
Rey meminta Lara mengajak dirinya ikut pergi ke kantor bersamanya, sayangnya Lara menolak karena ia berpikir hal itu tidak mungkin.
"Rey sayang, mama itu mau bekerja ke kantor bukan main ke taman hiburan, bagaimana mungkin mama membawamu ikut?"
"Ta- tapi aku tidak mau ditinggal, aku mau sama mama hu hu...," ungkap Rey dengan nada memelas. Melihat putranya menghiba dengan wajah begitu, tentu saja sebagai ibu Lara tidak tega melihatnya. Apalagi sejak Rey lahir dirinya yang memang bekerja, jadi harus sering terpaksa meninggalkannya demi pekerjaan, dan wajar saja jikalau Rey sesekali merengek manja dan tidak mau ditinggal. Meskipun Rey tergolong anak yang sangat pintar dan tidak cengeng di usianya, bagaimanapun tetap saja ia masih seorang anak kecil yang terkadang ingin lebih diperhatikan dan dimanja.
"Mama, aku mau sama mama...! Mama... Aku tidak mau ditinggal mama... Huhu..." Rey pada akhirnya menangis merengek seperti anak-anak pada umumnya.
Huft! Kalau sudah begini mau bagaimana lagi? Sesekali sepertinya tidak masalah menuruti keinginannya. Lara kemudian mendekati Rey yang kini duduk sambil merengek diatas sofa, ia mengusap kepala putranya dengan lembut lalu berkata, "Baiklah, tapi kali ini saja tapi ya kau ikut mama ke kantor, dan janji kau harus mau minum vitamin nanti?"
"Em!" Rey mengangguk janji.
"Yasudah sekarang mama siap-siap dandan dulu setelah itu kita berangkat, kau tunggu sini oke?"
"Yes mom!" Sementara Lara sedang pergi ke kamar untuk dandan dan bersiap, Rey tiba-tiba saja mengambil ponsel Lara yang ditaruh diatas meja yang ada didekatnya.
"Um kalau tidak salah passwordnya ini!" Ucap Rey yang akhirnya berhasil membuka kunci layar ponsel Lara. "Untung mama cuma pakai password bukan sidik jari atau pemindai wajah."
Kemudian pria kecil itu segera mencari kontak bertuliskan Vander Liuzen dan menuju ke aplikasi pengirim pesan.
Entah apa maksudnya, namun Rey tampak mengetik sesuatu dan mengirimkannya ke nomor Vander. "Untung saja aku sudah cukup pandai membaca dan mengeja tulisan, jadi mengetiknya bisa rapih," ucap Rey tersenyum puas. Setelah pesannya terkirim, Rey pun segera menghapus history chatnya dan meletakan kembali ponsel sang mama sama persis seperti posisi awal tadi.
Tak lama kemudian, Lara yang sudah berdandan dan bersiap untuk pergi ke kantor pun mengajak Rey segera pergi.
...**...
Di dalam taksi Rey tampak senang, namun ia harus sembunyikan hal itu agar mamanya tidak curiga kalau dirinya sebenarnya hanya pura-pura tidak enak badan dan rewel saja.
"Rey, janji pada mama kau dikantor jangan buat ulah ya?" Lara memperingati Rey seperti itu hampir berkali-kali sampai putranya itu bosan dibuat mendengarnya.
"Iya mama, sudah belasan kali mama bicara itu padaku."
"Itu karena mama tahu persis bagaimana kelakuanmu, mama yakin pasti ada saja ulahmu nanti kalau tidak diberitahu, oleh karena itu mama peringatkan sejak sekarang," terang Lara.
"Sudah mama tidak usah khawatir, aku akan jadi anak baik kok disana."
Sebenarnya saat ini aku justru sedang dobel khawatir, mengingat kemungkinan Vander pasti akan bertemu Rey nanti. Tapi mau bagaimana lagi, cepat atau lambat anakku dan papanya pasti akan bertemu juga pada akhirnya. Aku hanya bisa berharap agar semua baik-baik saja.
Sementara itu, Vander yang baru saja habis mandi dan masih memakai bathrobe langsung memeriksa isi ponselnya. Diantara pesan dan panggilan masuk, ternyata ada satu pemberitahuan pesan dari Lara, pria itu pun langsung mengabaikan pesan lain dan segera membuka pesan dari sekretarisnya tersebut yang berisi.
Lara Hazel :
Selamat pagi tuan Vander yang tampan, jangan lupa sarapan ya bosku, sampai jumpa dikantor π
Vander seketika mengernyitkan keningnya setelah membaca pesan dari Lara tersebut. "Wanita ini sedang mabuk atau apa, tumben sekali mengirimiku pesan seperti ini." Vander tiba-tiba tersenyum kecil ia merasa pesan Lara sangat manis. "Hem..." Vander pun menyeringai licik kemudian membalas pesan Lara itu.
