
Keesokan harinya di ruang kerja Lara, Gavin resmi diminta Lara untuk menggatikan Vander selama sebulan. Vander yang juga berada di ruangan itu pun mengingatkan Gavin agar selama menggantikannya nanti tidak berulah dan membuat Lara susah.
"Iya, iya Kak Vander aku tidak akan menyusahkan kak Lara."
"Panggil dia Nona Lara jangan kakak kalau di kantor," imbuh Vander.
"Siap!" Ujar Gavin patuh.
Sementara Lara sendiri merasa bersyukur ada Gavin yang bisa dipercaya menggantikan Vander sementara.
DING!! Bel diruangan Lara berbunyi. Tak lama kemudian munculah Miranda dari balik pintu.
"Permisi Nona aku—" Miranda yang mau menyerahkan dokumen seketika langsung dibuat terperangai saat melihat jelas sosok Gavin berada di dalam ruangan Lara. Ia pun langsung mengerutkan alisnya dan berkata, "Heh bocah tengik kenapa kau ada disini?"
Tidak terima diteriaki begitu Gavin pun membalas ucapan Miranda. "Heh Bibi galak, kau itu yang sedang apa disini! Baru datang langsung marah-marah."
"Bibi kau bilang? Awas kau!" Miranda berjalan mendekati Gavin seraya ingin menghajar pria itu. Sontak Gavin yang ngeri dipukul Mira pun malah memilih bersembunyi dibelakang Vander mencari perlindungan.
"Hei bocah tengik, kesini kau! Jangan bisanya hanya sembunyi dibalik punggung orang lain!"
"Tidak mau! Untuk apa aku menghampiri bibi galak sepertimu!" Ujar Gavin dari balik punggung Vander yang lebar dan kokoh. Sayangnya Van yang tidak mau direpotkan Gavinn malah justru menggeser tubuhnya hingga akhirnya Gavin tak lagi bisa berlindung dibalik punggungnya.
"Kakak kenapa kau malah pindah tempat!"
"Nah, sini kupukul kau!" Ujar Mira.
Gavin yang takut dipukul Miranda akhirnya mengadu kepada Lara.
Melihat Gavin yang mengadu padanya dengan tatapan seperti anak anjing malang membuat Lara jadi tidak tega dan seketika luluh.
"Mira stop! Sudah kau jangan marah-marah lagi pada Gavin, dia kemari karena aku yang minta," jelas Lara seraya membela Gavin.
Yes! Kalau sama kak Lara bahkan Kak Vander pun tidak akan berani menindasku, pikir pria itu.
"Nona Mira harusnya kau minta bantuanku untuk memukul bocah itu," celetuk Vander sambil menatap Gavin dengan tatapan mematikannya.Tentu saja Vander yang posesif pasti tidak akan suka melihat kekasihnya membela pria lain.
"Oh ayolah aku mohon tenanglah dulu... Miranda biar aku jelaskan semuanya pada kalian," Lara pada akhirnya menjelaskan kepada semuanya maksud dirinya menyuruh Gavin datang.
"Apa? Jadi mulai besok dia yang akan menggantikanmu?" Tanya Mira menatap ke arah Vander yang tengah berdiri santai.
"Ya, dan itu cuma selama satu bulan saja. Setelah itu aku akan menendang dia pergi," ucap Vander yang cemburu.
"Wah kalau begitu, itu artinya apa dia juga akan tinggal bersama Nona Lara dong?" Celetuk Mira dengan sengaja.
"Tidak!" Pekik Vander yang langsung menolak keras.
Lara menatap Vander dengan senyum tipis seraya paham isi pikiran kekasihnya itu. Mustahil bagi seorang Vander membiarkan wanitanya berduaan tinggal dengan pria lain. Lara sendiri ingin tetap tinggal di apartemen karena selain aksesnya lebih mudah untuk ke kantor, disana Lara juga merasa lebih nyaman dibanding di kediamannya yang terlalu besar ditinggalinya sendiri.
