
Lara ingin tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Namun mau mengelak pun percuma, Lara tau persis kalau pria itu memanglah Vander.
Lara mencengkeram gelas ditanyannya, matanya menyulutkan rasa marah bercampur kecewa. Van, kenapa dia datang kesini? Kenapa dia menjadi pasangan Karina? Kenapa? Apa yang dia rencanakan sebenarnya?
Jeden datang menghampiri Lara lalu menepuk pundaknya pelan. "Ada apa Lara? Kenapa wajahmu tegang begitu?"
Jeden sendiri sebenarnya tau kalau saat ini Lara pasti tengah fokus memperhatikan Vander yang kini berdiri disebelah Karina.
"Lara bagaimana kalau kita—"
"Aku mau pulang!" Ucap Lara dengan nada kesal.
"Pulang? Tapi acaranya kan baru dimulai," sanggah Jeden.
Aku ingin pulang, aku tidak ingin melihat Van dengan Karina! Yang aku inginkan sekarang adalah penjelasan dari Vander langsung!
Lara meletakkan gelasnya di nampan pelayan, lalu bergegas untuk pergi. Namun oleh Jeden tangan Lara ditarik agar tidak jadi pergi.
"Jeden lepaskan aku, aku mau pergi!"
"Tidak bisa Lara, kalau kau pergi sama saja kau berlari. Apa kau ingin Karina menganggapmu pimpinan yang melarikan diri? Lagipula memang apa alasanmu tiba-tiba ingin pergi?"
Lara terdiam mempertimbangkan ucapan Jeden tersebut. Jeden benar, kalau aku pergi dari sini pasti Karina akan merasa menang dariku. Terlebih Jeden tidak boleh tau alasan kenapa aku tiba-tiba marah begini.
"Lepaskan tanganku!" Titah Lara.
Jeden lalu melepaskan tangan Lara. "Apa kau tetap akan pergi?" Tanya Jeden memastikan.
"Tidak, aku akan tetap disini sampai pesta selesai!" Dan untukmu Vander, kau berhutang penjelasan padaku! Sorot mata Lara terus saja ke arah pria bertopeng itu.
Bagus! Lara kau tidak bisa pergi secepat itu karena kita belum selesai, ungkap batin Jeden.
Vander sendiri tau persis kalau Lara menyadari kehadiran dirinya. Tatapan mereka saling beradu meski dari jauh. Nona Lara aku ingin sekali menangkapmu dan mengatakan alasanku datang.
Sejujurnya batin Vander sungguh ingin meledak rasanya melihat Lara bersama Jeden saat ini.
"Perkenalkan semua ini pasanganku, namanya Tuan V, dia tidak terlalu suka terekspos media jadi dia sengaja mengenakan topeng, tapi yang jelas dia adalah pria yang spesial buatku," ucap Karina lalu menggandeng lengan Vander.
Gemuruh tepuk tangan tamu pun bergema memenuhi seisi ballroom seraya menyoraki kebahagiaan Karina.
Van langsung mencari diaman Lara berada saat ini diantara para tamu undangan.
Kedua mata Van dan Lara pun saling bertemu dari kejauhan, seolah keduanya bisa mengerti apa isi kepala mereka masing-masing.
Van, aku masih menunggu penjelasanmu.
Nona Lara tolong bersabarlah sebentar!
MC pun meminta semua tamu undangan untuk menyanyikan lagu ulang tahun untuk Karina. Setelah itu tiba waktunya sesi potong kue. Semua orang penasaran potongan pertama akan diberikan kepada siapa oleh Karina.
Lara yang kini berdiri tak jauh dari tempat spot utama dimana Karina dan Van berdiri pun terus menatap tajam ke arah mereka. Apa yang mau kau lakukan kali ini Vander?
"Jadi Nona Karina, potongan pertama akan kau berikan pada siapa?" Tanya tuan MC yang gayanya agak melambai itu.
Karina tersenyum penuh arti, "Karena orang tuaku sedang ada di luar negeri, oleh karena itu potongan pertama ini akan aku berikan untuk dia!" Karina lalu memberikan potongan pertama kuenya itu kepada Vander yang ada disebelahnya.
"Wah... Romantisnya...!" Ujar sang MC begitupun para tamu yang hadir mereka semua bertepuk tangan seraya memuji betapa romantisnya Karina.
__ADS_1
Tidak bisa, aku tidak kuat melihatnya! Vander apa kau ingin menyakitiku dengan cara inikah? Gemuruh batin Lara semakin terasa panas dibakar cemburu.
