan Lara pun akhirnya pergi dengan menyetir mobilnya sendiri.


Di perjalanan Lara terlihat sangat bahagia dan bebas. Baginya bisa menikmati waktu luang dengan berjalan-jalan, menyetir sendirian diiringi musik mengelilingi jalanan kota adalah hal yang langka untuknya. "Ini sungguh waktu yang berharga yang langka jadi tidak boleh disia-siakan, " ujar gadis itu.


Setelah puas berkeliling, akhirnya Lara berhenti di sebuah kafe yang tak jauh dari kantor Miracle. Gadis itu memarkirkan mobilnya di area parkir dan langsung masuk ke dalam kafe untuk membeli segelas minuman boba kesukaannya.


Setelah mengantri beberapa saat akhirnya Lara mendapatkan pesanannya. Senyumnya mengembang tatkala ia mendapatkan salah satu minuman favoritnya itu.


GLEK GLEK! "Ah minuman ini memang yang terbaik!"


Lara terlihat puas setelah meneguk minuman tersebut. Ia pun menyempatkan duduk-duduk di kafe itu sebentar sambil menghabiskan minumannya. Bagi gadis muda seusianya nongkrong di kafe adalah hal biasa, tapi bagi Lara bisa sering duduk-duduk di kafe menikmati waktunya adalah kesempatan langka.


Dan setelah minumannya habis ia pun beranjak pergi meninggalkan kafe tersebut.


"Aduh!"


Saat tengah berjalan keluar dari kafe, tak sengaja Lara menubruk salah satu pelanggan yang akan berjalan masuk hingga tubuhnya agak oleng.


"Maafkan aku," ucap Lara minta maaf meski bukan sepenuhnya salahnya.


Wanita yang bertubrukan dengan Lara pun membalas. "Tidak apa-apa, lain kali lebih hati-hati saja kalau jalan!" Kemudian wanita itu melengos.


Sejenak Lara melihat ke arah wanita yang menubruknya tadi dan memperhatikannya.


"Kenapa wanita barusan agak aneh melihatku?" Ungkap Lara lalu kembali melangkah pergi.


"Akhirnya aku melihatmu secara langsung Nona Hazel," ungkap wanita yang bertubrukan dengan Lara tadi yang tidak lain adalah Eva.


**


Vander terlihat memarkirkan mobilnya di depan sebuah garasi tua yang letaknya agak jauh dari pusat kota. Setelah keluar dari mobil, Van langsung berjalan menghampiri Gavin yang ternyata sudah berada duluan menunggunya didepan garasi tua itu.


"Apa kau sudah lakukan seperti yang aku minta?" Ujar Vander dengan suara berat dan wajahnya yang tampak dingin.


"Sudah Kak, pria itu sudah aku ikat tangan dan kakinya didalam dengan sangat kuat!"


"Bagus! Sekarang kau jaga diluar!" Perintah Vander.


"Siap Kak!" Balas Gavin santai seolah paham dengan apa yang akan dilakukan Van di dalam nanti.


Dihiasi seringai licik pada bibirnya, Vander pun masuk ke dalam garasi tua yang sudah tidak terawat tersebut.

__ADS_1


Bersambung...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH💜


__ADS_2