
Saat waktunya jam makan siang, Lara terlihat menemani Vander duduk menghabisakan kotak makan siangnya di pinggir ladang. Terlihat gadis itu sesekali mengelap sisa makanan di bibir Vander.
"Makanmu agak berantakan, sini biar aku suapi saja ya," Kata Lara.
"Tidak usah, nanti mereka berpikir aku manja."
"Biar saja aku suka kok memajakanmu," kata Lara yang langsung merebut sumpit dari tangan Vander dan menyuapinya.
Melihat Van dan Lara yang mesra, tak heran jika sebagian orang disana iri melihatnya. Termasuk Gavin yang duduk tidak jauh dari mereka.
"Sungguh aku iri sekali dengan kak Vander dimanja oleh Kak Lara, aku juga ingin seperti itu," ungkap Gavin dengan wajah penuh rasa ingin.
"Makanya sana cari pacar!" Celetuk Miranda yang duduk disebelahnya.
"Menyuruh orang cari pacar, kau sendiri masih menjomblo!" Balas Gavin.
"Setidaknya aku tidak iri dengan kemesraan pasangan lain sepertimu!"
Gavin tidak bisa jawab kali ini, ia hanya diam sambil menggerutu.
"Senangnya jadi muda lagi," ucap seorang nenek yang tiba-tiba menghampiri Lara dan Vander.
"Ah Nenek, kalau tidak salah kau yang bertugas di dapur ya?" Tebak Lara.
"Betul nak."
"Nenek apa kau mau duduk," ucap Vander menawari nenek itu duduk.
"Tidak, aku menghampiri kalian berdua karena saat melihat kalian aku jadi teringat diriku dan mendiang suamiku saat masih muda dulu. Kalian sangat serasi, aku bisa merasakan kalian sungguh-sungguh saling mencintai. Aku doakan kalian selalu sehat dan hidup bersama bahagia sampai selamanya dan diberkati Tuhan."
Lara tersenyum hangat menanggapi ucapan sang nenek. "Terima kasih doanya nek."
Nenek itu menyentuh pundak Vander. "Dan kau pria muda, tolong jaga gadis ini baik-baik. Dia gadis yang sangat baik jadi jangan sampai kau berani menyakitinya, ingat itu!" Pesan sang nenek kepada Vander.
"Iya nek, tanpa kau suruh pun aku pasti akan menjaganya selalu."
"Bagus, baiklah aku pergi dulu..."
"Kau mau aku antar Nek," ucap Vander.
"Tidak tidak perlu. Aku masih sehat kalau hanya untuk berjalan," ucap si nenek.
"Hati-hati ya Nenek," ucap Lara sumringah.
"Sepertinya kau betah berada disini?" Ucap Vander tiba-tiba.
Lara tersenyum kecil. "Jujur, awalnya aku pikir disini buruk karena fasilitasnya pasti kurang modern. Tapi melihat orang-orangnya yang ramah, dan lingkungannya yang masih asri. Aku jadi berpikir, ingin suatu saat nanti punya tempat tinggal disini."
"Begitukah?"
Lara mengangguk sungguh.
Vander tersenyum hangat dan membelai lembut pipi gadis kesayangannya itu."Aku harap semua impianmu tercapai." Dan aku... Aku akan mencoba untuk mewujudkan semua yang kau inginkan. Aku mungkin tidak bisa membeli isi dunia ini, tapi aku akan berusaha sekuat tenaga memberikan apapun untukmu Lara.
**
Di sisi Lain Akina yang duduk agak jauh, terus memandangi Lara dan Vander dengan raut wajah tidak senang. Cih! Mau pamer kemesraan di depanku? Dasar wanita menyebalkan!
"Hai kak Akina," sapa gadis-gadis yang juga peserta penelitian.
Akina yang tidak senang dengan kehadiran mereka, langsung memasang wajah masam.
