Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Thanks Kiss


__ADS_3

Di apartemennya Van membuka kemejanya dengan  kasar, tubuhnya yang atletis dengan beberapa bekas luka terpampang nyata. Pria itu mengambil sekaleng bir dan meminumnya sampai habis. "Haizz!" Van duduk di sofa dan meletakan kaleng minuman yang sudah kosong itu di atas meja yang ada di depannya.


Pria itu merentangkan tangannya di sandaran sofa sambil menatap langit-langit ruangan. "Kenapa kau lakukan itu padaku Lara?" Ucap Van dengan nada gusar.


Van memegangi pipi kirinya, "Bahkan bekas kecupan bibirnya seperti masih terasa." Van masih teringat saat pipinya dikecup Lara


#Flashback on


Setelah puas jalan-jalan, Van akhirnya mengantar Lara sampai ke kediamannya. Setibanya di kediaman Lara yang mewah dan besar, Lara lantas tak langsung turun dari mobil, ia malah diam sejenak.


"Ada apa Nona?" Tanya Van penasaran.


"Um... Van terima kasih ya karena sudah mau menemani aku jalan-jalan," terang Lara.


"Sama-sama Nona, aku senang bisa menemanimu jalan-jalan."


Lara menoleh ke arah Van dan tersenyum. "Van aku mau memberimu hadiah terima kasih," tukas Lara.


"Hadiah apa?" Van penasaran.


"Coba sini agak mendekat," pinta Lara.


Van pun mendekat dan mencondongkan wajahnya. Kemudian Lara membuka sabuk pengamannya lalu mencium pipi kiri Van. "Terima kasih ya," ucap Lara lalu langsung keluar dari mobil.


Wajah Van langsung memerah dibuatnya. Ia menyentuh pipi kirinya yang habis dicium itu. "No- nona Lara dia benar-benar menciumku?"


#flashback off


Van mengacak-acak rambutnya. Setelah kejadian tadi di mobil Van sungguh seperti gila rasanya. Selama  ini ia menahan diri pada Lara, tapi kenyataannya malah Lara yang mendekat. "Kalau sudah begini akan makin sulit bagiku menahan diri darinya...," ujar Van frustasi.


**


Tak jauh beda, di kamarnya Lara juga terlihat tengah senyam-senyum mengingat kejadian di mobil tadi. Lara jadi tersipu malu lalu, ia menutup wajahnya dengan bantal sambil tiduran dan berguling di atas ranjang.


"Van sedang apa ya sekarang? Apa dia juga merasa seperti yang aku rasakan?" Tanya Lara penasaran.


Ia beranjak bangun dan menoleh ke arah dimana ponselnya berada. "Telepon tidak ya?" Lara ingin menelpon Van tapi malu.


"Sudahlah tidak usah saja, tapi...?" Lara merasa penasaran apa yang dipikirkan oleh Van saat ini. Van tidak marah kan karena dicium olehnya tadi?


"Ah sudahlah, paling juga dia tidak terlalu peduli dengan yang aku lakukan tadi di mobil," ujar Lara menutupi rasa gelisahnya. Jujur Lara takut kalau Van sebenarnya tidak suka Lara mencium pipinya tadi.


***


Keesokan harinya, Karina Foster dari Appletree terlihat menghampiri kantor Lara.


Bukannya dia Karina Foster pemiliik brand Appletree yang sedang naik dau itu ya? Ujar sebagian pegawai Miracle yang mengenali Karina, mengingat Karina juga sering datang ke pagelaran fashion jadi cukup banyak masyarakat mengetahuinya.


Karina menghampiri meja resepsionis ditemani sekretaris perempuannya.


"Ada yang bisa kubantu Nona?" Tanya resepsionis itu pada Karina yang menghampirinya.


"Aku mau bertemu dengan Nona Lara Hazel."


"Maaf, apa anda sudah buat jadwal sebelumnya Nona?"


"Belum, tapi beritahu dia saja kalau Karina Foster datang ke kantornya."


Resepsionis itu pun kemudian menelepon Lara yang kini ada di ruangannya.


"Halo Nona Lara maaf mengganggu waktu anda. Aku hanya ingin memberitahu anda jika saat ini sedang ada Nona Karina Foster di lobby, dia bilang ingin bertemu dengan anda."


...


"Baik Nona kalau begitu akan aku sampaikan."


Resepsionis itu kemudian memberitahukan Karina kalau Lara menyuruh dirinya untuk menemui Lara di ruanganya yang ada di lantai delapan.

