
Diperjalan menuju kantor, Robert yang tengah menyetir mobil tampak memperhatikan tuannya yang kini sedang sibuk dengan gadgetnya lewat kaca spion. Disana Robert merasa kalau tuanya sudah beberapa hari terakhir ini suasana hatinya selalu baik, sejak kejadian dimana tuannya itu mengantar Nona Lara bersama putranya pulang ke apartemennya. Sebagai tangan kanan Vander, tentu saja Robert merasa ikut senang melihat tuannya selalu tampak segar dan bersemangat seperti sekarang. Tapi disamping itu, Robert juga jadi penasaran tentang hubungan Vander dan Lara, Robert merasa kedekatan tuannya dengan Lara semakin hari tampak semakin tidak biasa. Hal itu pun memicu keingintahuan Robert tentang seberapa jauh hubungan mereka saat ini.
"Robert kenapa kau terus melihatiku?" Pungkas Vander yang tidak disangka ternyata sadar kalau diperhatikan oleh asisten pribadinya itu lewat kaca spion.
"Ma- maaf Tuan, sebenarnya aku hanya ingin bertanya pada anda soalβ"
"Soal apa?"
"Tuan aku ingin tahu, apakah anda menyukai Nona Lara? Maksudku dalam artian..."
"Ya, aku menyukainya" jawab Vander dengan entengnya.
"Ta- tapi bukankah dia sekretaris anda?"
"Iya, lalu kenapa? Apa ada larangan aku tidak boleh menyukai sekretarisku sendiri?"Β Balas Vander dengan santainya.
"Bukan begitu tuan, tapi jika anda menjalin hubungan yang lebih dari 'sekedar rekan kerja' dengan pegawai anda, bukankah akan menimbulkan banyak rumor miring di lingkup pekerjaan?"
Vander tersenyum remeh, "Aku tidak pernah melarang adanya hubungan di perusahaanku. Semua karyawanku bebas ingin berpacaran ataupun menikah dengan sesama rekan kerjanya. Hal itu tidak masalah asalkan kerja mereka tetap bagus, lalu kenapa kau mengkhawatirkanku?"
"Karena anda berbeda tuan, anda adalah CEO sekaligus figur yang cukup dikenal baik dikalangan pebinis ataupun diluar itu. Aku yakin akan ada berita simpang siur kedepannya jika anda terusβ"
"Sudahlah Robert, aku bukan anak kecil lagi. Urusanku mau menjalin hubungan dengan siapapun itu bukan urusanmu. Lagipula, Lara dan aku melakukan pekerjaan dengan sangat profesional, diluar pekerjaan itu lain cerita."
"Iya tuan, aku minta maaf."
Robert yang sarannya selalu diterima, baru kali ini merasa sarannya tidak dianggap hanya demi seorang wanita. Ia jadi semakin penasaran, siapa sebenaranya Lara? Kenapa wanita itu bisa mempengaruhi hidup Vander sampai seperti ini? Aku harap wanita itu benar-benar tidak memiliki tujuan lain terhadap tuan.
"Robert!"
"Iya Tuan?"
"Menurutmu, di kehidupanku sebelumnya, apa mungkin aku pernah bertemu Lara?"
"Eh? Apa maksud anda Tuan?
Vander bertanya begitu karena dibeberapa momen dirinya bersama wanita itu, ia merasa seperti ada hal yang tidak asing yang ia rasakan. "Kau tahu istilah 'De javu'? Ya seperti itulah kira-kira yang aku rasakan setiap aku bersama Lara. Aroma tubuhnya, sentuhannya, semuanya seperti membawaku ke kejadian yang tidak asing." Seperti aku sudah lama mengenalnya.
"Menurutmu bagaimana Robert?"
"Menurutku, hanya tuan sendiri yang tahu jawabannya. Terkadang perasaan dan pikiran tidak sinkron itu wajar tuan, dan perasaan itu kadangkala menyimpan kenangan lebih kuat daripada memori otak kita. Itu sebabnya perasaan tidak bisa dimasukan ke dalam studi medis."
Vander hanya bisa setengah tertawa mendengarnya.
...πππ...
Di ruangannya Lara terlihat sedang sibuk menyusun jadwal pertemuan bosnya untuk seminggu kedepan. Mengingat besok dan lusa Vander akan ada di luar kota, alhasil Lara harus mengatur ulang pertemuan semua klien sampai dua hari kedepan.