"Kak Akina kenapa melihat ke arah tuan Vander dan Nona Lara terus? Kakak iri ya?" Ejek salah satu dari tiga gadis itu. "Tenang kakak tidak sendiri, aku juga iri lihat keromantisan mereka berdua, rasanya aku ingin jadi Nona Lara," tandasnya lagi.
"Untuk apa iri, apa bagusnya jadi wanita itu?" Ujar Akina sewot.
"Kak Akina kau kenapa jawabnya kesal bagitu? Kau tidak suka pada Nona Lara ya? Padahal dia baik loh, dan juga cantik!"
"Benar, dia memberiku resep kecantikan kulitnya."
"Dia juga ramah, aku pikir orang kota sombong tapi Nona Lara sama sekali tidak."
"Ya, kau benar! Nona Lara sama sekali tidak sombong, dia sangat cantik dan baik hati."
Akina mengepalkan jemarinya, kupingnya merasa panas mendengar gadis-gadis itu terus saja memuji Lara didekatnya, membuatnya jadi hilang kesabaran dan ingin berteriak, "Kalian semua berisik!"
Para gadis itu sampai kaget dibuatnya.
"Eh Kak Akina kau kenapa?"
"Kenapa katamu? Telingaku sakit, dan perutku mual mendengar kalian terus saja memuji wanita bernama Lara itu!"
__ADS_1
"Me- memangnya salah memuji Nona Lara?"
"Salah, karena kalian memuji di depanku! Sudahlah aku tidak peduli!" Akina yang tengah emosi pun akhirnya memilih pergi meninggalkan tempat itu.
"Kak Akina kenapa marah-marah begitu?"
"Mungkin dia iri karena kita memuji Nona Lara, soalnya yang aku dengar Kak Akina menyukai Tuan Vander, jadi bisa jadi dia cemburu."
"Aneh sekali, bukan siapa-siapanya tapi cemburu!"
**
"Oh iya Vander aku mau ke dapur sebentar ambil hidangan penutup buatmu," ucap Lara bangkit dari duduknya.
"Tidak usah repot-repot, nanti aku bisa ambil sendiri."
Lara menggeleng, "tidak repot sama sekali kok! Sudah ya kau tunggu disini aku pergi sebentar."
"Baiklah kalau begitu maumu."
*
Lara ke dapur untuk mengambil hidangan penutup. "Mana ya hidangan penutupnya?" ucap Lara sambil mencari hidangan penutup apa yang ada di dapur.
"Itu dia!" Lara melihat ada puding tiramisu disudut meja. Tapi karena Vander tidak terlalu suka makanan yang terlalu manis ia tidak mungkin memberinya puding itu. "Lagipula ini sudah akhir musim gugur, cuacanya sangat dingin jadi lebih baik aku buatkan kacang almond panggang dengan madu saja," ucap Lara.
Dibalik pintu dapur ternyata ada Akina yang memperhatikan Lara sejak tadi.
"Bagus dia di dapur, dengan begitu aku tidak perlu repot-repot memberikan minuman ini." Akina terlihat membawa botol berisi minuman herbal lalu masuk ke dapur menghampiri Lara.
"Ehem!"
Lara yang tengah membuat makanan untuk Vander pun menoleh, "Akina?" Mau apa dia kesini? Bukannya dia tidak menyukaiku?
"Hai, Lara..."
Lara menatap Akina dengan tatapan waspada. "Hai— ada apa?"
"Aku— aku kesini mau minta maaf, karena tadi sudah bersikap buruk saat kau menyapaku tadi pagi," ungkap Akina.
Lara menghela nafas, aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba minta maaf. Tapi aku rasa lebih baik aku tidak terlalu menghakimi dan berprasangka buruk padanya, mengingat aku juga baru kenal dengannya. "Tadi pagi kau memang menyebalkan, tapi aku sudah memaafkanmu kok! Jadi lupakan saja kejadian tadi pagi."
"Syukurlah kalau begitu, kau ternyata memang sangat baik. Dan karena kau sudah memaafkanku, tolong terima ini sebagai permintaan maaf," Akina memberikan botol minuman herbal yang dibawanya kepada Lara.