__ADS_1


"Oke," ujar Karina lalu pergi dengan gayanya yang terkesan agak angkuh.


Karina lalu masuk ke dalam lift bersama skretarisnya menuju ke ruangan Lara.


**


Sementara itu, di ruangannya Lara jadi dibuat penasaran dengan kedatangan Karina yang tiba-tiba tanpa memberitahunya dulu.


"Apa dia sengaja kemari untuk membahas tawaran kerjasamaku?" Tebak Lara.


Tak lama kemudian bel di ruangan Lara berbunyi, dan sepertinya itu Karina.


"Masuklah...," pungkas Lara.


Dan ternyata tebakan Lara benar, tak lama pintu terbuka Karina muncul dan langsung masuk ke ruangan Lara.


"Selamat datang di kantorku Nona Karina," sambut Lara dengan seformal dan sesantai mungkin.


Karina tampak mengamati sekeliling detail ruangan Lara. "Pilihan desain interiormu bagus juga," puji Karina.


"Terima kasih atas pujiannya," balas Lara kemudian mempersilakan Karina duduk.


"Kau mau minum apa?" tanya Lara.


"Apa saja yang terbaik yang kau punya."


Lara kemudian menuangkan secangkir teh kamomil yang sudah diraciknya sendiri tadi.


"Silakan diminum."


"Thank you," Karina pun meminum teh itu dengan cara yang anggun. "Hem! Teh ini nikmat, apa kau membuatnya sendiri?"


"Iya."


"Wow!" Karina terkesan.


Lara pun langsung bertanya tentang maksud dan tujuan kedatangan Karina secara tiba-tiba ke Miracle.


Lara agak tidak percaya mendengarnya. "Jadi, maksudmu kau setuju Appletree bekerjasama dengan Miracle?"


"Ya seperti itulah,"


"Ta- tapi... kenapa bisa secepat itu kau tiba-tiba memutuskan setuju? Bukankah baru dua hari yang lalu kau seperti tidak tertarik bekerja sama dengan Miracle?" Tanya Lara memastikan.


"Oh ayolah Nona Lara, kau harusnya sudah tau kalau dunia bisnis itu terkadang tidak bisa diprediksi bukan?"


"Iya sih, kau benar." Tapi Lara masih belum yakin kalau alasan Karina setuju bekerjasama dengannya memang hanya karena bisnis. Tapi meski begitu, dengan setujunya Appleetree berkerjasama dengan Miracle itu akan berpengaruh baik untuk kelangsungan perusahaan.


Disisi lain tentu saja tujuan Karina mengiyakan bekerjasama dengan Lara bukan karena bisnis semata, melainkan ada hal lain yang menjadi tujuannya.


Tentu saja ada maksud dibalik ini semua, dan itu semua karena Van. Ujar Karina di dalam hati.


"Oke baiklah karena kau sudah setuju, lalu kapan kita bahas kontrak kerjasama kita? Apa aku perlu datang ke perusahaanmu?" Tanya Lara.


"Oh tidak perlu, urusan kontrak nanti biar aku saja yang hubungi. Yang penting kita sudah sepakat, dan besok aku akan berikan kontrak kerjanya untuk kau pelajari."


"Oh, baiklah kalau itu yang kau mau."


Karina tampak tidak nyaman, karena dalam pikirannya saat ini adalah dirinya ingin sekali membahas soal Van dengan Lara, tapi ia tidak tau bagaimana cara menanyakannya. Tidak! aku harus tanyakan pada Lara sekarang juga soal Van! "Um Lara, kemarin sore aku tidak sengaja melihatmu di taman kota sedang duduk bersama pria, um— apa pria itu kenalanmu?"


Lara keheranan, "Pria maksudmu Van? Iya dia bekerja untukku, kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?"


"Oh tidak hanya ingin tanya saja. Jadi dia pegawaimu di divisi apa? Soalnya aku pernah lihat dia juga dikantorku waktu itu."


Lara jadi semakin merasa aneh dengan pertanyaan Karina. Kenapa dia tiba-tiba tanya soal Van? Ada apa? Apa Karina kenal dengan Van?


"Maaf Nona Karina, tapi aku rasa kerjasama kita masih belum dimulai jadi aku tidak bisa memberitahu info apa-apa soal pegawaiku."

__ADS_1


"Oh begitu ya?" Sial kau Lara! Padahal tinggal bilang saja, pakai segala rahasia-rahasiaan!


"Jadi Nona Karina soal—"


"Oh baiklah kalau begitu sepertinya aku harus pamit segera, sekretarisku sudah menunggu di lobby. Kalau begitu sampai ketemu di pertemuan berikutnya Nona Lara Hazel," ujar Karina menyela ucapan Lara yang belum selesai.


"Iya tentu saja," balas Lara lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman. Kedua wanita itupun bersalaman.


*


Lara pun mengantar Karina keluar ruanganya. Dan siapa sangka saat mereka keluar, ternyata ada Van yang berada di depan ruangan Lara. Melihat sosok Van, Karina pun langsung bersemangat, pasalnya memang tujuan utama Karina dari awal ke Miracle adalah untuk menemui Van.


"Van ini—"


"Hai Tuan Van kita bertemu lagi!" Sapa Karina dengan sumringah.


"Oh kau Nona yang waktu itu kan?" Van tidak ingat nama Karina.


"Iya, dan ini adalah pertemuan kita secara tidak sengaja untuk ketiga kalinya. Kata orang kalau tiga kali ketemu secara tidak sengaja itu bisa jadi jodoh," celoteh Karina.


Sontak saja Lara langsung mengerutkan keningnya mendengar ucapan Karina barusan.


"Aku tidak tau soal mitos seperti itu," jawab Van.


"Oh iya kau ingat namaku kan?" Tanya Karina.


"Namamu..." Van melirik ke arah Lara yang ada disebelah Karina sedang memasang ekspresi tidak senang.


"Van kau harus ingat, namaku Karina Foster, dan aku baru tahu kalau ternyata kau pegawai Miracle."


Sementara Karina sibuk mengoceh, Van justru sibuk memperhatikan Lara yang memasang ekspresi wajah jutek.


Sepertinya Nona tidak terlalu suka pada wanita ini? Pikir Van.


"Oh iya Van kau bekerja di divisi apa?" Tanya Karina lagi.


"Aku tidak bekerja untuk divisi, aku bekerja sebagai pengawal pribadi Nona Lara," jawab Van tegas.


"Apa?! Jadi Van kau ini seorang pengawal?" Karina kaget mendengarnya. Sial, bagaimana bisa Lara punya pengawal setampan ini? "


"Iya, Van adalah pengawal pribadiku," jelas Lara dengan bangga. "Kau kenal dengan pengawalku Nona Karina?"


"Iya aku kenal dengannya, dia adalah pria paling berani yang pernah aku temui di dunia ini." Karina lalu menceritakan soal momen pertama kali dirinya bertemu dengan Van kepada Lara.


"Jadi Lara karena Van ini adalah pengawalmu, maka aku bolehkan mengajaknya keluar untuk aku traktir makan? Anggap saja ungkapan terima kasihku pada Van."


Apa-apaan sih wanita ini! Gerutu Lara tidak suka melihat Karina sok akrab dengan pengawalnya itu. "Soal itu kau tanyakan saja langsung pada Van, apa dia mau kau ajak pergi?" ujar Lara sambil melirik Van.


Seolah paham lirikan mata Lara, Van pun langsung menjawab, "Maaf Nona Karina, tapi aku tidak bisa ikut, karena tugasku adalah menjaga Nona Lara, jadi aku tidak akan melangkah ke luar Miracle tanpa Nona Lara."


"Oh begitu ya?" Apa?! Dia menolakku? Kurang ajar!


"Ba- baiklah kalau begitu mungkin lain kali saja. Kalau begitu lebih baik aku permisi dulu," pamit Karina lalu pergi dengan perasaan jengkel karena ditolak ajakannya oleh Van.


Sebaliknya Lara malah dibuat senang dengan jawaban Van barusan.


"Nona aku menjawab dengan benar bukan ajakan Nona Karina tadi?"


"Van kemari dan tundukan sedikit wajahmu," perintah Lara.


Van pun melakukan apa yang diminta Lara. Kemudian Lara mendekatkan bibirnya ke telingan Van dan berbisik lembut, "Aku suka sekali caramu menjawab Karina dan menolak ajakannya."


Dibisiki begitu oleh Lara wajah Van langsung memerah. Ia jadi teringat kejadian kemarin di dalam mobil saat Lara memberikan ciuman di pipinya tiba-tiba.


"Oh iya kau kesini mau bertemu denganku kan, ada apa?" Tanya Lara.


"Um, itu..." Seketika Van jadi lupa tujuannya menemui Lara.

__ADS_1


Bersambung...


JANGAN LUPA VOTE LIKE COMMENT YA BIAR SEMANGAT NULISNYA 🙏


__ADS_2