Jeden yang disebelah Lara meliriknya. Ia melihat pandangan mata Lara yang sejak tadi tak bisa lepas memandangi gerak gerik Vander. Dia sampai memandanginya dengan tatapan seperti itu. Apakah kau benar-benar sudah jatuh cinta sedalam itu padanya Lara? Jeden sungguh tidak suka melihatnya.
Karina melirik ke arah Lara dengan senyum jumawa. Ia seolah puas melihat ekspresi Lara yang tampak cemburu dan kesal saat ini. Heh! Ini belum seberapa, aku akan buat kau merasa dihianati oleh pengawalmu sendiri Lara Hazel!
Vander mendekatkan bibirnya ke telinga Karina lalu berbisik. "Jadi maksudmu memintaku adalah untuk ini? Kau mau memanas-manasi Nona Lara?"
Karina menyeringai kecil. "Ya, aku memang sengaja melakukannya." Karena Karina sudah tau sejak awal kalau Lara sudah mengetahui pria bertopeng di sebelahnya ini adalah pengawalnya.
"Kau memang sungguh rubah betina yang licik," sindir Van dengan nada datar.
"Terserah kau bilang apa, yang jelas malam ini kau partnerku. Jadi jangan melirik wanita lain terutama Nona Laramu itu!" Ucap Karina sambil terus tersenyum di depan para tamu.
Lara sudah muak melihat Karina bersama Vander, gadis itu pun memutuskan untuk mencari minuman dan makanan. Hati Lara sungguh panas dibuatnya melihat Vander sejak tadi menempel dengan Karina.
Awas kau Van, akan aku balas kau nanti! Lara menghela nafas mencoba untuk tetap setenang mungkin. "Andai tidak ada wartawan disini, sudah aku siram wajah Karina pakai minuman ditanganku ini!" Gerutu Lara emosi.
Setelah acara perjamuan utama selesai, tiba waktunya acara dansa berpasangan. Di sesi ini tiap tamu dipersilahkan untuk berdansa dengan pasangan yang mereka ajak. Tiba-tiba saja Karina menggandeng Vander dan mengajaknya menghampiri Lara yang terlihat tengah menikmati hidangan sendirian.
"Hai Lara, bagaimana kalau kita kau juga ikut berdansa!" Ucap Karina.
Lara pun langsung memasang wajah masam melihat tangan Karina menggandeng lengan Vander. Jadi seperti ini namanya selingkuh terang-terangan! Lara memandang Van dengan tatapan sinis.
"Kau akan ikut berdansa juga kan?" Ucap Karina.
"Tidak aku mau makan saja!" Dasar perempuan tidak tau malu, laki-laki yang kau gandeng itu pacarku tau! Pria ini juga, apa sih maksudnya diam-diam jadi pasangan Karina, dasar brengsek!
"Nona Lara kau kenapa melihatiku dan pasanganku begitu?"
Ewhh...! Pasangan apa, dasar wanita tidak tau diri!
Kenapa dia tidak berani menatapku, kau pikir pakai topeng begitu akan tidak ketahuan olehku? Lara terus saja menatap Vander dengan tatapan kesal dan marah.
"Baiklah kalau begitu aku dan pasanganku akan berdansa," pungkas Karina.
"Tunggu, aku berubah pikiran. Aku akan ikut berdansa, dan aku akan berpasangan dengan Jeden!" Lara langsung menggandeng Jeden bermaksud memanas-manasi Vander. Lihat Van, kau kira hanya kau yang bisa terang-terangan dekat dengan lawan jenis aku juga bisa, lihat saja!
"Ayo Jed kita berdansa!" Ajak Lara menarik tangan Jeden.
Van lalu menyeringai kecil seraya mengetahui tabiat Lara. Oh... Jadi Nona Laraku yang manis mau membalasku ya? Baiklah, mari kita lihat, kau atau aku yang akan terbakar hangus lebih dulu?
Sesi dansa pasangan pun dimulai, dengan diiringi lagu klasik para pasangan itu berdansa mengikuti iringan musik. Lara dan Van sama-sama berdansa dengan orang lain dengan tujuan saling memanas-manasi.
"Ehem tuan Vander aku tidak menyangka kalau kau pandai berdansa!" Puji Karina
"Terima kasih pujiannya!" Ucap Vander sambil terus berdansa namun matanya selalu saja melirik ke arah Lara yang tengah berdansa dengan Jeden. Membuat Karina jadi jengkel saja.
Disisi lain Lara juga tengah berdansa bersama Jeden namun matanya sesekali melirik Vander.
"Sudah lama sekalinya kita tidak pernah berdansa begini, terakhir kali di acara pesta ulang tahunmu yang ketujuh belas," ungkap Jeden.
"Iya..." Jawab Lara kemudian melirik ke arah Van lagi.
Melihat Lara terus melirik Van Jeden jadi merasa terhina dan marah. Wanita ini kenapa tidak pernah mau fokus padaku sih? Bahkan saat berdansa denganku matanya selalu saja melirik ke arah gelandangan itu!
Musik dansa terus mengalun, hingga pada saat gerakan saling bertukar pasangan Vander yang dengan sigap langsung melingkarkan tangannya di pinggang Lara dan menariknya kedekapannya.
__ADS_1
"Akhirnya aku menangkapmu Nona." Kini posisi mereka akhirnya jadi pasangan dansa. Keduanya berdansa dengan lepas mengikuti alunan lagu bermain.
"Kenapa kau menarikku berdansa denganmu? Sudah bosan dengan Karina?" Tanya Lara dengan nada ketus sambil terus bergerak mengikuti iringan musik.
"Aku sejak awal mau berdansa dengan Nona. Sayangnya baru bisa sekarang," Jawab Van sambil terus berdansa bersama Lara.
"Bohong! Kalau kau ingin berdansa denganku seharusnya kau bersamaku sejak awal, bukan Karina!"
"Aku melakukannya kan juga terpaksa, aku bersedia menemani Karina karena ingin menjagamu dan mengawasimu dari para pria terutama Jeden!"
"Alasan! Kau pakai topeng itu sengaja agar tidak ketahuan olehku kan?"
"Tidak, aku pakai ini hanya karena tidak mau orang melihat wajahku saja."
"Kenapa jahat, kau sudah membuatku marah karena kau tidak jujur padaku Vander!"
"Aku awalnya memang tidak mau menerima ajakan Nona Karina, tapi setelah mendengar kalau kau akan pergi bersama Jeden hatiku panas, aku tidak rela jika kekasihku harus berdansa dengan pria lain dipesta. Oleh karena itu aku mengiyakan ajakan Karina."
"Jadi... Kau sungguh tidak murni datang untuk Karina?"
Vander mengingkat pinggang ramping Lara dengan tangannya semakin erat lalu berbisik ditelingannya. "Aku tidak peduli siapapun disini, yang aku pedulikan hanya kau Nona..."
Wajah Lara memerah. "Kau curang, kau merayuku begini supaya aku tidak marah kan?"
"Kalaupun kau marah dan mau menghukumku aku bersedia menerimanya, yang penting aku bersamamu," Ucap Vander yang kemudian melakukan gerakan mengangkat tubuh Lara.
Semua tamu jadi bersorak melihat aksi dansa Van dan Lara yang memukau
Wah mereka keren!
Pasangan dansa yang hebat!
"Lihat, mereka semua melihat dan memuji kita!" Kata Vander yang masih mengangkat Lara.
"Itu karena kau pakai topeng jadi mencuri perhatian," ucap Lara merunduk melihat Van seolah lebih pendek darinya.
"Itu karena Nona sangat cantik," balas Van yang kemudian menurunkan Lara dan kembali berdansa normal.
"Van entah kau jujur atau tidak, tapi tolong jangan lakukan hal seperti ini lagi. Aku sangat marah padamu tadi. Satu hal lagi, kau tidak diizinkan memuja wanita lain selain aku, kau paham!"
"Aku paham dan akan mengingatnya."
"Oh iya tadi, apa kau sempat terpesona pada Karina saat berdansa dengannya?" Lara penasaran.
"Kau cemburu?"
"Hanya bertanya."
"Dengar, aku bahkan tidak peduli dia ada atau tidak disini, aku hanya peduli padamu."
Vander kata-katamu ini seperti racun yang berbau manis membuatku jadi sulit marah.
"Um, Van... sepertinya kau terlalu erat memeluk pinggangku, orang-orang disini jadi memperhatikan kita," pungkas Lara was was.
"Aku tidak peduli, aku hanya ingin berdansa bersamamu menjeratmu, hingga tidak ada pria lain yang berkesempatan berdansa dengan wanitaku. Karna kau hanya milikku Nona Lara Hazel!" Ucap Vander menatap wanitanya dengan penuh rasa posesif.
Tatapannya, ucapannya, caranya memperlakukanku. Semua itu seperti perangkap yang jsutru dengan suka rela aku masuki tanpa dipaksa. Vander, ternyata kau sudah menjeratku sejauh ini.
__ADS_1
Bersambung...
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH langsun