Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Pekerjaan dan tanggung jawabnya


__ADS_3

Saat tengah menemani Reynder tidur, Lara tampak melamun. Sampai-sampai, putranya yang tengah mengajak bicarapun tidak dihiraukannya. Melihat sang mama bengong begitu, Rey pun mencupit hidung Lara.


"Eh? Kenapa kau mencubit hidungku?"


"Habisnya Mama malah melamun, Mama kenapa?" Tanya pria kecil itu dengan nada manja, sambil menatap seraya khawatir pada sang mama.


Lara tersenyum dan mencium kening putranya lalu berkata, "Mama baik-baik saja sayang..."


"Sungguh? Apa di kantor ada yang menjahati Mama?"


"Tidak pria kecilku, tidak ada yang menjahati mama. Mama hanya agak lelah saja hari ini, ditambah Mama baru ingat kalau lusa nanti kau akan pergi ke sekolah."


"Mama tidak suka aku pergi sekolah? Kalau tidak suka aku tidak masalah kok!"


"Hei siapa bilang?! Mama hanya masih tidak menyangka saja kalau, bayi kecilku ini ternyata sudah tumbuh sebesar ini," ucap Lara lalu gemas dan mendekap Rey kedalam pelukannya.


"Mama... Meski aku nakal, tapi aku sayang sekali padamu, aku janji akan selalu melindungi mama," ungkap Rey sambil memeluk erat dalam dekapan Lara.


"Mama juga sayang pada Reynder. Sekarang tidur ya, sudah malam."


Reynder pun akhirnya tertidur dalam dekapan ibunya. Sementara Lara sendiri masih belum bisa tidur, ia malah membelai lembut pipi putranya sambil berkata dalam hati. Rey sayang, hari ini sebenarnya Mama bertemu kembali dengan sosok papamu. Tapi sayangnya, papamu yang terlihat dikantor tadi seperti bukan suamiku, karena meski fisik dan suaranya sama, tapi yang terlihat dia malah seperti orang asing.


...🍁🍁🍁...


Hari ini adalah jadwal Rey pertama kali masuk sekolah. Oleh sebab itu sebelum berangkat ke kantor, Lara terlebih dulu harus mengatar Rey ke sekolahnya dan bertemu gurunya.


Di dalam taksi Lara tampak gelisah, mengingat dirinya kini sedang dikejar waktu. Disatu sisi ia tidak boleh sampai terlambat masuk kantor, tapi disisi lain tanggung jawabnya sebagai ibu yang mengantar anaknya di hari pertama sekolah, adalah hal yang sangat penting baginya.


Lara pun hanya bisa berharap, semoga semuanya biss tepat waktu.


Seolah tahu isi kepala sang Mama, Reynder pun berkata, "Mama... Kalau kau sibuk, dan tidak bisa mengantarku ke sekolah hari ini aku tidak masalah kok! Aku kan sudah besar, jadi jangan khawatir."


Mendengar putranya bicara begitu Lara pun jadi terenyuh dan terharu dibuatnya. Ia langsung membelai kedua pipi putranya dan menatapnya dengan lembut. "Rey memang anak pintar, tapi bagaimana pun mama ingin sekali mengantar Rey ke sekolah di hari pertama." Lara tidak mau anaknya nanti, jadi satu-satunya anak yang tidak diantar oleh orang tuanya di hari pertama masuk sekolah.


"Tapi kalau Mama terlambat bagaimana?"


"Kau tenang saja, mama kan pegawai teladan mana mungkin akan telat hehe..."


Bohong! Mama bicara begitu pasti hanya agar aku percaya. Rey sendiri tidak mau melihat mamanya susah hanya demi dirinya.


Setibanya di sekolah Reynder, Lara bersama anaknya itu bergegas memasuki kelas untuk pengenalan siswa baru.


"Selamat pagi Nyonya dan siapa ini?"


"Aku Reynder ibu guru," jawab Rey dengan sopan.


"Wah Reynder sangat manis dan sopan, silakan masuk kelas, dan untuk nyonya bisa silakan duduk sisi belakang kelas untu mendampingiβ€”"


"Mama tidak perlu masuk!" Jawab Rey tiba-tiba.


"Eh Rey? Kenapa memangnya?" Lara sampai tidak mengerti dibuatnya.


"Ibu guru kepala, Mamaku itu harus pergi bekerja, jadi kalau harus lama-lama disekolah dia bisa terlambat dan dimarahi bosnya jadi... aku mohon jangan minta mamaku disini," ungkap Rey memohon.


Seketika Lara langsung menitikan air mata dan memeluk putranya itu. "Sayang, maafkan mama ya."


"Mama jangan nangis disini, lagipula aku anak laki-laki jadi hal seperti ini tidak masalah!" Rey tersenyum yakin agar mamanya tidak khawatir.


