
Vander yang baru saja mendengar skandal Emily lewat radio di mobil tampak tersenyum puas, dan memuji sang istri. "Istriku memang sangat keren! Iya kan Robert?"
"Iya tuan, nona Lara memang hebat," jawabnya sambil tetap menyetir mobil dengan serius.
Tak lama kemudian, ponsel milik Vander berdering, dan ia pun segera mengangkat telepon dari istrinya itu.
Vander : Halo istriku, bagaimana harimu?
Lara : Baik tapi juga tidak terlalu.
Vander : Kenapa? Apa ada yang membuat masalah denganmu?
Lara : Emily dia... (Lara kemudian meceritakan insiden yang terjadi antara dirinya dan Emily di Lavioletta)
Vander : Tapi kau baik-baik saja kan? Apa dia melukaimu?
Lara : Ya, aku baik-baik saja. Tapi Emily sepertinya terluka lumayan parah.
Vander : Yang penting kau baik-baik saja, wanita itu mau sekarat juga aku tidak peduli. Asal kau sehat dan bahagia itu yang terpenting.
Lara : Kau ini...
Vander : Oh iya, setelah ini apalagi yang ingin kau lakukan?
Lara : Belum terpikir, yang jelas aku ingin wanita pembuat onar itu merasakan karmanya.
Vander : Lakukan apapun yang kau inginkan, aku akan selalu membantu mengabulkannya.
Lara : Terima kasih sayangku...
Vander : Aku tidak ingin ucapan tanda terima kasih, aku ingin tanda terima kasih yang nyata (tersenyum penuh intrik)
Lara : Jadi...?
Vander : Aku menantikan apa yang akan kau berikan padaku sebagai tanda terima kasih.
Lara : Okey... sampai jumpa malam nanti.
Vander : Aku tidak sabar menantikannya.
Lara : Bye sayangku...
Vander : Bye istriku...
Vander mematikan ponselnya lalu tersenyum lega.
Melihat tuannya begitu tenang dan senang, Robert yang tengah menyetir tiba-tiba saja mengingatkan Vander, kalau minggu depan ia harus berangkat ke Crux untuk mencoba serum buatan dokter Dominic.
"Ah iya, aku baru ingat. Baiklah kau atur saja minggu depan."
"Baik Tuan."
...πππ...
Malam harinya...
Karena kebetulan hari ini Vander pulang agak lebih malam dari biasanya, Lara yang berniat memberikan hadiah untuk sang suami pada akhirnya duluan ke apartemen Vander yang berada di paling atas, dan menunggunya disana.
Sambil menunggu sang saumi pulang, Lara pun memutuskan untuk berendam dan memanjakan dirinya dengan air hangat aroma terapi. Tapi... tiba-tiba saja wanita itu malah berubah pikiran. Dirinya malah memilih untuk membuka bingkisan yang diberikan oleh Miranda padanya saat ia berkujung ke kafe waktu itu. Mira bilang itu pakaian yang bagus untuk menghibur suami. Karena penasaran, Lara kemudian membuka bingkisan itu, dan tada... Lara langsung syok dibuatnya, melihat ternyata isi hadiah dari Mira tersebut adalah, satu set pakaian ala pelayan wanita yang super seksi.
"Eh, apa-apaan ini? Ke- kenapa memberiku memberiku pakaian ini sih!" Lara berpikir sejenak dengan wajah yang seketika memerah. "Apa mungkin permainan kostum semacam ini bisa buat Vander bergairah...?" Wanita itu seketika membayangkan adegan panas. "Aduh rasanya malu, tapi...aku penasaran juga sih..."
Tak lama kemudian, Vander yang akhirnya pulang pun masuk ke apartemennya. Pria itu tampak melepas dasi dan kacing kemejanya dengan satu tangan, lalu duduk bersandar di sofa melepas rasa lelah.
"Siapa disana?" Ujar Vander yang sadar ada langkah seseorang datang. Dan seketika pria itu menelan ludah kala melihat sosok yang ternyata adalah sang istri, muncul dengan pakaian pelayan wanita super seksi. Dan dalam sekejap tubuh Vander pun bereaksi.
"Tuanku sepertinya anda lelah, mau kubuatkan makanan, kupijat, atau mau mandi? Atau..." Lara seketika duduk dipangkuan suaminya dan menatapnya seraya menggodanya sambil meraba dadanya yang bidang dan berbisik, "Atau tuan mau diriku?"