"Dia tiga kali lebih sibuk dibanding aku dulu saat jadi CEO, hem... sepertinya dia memang lebih cocok dengan jabatan itu dibanding aku," ungkap Lara yang takjub melihat list jadwal pertemuan serta acara Vander sebagai CEO dibanding dirinya dulu. Sebenarnya hal itu wajar, mengingat Laizen grupn skala perusahaan jauh lebih besar dibanding Miracle dulu. "Oh iya Miracle, apa kabar perusahaan itu sekarang ya? Apa Jeden bisa menghandelnya? Terakhir tahun lalu aku dengar perusahaan itu hampir mengalami likuidasi." Lara tiba-tiba jadi agak merasa berasalah karena sudah meninggalkan perushaannya itu. Tapi bagaimanapun ia tidak menyesal dengan keputusan yang sudah ia ambil.
"Eh, selamat pagi tuan Vader," sapa Lara melihat bosnya itu masuk ke dalam ruangan. Hari ini Lara melihat Vander agak berbeda, pria itu berpakaian tampak lebih kasual dari biasanya. Hari ini ia hanya mengenakan kaos polos berwarna hitam dengan luaran blazer panjang berwarna abu-abu dengan celana hitam. Dengan postur tubuhnya yang tinggi dan tegap menurut Lara Vander jadi tampak seperti model yang berada diatas panggung runaway. Aduh aku berpikir apa sih!
"Mau berapa lama lagi Nona cantik melihatiku?" Tutur Vander yang tiba-tiba saja sudah berada di depan meja kerja Lara.
"Ah- anu aku... Aku mau menyerahkan ini padamu." Lara kemudian menyerahkan sebuah dokumen untuk ditanda tangani Vander. Sayangnya, Vander menolak hal itu karena ia merasa Lara tidak sopan pada atasannya karena tiba-tiba saja menyodorkan pekerjaan sementara bosnya saja belum duduk sama sekali.
"Maaf tuan," ucap Lara jadi malu sendiri rasanya.
Pria itu pun langsung menuju ke kursi kerjanya dan meminta sekretarisnya itu membawakan secangkir kopi bersama dokumen yang harus ia tanda tangani.
Tak lama kemudian, Lara pun kembali dari pantry membawakan secangkir kopi dan juga dokumen yang harus ditanda tangani Vander.
"Kalau begitu aku permisi kembali ke tempat kerjaku."
"Tunggu!" Vander menahan Lara dan meminta wanita itu agar tetap berada disampingnya, selama ia mempejari dokumen itu sebelum ditanda tangani.
Berdiri di dekat Vander tanpa melakukan apa-apa, membuat Lara terlihat canggung rasanya.
Sementara itu, lewat ekor matanya Vander melirik sekretarisnya yang kini berdiri disebelahnya. Bagi Vander Lara tampak cantik mengenakan rok selutut dengan belahan di samping kanannya, dipadukan kemeja berwarna merah berlengan pendek yang membetuk lekuk tubuhnya yang indah. Lara juga menggunakan scraft motif daun di lehernya, meski tampak cantik namun membuat leher jenjangnya jadi agak tertutupi. Dan dengan usilnya Vander tiba-tiba menarik scraft itu dan mengambilnya.
"Eh? Apa yang kauβ la-ku-kan?"
Keduanya kini saling mentap dengan begitu dekat satu sama lain. Lara menarik tubuhnya menjauh dari Vander sambil memegangi lehernya dan minta Van mengembalikan scraftnya.
"Tuan, ini kita sedang kerja berhenti menjahiliku!"
"Aku tidak menjahilimu, lagipula lehermu cantik aku suka."
"Berhentilah menggombaliku tuan, kau tidak takut bawahanmu yang lain lihat, kau menggoda pegawaimu?"
"Menggoda? Hem... Bukannya Nona Lara duluan menggodaku?"
"Aku- aku tidak pernah menggodamu, akuβ aku tidak mungkin menggoda bosku sendiri."
"Oh ya?" Vander bangkit dari duduknya dan berdiri dibelakang Lara lalu berbisik ditelinga wanita itu. "Kau memang tidak menggodaku secara langsung, tapi di apartemenmu kau bilang kau memberiku kesempatan bukan? Apa kau lupa?"