"Nyonya, anak anda sangat cerdas dan peka, kalau memang alasannya begitu, kau boleh kok izin untuk tidak berada disini," jelas ibu kepala sekolah.

__ADS_1


Lara ingin sekali menemani putranya di hari pertama masuk kelas. Tapi pekerjaannya juga ia butuhkan untuk bertahan hidup dirinya dan Reynder. Melihat Rey yang luar biasa memahaminya, Lara akhirnya hanya mengantar Rey sampai sini dan setelah itu pamit pergi.


"Rey, mama pergi kerja dulu ya? Kau jadilah anak pintar, dan baik disekolah. Sekali lagi mama minta maaf. Sebagai gantinya, hari minggu nanti mama akan ajak Rey jalan-jalan. Oke?"


Rey mengangguk. "Yasudah mama pergilah cepat, aku mau masuk kelas dulu," ucap Rey lalu pergi.


"Sampai jumpa sayang..." Ucap Lara lalu menitipkan Rey pada gurunya, dan lanjut pergi.


🍁🍁🍁


"Tuan supir tolong lebih cepat lagi!" Pungkas Lara pada supir taksi melihat dirinya hampir terlambat. Sejatinya peraturan Lara sebagai sekretarisnya Vander adalah, dirinya harus datang sebelum bosnya itu datang.


Setibanya di ruangan Vander, Lara langsung bergegas menyiapkan berkas-berkas penting dan meletakannya diatas meja bosnya itu.


Lara menghela nafas. "Huft, untung saja dia belum datang."


"Siapa yang belum datang?" bisik suara dari balik punggung Lara.


"Huh?" Sontak Lara pun langsung tercengang kaget dibuatnya. Ya ampun, sejak kapan dia datang? Dirinya berani menoleh kebelakang karena takut melihat tampang bosnya saat ini.


"Bukankah disurat kontrak sudah tertulis, kalau kau harus datang sebelum aku datang Nona Lara, apa kau lupa?" Bisik Vander di dekat telinga sekretarisnya itu.


Lara kini bisa merasakan desah nafas Vander di dekat telinganya, dan seketika tubuhnya jadi tegang dan telinga serta wajahnya pun terasa panas.


Ya Tuhan... bagaimana ini? Tidak! aku tidak mau dipecat, aku harus segera minta maaf! Lara pun tiba-tiba membalikan badannya dan langsung membungkuk minta maaf pada bosnya itu karena sudah terlambat.


Melihat Lara yang kikuk dan merasa bersalah begitu, Vander pun tersenyum licik. Ia tiba-tiba saja mendongakan wajah Lara dan menatapnya sangat dekat.


Ditatap sedekat itu Lara jadi salah tingkah, tatapan Vander yang sangat mengintimidasi membuat wanita itu tidak berani memandang langsung bosnya.


"Kali ini aku memaafkanmu. Sekarang segera kau ambilkan secangkir kopi untukku," ucapnya dengan melepaskan Lara.


"Ba- baik Tuan."


"Huft! Pantas saja sekretarisnya tidak ada yang lama bertahan, dianya saja auranya begitu!" Gerutu Lara. "Tapi tadi itu..." Lara mengingat saat tadi Vander menyentuh dagunya dan menatapnya sedekat itu. Bagi Lara gestur dan ekspresi Vander dulu dan sekarang sama sekali tidak ada bedanya, sama-sama kuat dan membuatnya hampir gila saat menatapnya. "Hais aku mikir apa sih! Lagipula, selagi pria itu belum mengingatku, dia bukan suamiku!"


...🍁🍁🍁...


Di sekolah saat jam istirahat, Rey terlihat sedang duduk sendirian diatas ayunan sambil mengemut lolipop dimulutnya.


Tiba-tiba saja ada sepasang anak kembar lekaki dan perempuan menghampirinya dan mengajaknya berkenalan.


"Hei aku Jeny, dan ini kakak kembarku Jody, namamu itu kalau tidak salah... Re- re- ren re..."


"Reynder, tapi panggil saja Rey!" Ucap Rey dengan santainya.


"Oke, hai Rey!"


"Hai!"


"Rey kenapa sendirian disini, kenapa tidak main sama yang lainnya?" Pungkas Jody.


"Malas! Lagipula mereka sepertinya tidak suka padaku!" Sebenarnya alasan Rey kabur menyendiri adalah, karena anak-anak perempuan dikelasnya itu dari tadi terus saja berisik memaksanya bermain bersama.


"Tidak mungkin! Rey kan sangat tampan sudah pasti banyak yang mengagumi, tapi Jeny tidak akan kalah dari anak yang lain, yang tetap akan menikahi Rey adalah Jeny!"


