
Eiji yang sejak tadi masih mengawasi tempat penyekapan Lara dari jauh, rasanya tidak tahan lagi kalau hanya terus menunggu dan diam saja mengawasi dari jauh.
"Aku tidak bisa kalau hanya diam terus dan menunggu instruksinya Vander. Aku harus setidaknya lakukan sesuatu."
Akhirnya dengan yakin pria itu pun memutuskan untuk berjalan mendekati tempat dimana Lara disekap. Dan kebetulan di pintu masuknya tidak dijaga terlalu ketat, disana hanya ada satu penjaga yang berjaga di depan pintu.
Tanpa berlama-lama Eiji pun langsung memukul penjaga itu hingga pingsan dan langsung masuk ke dalam. Didalam sana Eiji segera mencari ruangan dimana Lara dikurung, namun sialnya malah seseorang tiba-tiba saja muncul dari belakang, dan memukul pundaknya dengan begitu keras hingga ia tak sadarkan diri.
"Ternyata si kutu busuk ini mencoba mau jadi pahlawan," tandas Reki yang tidak lain adalah orang yang barusan memukul Eiji hingga pingsan. Reki kemudian memanggil anak buahnya dan menyuruh mereka mengikat Eiji dan membawanya ke gudang.
"Baik tuan!"
Setelah itu Reki memanggil Briana dan memintanya ke ruangan Lara untuk membersihkan kamarnya dan memberinya makan.
"Baik tuan!"
"Tunggu!" Reki memberi peringatan kepada Briana agar ia tidak melakukan hal macam-macam, apalagi membantunya untuk kabur. Karena jika Briana berani lakukan itu, Reki tidak segan-segan akan memberinya hukuman yang kejam.
"Aku paham tuan, kalau begitu aku permisi."
Reki tersenyum jumawa. "Setelah ini tinggal membuat si tua bangka itu sibuk baku hantam dengan Vander, dan saat itu aku akan bawa Lara pergi dari negara ini. Hahaha aku memang cerdas!"
...πππ...
Briana masuk ke ruangan Lara berada untuk membersihkan ruangan itu. Setibanya di dalam wanita itu langsung syok, melihat keadaan Lara yang begitu menyedihkan. Ditambah saat ia melihat potongan rambut Lara yang berserakan di lantai seolah menjadi saksi bisu, betapa buruknya perlakuan Reki terhadap Lara.
Di ujung ruangan Lara hanya duduk diam dengan posisi tangan dan kaki yang masih terikat, matanya yang kelelahan tampak bengkak dan tatapannya begitu putus asa. Melihatnya hati Briana sungguh terenyuh, apa salah wanita ini hingga disakiti sampai seperti ini oleh pria itu?
Briana membersihkan potongan rambut Lara yang berserakan. Dengan perasaan iba sekaligus canggung, wanita itu mengumpulkan potongan rambutnya itu. Ia sesekali mengambil rambut itu dan memandanginya. Ia sungguh menyayangkan rambut yang indah itu harus dipotong dengan begitu tak berperasaannya. Briana lalu menoleh dan mendekati Lara.
Rambutnya yang biasanya menjuntai indah kini tak ada lagi menghiasi kepalanya, bibirnya yang merona kini ternoda oleh darah yang mengalir di sela-sela bibirnya, ditambah pipi dan tangannya dipenuhi memar, sungguh Briana tak tahan lagi rasanya melihat hal itu. Dengan keberanian yang telah dikumpulkannya, Briana melepaskan ikatan tangan dan kaki Lara.
"Briana, ka- kau, apa yang kau lakukan?"
"Aku sudah tidak tahan lagi melihat iblis itu menyiksamu," ucap Briana dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi Reki..."
Briana membelai lembut wajah Lara yang penuh lebam. "Maaf aku baru punya keberanian saat ini, seharusnya aku lebih cepat membantumu keluar dari sini."
Lara tersentak kaget dengan ucapan Briana. "Umβ apa maksudnya kau ingin membantuku keluar dari sini?"
"Iya nona, aku akan bantu kau kabur dari sini."
"Benarkah? Ta- tapi bagaimana kalau ketahuan Reki?"
"Aku sudah pikirkan itu. Kau cukup ikuti saja aku."
"Briana, kenapa kau sebaik ini padaku?" Tanya Lara dengan suara lirih.
"Nona, sejujurnya kau mengingatkanku pada anakku yang sudah meninggal lama sekali. Jika dia masih hidup mungkin hampir seusia denganmu. Aku tidak mau lagi tak bisa menyelamatkan putri-putri yang lain, cukup putriku saja yang tak bisa kuselamatkan karena aku yang terlalu takut melawan."
Lara terharu dan memeluk Briana, "Terima kasih Briana. Aku tidak menyangka disaat begini masih bisa dipertemukan oleh orang sebaik dirimu"
"Sama-sama nona, kau gadis yang baik. Oleh karenanya Tuhan mengirimku untuk menolongmu."
