
Malam harinya, saat Lara tengah menemani Reynder tidur dikamarnya sendiri, tiba-tiba saja sebelum tidur putranya itu melontarkan pertanyaan yang tak terduga. Untuk pertama kalinya Rey putra kecilnya yang hampir berusia empat tahun itu bertanya, "Mama... sebenarnya aku ini punya papa tidak sih?"
Seketika perasaan Lara dibuat terenyuh mendengarnya. Mendengar Rey bertanya tentang dimana papanya membuat Lara tidak tega melihat putranya sendiri.
"Mama kenapa diam saja, aku salah bicara ya?" ucap Reynder takut membuat ibunya sedih.
"Rey tidak salah bicara kok, lagipula wajar kalau seorang anak bertanya tentang papanya," jawab Lara sambil berusaha menahan gejolak emosinya agar tidak menangis di depan putra semata wayangnya tersebut.
"Ma..., Papaku itu orangnya seperti apa sih?"
Jauh dilubuk hatinya, Reynder memang sangat ingin tahu sosok ayahnya, mengingat sampai saat ini ia bahkan tidak tahu sama sekali bagaimana rupa sang papa. Hal itu karena, Lara sama sekali tidak memiliki foto Vander bahkan foto berdua pun tidak ada.
"Papamu itu..."
"Papa seperti apa Ma, coba jelaskan padaku ciri-cirinya, apa dia tampan sepertiku? Apa dia keren? Dia seperti apa, ayo jelaskan?" Rey tampak antusias sekali ingin mendengar bagaimana Lara menggambarkan sosok papanya tersebut. Bahkan dirinya yang tadinya sudah mengantuk, tiba-tiba malah jadi tidak mengantuk sama sekali saking antusiasnya.
"Papamu itu, dia pria yang sangat tampan."
"Kalau dibanding aku lebih tampan siapa?" Sahut Rey.
"Tentu saja kalian sama-sama tampan, tapi... Rey tetap yang paling menggemaskan di dunia," ucap Lara sambil mencubit gemas pipi Reynder yang kenyal.
"Lalu apalagi? Apa papaku hebat?"
"Oh tentu saja, papamu dia pria yang sangat pemberani, dia selalu melindungi Mama dari bahaya, tubuhnya juga tinggi tegap, dan dia juga sangat pandai, dan yang pasti dia sangat sayang pada keluarganya," jelas Lara.
"Kalau papa sayang keluarga, kenapa papa malah meninggalkan mama dan aku?"
Lara seketika tidak tahu harus menjawab apa, melihat keadaan Lara dan Vander saat ini sangat membingungkan dan sulit untuk dijelaskan. "Kalau soal ituโ"
"Mama, cukup sampai disini saja cerita soal papanya. Aku tiba-tiba merasa mengantuk dan mau tidur," pungkas Rey sambil menguap.
"Oh, sudah mau tidur ya? Baiklah kalau begitu." Lara pun langsung membelai kepala anaknya tersebut agar tertidur nyenyak.
Sebenarnya Rey masih ingin tanya banyak hal soal Papanya, tapi melihat sang mama yang sepertinya ragu menceritakan semua hal tentang papanya ia pun memilih untuk tidak meneruskan pembahasannya. Rey takut mamanya akan sedih nantinya, mengingat sejak dulu tiap kali Rey menyinggung soal papanya wajah Lara jadi tampak sedih.
Tuhan... aku mohon, sekali saja biarkan aku melihat sosok papaku di dalam mimpi, doa Reynder saat memejamkan mata.
Dan setelah setengah jam, akhirnya Rey kecil pun tertidur nyenyak. Lara kemudian beranjak turun dari ranjang putranya itu. Sebelum pergi meninggalkan kamar Rey, Lara membetulkan selimut anaknya itu kemudian mengecup keningnya dengan lembut.
"Mimpi yang indah pangeran kecilku," ucap Lara dengan mata berkaca-kaca memandangi wajah polos anaknya yang bak malaikat baginya.