Vander tersenyum kecil. "Aku tidak ingat punya pelayan sepertimu di tempatku? Apa kau dikirim dari surga khusus untuk melayaniku, nona?"
"Sepertinya begitu," ucap Lara yang tertawa geli. "Tuan, anda ini agak tidak sabaran ya, aku baru menggodamu begini tapi yang dibawah perutmu sudah tegang duluan."
"Itu terjadi secara alamiah, melihat makhluk semenggoda dirimu duduk diatas pangkuanku."
Lara tersenyum, lalu mencium bibir suaminya. "Bibir tuan lagi-lagi agak kering, apa aku harus menjilati bibirmu setiap saat supaya lembab?"
"Kalau kau bersedia aku tidak keberatan sama sekali."
Lara tiba-tiba beranjak dari pangkuan suaminya, dan memyuruh suaminya itu tunggu saja disana. Tak lama Lara pun datang kembali dengan membawa sebotol wine mahal koleksi suaminya, lalu dituangkan ke gelas, dan memberikannya kepada Vander untuk diminumnya. Vander pun meminum anggur tersebut sampai habis.
"Tuan segelas lagi," pinta pria itu.
Lara pun langsung menuangkannya, namun kali ini Vander tidak langsung meminumnya.. Ia justru malah meminta sang istri untuk kembali duduk diatas pangkuannya, dan menghadap dirinya.
"Tuan kenapa tidak minum anggurnya?"
Vander tersenyum lalu meneguk anggurnya dan kemudian mencium sang istri.
Glek, glek!
Lara meminum anggur dimulut Vander, seketika tubuhnya jadi panas.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Vander melihat ekspresi istrinya seolah tak berdaya.
"Vander..."
"Nona pelayan kau semakin cantik dan menggoda kalau pasang tampang begitu. Sepertinya kalau begini lebih seru..." Vander lalu menyiram tubuh Lara dengan wine dan menjilatinya.
"Eughhh... Vander ini..."
"Panggil aku tuan, kau hari ini jadi pelayanku kan?"
Tubuh Lara menggeliat dan semakin bereaksi, "T- ta- tapi tuan aku belum mandi."
__ADS_1
"Tidak masalah, aromamu tetap enak dan menggugah selera." Ujarnya sambil terus menyesap dan menjilati tubuh Lara yang kini sudah setengah tanpa busana. Pria itu menyesap ujung buah dada sang istri hingga suara desahannya pun terlontar.
"Ini enak, mungkin rasanya bayi saat menyusu begini?" Ucap pria itu tanpa malu dan kembali menyesap layaknya balita yang tengah menyusu.
Setelah puas melakukanya dibagian atas, Vander meminta Lara duduk dan membuka lebar kedua kakinya.
"Ah sudah sebasah ini?" Ucap pria itu dengan nada nakal melihat bagian ****** ***** istrinya sudah basah. Dilepasnya ****** ***** yang basah itu oleh Vander, dan langsung dilummatnya daging dihadapannya.
"Vander..." Lirih Lara yang sepertinya sudah tidak tahan lagi.
Pria itu mengelap bibirnya yang basah dan menatap penuh rasa dahaga. "Pelayanku yang cantik kau terlalu menggoda hari ini. Dan sepertinya semakin basah akan semakin menyenangakan."
Vander tiba-tiba menggendong tubuh Lara dan membawanya masuk ke kamar mandi. Malam itu Lara benar-benar seolah tidak diberi celah kabur oleh suaminya yang menggila. Bahkan selesai dari kamar mandi, mereka masih berlanjut diatas ranjang yang empuk dan hangat.
Keesokan harinya, Lara kesiangan bangun. Matanya pun langsung terbuka lebar saat dirinya tahu saat ini sudah pukul dua belas siang, sementara ia masih berada diatas tempat tidur dengan tanpa busana dan hanya berlilitkan selimut tebal.
"Dasar Vander gila! Dia itu sejenis monster atau apa sih!" Keluh Lara yang merasakan sekujur tubuhnya nyeri saat ingin bersandar duduk diranjang.
Tidak lama kemudian masuklah bibi Frida yang membawakan semangkuk sup ayam jahe dan buah untuk Lara.
"Nyonya maaf ya mengganggu tidur anda, tapi tuan bilang aku harus bawakan makanan untuk anda."