Setelah bersiap dengan rencananya, Brianan akhirnya melancarkan aksinya untuk membantu Lara kabur. Saat itu Lara berpura-pura ingin buang air ke kamar mandi belakang ditemani Briana. Namun ada sedikit gangguan saat itu, dimana penjaga yang biasa berjaga di depan pintu ruangan tempat Lara disekap berkata, "Kenapa harus ke kamar mandi belakang, bukankah di ruangan itu sudah ada kamar mandinya? Apa kau mau kabur?"
__ADS_1
"Kamar mandi disana kerannya mati, apa kau bisa memberbaikinya sekarang! Aku tahu kalian curiga, tapi lihat wanita ini, dia sedang hamil dan harus buang air, apa kalian tega menyuruh wanita hamil menahan buang air!" Tandas Briana dengan wajah serius.
Sepertinya ucapan Briana barusan cukup membuat para penjaga itu percaya. Alhasil para penjaga itu pun mengizinkan Briana mengantar Lara ke kamar mandi belakang. Sialnya para penjaga itu malah ikut mengawal Lara dan Briana, hingga membuat Briana harus putar otak supaya para penjaga itu tak lagi mengikuti mereka.
"Stop! Kalian sampai sini saja mengikuti kami! Kalian lupa, tuan Reki tidak suka wanitanya dikuntit pria lain saat ke kamar mandi!"
"Tapi Briana kamiβ"
"Terserah kalian saja, atau apa aku perlu telepon tuan Reki untuk menegur kalian karena ingin menguntit wanitanga?" ancam Briana seraya mengancam.
"Ah baiklah, kami akan menunggu disini saja."
Para penjaga itu akhirnya menyerah, Lara dan Briana akhirnya bisa menuju ke kamar mandi belakang. Disebelah kamar mandi itu ternyata ada sebuah pintu kecil yang bisa membawa Lara keluar dari tempat ini. Briana pun langsung menyuruh Lara segera pergi dari sini lewat pintu itu.
"Tapi Briana bagaimana denganmu? Bagaimana kalauβ mereka menangkap dan menyiksamu karena ketahuan membantuku kabur?" Ucap Lara mengkhawatirkan Briana.
"Nona tidak usah pikirkan aku, yang penting kau selamat dari sini dan bebas dari siksaan!"
"Tapi Briaβ"
"Kumohon nona pergilah, waktu kita terbatas. Ini cara satu-satunya yang bisa aku lakukan untukmu jadi jangan kau sia-siakan."
Lara menitikan air matanya dan memeluk Briana, "Briana terima kasih banyak, kau penolong yang Tuhan kirimkan buatku. Sekali lagi terima kasih banyak Briana..."
"Sama-sama, sudah pergilah cepat!" Titah Briana.
Lara akhirnya menurut dan pergi keluar tempat itu lewat pintu kecil tersebut.
Briana tersenyum kecil. "Semoga kau hidup bahagia selalu nona Lara..."
...πππ...
Tapi hal itu tak penting, yang terpenting bagi Lara adalah setidaknya ia sudah agak sedikit lega, karena akhirnya ia bisa keluar dari tempat terkutuk itu. Tapi setelah itu dirinya masih tidak tahu harus kemana? Karena sejak tadi ia sama sekali tak melihat satupun orang lewat di sekitar sini. Lara pun memegangi tenggorkannya, ia seketika merasa sangat haus setelah berjalan terus.
"Aku haus sekali, tapi dimana aku bisa menemukan air?"
Lara menoleh ke sekitarnya melihat-lihat, apakah ada keran umum atau sekedar sumber air disekitar sana? Dan untungnya ia melihat satu keran umum yang sepertinya masih menyala. Wanita itupun langsung berusaha berdiri dan berjalan menghampiri keran itu untuk minum disana.
Akhirnya Lara bisa merasa segar sekali setelah minum air keran itu. "Ini pertama kalinya dalam hidupku merasa air keran bisa semenyegarkan ini."
Lara kembali memantau jalanan, dan tetap ia tak melihat satupun kendaraan lewat. Tapi bagaimanapun ia harus segera pergi dari arena ini. Akhirnya Lara pun memutuskan untuk berjalan terus, baginya jika ia belum bisa kembali ke keluarganya belum ada kata aman. Karena bisa jadi Reki dan anak buahnha akan menemukannya dan menangkap dirinya lagi. Telapak kakinya yang halus kini malah harus rela terluka karena kasarnya jalanan dan bebatuan.
"Sudah sejauh ini aku berjalan, tapi kenapa belum juga ada orang yang lewat?" Lara memegangi perutnya, ia pun mulai merasa kelelahan dan pusing, hingga akhirnya berakhir pingsan di tepi jalanan.
...πππ...
Vander akhirnya tiba di markas tempat dimana istrinya disekap. Disana ia langsung menghubungi ponsel Eiji, namun sayangnya tak ada jawaban sama sekali.
"Eiji sialan, kemana kau sebenarnya!"