Jody menyentil kepala Jeny dan memarahinya.


"Aw! Jody sakit!"

__ADS_1


"Kau itu masih kecil, menikah itu hanya untuk orang dewasa tau!"


Rey tiba-tiba dibuat tertawa kecil melihat perseteruan dua anak kembar itu.


"Rey kenapa tertawa?" Tanya Jeny.


"Soalnya kalian sama-sama aneh, sudahlah ayo kita main bersama!" Ajak Reynder yang sepertinya cukup nyaman dengan kedua anak kembar itu.


...🍁🍁🍁...


"Ah akhirnya aku bisa duduk," pungkas Lara yang akhirnya bisa merasakan empuknya kursi. Hari ini seperti Lara menang tengah dihukum oleh bosnya, karena sejak tadi pagi Vander terus saja berulang kali memanggil dan menyuruhnya dengan alasan yang kadang tidak masuk akal. Lara sendiri jadi merasa kesal dan kewalahan dibuatnya, tapi dirinya bisa apa? Ia hanya karyawan, mana mungkin bisa melawan bos level dewa di kantornya ini.


Namun tak sampai lima menit Lara duduk, bosnya yang menyebalkan itu lagi-lagi malah menanggilnya.


"Orang ini, benar-benar mau buat aku dipecat apa bagaimana sih? Kalau saja dia itu ingat aku ini istrinya, sudah aku hukum dia!" Lara yang mulai hilang kesabaranpun pada akhirnya hanya bisa menggerutu kesal sendiri.


Dan meski kesal ia pun tetap mengehampiri bosnya itu.


"Iya Tuan ada apa lagi?"


"Kau kerjanya disini!"


"Di- disini maksudnya?" Lara tampak tidak paham.


"Di situ ada meja, kau duduk disana!" Vander melihat ke arah meja disudut ruangan yang letaknya tidqk jauh dari meja kerjanya.


"Eh?" Jadi maksudnya aku harus satu ruangan dengan dia begitu? Tidak! Aku tidak mau!


"Ttt- ta- tapi Tuan Vander, kau kan CEO, jabatanmu adalah yang tertinggi di Laizen group, bagaiamana mungkin anda satu ruangan dengan aku yang cumaβ€”"


Lara langsung terdiam seketika, melihat Vander menatapnya dengan sorot matanya yang tajam.


"Nona Lara, bosnya itu aku atau dirimu?"


Dan lagi-lagi Lara tidak bisa melawannya, alhasil ia pun mau tidak mau setuju dan segera memindahkan barang-barangnya ke meja kerjanya yang baru.


Karena meja kerja Lara kini letaknya tak jauh dari meja dimana Vander duduk dan bekerja. Dirinya pun jadi bisa dengan jelas memandangi Vander yang sedang bekerja, dan tanpa sadar wanita itu malah terbuai kagum dan terpesona, melihat betapa fokus dan seriusnya Vander saat bekerja saat ini.


"Dia memang sangat tampan!" Ucap Lara begitu saja.


Sejak dulu Vander memang terlihat sangat tampan dan berkarisma kalau sudah mode serius. Melihat keadaan saat ini, seketika Lara pun jadi merasa tergelitik dibuatnya.


Ini sungguh lucu bukan? Mengingat beberapa tahun lalu Vander yang dulunya bekerja untukku, sekarang malah berbalik keadaan, jadi aku yang kini bekerja untuknya.


Sejatinya Lara sungguh ingin sekali marah lalu bertanya kepada Vander, alasan kenapa dulu dia meninggalkannya. Tapi mengetahui Van yang tidak ingat sama sekali padanya saat ini, rasanya marah pun hanya akan membuat Lara terlihat bodoh.


Huft! Tapi jika dia memang Vander suamiku, aku berharap kau ingat aku lagi.


Saat tengah melamun sambil memandangi Vandet, tiba-tiba saja Vander malah menatap balik ke arah Lara. Sontak wanita itu pun jadi langsung salah tingkah dibuatnya dan jadi tidak berani menatap Vander lagi.


"Sudah mau jam makan siang, kalau kau sudah selesai silakan istirahat," pungkas Vander tiba-tiba.


Huh? Ini benar dia menyuruhku istirahat? Lara sampai tidak tau harus jawab apa.


"Aku hitung sampai tiga kalau tidak menjawab aku akanβ€”"


"I- iya Tuan aku sudah selesai, kalau begitu aku permisi istirahat dulu." Lara pun akhirnya segera kabur meninggalan ruangan itu.


Sementar Vander hanya tertawa kecil, merasa puas sudah mengerjai sekretarisny itu sejak tadi pagi.

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE. PLIS PLIS PLIS πŸ’œ


__ADS_2