Reynder sayang, maafkan mama karena mama belum bisa membahagiakanmu sepenuhnya. Mama sadar sekarang, bagaimanapun peran ayah tidak mungkin bisa mama ambil alih dalam hidupmu. Pada akhirnya kau memang membutuhkan sosok seorang ayah, sosok yang bisa mengajarimu sebagaimana seorang pria lakukan. Tapi sayangnya hal itu agak sulit saat ini, mama belum bisa mempertemukanmu dengan papamu, karena meski raganya jelas ada, namun jiwa papamu yang mama kenal seolah masih pergi entah kemana. Tapi mama janji, suatu hari nanti, pasti kau akan bisa bertemu dengan papamu.
Di luar, Lara yang baru saja keluar dari kamar anaknya itu tampak mengusap air matanya. Emika yang baru saja dari dapur tak sengaja melihatnya dan bertanya, "Kak Lara, kenapa kau menangis setelah keluar dari kamar Rey?"
"Oh ini tidak apa, aku hanya tengah bersedih saja ingat diriku yang dulu suka ditemani tidur oleh ibuku," jawab Lara berbohong.
"Begitu ya?"
"Um- ngomong-ngomong, kau habis apa di dapur?" Tanya Lara.
"Aku habis buat teh yang seperti kakak biasa minum. Aku kan mau cantik sepertimu, makanya aku mengikuti semua yang kau konsumsi," ungkap Erika dengan polosnya.
"Ah kau ini bisa saja. Memangnya kau sedang suka dengan siapa hingga tiba-tiba mau jadi cantik, hayo mengaku padaku?" Goda Lara pada Emika yang sudah ia anggap adik itu.
Emika pun senyum-senyum jadinya.
"Dari raut wajahmu jelas kau sedang kasmaran, ayo cepat beritahu aku, siapa pria itu?" ucap Lara yang juga penasaran.
"Dia ituโ anak pemilik apartemen ini," jawab Emika malu-malu.
"Andy maksudmu!?"
"Iya, tapi kak Lara jangan keras-keras menyebutnya dong, aku kan jadi malu."
Lara seketika terkekeh melihat ekspresi Emika saat ini sedang kasmaran. Dirinya jadi teringat dulu saat pertama kali suka pada Vander, kira-kira usianya tidak beda jauh beda dengan usia Emika saat ini. Huft... Tapi itu masa lalu, sekarang aku sudah dewasa dan jadi seorang ibu.
"Kak Lara! Kenapa malah melamun?"
"Eh tidak kok."
__ADS_1
"Kakak, mendukungku dengan Andy kan?"
"Oh tentu saja, kau dan Andy selisihnya hanya tiga tahun lebih muda kan? Kau dua puluh dan Andy duapuluh tiga, aku rasa itu perbedaan usia yang sangat ideal. Aku dukung dirimu seratus ribu persen!" Pungkas Lara.
"Terima kasih dewi panutanku," pungkas Emika sambil memeluk Lara.
...๐๐๐...
Pagi harinya di sebuah apartemen mewah, terlihat Vander yang baru saja selesai melakukan beberapa workout dan olahraga. Seperti biasa, setiap akhir pekan Vander pasti akan menyempatkan diri untuk melakukan kegiatan olahraga dan workout.
Karena merasa gerah, Vander pun langsung melepas kaosnya yang sudah basah karena keringat, alhasil tubuh kekar atletisnya itu pun nampak jelas, termasuk beberapa bekas luka sayatan yang ada dibagian punggung, dan sekitaran perutnya yang sixpacknya pun ikut terlihat.
Vander lalu menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya. Ketika ia tengah menghisap batang rokok sambil memandang keluar jendela besar yang ada disana, tiba-tiba datang Robert yang membawakan segelas jus untuk Vander.
"Tuan, seharusnya anda minum jus anda dulu sebelum merokok," ucap Robert.
Vander menoleh dan berkata, "Kau ini cerewet sekali kadang-kadang."
"Aku hanya memikirkan kesehatan anda saja Tuan. Oh iya, sepertinya obat tuan sudah habis danโ"
Vander mengeraskan rahangnya seraya menahan kesal. "Sudah aku bilang, aku tidak sakit Robert! Jadi berhenti memperlakukanku seperti pasienmu!"
"Maafkan aku Tuan, aku tidak bermaksud bicara begitu." Robert sendiri sebenarnya paham kalau Tuannya itu paling tidak suka kalau dirinya dianggap sakit. Meski kenyataanya memang Vander sejak empat tahun lalu mengidap trauma kompleks yang cukup parah, sehingga ia harus mengkonsumsi obat khusus dari psikiater untuk mencegah efek traumanya muncul tiba-tiba.