Karena tidak bisa kalau harus menunggu lama-lama, akhirnya Vander bergerak sendiri. Setelah mengambil pistol yang ada di dashboard mobilnya ia pun langsung keluar dari mobil dan berjalan menuju ke tempat dimana Lara disekap.
Di depan bangunan itu, Vander melihat anak buah Reki yang tergeletak dibawah tak sadarkan diri. Ia berpikir, sepertinya Eiji sudah masuk duluan kesana untuk menyelamatkan Lara. Tanpa berlama-lama ia pun segera masuk ketempat itu, dan setibanya didalam ia langsung mendengar suara seorang wanita berteriak minta tolong. Karena takut itu suara Lara, Vander pun segera menghampiri tempat dimana suara itu berasal.
"Wanita sialan! Beraninya kau membantu Lara kabur, sudah bosan hidup kau wanita jelek!" Pekik Reki sambil menginjak tubuh Briana.
Selain Briana di ruangan itu juga ada Eiji yang sayangnya tak bisa berbuat apa-apa karena saat ini ia diikat.
__ADS_1
Bagaimana aku bisa membantu wanita ini, mulutku dibekap dan kaki tanganku diikat.
"Dan kau kuman busuk!" Reki menoleh menatap Eiji dengan tatapan penuh amarah. "Beraninya kau kesini, mau jadi pahlawan? Jangan mimpi! Karena saat kau keluar dari sini kau hanya akan jadi bangkai!"
"Tapi sepertinya kau yang lebih pantas untuk jadi bangkai Reki!"
Huh suara ini? Reki langsung menoleh ke arah datanganya suara itu. Ia pun seketika tersentak kaget dibuatnya saat melihat ternyata Vander yang datang menghampirinya.
"Ba- bagimana kau bisa kesini?!" Dia bisa dengan mudah mengalahkan anak buahku, sial aku harus bagaimana sekarang!
"Tidak penting kau tahu itu, lebih baik sekarang katakan dimana istriku atau kubuat kau menyesal!" Ujar Vander dengan raut wajahnya yang dingin.
Reki tersenyum miring, tiba-tiba saja ia menodongkan pistol ke kepala Eiji. "Kau jangan bergerak atau kutembak kepala pria ini!"
Vander pun berhenti melangkah.
"Dengar, kalian semua tidak akan bisa menemukan Lara. Dia milikku hanya milikku bukan milikmu vander busuk!" Reki mulai hilang akal sepertinya, ia terlihat semakin lepas kendali dan semua ucapannya seperti orang yang tengah frustasi.
"Reki, ah tidak maksudku Jeden Lee, apa kau masih waras?"Tanya Vand
"Ya aku waras, dan aku akan segera menikahi Lara!" Reki tertawa
Pria ini benar-benar sudah sakit jiwa! Sebagai orang yang juga pernah mengalami gangguan mental, Vander tahu persis apa yang dirasakan Reki saat ini. Tapi baginya hal itu tak penting jika menyangkut soal istrinya.
"Aku kesini hanya ingin mengambil istriku kembali, aku tidak peduli padamu Reki!"
Vander tiba-tiba kembali melangkah mendekati Reki yang saat ini masih menodongkan pistolnya ke kepala Eiji.
"Kau- kubilang jangan mendekat kan, kau ingin pria ini mati!"
Sayangnya Vander tak peduli peringatan Reki dan tetap melangkah menghampirinya dengan tenang.
Melihatnya Eiji sampai berpikir, apa yang Vander pikirkan? Apa dia sungguh akan membiarkanku dibunuh si Reki sinting ini?
"Kau benar-benar menantangku. Baiklah akan kuβ argghh!"
Vander lebih dulu melesatkan peluru ke lengan kanan Reki sebelum ia berhasil menembakan peluru ke kepala Eiji.
Reki pun meringis kesakitan dan mencoba melarikan diri. Namun Vander tak mengizinkannya kabur dengan langsung menembak kakinya.
Vander menghampiri Reki. "Dimana Lara!" Tanya Vander sambil menginjak kepala pria itu.
"Tuan, jadi anda suaminya nona Lara?" Tanya Briana dengan sisa kekuatannya.
"Kau tahu istriku, dimana dia?!"
"Nona sudah melarikan diri dari sini tuan. Lebih baik anda mengejarnya, bisa jadi dia masih ada disekitar sini," jelas Briana yang kemudian membuka bekapan mulut Eiji.
"Dia benar Vander, kau lebih baik segera cari Lara. Pria busuk ini biar aku yang urus," ucap Eiji.
Vander sebenarnya geram dan ingin sekali mencabik-cabik tubuh Reki namun sekarang ini, mencari istrinya jauh lebih penting. "Baiklah aku akan cari Lara, Eiji tolong kau urus pria sampah ini!"
"Tentu saja."
Vander pun akhirnya pergi mencari Lara.
...πππ...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... OTW ENDING NIH...BIAR SEMANGAT...