"Uhm, begini saja aku ada ide," Lara memberi ide supaya Miranda tinggal bersamanya selama Van pergi, sementara Gavin juga bisa tinggal disana tapi dengan catatan Gavin tidak boleh dalam keadaan mabuk saat berada di dalam apartemen. Dan dia juga dilarang memasuki kamar.
"Aku setuju!" Tandas Miranda, "Aku akan menjaga Nona Lara dari si brengsek nomor dua ini!"
"Nomor dua? Memang si brengsek nomor satunya siapa?" Tanya Gavin dengan polosnya.
"Memang siapa lagi kalau bukan—" Mata Mira langsung melirik tajam ke arah Vander.
"Apa maksudmu melihatku begitu?" ujar Vand yang tengah berdiri sambil menyilangkan tangannya didepan dada.
"Jadi bagaimana, kalian setuju tidak dengan ideku ini?" tanya Lara meminta pendapat.
"Aku sih setuju-setuju saja yang penting ada tempat tinggal untukku tidur," pungkas Gavin.
"Kalau— kau?" Lara menoleh kesebelahnya menatap Van yang sama sekali belum menjawab. Sebenarnya bagiku semua sih tergantung tuan posesif disebelahku ini!
"Baiklah," ucap Vander setuju. "Tapi ingat, kau!" Vander menatap Gavin dengan tatapan penuh ancaman. "Jangan pernah cari-cari kesempatan pada Nona Lara, kalau sampai aku tau kau curi-curi kesempatan padanya akan aku keluarkan semua isi perutmu!"
Diancam begitu tentu saja Gavin langsung bergidik takut. "I- iya kak, kau tenang saja aku akan jaga kak Lara buatmu kok, jadi tidak usah mengacamku begitu."
__ADS_1
"Lagipula memang bocah ini bisa bertarung?" Ujar Mira seraya meragukan kemampuan Gavin.
"Hei bibi jangan remehkan aku, biar begini juga aku cukup jago dalam hal bertarung tau!"
"Iya iya... percaya!" Imbuh Mira.
"Baiklah karena sudah diputuskan semuanya,kalau begitu mari kita tos dulu sebagai tanda persetujuan," ajak Lara.
"Setuju!" Gavin langsung mengangkat tangannya seraya mengajak tos.
"Mira, Vander kalian juga!" Ajak Lara semangat.
Dan dengan terpaksa Vander melakukan tos konyol itu demi Lara.
**
Di ruangan lain, tampak Dona dan Tara sedang menggosip di sela-sela kerja mereka. Disana Dona memanggil Tara mendekat padanya untuk memberitahukan suatu hal.
"Ada apa sih!" Ucap Tara.
"Sstt... Jangan berisik! Ada hal yang mau aku tunjukan padamu," kata Dona. Wanita itu kemudian mengambil ponselnya dan menunjukan gambar foto tangkapannya waktu itu.
"Eh apa ini?" Tara langsung syok dan kaget melihat hasil jepretan Dona. "I- ini sungguhan Nona Lara? dia berciuaman dengan siapa?"
"Aku juga tidak tau pria itu siapa, makanya aku bertanya padamu mungkin saja kau tau. Tapi kalau dilihat dari posturnya kau kepikiran tidak, siapa pria ini?"
Tara mengamati lamat-lamat sampai memutar layar ponsel tersebut demi mengetahui siapa pria tersebut. "Huh ini memusingkan!" Keluh Tara. "Tapi entah kenapa kalau diperhatikan lagi sepertinya dari belakang postur pria ini tidak asing, apa mungkin..." Tara langsung membuka matanya lebar-lebar dan menatap Dona.
"Vander!?" Ucap kedua wanita itu bersamaan.
"Kalian sedang membicarakan apa?" Ucap Jeden yang tiba-tiba muncul.
Dona dan Tara pun langsung terkejut dibuatnya.
"Um... tu- tuan Jeden kami hanya—" Dona dan Tara sama-sama kebingungan menjawab pertanyaan bos mereka.
"Baik Tuan Jeden," Dona pun langsung menuruti Jeden dan mengikuti pria itu masuk ke ruangannya.
**
Setibanya di ruangan, Jeden langsung duduk di kursi kerjanya dan setelah itu menyuruh Dona duduk mengahadapnya.