__ADS_1
"Soal ituβ aku eghh... Agh! Tuan kauβ!" Tiba-tiba saja Vander memberikan kissmark dileher wanita itu. Lara pun langsung protes dan kesal. "Kenapa kau lakukan itu?"
"Sebagai tanda, lagipula scraftmu jadi ada gunanya kan untuk menutupinya," jawab Vander dengan entengnya.
"Dasar bos mesum!"
"Oh aku suka julukan baru itu, bagaimana kalau kita lakukan yang jauh lebih mesum lagi?" Ucap Van diikuti ketawa usilnya.
"Tuan jangan macam-macam!"
"Aku tidak mau macam-macam, aku hanya mau satu macam yaitu dirimu," goda Vander lagi. "Lagi pula dua hari nanti aku tidak ada, apa kau tidak akan merindukanku?" Vander mendongakan dagu Lara dengan jemarinya yang panjang dan menatapnya intens.
"Kenapa aku harus merindukanmu?" Dia masih tanya begitu, kau bahkan kini melupakan aku! Dasar suami pikun!
"Ayolah, aku mau pergi jangan melepasku dengan wajah ngambek ataupun kesal. Beri aku hadiah supaya aku semangat menjalani hari-hariku jauh darimu."
"Kau minta hadiah dariku, memang kau sudah beri aku apa Tuan Vander?" Lara menatap balik suaminya itu seraya menantangnya.
"Nona Lara ingin apa?" pungkasnya dengan suaranya yang berat namun terdengar lembut.
"Aku mau duduk di kursi jabatanmu!"
Vander menyeringai kecil, ia kemudian langsung menggendong sekretarisnya itu dan menaruhnya duduk dikursi miliknya.
"Vander kau!" Lara sampai kaget dibuatnya dengan kelakuan suaminya tersebut.
"Sudah kan, lalu mau apa lagi?" Ucap pria itu.
Melihat Vander seperti ini, mengingatkan Lara dulu saat pria itu masih jadi pengawalnya. Vander dulu sangat menurut pada Lara apapun perintahnya pasti akan dilakukan pria itu. Lara jadi penasaran apakah Vander yang sekarang lupa ingatan, masih memiliki naluri itu terhadapnya? Lara seketika tersenyum jahil. Kita lihat apa dia masih mau menuruti kemauanku seperti dulu?
"Umβ karena aku sudah duduk disini jadi itu artinya aku bosnya dan kau bawahanku, jadi berlututlah dihadapanku dan puji diriku!" Titah Lara.
Sayangnya Vander malah diam saja, sontak Lara jadi takut dibuatnya. Aduh apa aku sudah keterlaluan ya? Jangan-jangan dia marah? "Emβ, Tuan Vander lupakan saja ya, lagipula aku hanyaβ Eh?" Lara seketika kaget melihat Vander tiba-tiba sungguhan berlutut didepannya dan mencium tangannya. "Nona Lara yang cantik, aku menunggu perintahmu."
Eh? Dia benar melakukannya? Ya Tuhan, aku- aku harus bagaimana ini? Kenapa aku malah jadi takut begini? "Tuanβ aku sebenarnya hanya..."
Vander menatap Lara dengan tatapan yang lugunya. Tatapan yang sudah lama sekali ia tidak melihatnya di sorot mata pria itu sejak kembali lagi ke kota ini.
Tidak, aku tidak bisa menahannya lagi kalau sudah begini, aku sungguh masih sangat mencintai pria ini. Meski dia sedang lupa padaku, tapi perlakuannya padaku, caranya menatap masih sama, dia Vanderku, suamiku... Lara menyentuh wajah Vander lalu menunduk dan mengecup bibirnya dengan lembut selama beberapa saat dan berkata dengan lirih. "Hati-hati dijalan, aku akan menunggumu disini tuan Vander."
Vander tersenyum, "Sampai ketemu dua hari lagi," Dan mereka pun berciuman lagi.
...πππ...
Sementara itu, Emika yang hari ini menjemput Rey saat di taksi menuju perjalanan pulang bertanya pada pria kecil itu soal rencanannya waktu itu apa berhasil?
"Oh begitu? Tapi kurasa wajar saja, mana ada orang langsung mengaku cinta sekali ditanya?"
