
Lara ingin menjelaskan kotak berisi gaun itu pada Van, tapi melihat kekasihnya itu tersenyum hambar dengan sorot matanya yang seperti menggambarkan kekecewaan Lara jadi takut.
"Vander aku akan jelaskan hadiah itu sebenarnya—"
"Aku sudah tau, itu gaun dari tuan Jeden kan? Gaunnya indah, Nona Lara pasti semakin cantik kalau pakai itu," ucap Vander terdengar sedih.
"Bukan begitu Van, kau jangan salah paham," Lara medekati Van untuk meyakinkan kekasihnya kalau dirinya tidak mengingikan hadiah dari Jeden tersebut.
Vander menatap Lara dengan sorot mata penuh rasa kecewa. Melihat tatapan mata Vander yang tidak biasa itu membuat Lara jadi sedih dan semakin merasa bersalah, ia menyentuh kedua pipi Van dan kembali menjelaskan. "Vander kau jangan marah padaku. Aku sungguh tidak mengingikan gaun itu percayalah padaku," Lara benar-benar merasa takut Van akan salah paham padanya.
Van tersenyum hambar, ia menyentuh satu tangan Lara yang ada di pipinya dan melepaskannya. "Aku tidak marah sama sekali padamu, aku hanya sedang marah dan kecewa pada diriku sendiri."
"Ke- kenapa?" Tanya Lara tidak mengerti.
"Aku marah dan kecewa pada diriku karena sebagai seorang pria aku gagal. Aku tidak bisa memberikanmu kemewahan, pakaian bagus, perhiasan, dan semuanya. Sebaliknya kau malah yang membiayaiku, dan aku semakin marah pada diriku saat aku tau pria lain bisa memberimu gaun mahal, sedangkan aku hanya bisa memberikanmu ini," Van mengeluarkan sebuket bunga mawar yang dipengangnya dari dibalik punggungnya.
"Awalnya aku ingin memberimu bunga ini sebagai hadiah pertamaku untukmu, tapi melihat hadiah dari Jeden aku jadi merasa malu rasanya memberikan hadiah murahanku padamu," ungkap Vander menutupi rasa rendah diri yang ia rasakan saat ini.
Mata Lara berkaca-kaca menerima bunga dari Van.
"Kau salah, bunga ini tidak murahan, bunga ini sangat cantik, dan aku menyukainya." Lara merasa senang bercampur haru menerima pemberian Van tersebut.
"Nona kenapa kau terlihat bersedih?"
"Aku terharu bukan bersedih!"
Lara lalu memeluk erat Vander dan berkata, "Kau tidak boleh merasa rendah diri, bagiku hadiahmu adalah yang paling bagus dibanding hadiah pria manapun. Aku tidak masalah kalau kau tidak memberiku perhiasan, gaun atau pun benda mahal lainnya. Aku juga tidak masalah kalau harus membiayaimu seumur hidup, yang aku butuhkan hanya kau yang akan selalu ada bersamaku itu sudah cukup. Aku mencintaimu Vander sungguh," ungkap Lara sambil menangis.
Vander terenyuh mendengarnya, ia langsung mendekap erat tubuh Lara, mencium dan mengusap rambutnya dengan lembut. "Aku akan selalu bersamamu Nona kau tenang saja, jangan menangis lagi ya?"
Sampai hari itu tiba bisakah kau bersabar Nona? Suatu hari nanti, aku akan memberikan semua yang kau inginkan, dan aku akan menempatkanmu pada tempat tertinggi dimana bahkan aku sendiri pun tidak akan sanggup menjatuhkanmu, aku berjanji!
Tak lama bel ruangan Lara kembali berbunyi, Lara dan Van pun langsung bertingkah senormal mungkin mengetahui Ana sekretaris Lara akan masuk.
"Permisi Nona Lara, tadi anda menyuruhku menemui Nona, ada apa ya?"
"Oh iya Ana, aku minta padamu, tolong kau bawa kotak ini." Lara memberikan kotak hadiah dari Jeden tersebut kepada Ana dan menyuruhnya mengembalikannya pada Jeden.
"Ini kan...?"
"Iya, tolong kembalikan saja pada Jeden."
"Ba- baik Nona, aku akan segera mengembalikannya, permisi." Ana pun pergi untuk melakukan yang diperintahkan Lara.
"Kenapa dikembalikan?" Tanya Vander.
"Aku tidak suka gaunnya, lagipula..." Lara medekatkan bibirnya ke leher Vander dan memberikan gigitan kecil disana. "Kau suka kan aku menolak pemberian Jeden?"
Gadis ini mau menggodaku lagi?
__ADS_1
Jeden tidak menjawab, Lara kembali menggingit kulit leher Vander hingga membuat pria itu menggeliat. "Jawab aku tuan Vander Liuzen?"
"I- iya No- na Lara aku senang."
"Bagus!" Kata Lara terlihat sumringah mendengarnya.
Vander mengusap lehernya yang habis digigit Lara tadi.
Melihat leher Vander ada bekas merah Lara pun langsung panik. "Astaga, apa yang aku lakukan?!" Lara tidak menyangka gigitannya akan membekas semerah itu dileher Van.