^^^To Lara.^^^
^^^Terima kasih sudah atas perhatiannya sekretarisku yang sangat cantik, meski ini masih musim panas tapi setelah membaca pesanmu, hatiku jadi merasa ini sudah musim semi.^^^
From Lara
Tuan anda kenapa?
Vander mengerutkan alisnya. "Kenapa dia malah tanya? Bukankah dia yang menggodaku duluan dengan pesan tadi, sekarang malah jual mahal." Vander tersenyum licik dan membalas pesan Lara lagi.
__ADS_1
^^^To Lara^^^
^^^Aku sedang membalas pesan Nona Lara yang punya bibir semanis ceri di musim panas.^^^
From Lara
Tuan kau ini sedang mabuk ya?
^^^To Lara^^^
^^^Iya aku mabuk karenamu, kau bahkan lebih memabukan dibanding anggur. Lebih manis dibanding ceri musim panas, lebih cantik dibanding pandang bunga musim semi, dan lebih indah dibanding cahaya rembulan yang menyirami bumi dimalam hari.^^^
Kali ini balasan Lara lebih lama, Vander pun langsung kembali mengiriminya pesan tambahan.
^^^Kenapa balasnya lama? Apa karena saat ini seluruh wajahmu merah dan terasa panas karena membaca pesan dariku? Hahaha...^^^
"Menyebalkan sekali sih! Dasar tukang gombal!" Gerutu Lara di dalam taksi.
"Mama siapa yang meyebalkan? Dan siapa yang tukang gombal? Kenapa wajah mama memerah begitu?"
"Eh i- itu ada teman mama dia menyebalkan sekali," jawab Lara sebenarnya kini tengah malu bercampur kesal. Lara sendiri tidak paham kenapa Vander bisa tau perasaannya saat ini.
Lara kemudian kembali membalas pesan Vander lagi.
From Lara
Dasar tukang gombal gila!π
Sontak Vander pun langsung tertawa dibuatnya membaca balasan dari Lara barusan.
...πππ...
"Rey ingat janjimu, jangan buat ulah okey?"
"Iya mama...," balas pria kecil berpakaian biru navy dengan celana denim panjang tersebut.
Sementara Lara pergi menyelesaikan urusannya, Rey pun terlihat hanya duduk di kursi tunggu yang ada di lobi dasar, menunggu mamanya kembali. Bagi Rey yang biasa bergerak aktif, tentu saja menunggu tanpa melakukan apa-apa adalah hal yang sangat membosankan. Ia ingin sekali berjalan menyusurin kantor Laizen yang sangat luas ini, sayangnya ia sudah janji pada sang mama untuk tidak bertingkah ataupun melakukan hal, yang membuat Lara repot.
Dan selang beberapa menit, tiba-tiba saja muncul beberapa bibi pegawai Laizen mendekati Rey, para bibi itu tampaknya gemas padanya dan langsung memuji pria kecil itu.
"Wah anak ini lucu dan tampan sekali, anak siapa ini?"
"Hai bibi-bibi!" Sapa Reynder.
"Ah Manis sekali, dimana orang tuamu nak?"
"Mama sedang ada urusan jadi aku tunggu disini."
"Wah, anak yang pintar!"
Para bibi itu pun jadi semakin gemas pada Rey hingga membuat lebih banyak orang datang mendekati Rey termasuk juga para paman.
"Hai nak, namamu siapa? Siapa orang tuamu? Apa mereka bekerja disini?"
"Kau lucu sekali, kalau besar aku jodohkan dengan putriku mau tidak?"
__ADS_1
"Ah kau tampan sekali pasti orang tuanya bibit unggul, astaga kalau besar nanti akan kunikahi anak ini," gurau bibi lainnya.
Para bibi itu pun mulai ngelantur bicaranya membuat Rey jadi tidak nyaman hingga membatin, aduh para bibi-bibi ini kenapa sih!
Merasa tidak suka dikerubungi begitu oleh banyak orang, Rey pun berpura-pura kebelet buang air agar bisa segera pergi.
"Permisi aku mau pergi ke toilet dah semua!" Rey pun akhirnya kabur dari tempat itu, dan malah masuk ke dalam lift yang entah membawanya kemana.
Sementara itu, Lara yang baru saja selesai menemui resepsionis pun langsung kembali ke tempat dimana tadi putranya menunggu. Sayangnya saat Lara kembali ia malah mendapati kursi yang tadiΒ di duduki Rey sudah kosong. "Astaga! Rey dimana kau?" Sontak Lara langsung panik dibuanya, ia pun segera bertanya kepada orang lain yang duduk disekitar sana apakah mereka melihat putranya disini.
"Ah aku baru saja duduk jadi tidak melihatnya," ucap salah satu pegawai yang ditanya Lara.
Lara kemudian bertanya pada yang lainnya, " Tuan apa tadi kau melihat seorang anak laki-laki, tingginya sekitar sepinggangku, bajunya warna navy danβ"
"Maaf Nona, apa kau sedang mencari anak kecil tampan yang tadi duduk disini sendirian?" Ujar seorang pegawai wanita yang tadi sepertinya ikut mengerubungi Rey.