"Iya sih."
"Lalu kedepannya bagaimana?"
"Oh iya, akhir pekan nanti paman Vander janji akan membelikanku pesawat RC aeromodelling, dan mengajariku juga, dan saat itu aku akan buat progress kemajuan buat mereka."
"Rencana bagus, lalu aku harus apa Rey?"
"Tunggu aba-aba dariku saja,"
"Oke! Pokoknya aku dipihakmu Rey kecil," ucap Emika mencubit gemas pipi Rey.
"Terima kasih bibi Emika yang cantik!" Rey tampak semakin tidak sabar hari itu tiba.
...πππ...
Di Crux, setelah selesai menjalani pemeriksaan dan pengambilan sampel darah di lab dokter Dominic, Vander memutuskan untuk pergi ke area berkuda ia bilang ia rindu berkuda saat itu.
"Tuan Vander, sepertinya kau semangat sekali ya sejak datang kemari? Dan dari hasil cek darah juga tekanan darahmu sangat bagus, apa tuan tampan Vander sedang berbahagia?"
Vander menoleh ke arah Dominic dan dan senyum menyeringai, "Menurut dokter Dominic?"
"Menurutku iya."
Vander lagi-lagi hanya tersenyum keci lalu pamit pergi. "Aku pergi dulu!"
"Dah Tuan!" Balas Dominic. "Hem,aku jadi penasaran apa yang membuat Raja dari Crux ini tampak senang sekali?" Dominic terlihat begitu penasaran.
Tak lama kemudian ada yang mengetuk ruangan Dominic.
"Masuklah!" Dominic langsung melihat siapa yang datang. "Oh Robert, ada apa?"
"Sebelumnya aku minta maaf karena sudah mengganggu waktumu dokter."
"Tidak masalah, aku tidak terlalu sibuk kok! Memangnya ada apa?"
"Begini, aku kemari karena ingin tanya sesuatu padamu soal Tuanku."
__ADS_1
Dominic mengernyitkan keningnya. "Soal Vander?"
"Ya, aku ingin tanya. Selama empat tahun aku mengabdi untuknya, apakah masih ada yang tidak aku ketahui tentang tuanku? Selain sakit traumannya, apakah ada lagi tuan rahasia tentang tuanku? Jika memang ada, aku harap dokter bersedia memberitahuku."
Dominic paham maksud ucapan Robert saat ini. Ia tau Robert bukan orang bodoh dan dia juga cukup peka membaca keadaan pada orang terdekatnya. Sejujurnya, Robert sampai detik ini tidak tahu kalau sebenarnya sebagian memori tuannya telah dihapus empat tahun silam, dan yang tahu hal itu hanya Dominic seorang. Tentu saja bukan tanpa alasan Dominic menyembunyikan hal itu, selain karena kode etik antar dokter dan pasien. Dom sudah terlanjur janji kepada Vander untuk tidak memberitahu siapapun, kalau dirinya telah meminta Dominic untuk menghapus ingatan tentang istri dan orang-orang yang berkaitan dengan istrinya. Hal itu dilakukan oleh Vander tujuannya adalah, agar dirinya tidak akan pernah lagi ingat lagi soal wanita yang dicintainya itu. Karena Vander berpikir, semakin banyak yang tidak tahu hal itu, makan akan semakin baik. Tapi Dominic malah berpikir kalau itu konyol, ia merasa apa yang dilakukan oleh Vander itu malah lebih cocok dibilang seperti sedang melarikan diri dari kenyataan lewat jalur dokter.
"Huft" Dominic menghela nafas. "Robert, jujur saja aku tidak tahu ini benar atau salah. Tapi satu hal yang aku percaya, kesetiaanmu pada Vander sudah tak diragukan lagi. Oleh karena itu aku rasa melanggar sedikit perjanjianku dengan Vander tidak masalah."
"Maksud dokter?" Robert menatap bingung bercampur penasaran.
"Robert sebenarnya..." Akhirnya Dominic menceritakan soal penghapusan memori Vander kepada asisten pribadinya tersebut.
"Dokter ka- kau tidak bercanda kan?" Robert tampak syok dibuatnya.
"Terdengar gila bukan? Tapi memang begitulah tuanmu dengan segala ketidak warasannya sendiri."