"Selain itu tuan Vander, aku menemui anda karena inginย bertanya soal Nona Lara."
Vander langsung memicingkan matanya. Entah kenapa perasaan Vander langsung antusias mendengar nama sekretarisnya itu disebut.
"Aku ingin bertanya, setelah hampir sebulan bekerja untukmu, apakah Nona Lara masih lanjut atauโ"
"Robert! kau lihat sendiri, diantara semua sekretaris yang pernah kau carikan buatku selama ini, hanya Lara yang lama bisa bertahan jadi, untuk apa kau tanyakan lagi?"
"Maaf Tuan, aku hanya ingin memastikan saja. Mengingat status Nona Lara saat ini masih jadi trainee."
"Apa?" Vander yang tidak tahu kalau status Lara ternyata masih trainee, langsung menyuruh Robert agar mengubahnya jadi karyawan resmi. Vander juga meminta Robert untuk memberikan beberapa fasilitas seperti kendaraan, dan bonus tiap bulan untuk sekretarisnya itu.
"Hmm... tapi Tuan, bukankah memberikan bonus tiap bulan itu agak berlebihan, sementara pegawai lain saja bonusnya setahun hanya dua kali."
"Maafkan aku Tuan, aku hanya berpendapat saja."
"Aku memberikan semua itu karna ada alasannya. Wanita itu sudah bekerja dengan sangat baik, kerjanya rapi, dan cepat, dia juga satu-satunya yang bisa mengimbangi kerjaku tanpa mengeluh dibelakangku," ungkap Vander dengan raut wajah seraya bangga.
"Ditambah wanita itu sangat peduli padaku, meski dia kadang cerewet dan suka mengomeliki terkait kesehatanku, tapi entah kenapa ada perasaan senang yang sulit dijelaskan saat dia bertingkah seperti itu padaku."
Dengan wajahnya yang selalu tampak serius, Robert jadi berpikir, apa tuannya itu mulai tertarik pada sekretarisnya?
Kalau dipikir selama aku mengabdi untuk Tuan selama empat tahun ini, aku belum pernah sekalipun melihat Tuan Vander serius seorang wanita. Kalaupun dirinya bersama wanita itu pasti hanya wanita yang ia bayar untuk sekedar menemaninya minum-minum, atau rekan kerjanya yang kebetulan wanita. Tapi melihat ekspresinya saat membicarakan Nona Lara, sepertinya memang ada ketertarikan.
"Robert kau sedang bepikir apa tentangku?" ujar Vander seolah tau isi kepala Robert saat itu.
"Um- tidak Tuan, tidak ada! Kalau begitu aku permisi."
...๐๐๐...
Di akhir pekan, Lara dan putranya terlihat sedang berada di rumah sakit sehabis ke menemui dokter anak. Kunjungan seperti ini memang sudah rutin dilakukan Lara setiap tiga bulan sekali, untuk mengetahui tumbuh kembang putranya.
Saat dirinya dan Rey mau pulang, tidak sengaja i malah berpapasan dengan dokter Yose
"Dokter Yose!" Seru Lara.
Dokter yang tampak berusia lima puluhan itu pun behenti dan langsung mengahampiri Lara. "Lara? Sudah lama sekali kita tidak bertemu." Dokter Yose sendiri adalah teman mendiang orang tua Lara, yang memang sudah beberapa tahun ini menetap di Jerman.
"Iya, dokter bagaimana kabarmu?"
"Aku baik. Wah kau jadi tambah dewasa dan semakin cantik saja, danโ " Dokter Yose melihat Reynder yang tengah berdiri disebelah Lara.
"Ngomong-ngomong, siapa pria kecil lucu disebelahmu itu? Jangan bilang diaโ"
Lara tersenyum manis dan berkata, "Iya dia anakku."
"He? Ja- jadi kau sudah jadi ibu sekarang? Astaga kenapa waktu berjalan cepat sekali," ujar sang dokter tak menyangka.
__ADS_1
Dokter itupun akhirnya berkenalan dengan putra Lara.
"Hai Nak, namaku dokter Yose."