"Eh iya itu putraku, apa kau melihatnya pergi kemana?"
"Oh jadi anak kecil tadi putramu, wah dia tadi kabur dan bilang mau ke toilet, tapi saat aku lihat dia malah naik lift. Sekarang aku tidak tahu ia kemana."
"Begitu ya, baiklah terima kasih infonya." Lara pun bergegas mencari putranya tersebut. "Rey Rey, sudah kubilang jangan buat masalah tetap saja buat masalah. Anak itu kenapa tidak bisa sehari saja tidak buat masalah sih! Apa dia senang kalau mamanya ini kebingungan terus!" Lara terus mencari Rey meskipun sambil mengomel.
Sementara Rey, ia yang sudah berkali-kali keluar masuki lift malah bingung sendiri dibuatnya.
"Ini dimana? Mama dimana ya?"
Rey yang tampak bingung akhirnya kembali masuk ke dalam lift dan pasrah ikut kemananpun lift itu membawanya. Dan ternyata Rey malah dibawa berhenti di lantai paling atas Laizen tower. Pria kecil itu pun keluar dari dalam lift dan langsung menyusuri lantai tersebut.
"Di lantai ini jauh lebih sepi daripada lantai dibawah, dan disini juga tampak lebih sedikit ruangannya. Apa ini ruangan bos besar? Eh bos besar itukan..." Rey seketika baru ingat, kalau bos di kantor ini adalah pria yang mau ia jodohkan dengan mamanya. "Aku harus cari ruangan paman Vander." Ia pun langsung semangat mencari ruangan dimana Vander berada, namun bukan Rey namanya kalau tidak dibuat penasaran dengan hal dilihatnya. Pria kecil itu tiba-tiba saja melihat tangga kecil yang disana ada papan bertuliskan peringatan, "DILARANG NAIK SELAIN YANG BERKEPENTINGAN"
Karena penasaran pria kecil itu pun jadi lupa tujuannya, ia pun mengabaikan peringatan tersebut dan malah nekat menaiki tangganya. Dan setibanya diujung atas tangga, Rey melihat ada sebuah pintu yang entah menuju kemana. Ia pun tanpa ragu langsung membuka pintu tersebut dan melihat apa yang ada dibalik pintu tersebut.
"Woah keren!" Ungkap Rey saat tahu ia kini berada diatas atap Laizen tower. "Eh siapa itu?"
Ternyata ada orang lain yang lebih dulu datang daripada Rey, disana Rey melihat sosok pria dewasa yang mengenakan jas lengkap sedang berdiri membelakanginya menatap langit sambil membawa sebatang rokok ditangannya. Karena takut pria itu orang jahat, Rey pun memilih mengendap-endap supaya pria itu tidak menoleh kebelakang dan melihatnya, namun sayangnya pria itu keburu menyadari kehadiran Rey dan langsung berkata, "Siapa kau!"
Rey langsung terkesiap saat melihat sosok pria itu menoleh ke arahnya. "Paman ini kan..." Siapa sangka ternyata pria yang sedang ia cari-cari saat ini, kini malah ada di dekatnya.
"Bocah kecil, kau kan..."
...πππ...
Di sisi lain, Lara sendiri masih tampak kebingungan mencari dimana putranya saat ini berada. Sudah hampir semua lantai dan toilet ia datangi namun putranya itu tak kunjung bisa ia temukan, Lara pun jadi semakin cemas dibuatnya. "Anak itu kemana sih sebenarnya!" Seru Lara yang khawatir sekaligus kesal saat ini. "Sudah jam segini, Vander pasti sudah ada di ruangannya, tapi Rey belum ketemu. Astaga bagaimana ini?" Lara jadi kebingungan sendiri. Ia pun akhirnya memutuskan ke ruangannya dulu untuk menaruh berkas file penting di meja bosnya, setelah itu baru ia kembali mencari anaknya.
Setelah selesai menyiapkan berkas kerja di meja Vander, Lara pun segera bergegas keluar untuk mencari anaknya lagi. Namun saat dirinya mau membuka pintu, seseorang malah lebih dulu membuka pintunya dari luar. Sontak Lara langsung dibuat terperangai kaget melihat siapa yang kini muncul di hadapannya tiba-tiba.
"Tuan Vander?" Lara melihat Vander muncul dibalik pintu, namun yang membuat wanita itu sangat kaget bukanlah kehadiran bosnya, melainkan sosok kecil yang digendong oleh bosnya saat ini.
"Mama!" Seru pria kecil yang ada digendongan bosnya tersebut.
"Rey? Tuan Vander?"
Lara tercengang. Ketiga orang itu akhirnya saling bertemu dan bertatap wajah langsung
Akhirnya pertemuan ini terjadi juga, kami bertiga bertemu di ruangan yang sama. Vander, aku dan Rey merindukanmu...
__ADS_1
...πππ...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS π...