"Duduklah,"
"Baik Tuan," wanita itu pun duduk seperti yang diperintah Jeden, dari raut wajahnya Dona tampak gelisah saat ini.
"Kenapa kau tegang begitu? Sudah ceritakan saja sebenarnya apa yang tadi kau dan temanmu bicarakan, aku dengar kau menyebut nama Vander tadi," desak Jeden meminta Dona mengatakan apa yang sebenarnya ia sedang sembunyikan.
"Tuan Jeden sebenaranya— aku punya foto Nona Lara yang sedang—"
Jeden memicingkan matanya, "Foto apa yang kau maksud?"
"Foto ini," Dona memperlihatkan kepada Jeden foto hasil jepretannya yang berhasil mrnangkap momen dimana Lara sedang berciuman dengan seorang pria di parkiran basement.
Setelah melihat foto tersebut seketika Jeden langsung murka hingga wajahnya merah padam,
bahkan Dona pun sampai dibuat takut dibuatnya.
"Sialan! Beraninya gadis itu! Arggh!" Jeden yang geram pun meninju sisi meja kerjanya. Dona yang melihatnya langsung dibuat ngeri melihat bosnya marah.
Apa kau tau siapa pria yang bersama Lara di foto ini?" Tanya Jeden dengan ekspresi marahnya.
"A- aku, aku juga tidak tau tuan Jeden," ungkap Dona terbata-bata. "Tap- tapi bisa jadi, pria itu adalah tuan Vander," tandas Dona.
Karena takut Jeden mengamuk, Dona pun langsung minta izin dan keluar dari ruangan bosnya itu.
Wajah Jeden penuh kemarahan, gerahamnya mengatup kuat, tangannya yang mengepal keras menunjukan kalau amarah di dadanya kini tengah meletup-letup hingga sulit ditahannya lagi.
__ADS_1
"Vander baj*ngan!" Pekik Jeden. Rasa cemburu yang dibalut sakit hati membuat Jeden benar-benar murka saat ini. "Tidak bisa dibiarkan lagi, gelandangan busuk itu, dia harus aku buat enyah segera!"
**
Malam harinya Vander terlihat tengah duduk bersandar diatas tempat tidur sedang membaca buku. Seperti biasa pria itu tidak mengenakan atasan kalau sudah menjelang tidur.
Saat tengah serius membaca buku, muncul Lara yang keluar dari kamar mandi memakai lingerie super seksi hingga membuat pria itu hilang konsentrasi. Pemilik tubuh indah itu berjalan ke arah ranjang, tempat dimana Van yang tengah berbaring saat ini.
Pria itu langsung menelan ludah kala melihat wanitanya itu berjalan kearahnya dengan tatapan menggoda.
Tak kuasa menahan hasrat di tubuhnya pria itu pun langsung menarik sang wanita duduk diatas pangkuannya.
"Kau sedang menggodaku Nona?" Vander meraih rambut Lara yang menjuntai indah menciumnya sambil terus menatap wajah Lara tanpa berkedip.
Gadis itu hanya tersenyum kecil dan langsung mengecup basah bibir pria yang memangkunya. Ia berbisik di telinga Vander, "Malam ini... biarkan aku yang melayanimu sampai akhir ya?" Lara memang berniat melakukan hal itu mengingat kekasihnya itu besok sudah harus pergi keluar kota.
Vander memejamkan mata, bisikan sensual Lara terdengar seperti alunan kata yang seolah membiusnya. Gadis itu seketika mendorong Vander hingga berbaring diatas ranjang dan duduk menunggangi perutnya yang sixpack.
Lara menggigit bibirnya menunduk menatapi dengan tatapan tengah menggoda. Meraba perlahan tubuh bagian atas Vander yang tidak mengenakan apa-apa.
"Nona Lara..." Lirih pria itu. Van tampaknya sudah tidak kuat menahan diri
"Kau menginginkaku Vander?"
Ya! Aku sangat menginginkanmu melebihi apapun saat ini. Aku ingin memeluknya memonopoli tubuh indahnya, merasakan manis bibirnya, membasahi tubuhnya dengan lidahku.