"Ah bibi terima kasih ya sudah repot-repot naik keatas untuk bawakan aku makanan. Oh iya tadi pagi saat aku tidak ada di apartemen, apa Reynder mencariku?"
Bibi Frida tersenyum dan menjelaskan ke Lara, kalau tadi pagi sebelum berangkat ke kantor, tuan datang menemani tuan kecil sarapan dan menjelaskan alasan nyonya menginap di apartemen tuan.
"Eh- Va- Vander bilang apa?" Lara penasaran sekaligus khawatir, karena takut suaminya malah bicara aneh ke putranya.
"Ah tuan hanya bilang, nona ada pekerjaan yang harus dikerjakan di tempat tuan hingga larut, makanya nona harus menginap disana."
"Oh..." Lara tampak lega.
Maaf ya nyonya...
sebenarnya tuan bilangnya ke tuan kecil kalau kalian sedang melakukan project untuk medatangkan adik buat tuan kecil, sayang aku tak boleh bilang yang sebenarnya pada anda.
"Yasudah, kalau begitu bibi boleh kembali kerja. Tapi satu jam lagi tolong bawakan aku pakaian dan sepatu kesini ya."
"Eh, nyonya mau bekerja? Tapi tuan bilang, anda katanya tidak usah kerja dulu hari ini."
"Tidak kok, aku hanya mau keluar bertemu seseorang saja. Nanti aku akan bilang pada Vander."
"Oh baiklah kalau begitu aku permisi dulu nyonya..."
Lara mengangguk.
...πππ...
Di rumah sakit, Emily yang sudah sadarkan diri tiba-tiba saja mendadak berteriak histeris saat dokter memberitahunya kalau, dirinya mengalami patah tulang kaki yang cukup parah dan kemungkinan penyembuhannya cukup lama. Sekitar 10-12 bulan penyembuhan, jadi mau tidak mau Emily harus menggunakan kruk untuk berjalan sementara ini.
"Tidak mungkin, tidak! Aku yang seorang model bagaimana bisa aku pincang! Tidak...! Aku tidak mau berjalan pincang!"
Tentu saja hal itu membuat Emily syok berat, mengingat sebagai model kaki adalah aset paling berharganya dalam berkarir.
"Tenang kau bilang?! Heh dokter bodoh, aku ini model bagaimana bisa aku tenang, kontrak kerjaku, karirku, asetku semuanya dan wajahku penuh luka. Kau bilang tenang, apa kau sinting!" Emily menggertakan gerahamnya dan menatap marah, "Ini semua tidak akan terjadi kalau bukan karena wanita sial bernama Lara itu. Dia itu pantasnya mati saja dibanding hidup! Aku benci sekali padamu Lara!" Serunya sambil melempar bantal ke arah dokter dan perawat.
...πππ...
Lara, Naomi, dan Miranda tampak ketemuan di Miracle. Disana mereka bertiga membahas soal keadaan Emily saat ini. Naomi yang sudah diminta oleh Lara memantau keadaan Emily di rumah sakit pun bercerita tentang keadaan wanita itu saat ini yang syok dan frustasi.
"Jadi dia sekarang hampir gila? Rasakan!" Sahut Miranda tertawa puas.
"Iya dia sangat terguncang, apalagi kaki yang aku tahu aset yang paling berharga baginya malah harus cedera untuk waktu yang lama. Ditambah hampir semua perusahaan yang bekerjasama dengan Emily, tiba-tiba saja langsung membatalkan kontrak," terang Naomi.
Mendengarnya Lara jadi agak iba rasanya. "Sebenarnya kasihan juga sih tapiβ"
"Aduh Lara, kau itu jangan kambuh lagi naifnya. Apa yang dia alami saat ini adalah buah dari perbuatan jahatnya, jadi jangan merasa kasihan apalagi merasa bersalah begitu," tegas Miranda yang tidak ingin sifat mudah kasihan Lara kembali dimanfaatkan orang.
"Nona Miranda benar, Nona itu jadi orang tidak perlu terlalu mudah kasihan. Mengasihani orang juga kan harus pilih-pilih," imbuh Naomi.
Lara tersenyum paham. "Ya, kalian benar. Bagaimana pun Emily memang pantas dapat ganjarannya."
...πππ...