"Aku Reynder kakek dokter," balas Rey.
Dokter Yose pun tertawa gemas mendengar panggilan dari Rey itu. "Ya aku memang cocok jadi kakekmu anak manis," Pungkas Yose sambil mengusap lembut kepala Rey.
"Haiz! Aku ini kan laki-laki, jangan panggil aku manis kakek dokter," Rey protes.
"Baik-baik, Rey yang hebat saja kalau begitu."
"Ah kebetulan sekali, dokter Yose bisakah kita mengobrol?" ucap Lara.
"Tentu."
Mengetahui sang mama mau mengobrol dengan dokter Yose, Rey yang takut akan jadi bosan akhirnya minta izin pada Lara untuk main dengan anak lainnya, di area playground yang ada dirumah sakit.
Dan sementara Rey pergi main, Lara pun ikut pergi ke ruangan dokter Yose untuk bertanya suatu hal penting.
"Jadi apa yang sebenarnya kau ingin tanyakan anakku?" Tanya dokter Yose penasaran.
"Dokter, setahuku kau itu kan dokter saraf, kau pasti tau tentang sakit amnesia kan?"
"Ya, lalu?"
"Aku ingin bertanya, sebenarnya penyabab seseorang bisa mengalami amnesia itu apa?"
"Amnesia itu adalah dimana seseorang tidak bisa ingat/ kehilangan memori diotaknya. Dan amnesia sendiri itu ada beberapa jenis."
"Apa semua orang yang amnesia akan lupa dengan semua masa lalunya?
"Tidak juga, beberapa penderita amnesia tidak mengalami hal itu. Mereka penderita amnesia traumatis biasanya hanya lupa pada kejadian atau memori tertentu saja, dan penderitanya biasanya tampak normal dan seolah tidak terjadi apa-apa, kecuali ada pemicunya baru akan terlihat."
"Lalu apa penyebab amnesia itu terjadi?"
"Umumnya disebabkan karena kecelakaan, beturan keras, efek obat-obatan. Namun dibeberapa kejadian yang jarang sekali ada, bisa jadi amnesia itu terjadi karena penghapusan memori yang memang disengaja lakukan."
"Ma- maksudnya?"
"Pada dasarnya, manusia itu memiliki kemampuan untuk memilah memori yang ingin dia ingat atau buang, dan sebagian kecil orang memilih untuk menghilangkan sebagian memori otaknya demi menghilangkan rasa atau pengalaman yang ingin ia lupakan namun sulit. Dan dengan bantuan dokter ahli, siapapun bisa menghapus memorinya. Sebenarnya dalam medis hal itu tidak dianjurkan karena akan berdampak untuk masa depan orang itu. Karena bagaimanapun ingatan manusia tidak ada yang benar-benar mati kecuali ingatan jangka pendek yang secara otomatis akan terhapus tanpa disadari."
Lara termenung memikiran perkataan dokter Yose.
"Oh iya Lara, kalau boleh tau ayah anakmu itu apa dia pria yang bernama Vander itu?"
Lara tersenyum hambar dan mengangguk.
"Lalu dimana dia saat ini?"
"Dia ada hanya saja tidak bersamaku dan anakku," jawab Lara tampak sedih.
"Nak, apa tujuanmu bertanya soal amnesia juga ada hubungannya dengan pria itu?"
Lara menghela nafas, "Aku sendiri tidak tahu dok, aku sendiri masih bingung dan tidak paham dengan apa yang terjadi diantara kami saat ini."
"Baiklah kalau memang begitu, tapi jika ada sesuatu ceritakan saja padaku. Anggap saja aku ini ayahmu sendiri oke?"
Lara mengangguk dan tersenyum. "Kalau begitu aku pamit pergi, dan untuk dokter terima kasih banyak karena sudah mau menjawab pertanyaanku."
"Sama-sama, oh iya kapan-kapan aku bolehkan bertemu anakmu, sepertinya aku menyukainya."
"Tentu saja dokter, kapan saja kau mau bertemu Rey, kau bilang saja padaku."
"Baiklah hati-hati Nak, sampaikan salamku pada Rey!"
"Tentu."
Lara pun pergi meninggalkan ruangan dokter Yose.
...๐๐๐...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, DAN BERI GIFT PLIS PLIS PLIS ๐