Lara mendekatkan wajahnya ke wajah Vander dan mencium pria itu dengan agresif, hingga membuatnya terbuai dalam kenikmatan. Setelah beberapa saat Lara akhirnya melepaskan ciumannya, mengusap bibir Van yang basah karena ciuman panasnya tadi.
"Katakan apa yang aku harus lakukan, aku akan mengikuti semua perintahmu, malam ini kau adalah Tuanku," bisik Lara.
Siapa peduli, apapun yang dilakukan Lara padanya seolah adalah kenikmatan yang memabukannya. Hanya saja Vander tidak mengira darimana wanita itu tau cara menggoda pria.
"Sejak kapan Nona kecilku pandai menggoda dan marayu?" Goda Vander.
"Aku akan belajar apapun demi memuaskanmu." Lara tersenyum genit lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Vander. "Beri aku perintah Tuan Vander," bisik Lara.
"Aku tidak tahan lagi!" Van seketika langsung mengambil alih posisi. Dirinya kini berada diatas mengurung Lara diantara kedua telalak tangannya yang menapak ranjang seraya memangari kedua sisinya.
"Kau milikku Lara Hazel!" Ucap Vander dengan mata sayunya yang tajam dan mengintimidasi.
Lara tersenyum mengangkat kedua tangannya menyentuh guratan wajah tampan yang terpampang indah diatas wajahnya. "Yes! I'm yours, lakukan apapun yang kau mau padaku malam ini."
"Lara..." Vander langsung menciumi ******* tiap inci tubuh gadis itu tanpa terlewat.
"Van-der," Lara mengerang nikmat bercampur malu melihat pria itu tengah menenggelamkan wajahnya diantara kedua selangkanya. Lara memejamkan matanya medensah malu saat bibir dan lidah pria itu melahap dengan rakus bagian tubuh paling sensitif miliknya.
"Saatnya hidangan utama," ucap Vander sambil dengan tatapan matanya yang liar.
Malam yang panjang pun semakin panas.
**
Setelah puas bercinta selama berjam-jam, keduanya tampak bergelung di dalam selimut tebal menutupi tubuh polos mereka. Vander sendiri ternyata belum bisa tidur nyenyak. Ia justru sibuk memandangi Lara yang kini tertidur di dalam dekapan dadanya.
Sangat cantik! Kata-kata itu yang spontan terbesit di pikiran Van melihat sosok Lara kini tertidur dengan damai dan lelap.
Dibelainya dengan lembut pipi gadis itu. "Kau pasti kelelahan ya?" Van tersenyum puas, meski dirinya juga sedikit tidak tega mengingat Lara yang taei meski sudah kelelahan tetap meladeninya sampai ia benar-benar puas. Vander terus mamandangi wajah kekasihnya itu dengan tatapan sendu.
Bisakah kita seperti ini selamanya? Bisakah aku terus bersamamu? Bisakah aku membahagiakanmu dan memberikan semua yang kau butuh dan kau minta? Bisakah aku benar-benar menjadikanmu ratuku? Bisakah aku melakukan itu semua?
Pertanyaan-pertanyaan itu seringkali terbesit di kepala Vander kala dirinya menatap Lara sendirian dalam sunyi. Rasa rendah diri karena ketidak mampuannya untuk memberikan segalanya untuk Lara, membuat Van seringkali dihantui rasa takut akan kehilangan gadisnya itu. Status, jabatan, dan kekuasaan, hal yang tidak Van miliki saat ini.
Bagaimanapun Van harus dapatkan itu semua sebelum pada akhirnya ia merasa layak dan mampu memberika Lara status tertinggi di hidupnya. Tapi apa mungkin semudah itu? Sementara Vander sendiri sadar hidupnya tak mudah, musuh-musuhnya pun ada dimana-mana, ia tidak mau melibatkan wanita yang dicintainya dalam bahaya, tapi ia juga tidak ingin melepaskan Lara. "Oleh karena itu aku mohon..." Van mengecup kening Lara. "Bersabarlah dan tetaplah mencintaiku."
Bersambung...
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜
__ADS_1