Haiz, gadis ini! Dia yang melakukannya sekarang malah panik sendiri?
"Vander kenapa kau tidak bilang kalau akan berbekas!"
"Kau tidak tanya padaku."
"Aku kira tidak akan ada bekasnya, aduh maafkan aku...!" Ucap Lara sambil mengusap-usap Leher Van.
Sementara Lara tampak panik, Vander sebaliknya malah santai sambil tertawa kecil melihat gadisnya itu kebingungan.
Salahmu sendiri menggingitku dasar gadis nakal...! Ujar batinnya sambil terkekeh.
**
Karina ditemani asisten dan pengawalnya tampak sedang berbelanja di sebuah mall ternama di kota ZR. Saat hendak keluar dari toko berlian ia malah berpapasan dengan Lara dan Vander.
Melihat Karina Lara langsung memasang wajah masam. Kenapa sih harus bertemu wanita ini disini!
"Kalian sedang belanja apa disini?" Tanya Karina.
"Tidak belanja apa-apa, aku dan Vander kami hanya mampir saja kok!"
Rasa canggung berkecamuk dihati Vander. Ia takut Karina akan berkata di depan Lara soal dirinya yang bersedia menjadi partner di ulang tahunnya besok.
"Tuan Vander apa kabarmu?"
Huh basa basi, padahal jelas dari matanya saja ia melirik Vander dengan penuh arti, dasar genit! Batin Lara sinis.
"Aku baik Nona Karina."
Melihat Karina terus-menerus menatap ke arah Van, hal itu tentu saja membuat Lara menjadi tidak senang.
"Oh iya karena aku tidak mau mengganggu kalian yang ingin berbelanja, maka dari itu aku pergi duluan."
Karina berjalan melewati Van dan berbisik sebelum benar benar pergi. "Aku sudah tidak sabar untuk berdansa bersamamu besok malah tuan Vander. "
Pria itu tak bereaksi apa-apa. Lara yang berada disebelah Van yang justru tampak curiga dan kesal. Apa yang dilakukan Karina? Dia seperti membisikan sesuatu pada Vander?
Akhirnya Karina pergi pun, Lara lalu bertanya kepada Van apa Karina membisikan sesuatu?
__ADS_1
Dengan wajah yang tenang Van menjawab, "Tidak ada, wanita itu hanya bilang sampai jumpa."
"Apa iya cuma bilang itu?" Hati kecil Lara sebenarnya masih belum yakin dengan ucapan Vander barusan, tapi ia mencoba untuk percaya pada kekasihnya itu.
"Yasudah kalau begitu ayo kita teruskan belanja!" Ajak Lara.
*
Jeden yang marah karena gaun pemberiannya di kembalikan oleh Lara mengamuk di ruang kerjanya. Ia sampai melempar barang-barang diatas mejanya.
"Brengsek!" Pria itu mengeluarkan gaun berwarna tosca itu dan menggunting-guntingnya. "Kau lihat Lara, gaun indah ini sekarang rusak. Seperti hatiku yang kau rusak berkali-kali!"
Ponsel Jeden tiba-tiba bunyi. Dengan keadaan emosi ia langsung mengangkat panggilan dari Karina tersebut.
Jeden : Halo!
Karina : Galak sekali, ada apa?
Jeden : Tidak usah basa basi ada apa?
Karina : Aku cuma mau memberitahu tadi saat di mall aku bertemu Lara dan Vander di depan toko berlian.
Jeden : Sial! Dia malah pergi dengan gelandangan itu!
Karina : Aku juga tidak suka melihat mereka dekat, tapi setidaknya kita harus bersabar sampai besok.
Jeden : Kau benar, lalu untuk besok apa rencananya sudah siap?
Karina : Tentu saja aman terkendali, pelayan pesta nanti semua adalah orang-orang suruhanku!
Jeden : Bagus kalau begitu, aku sudah tidak sabar menunggu malam itu.
Senyum kedua orang itu sungguh tampak licik, seolah tengah membayangkan keberhasilan rencana busuk mereka.
**
Van dan Lara akhirnya pulang selesai berbelanja membeli kado untuk Karina. Diperjalanan pulang, Lara terlihat hanya memandang keluar kaca mobil dan tidak banyak bicara seperti biasanya. Sepertinya ia masih kepikiran soal Karina tadi? Vander yang ada disebelahnya pun jadi bertanya-tanya. "Nona kenapa diam saja, apa ada yang kau pikirkan?"
"Eh? Tidak ada kok, aku hanya agak lelah saja. Oh iya Vander antar aku pulang ke kediamanku ya malam ini."
"Kenapa? Kau marah padakukah?"
"Tidak, aku hanya rindu kediamanku saja. Lagipula sudah lama tidak melihat keadaan kediaman dan para pekerja lain, sekalian aku mau pilih gaun buat pesta besok malam."
"Jadi begitu, baiklah kalau memang itu keinginanmu."
Bersambung...
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT, GIFT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR YA... MAKASIH 💜
__ADS_1