"Itu minuman herbal khas kota ini yang aku buat sendiri. Minuman itu bisa menghangatkan tubuh dan mencegah flu, karena kota ini suhunya cukup dingin jadi aku pikir akan berguna."
Lara tidak tau itu minuman apa, tapi dari bau dan warnanya sepertinya memang berkhasiat bagus untuk tubuh. "Baiklah aku menerimanya, terima kasih," ucap Lara sambil tersenyum.
Bagus, dia tidak curiga sama sekali dengan minuman itu! Pikir Akina.
"Oh iya Lara kau sedang buat apa?" Tanya Akina.
"Oh aku mau buat kacang almond panggang dengan madu, kau mau?"
Akina menggeleng. "Apa itu untuk Vander?"
"Ya! Dia tidak terlalu suka makanan yang terlalu manis jadi aku buatkan ini untuknya."
Akina mengepalkan kedua tangannya. Wanita ini memang seharusnya dia tidak usah datang kesini! Akina ingin sekali memaki Lara namun ia tahan. "Lara berapa usiamu?"
"Aku? Akhir tahun nanti aku dua puluh dua, kenapa memangnya?"
"Tidak, aku hanya kagum saja kau masih muda dan sangat cantik, aku jadi iri padamu."
"Kau juga cantik kok Akina," Balas Lara dengan polosnya.
Akina merasa muak melihatnya Lara yang baginya suka bertingkah sok manis. Lebih baik aku pergi sekarang! "Oh iya Nona, aku ada uruasan lain. Jadi aku permisi duluan ya... Kau, jangan lupa meminumnya ya..."
"Oke, aku akan minum nanti."
"Kalau begitu permisi..."
"Dah Akina...!" Ucap Lara kemudian kembali memanggang almondnya.
Akina pergi dengan perasaan senang dan puas, "Setelah dia meminum minuman yang sudah aku campur denga sari bunga daffodil itu, dia akan rasakan sakit! Heh... Salahmu datang kemari!"
**
Lara akhirnya kembali juga dari dapur dan menemui Vander yang baru saja mau menyusulnya.
"Kenapa lama sekali di dapurnya? Aku hampir saja mau menyusulmu karena karena khawatir," ungkap Vander.
__ADS_1
Lara tertawa garing, "Maaf ya jadi buatmu menunggu, tadi itu aku buatkan ini untukmu jadinya agak lama soalnya di dapur kan cuma ada puding tiramisu yang mana kau kurang suka." Lara memberikan sekantong kacang almond panggang dengan madu yang dibuatnya.
"Kenapa Nona harus repot-repot membuatkannya untukku, kan ada orang dapur!" Ujar Vander yang merasa jadi merepotkan Lara.
"Tidak repot, lagipula orang dapur tidak tau cara buat ini karena ini resep keluaragaku, sudah lebih baik cepat makan!" Titah Lara.
Vander lalu memakan kacang panggang buatan Lara itu.
"Enak kan?"
"Buatanmu selalu enak diatas enak," puji Vander sambil melahap kacang itu.
"Oh iya botol apa itu ditanganmu?" Tanya Vander.
"Oh ini, Akina yang berikan untukku," Lara kemudian menceritakan kepada Van maksud Akina memberikan minuman itu padanya.
"Jadi setelah dia bersikap sinis padamu, dia tiba-tiba minta maaf dan memberikanmu minuman ini?"
"Iya," angguk Lara.
"Dan kau tidak curiga sama sekali?"
"Kalau itu..." Bagi Lara, karena menurutnya ia belum terlalu kenal dengan Akina jadi ia tidak ingin langsung berprasangka buruk.
Vander berdecak kesal, "Kau itu terlalu mudah merasa kasihan dan memaafkan orang, aku tidak suka sifatmu yang itu!"
"Lalu aku harus bagaimana Vander...? Lagipula ini paling hanya minuman herbal biasa kok!" Keluh Lara jadi bingung.