Bagaimana mungkin ada seseorang, yang sengaja ingin menghapus memori tentang orang terkasihnya? Bukankah sama saja itu mengubur diri dalam kegelapan hidup?
"Kenapa syok begitu? Bukan kah aku sudah sering bilang, kalau tuanmu itu kadang bukan seperti manusia. Dia itu entahlah kalau manusia lain sepertinya sudah lama memilih mati," gurau Dominic.
"Tapi dia mau mati juga susah, si Vander itu kan darahnya kebal rancun, mau digigit kobra dan kalajengking sekalipun dia masih bisa hidup. Bahkan dia dihadapkan dengan seratus samurai juga sepertinya biasa saja, dia kan hanya takut satu hal..." Vander hanya takut orang yang sangat dicintainya tersiksa dan merana lalu mati karena dirinya, oleh karena itu dia memilih jalan gila dengan cara tak mau lagi berhubungan lagi dengan istrinya.
"Lalu istri tuan Vander dimana dia?"
"Entahlah, yang aku tahu terakhir kali infonya, wanita itu katanya pindah ke luar negeri."
"Dokter, bisakah kau beritahu siapa dan seperti apa wanita itu?" Tandas Robert.
"Oh maaf Rob, sayangnya aku tidak bisa lagi melanggar sejauh itu janjiku pada pasienku."
Begitu ya? Robert jadi semakin penasaran dan ingin mencari tahu siapa istri tuan Vander yang ia lupakan itu sebenarnya.
...πππ...
Dikediamannya Lara yang sedang terlihat sibuk menggambar desain gaun untuk dikirim ke Lavioletta tiba-tiba saja mendapati telepon dari nomor yang tak dikenalnya
"Siapa ya?" Lara bertanya-tanya. Namun tanpa rasa curiga ia pun langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Halo?"
Halo Lara ini aku!
"Eh tunggu, suara ini kan...?" Lara mencoba mengingat suara di telepon yang seperti tidak asing baginya itu.
"Oh iya, Kak Eiji!" Seru Lara tampak senang dan tak menyangka.
Eiji : Ya benar, ini aku. Aku meneleponmu karena aku ingin kau tahu kalau, aku sudah kembali dari Kanada.
Lara : Benarkah? Jadi sekarang kakak sudah dikota ini?
Eiji : Ya aku baru saja tiba di terminal bandara.
Lara : Oh kenapa kau tidak bilang, aku kan bisa menjemputmu.
Eiji : Tidak usah, ini sudah malam. Lagipula aku sudah menelepon supir dari kantorku yang sekarang untuk menjemputku.
Lara : Begitu ya? Syukurlah kalau begitu, aku senang mendengarmu sudah kembali dengan selamat.
Eiji : Terima kasih, umβ Lara...
Lara : Ya?
Eiji : A- dimana Rey?
Lara : Sayang sekali, dia sudah tidur.
Eiji : Oh sayang sekali, padahal aku rindu sekali dengan suaranya.
Lara : Lain kali saja, mungkin akhir pekan nanti kita bisa ketemuan.
Eiji : Baiklah kalau begitu, aku- um... selamat malam.
Lara : Selamat malam kak.
...πππ...
"Payah!" Pekik Eiji yang kesal karena tidak berani bilang 'aku merindukanmu' pada Lara.
Sambil menunggu dijemput, Eiji pun berniat membeli minuman dulu. Dan saat berjalan sambil mendorong koper bawaannya, tidak sengaja ia berpapasan dengan seorang pria yang baru saja keluar dari pintu VIP. Pria itu auranya tampak sangat dominan, menurut Eiji. Mengenakan mantel hitam panjang dan berkacamata hitam, ia terlihat berjalan mendongak kedepan dengan kedua tangannya dimasukan ke dalam saku celana. Pria juga diikuti beberapa pria lain yang berpakaian hitam dibelakangnya, sepertinya itu ajudan pribadinya.
"Aku sepertinya pernah lihat orang itu? Dia sepertinya bukan orang sembarangan," Ungkap Eiji yang penasaran dan masih terus memandanginya dari belakang.
"Tuanku sepertinya pria yang barusan tadi melihatimu terus," ujar Robert yang sejak tadi mengamati Eiji.
"Iyakah?" pungkas Vander sambil melepas kacamata hitamnya.
__ADS_1
...πππ...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS π