Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Liburan Bersama


__ADS_3

Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya tiba juga di villa milik Vander.


Lara yang lebih dulu sampai naik mobil Land Rover hitam bersama suami dan anaknya pun menunggu mobil yang lainnya tiba. Dan akhirnya sebuah mobil Van mewah yang dibawa Robert, diikuti satu mobil SUV biru yang dikendarai Gavin tiba juga disana. Setelah memarkirkan mobil-mobil itu, mereka semua pun langsung disambut oleh sepasang kakek dan nenek yang biasa menjaga villa milik Vander tersebut.


"Tuan Vander dan lainnya selamat datang, aku Mahiro dan ini istriku Lena, kami adalah orang yang dipercaya tuan Vander untuk menjaga villa milik beliau," jelas sepasang kakek nenek itu.


"Hai kakek dan nenek!" Seru Gavin menyapa balik.


"Apa kabar kalian?" Tanya Vander.


"Kami baik tuan, sudah agak lama anda tidak kemari sekarang bawa banyak orang. Akhirnya villa sebesar ini akan ramai diisi banyak orang," tandas Lena merasa senang.


"Tuan, mereka ini siapa? Dan nona yang cantik ini apa dia yang kauβ€”"


"Ah iya ini Lara, ini Reynder dan yang lainnya adalah...." Vander pun mengenalkan mereka semua ke pengurus Villa tersebut.


Tiba-tiba saja, Rey yang berdiri di dekat Lara seperti melihat ada seekor anjing berjenis golden retriver bersama seorang gadis kecil yang sebaya dengannya, mengintip dari balik pintu masuk villa.


"Kakek, nenek, siapa mereka disana?" Tanya Rey sambil menunjuk ke arah persembunyian anjing dan gadis kecil itu. Semua orang disana pun langsung melihat ke arah yang ditunjuk oleh Rey.


Kakek dan nenek itu lalu tersenyum dan menyuruh gadis kecil beserta anjingnya itu keluar, menyambut kedatangan Vander dan yang lainnya. Dan dengan malu-malu gadis kecil itu pun berjalan menampakan diri kehadapan semuanya.


"Semuanya, kenalkan ini cucu kami namanya Hana dan anjing ini bernama Shin. Orang tua Hana sudah meninggal sejak dua tahun lalu, jadi aku dan istrikulah yang merawatnya," jelas kakek Mahiro.


Lara tersenyum dan menyapa Hana, "Halo gadis manis aku Lara salam kenal."


"Aku Reynder usiaku empat tahun, kalau kau?" ucap Rey yang dengan ramahnya menyapa Hana yang kelihatannya sedikit agak pemalu.


"A- aku Hana," balas gadis kecil itu malu-malu.


"Hana juga seminggu lalu genap berusia empat tahun," ungkap Lena sang nenek.


"Jadi kalian seumuran, kalau begitu Rey bertemanlah dengan baik dengan Hana ya," ucap Lara pada putranya.


Setelah sesi perkenalan selesai, semuanya pun diajak berkeliling masuk ke dalam villa itu. Disana Vander menjelaskan kalau luas bangunan Villanya sekitar 650 meter persegi, dan halamannya seluas 300 meter. Dimana Halaman di villa tersebut terdapat tempat yang bisa digunakan untuk bermain tenis dan basket, serta lapangan untuk latihan menembak. Disana juga ada kolam ikan yang berbentuk memanjang seperti sungai, serta disekeliling tamannya ditumbuhi pohon-pohon apel dan beberapa tanaman bunga hias lainnya.


"Villamu bagus sekali!" Ujar Lara kagum.


"Ini villamu juga sayang," ucap Vander.


"Hei, kakak angkatmu yang mantan gelandangan ini sekalinya kaya asetnya bikin geleng-geleng kepala ya," bisik Mira pada suaminya.


"Ya begitulah, aku rasanya jadi menyesal tidak minta warisan padanya," balas Gavin. "Oh iya paman Robert, kau sudah sering kesini ya?" Tanya Gavin yang melihat Robert dari tadi seolah sudah hafal sekali dengan denah villa tersebut.


"Aku setiap dua bulan sekali memang datang kesini tuan Gavin."


"Ah pantas saja."


Sementara itu dipaling belakang, nampak Tori dan Naomi yang jalan beriringan dengan agak canggung satu sama lain. "Umβ€” tuan Tori, luka ditanganmu bagaimana?"


"Oh sudah membaik kok. Terima kasih ya nona Naomi waktu itu sudah menemaniku mengobati lukaku."


"Sama-sama. Tapi panggil aku Naomi saja, kalau tidak salah kita kan seumuran jadi panggil naomi saja supaya tidak canggung."


"Oke, nonaβ€” maksudku Naomi."


Setelah selesai berkeliling ke seluruh ruangan dan taman.. Tiba saatnya mereka semua untuk memilih kamar. Dan setelah berunding dan berdebat lama akhirnya diputuskan, Gavin dan Mira sekamar, Lara sekamar Naomi, Robert dan Tori, sementara Vander dengan anaknya.


"Tidak!" Seru Vander dan putranya yang sama-sama tidak mau sekamar.


"Aku anaknya mama, jadi aku yang sekamar sama mama. Papa tidur sendirian saja sana!"


"Tidak, Lara itu istriku! Jadi aku harus tidur dengannya."


"Papa kan belum menikah sama mama,"


Vander lupa kalau putranya sampai saat ini belum tahu dirinya dan Lara aslinya memang sudah sah menikah secara negara. "Terserah yang jelas aku lebih tua darimu jadi aku yang harus dengan Lara."


"Karena papa lebih tua harusnya mengalah sama yang lebih muda!"


"Tidak..."


"Papa kau kenakanan!"


"Kau juga!"

__ADS_1


"Astaga stop!" Tegas Lara kepada dua jagoannya itu. "Kalian berdua tidur saja di luar kalau masih berisik. Aku mau tidur dengan Naomi dan Miranda, sementara kalian para lelaki tidur sesuka kalian dimanapun!" Tandas Lara yang kemudian mengajak Mira serta Naomi masuk ke kamar.


"Kenapa aku jadi kena imbasnya juga?" Keluh Gavin sedih...


"Paman Gavin kita kan pria jadi harus kompak!" Ujar Rey.


"Benar, susah senang tanggung bersama," imbuh Vander


"Kalian berdua kejam...!"


...🍁🍁🍁...


Malam hari pun tiba, setelah semuanya selesai bersih-bersih. Mereka pun berkumpul di ruang makan untuk makan malam. Disana Robert dan bibi Lena ternyata membuat sup cream sup labu, dan iga domba panggang yang dimasak dengan bawang putih dan sayuran segar.


Dimeja makan semuanya orang makan dengan lahapnya.


"Hem! Paman Robert ternyata kau pandai memasak ya? Aku tidak menyangka," tandas Gavin yang suka sekali iga panggang buatan Robert.


"Robert memang pandai masak, aku bahkan beberapa kali diberitahu resep rahasia olehnya," imbuh Lara.


"Tapi tetap saja masakanmu lebih enak kok," puji Vander membanggakan istrinya.


"Sup ini juga sangat enak, terutama sayurannya rasanya sangat enak sekali," puji Miranda.


Lena pun menjelaskan kalau sayuran yang dipakai adalah semuanya masih segar dan murni hasil panen warga lokal disini. "Hasil paneh sayur dan buah disini sangat bagus dan melimpah. Hanya saja kami belum bisa mensuplainya banyak-banyak ke kota-kota besar, karena peminatnya masih belum banyak," jelas Mahiro.


"Loh memangnya kenapa?" Tanya Naomi.


"Itu karena faktor keterbatasan pengiriman dan juga pemasaran yang terbatas," jelas Mahiro


"Sayang sekali, kalau dikirim keseluruh penjuru negeri pasti sangat menguntungkan untuk pendapatan daerah," tandas Lara. "Vander apa kau tidak ada niatan untuk membantu mereka memperluas daya jual produksi mereka? Aku lihat disini hasil sayuran dan buahnya sangat premium."


"Nona tenang saja, tuan Vander datang kemari juga karena salah satu alasannya untuk memperluas bisnis dikota ini. Tuan memiliki prospek jangka panjang untuk mengembangkan bisnis kota ini," jelas Robert.


"Benarkah Van?"


Vander hanya tersenyum simpul seraya mengiyakan.


"Kau memang hebat Vander!" Puji Lara bangga.


"Kak otak bisnismu memang tidak terbantahkan sejak dulu!" Sahut Gavin.


"Terima kasih pujiannya semua, sekarang lebih baik makan dulu!" tandas Vander.


Dan setelah makan malam selesai. Lara, Mira, dan Naomi pun membantu bibi Lena mencuci dan membereskan piring bekas makan. Sementara para pria mereka nampak sedang membuat api di perapian. Karena sudah masuk musim gugur cuacanya dan udaranya pun semakin dingin, jadinya mereka membuat api perapian di ruang tengah, setelah itu nereka pun saling bersulang minum anggur untuk menghangatkan diri.


Sementara Rey bersama Hana dan anjingnya Shin, terlihat duduk di teras luar memandangi langit. Disana kedua bocah itu saling bercerita satu sama lain, Rey menceritakan tentang suasana di kota ZR tempat ia tinggal yang keadaanya cukup berbeda jauh dengan disini.


"Di kotamu pasti banyak gedung bertingkat ya?" Tanya Hana penasaran.


"Iya, super banyak. Dan kau tahu tidak, menara tertinggi di negara ini milik siapa?"


"Siapa?"


"Laizen Tower, itu punya papaku."


"Wah Rey kau pasti sangat kaya ya? Villa ini juga punya orang tuamu kan? Mobil yang kau naiki juga bagus, aku jadi penasaran dengan kota tempat Rey tinggal," ungkap Hana.


Rey mengusap rambut Hana dan berkata, "Tenang saja, suatu hari nanti akan aku ajak Hana ke kota. Disana nanti kita bermain berasama ya?"


Gadis kecil berpita merah dirambutnya itu tersenyum girang. "Rey baik sekali, kalau besar boleh tidak aku jadi istrinya Rey?"


Rey memiringkan kepalanya. "Tapi aku suka perempuan yang seperti mamaku, cantik dan baik hati."


"Kalau begitu Hana akan jadi seperti bibi Lara supaya Rey mau menikahi Hana."


"Okey aku akan menunggu kau jadi seperti mamaku."


"Shin, aku bisa kan jadi seperti bibi Lara?"


"Wuk guk!" Gonggong Shin seolah mengiyakan.


...🍁🍁🍁...


Malam semakin Larut, pada akhirnya semuanya tidur tidak sesuai rencana. Mereka tidur suka-suka mereka. Tori bahkan sudah tidur pulas di ruang tengah dekat perapian setelah minum-minum. Robert, justru memilih baca buku di kamar seorang diri. Naomi dan Mira juga malah asyik bergosip sampai larut. Sedangkan Gavin malah ikut ketiduran bersama Rey dan Hana dikamar karena kelelahan menemani anak-anak itu bermain.

__ADS_1


Sementara di luar halaman, Lara terlihat berdiri sendirian sambil memandangi kolam ikan. Wanita itu mengenakan gaun tidur dengan dibalut selimut kecil untuk menghangatkan tubuhnya dari udara dingin.


Tiba-tiba saja seorang pria dengan mantel hitam panjang datang memeluknya dari belakang. Pria itu beraroma musk dicampur anggur kualitas premium.


"Tuan putri kenapa kau disini sendirian?" Bisik pria itu dengan suara huskynya yang terdengar sangat seksi.


"Aku menunggu dijemput pangeran berkuda, tapi yang datang malah panglima perang tampan yang sedikit nakal."


"Kalau begitu tuan putri tidak usah tunggu pangeran, dengan pengawal tampan ini saja mau tidak?"


Lara berbalik badan menatap wajah suaminya yang sangat rupawan dan mengalungkan tangannya dileher Vander. "Karena kau yang selalu bisa menemukanku dan melindungiku jadi aku pilih dirimu saja tidak apa-apa deh."


"Kok seperti terpaksa ya menerimanya?"


"Memang, habisnya yang bisa mencuri hatiku hanya dirimu sih...!" Ucap Lara tertawa kecil.


Mereka pun lalu berpelukan.


"Vander tubuhmu hangat sekali."


"Kalau mau lebih hangat kita bisa ke kamar saling menghangatkan diri," Goda Vander.


"Selalu saja cari kesempatan."


"Tapi kau juga suka kan?"


Keduanya pun saling memandang dengan tatapan penuh hasra. Lara berjinjit dan langsung memcium bibir Vander yang hangat, bersentuhan dengan bibirnya yang sebaliknya dingin karena sejak tadi diluar.


Vander melepas ciuamannya. "Bibir dan tanganmu dingin, kita masuk ke dalam saja ya?" Ucap Vander yang kemudian langsung menggendong istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar.


...----------------...


Keesokan harinya...


Lara yang baru saja sadar dari tidur langsung meraba sebelahnya dan ia pun kaget karena suaminya ternyata sudah tidak ada di ranjang. "Jam berapa ini, sepertinya aku yang kesiangan," ucap Lara yang kemudian mengecek waktu lewat jam digital dan ternyata sudah pukul sepuluh pagi. Lara yang hanya mengenakan gaun tipis itu pun memakai kimononya sebagai luaran dan keluar kamar.


Di luar ia melihat semua ruangan nampak sepi tidak ada orang. Ia pun ke dapur untuk minum, dan ternayata di disana pun juga sepi. "Kemana orang-orang ya? Apa mereka semua sudah sibuk beraktifitas di luar? Kalau iya, keterlaluan sekali tidak membangunkanku!" Kesal Lara lalu menuju ke ruang depan, dan lagi-lagi tidak ada orang disana. Lara pun seketika jengkel dan mengeluh saat itu juga. "Menyebalkan, sebenarnya semua orang kemana sih!?"


"Nyonya anda sudah bangun?" Ujar Lena yang baru saja muncul setelah selesai memetik bunga dihalaman untuk ditaruhnya di vas.


"Bibi Lena, kau tau tidak yang lain kemana? Kenapa semuanya meninggalkanku sendirian?"


"Tuan dan yang lainnya sudah berangkat sejak pukul delapan pagi ke perkebunan maple nona. Tuan bilang nona kelelahan jadi tidak usah dibangun saja."


"Dia bilang begitu? Keterlaluan sekali sih!" Ujar Lara kesal.


"Nona apa anda lapar? Kalau iya aku buatkan sarapan buat anda."


"Baik bibi, tolong buatkan aku bubur daging dan sayuran ya. Sementara aku mau mandi dulu."


"Baik Nyonya."


Setelah tiga puluh menit, Lara pun akhirnya selesai mandi. Ia lalu berganti pakaian dan kembali ke meja makan untuk sarapan. Disana ia melihat semangkuk bubur yang dibuatkan bibi Lena untuknya dan langsung melahapnya habis. Selesai makan, Lara pun mencuci bekas makannya lalu mencari keberadaan Lena, namun sayangnya Lena juga seolah raib ditelan bumi.


"Ini sih namanya aku bukan liburan, tapi menikmati waktu sendirian!" Keluh Lara jengkel.


Tidak lama kemudian, tiba-tiba saja Naomi datang dengan tergesa-gesa dan wajah panik memanggil-manggil Lara.


"Naomi ada apa? Kenapa kau tergesa-gesa begini?" Tanya Lara panik.


"Nona- Nona anda harus segera ikut aku!"


"A- ada apa memangnya?" Lara semakin tampak cemas


"Sesuatuβ€” sesuatu terjadi ayo cepat ikut aku!" Naomi menarik tangan Lara dan langsung membawanya berjalan ke suatu tempat.


Di sepanjang perjalanan, Lara yang cemas dan khawatir pun terus bertanya-tanya. "Naomi sebenarnya kau mau ajak aku kemana? Kau jangan buat aku takut begini, ceritakan padaku apa terjadi! Apa terjadi sesuatu yang buruk pada Rey dan Vander? Naomi jawab!"


Naomi tiba- tiba saja berhenti dan menunjuk ke suatu tempat. "Nona Lihat disana!"


Lara pun langsung menoleh kearah tempat yang ditujuk oleh Naomi.


"I- itu tempat apa Naomi?"


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS πŸ™


__ADS_2