"Kalau aku jadi dirimu, sudah aku buang sejak tadi minuman itu," Sahut Vander dengan entengnya.
Lara mengerucutkan bibirnya kesal melihat Vander sama sekali tidak memberinya solusi.
"Ggr... Astaga, qku haus dan badanku terasa dingin sekali," ucap paman yang duduk tidak jauh dari Lara. Paman itu menggigil kedingan. Lara yang memegang botol minuman herbal pemberian Akina tadi pun berinisiatif memberikan minuman itu pada si paman.
"Um Paman, apa kau kedinginan? Ini untukmu minumlah,"
"Oh Nona kau baik sekali, terima kasih..." Pria itu pun langsung meminumnya. Sementara Vander yang duduk sambil makan kacang hanya memperhatikan dari tempatnya duduk.
"Kau lihat Van, tidak ada yang aneh dengan minuman itu," ucap Lara dengan santainya.
Namun beberapa menit kemudian, pria yang barusan meminum minuman tadi tiba-tiba memegangi perutnya sambil berteriak kesakitan. "Sakit sekali! Perutku sakit!"
Lara yang awalnya tenang langsung dibuat syok dan panik sejadi-jadinya melihat paman itu. "Ke- kenapa, kenapa paman itu kesakitan setelah minum minuman tadi? Bagaimana ini?!" ucapnya panik.
Begitupun mereka yang ada disana juga ikut panik.
Vander yang dengan sigap langsung sesegara mungkin menolong paman itu, dan berteriak agar orang-orang segera telepon ambulans.
"Tapi Tuan rumah sakit disini letaknya agak jauh dari tempat ini," ujar salah satu warga.
Van mencoba meraba denyut nadi paman itu. Dia keracunan, Tidak bisa kalau harus menunggu ambulans datang, pria ini misa mati! Vander lalu berteriak memanggil Gavin.
"Ada apa Kak?"
"Cepat ambil mobil, kita bawa orang ini ke rumah sakit!"
"Baik kak!"
"Sakit sekali, perutku! perutku sakit!" Melihat paman itu terus menerus berteriak kesakitan, Lara jadi semakin panik dan ketakutan hingga tubuhnya pun gemetar. Miranda yang baru datang langsung memeluk Lara yang gemetar ketakutan saat ini!
"Nona ada apa, kenapa kau ketakutan begini?" Tanya Miranda yang juga tidak tau apa-apa.
"Mira... Aku- aku takut, paman itu kesakitan... Dia, dia minum minuman beracun itu..." Ucap Lara ketakuta.
"Minuman apa maksudmu Nona?" Tanya Mira jadi bingung tidak tau apa-apa.
Sebelum pergi ke rumah sakit, Van menghampiri Lara dan Mira. Pria itu memegang tangan kekasih untuk sejenak menenangkannya.
"Vander..., a- aku takut, aku takut paman itu mati...!" Lara menangis ketakutan.
"Tidak tidak sayang tidak, kau jangan takut ini bukan salahmu, aku janji paman itu pasti akan sembuh, kau jangan takut ya..."
"Ada apa ini sebenarnya Van?" Tanya Miranda.
"Akan aku jelaskan nanti, sekarang tolong kau jaga Lara, aku dan Gavin akan bawa pria itu dulu ke rumah sakit!"
Van mencium kening Lara. "Kau harus tenang dan tunggu aku kembali," ucap Vander lalu pergi segera membawa pria tadi ke rumah sakit.
Mira memeluk Lara dan terus menenangkannya.
"Sial! Kenapa bukan Lara yang meminum minuman itu!" Kesal Akina yang melihat dari jauh. "Kalau begini, aku pasti dalam masalah! Pasti Lara akan bilang kalau aku yang memberikan minuman itu padanya! Bagaimanapun, aku harus cari cara supaya namaku tetap bersih dan tidak disalahkan!"
__ADS_1
...🌿🌿🌿...
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