"Sial! Kenapa semua kontrak kerjaku dibatalkan! Kenapa... Kenapa?!" Teriak Emily tidak terima.
"Ya mau bagaimana lagi, keadaanmu sudah begini mana ada yang mau pakai jasamu sebagai model iklan mereka," ujar Dave selaku GM dari agensi tempat Emily bernaung.
"Arggghhh... brengsek!" Ujarnya frustasi.
"Oh iya satu lagi, mulai hari ini kau juga sudah tidak bisa tinggal di Caelestis Garden mengingat, kau sudah tidak bisa membayar sewanya yang sangat mahal."
" Ja- jadi maksudmu aku sekarang tidak punya tempat tinggal?!"
"Ada sih, tapi di dorm agensi."
"Apa?! Dorm kecil itu kau bilang tempat tinggal? Kau sudah gila! Aku tidak mau tinggal ditempat sempit itu!"
Dave pun seolah pasrah dengan sifat egois dan hedon Emily yang sudah tak terukur. "Terserah kau sajalah, sudah begini masih bisa sombong! Sudah aku mau pergi!"
"Hei Dave, kau mau kemana hei! Argh kalian semua memang sampah!" Teriak wanita itu.
Tidak lama kemudian, masuklah Lara yang ditemani Naomi dan Tori menemui Emily di ruangan tempat ia dirawat. Melihat kehadiran Lara seketika emosi model itu pun membuncah. "Kalian mau apa kesini, pergi! Terutama kau j@lang sialan, pergi kau!"
Lara menatap Emily dengan miris. "Ya ampun, kau ini sudah seperti ini masih saja kasar dan sombong. Apa kau tidak takut karma lain mendatangimu?"
"Berisik! Aku akan balas kau nanti, lihat saja akan ku hancurkan wajahmu yang hina itu! Pergi sana!"
"Nona Lara sebaiknya kita segera pergi, tidak ada gunanya juga kau menengoknya. Sekali jahat wanita ini akan tetap jahat."
"Kau juga dasar manusia rendahan, sudah kupungut malah menjilat j@lang ini!" Maki Emily ke arah Naomi.
"Emily... lebih baik kau minta maaf dan akui semua kesalahanmu. Barangkali kita bisa menjalani hidup lebih baik," ucap Lara.
__ADS_1
"Berisik! Aku tak sudi minta maaf, kau itu pantasnya pergi ke neraka!"
"Nona Lara awas!"
PRYARNGGG! Emily melemparkan vas bunga ke arah Lara, untungnya ada Tori yang sigap dan menghalangi vas bunga itu dengan tangannya.
"Tori!" Seru Lara.
"Tuan Tori anda tidak apa-apa kan?" Ucap Naomi melihat tangan Tori terluka kena vas bunga.
"Emily apa kau sudah gila!" Seru Lara marah.
Emily tertawa, "Aku gila? Kau yang gila! Kau terima ini dasar hina!"Wanita lagi-lagi melemparkan benda ke arah Lara, dan kali ini adalah gelas mug, untungnya lagi-lagi seseorang melindungi Lara dengan memeluknya.
"Vander?" Lara melihat suaminya memeluknya agak tidak kena lemparan gelas Emily.
"Kau tidak apa-apa kan?"
"Iya, ta- tapi kau?"
"Aku tidak apa-apa, tenang saja hantaman seperti itu tidak bisa melukaiku."
Kali ini kesabaran Vander sudah tak terbendung, ia langsung menatap Emily dengan tatapan penuh amarah.
"Vander kau kemari menemuiku kan sayang... Lihat wanita jal@ng itu diaβ dia uhuk ugghh... Uhuk!" Vander seketika mencekik leher Emily
Melihat wajah Emily hampir membiru kehabisan oksigen, Lara pun meminta sang suami melepaskannya. "Vander lepaskan!"
"Kenapa? Dia sudah menyakitimu."
"Jangan kotori tanganmu hanya untuk wanita rendahan itu."
Vander pun terpaksa melepaskan cengkraman tangannya dari leher Emily.
Dan sekali lagi, Lara memberi kesempatan kepada Emily untuk memohon maaf padanya. Namun kesombongan Emily yang sudah mendarah daging membuatnya tetap angkuh dan malah terus memaki Lara. Hingga pada akhirnya Lara yang awalnya masih berbaik hati berubah tak jadi peduli lagi. Ia pun mentap Emily dengan jumawa dan berkata, "Kau tahu Emily, kau itu sudah kalah dalam semua hal dariku. Lihat, kau sekarang miskin, karir hancur, dan satu lagi... Mulai hari ini kau bukan lagi Global Ambassador di Lavioletta."
"Cih! Apa hakmu bicara begitu, kau siapa?!"
Lara menyeringai. "Aku bosnya disini."
Emily tertawa. "Bosnya? Dasar wanita penghayal."
"Kau mau bukti?" Lara kemudian menyuruh Vander untuk memblacklist semua hubungan kerja Emily yang tersisa.
"Tu- tuan Vander kau ti- tidak akan lakukan kan?" Emily berharap.
Vander tersenyum kecil lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon Robert, memintanya segera melakukan boikot diseluruh negeri dan luar negeri terhadap Emily.
"Masih tidak percaya aku bosnya disini?"ujar Lara jumawa.
"Ti- tidak mungkin, tu- tuan anda ke- kenapa, kenapa kau menurutinya?"
"Emily kau tidak bisa memohon pada Vander. Karena satu-satunya yang ia turuti hanya aku, bahkan jika aku minta Vander untuk membunuhmu saat ini juga, dia pasti akan lakukan."
"Ka- kau gila! Tidak, kau gila Lara, kau tidak warasβ"
"Kau yang tidak waras! Aku sudah muak dari tadi memberi kesempatan padamu yang sombong ini. Sekarang kesabaranku sudah habis, aku tidak peduli lagi mau kau sengsara, mati, ataupun tersiksa. Yang jelas kau akan dapat hukuman!" Tegas Lara.
Dan tak lama polosi pun datang dengan surat penangkapan Emily atas kasus penerimaan aliran dana dari terpidana korupotor, yakni pejabat yang pernah jadi selingkuhannya.
"Ti- tidak, aku tidak mau dipenjara aku tidak mau...!" Emily menjerit memohon kepada Vander agar membantunya.
"Maaf, tapi aku hanya membantu orang yang disukai Lara," ucap Vander menyuruh polisi membawa Emily pergi.
"Tidak mau! Lepaskan! Polisi kalian tidak bisa menangkapku lepaskan! Lepas...!!"
Setelah polisi membawa Emily, Lara, Vander besertan Tori dan Naomi pun meninggalkan rumah sakit.
"Umβ nona dan Tuan, aku rasa aku pulang nanti saja, aku mau membawa Tori mengobati tangannya dulu," ucap Naomi.
Vander pun tersenyum dan langsung menggandeng tangan Lara dan mengajaknya pergi duluan.
...----------------...
Setibanya diparkiran mobil Lara pun protes dan berkata, "Vander kenapa menarikku pergi duluan? Tori kan terluka karena melindungiku. Aku kan harus ucapkan terima kasih dulu padanya," ungkap Lara yang merasa tidak enak meninggalkan Tori.
"Tidak perlu, dia kubawa dari Crux memang tugasnya untuk melindungimu, jadi sudah kewajibannya begitu. Toh disana ada Naomi yang menemani."
"Tapi kan..."
Vander memeluk Lara erat dan berkata, "Setelah semua ini tolong jangan pikirkan siapapun selain aku, okey?"
"Baiklah Vander, aku juga cukup lelah setelah semua ini."
"Oh iya Vander, karena masalah ini sudah selesai mari kita makan berdua untuk merayakannya," ajak Lara.
"Boleh, tapi siapa yang traktir?"
"Tentu saja kau, suamiku."
"Nyonya Vander, bagaimana bisa kau minta traktir karyawanmu sendiri?"
"Aku tidak peduli, meski aku sudah memberimu gaji sepuluh juta dolar perbulan. Tapi gajimu itu kan tetap hakku sebagai istri," jawab Lara tersenyum.
"Kau benar, uangku uangmu, uangmu ya uangmu. Begitu kan konsepnya?"
"Anak pintar, muah.." Lara mencium pipi suaminya.
"Masih kurang Lara, harusnya begini..." Mereka pun saling mengecup bibir dengan mesra.
Setelah ini... Aku hanya ingin hidup lebih, dan lebih bahagia lagi dengan pria ini. Dia suamiku, cintaku, kesayanganku, aku hanya ingin bahagia bersama Vander dan keluarga kecilku.
...ππππ...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS π