
Keesokannya setelah mengantar Rey ke sekolah, Lara diantar Tori ke Laizen Tower. Wanita itu terlihat buru-buru ke ruangannya karena ada data yang masih harus ia benahi, mengingat dirinya kemarin pulang lebih awal jadi tak bisa memastikan ulang pekerjaannya. Setelah sampai di depan ruanganΒ dan ingin membuka pintu tiba-tiba saja dari belakang muncul seseorang yang kemudian langsung menutup matanya.
"Eh? Siapa ini? Jangan bercanda ya!" Seru Lara yang kemudian menghidu dan merasa kenal dengan aroma orang tersebut.
"Vander?"
Tangan yang menutupi matanya pun lepas dan ia segera berbalik ke belakang. Wajah Lara yang merona seketika langsung sumringah saat melihat sosok yang tidak lain adalah suaminya, ia pun langsung memeluk dan bergelayut manja pada sang suami, sampai-sampai ia lupa kalau mereka masih berada diluar ruangan. Karena takut kelihatan pegawai lain, Lara pun langsung menarik masuk suaminya ke dalam ruangan.
"Kau ternyata sungguhan pulang hari ini," ucap Lara senang karena suaminya menetapi janji.
"Ya, dan ini! Aku bawakan kau ini." Vander merogoh saku dalam jasanya dan memberikan setangkai mawar berwarna putih pada Lara.
Dengan senyumnya yang manis ia pun menerima mawar itu dan menciumnya. "Harum sekali, terima kasih."
"Dominic ternyata menanam banyak mawar di Crux, jadi kuminta saja yang tumbuh paling cantik untuk kuberikan pada istriku yang paling cantik."
Wajah Lara pun tersipu. "Kau selalu saja punya gombalan mengerikan saat bertemu denganku. Umβ tapi kenapa harus warna putih?"
"Dominic bilang, mawar putih adalah simbol kesetiaan dan kemurnian cinta. Dan aku rasa warna itu yang paling tepat mengeskpresikan cintaku padamu."
"Begitu ya? Baiklah kalau begitu akan aku taruh ini dimejaku." Lara yang baru saja mau meletakan mawar itu di vas berisi air yang ada di mejanya, tiba-tiba malah tangannya ditarik dan ditahan pergi oleh sang suami.
"Eh, ada apa lagi tuan Vander?"
"Kau belum beri aku hadiah karena sudah menepati janji pulang hari ini."
Lara langsung mencium pipi suaminya dan berkata, "Selamat datang kembali sayang..."
Vander mengernyitkan keningnya. "Kau yakin hanya itu hadiahnya?"
Lara tersenyum seraya menggodanya lalu berbisik, "Kalau kau mau bersabar nanti akan kuberikan yang lebih dari sekedar ciuman panas."
Pria itu pun tersenyum. "Oke aku akan bersabar nona."
...πππ...
Di ruangannya Jeden yang baru saja menerima laporan dari anak buahnya tampak syok saat mendengar informasi, kalau Lara sudah punya anak berusia empat tahun.
Jeden menarik kerah bawahannya dan mengecamnya. "Kau jangan berani bercanda padaku!"
"A- aku ti- tidak ber- bercan- da tuan. Nona Lara memang sudah punya anak, aku juga sudah memastikannya lewat pemilik apartemen yang pernah ditinggalinya dulu, dan pemiliknya bilang memang sejak pindah Lara membawa anak laki-laki dan itu memang anaknya," jelas anak buah Jeden.
"Arghh!" Jeden mendorong anak buahnya. "Anak? Tidak, Lara sudah punya anak, tapi anak siapa? Bukankah dia dan Vander? Tidak, seingatku si brengsek itu meninggalkan Lara waktu itu, bagaimana dia bisa punya anak? Atau Lara punya hubungan dengan pria lain? Tidak mungkin!"
"Dan tuan, kalau tidak salah anak nona Lara bersekolah di TK Erudite," tandas bawahan itu lagi.
Jeden yang emosi kemudian menyuruh anak buahnya itu pergi dan mencari tahu tentang anak Lara. "Aku tidak mau tahu, kalian segera pantau anak itu dan berikan padaku fotonya!"
"Baik tuan kami berangkat!"
Jeden mengepalkan kedua tangannya. Amarahnya kini bergolak penuh rasa tidak terima. "Lara! Beraninya kau melahirkan seorang anak! Dan jika benar anak itu anaknya Vander, akan musnahkan dia! "
...πππ...
Di ruangannya,Vander yang masih duduk bersantai dengan hanya mengenakan kemeja berwarna putih tanpa di kancing terlihat terus memandangi sang istri yang kini agak kesulitan menarik resleting dressnya yang ada di punggung.
"Sayang bisakah kau naikan resleting pakaianku? Aku agak sulit menjangkaunya kalau begini." Lara menggengam seluruh rambutnya yang terurai panjanga lalu menaikannya keatas dengan kedua tangannya, dan membelakangi suaminya dengan posisi resleting pakaian yang masih terbuka.
Tanpa banyak bicara Vander langsung menaikan resleting baju sang istri kemudian mencium tengkuk lehernya hingga membuat Lara nenggeliat geli dibuatnya.
Lalu Vander pun berbisik, "Sayang bisakah kita lakukan lagi, aku..."
Lara langsung menjauhkan diri dan meminta sang suami agar berhenti menggodanya. Bagaimanapun ini masih jamΒ kantor jadi ia tidak mungkin melakukan hal seperti itu seenaknya.
"Tenang saja ini kan kantorku, dan kau istriku, jadi lakukan saja apapun yang kau mau."
Lara tersenyum kemudian memeluk sang suami erat. Vander yang belum mengancingkan kemejanya membuat dada bidangnya terlihat, Lara bahkan merasakan tiap otot kekar didada dan perut Vandar yang mana terdapat beberapa bekas luka yang tak bisa hilang.
"Kalau kau terus memeluk sambil menempelkan wajahmu di dadaku begini, jangan salahkan aku kalau yang dibawah perutku ini tidak bangun," ujar Vander lagi-lagi menggoda.
Seketika Lara pun melepaskan pelukannya. "Dasar kau ini, aku kan masih harus kerja. Kau sendiri kanΒ bos tertinggi seharusnya tidak santai-santai."
"Aku lelah Lara, aku ingin tidur dipangkuanmu," ucapnya bernada manja.
Namun baru saja mau minta dipeluk, ponsel Lara malah berdering, alhasil ia pun segera mengambil ponselnya dan mengabaikan sang suami.
"Dasar ponsel pengganggu!" gerutu Vander
Lara : Halo Miranda.
Mira : Lara aku hari ini ingin berkunjung ke tempatmu bisa?
Lara : Tentu saja bisa, kau datang saja ke apartemenku nanti sore sekalian kita makan malam sama-sama.
Mira : Oh begitu, oke baiklah aku akan datang nanti sore. Sampai jumpa
__ADS_1
Lara : Sampai jumpa.
"Ada apa wanita itu menelepon?" ujar Vander seperti masih tidak senang.
"Entah, tapi Mira mau datang ke tempatku nanti sore untuk makan malam. Kau mau ikut juga tidak?"
"Aku belum tahu tapi..." Vander seketika menyipitkan matanya. "Wanita itu, apa aku bisa percaya pada si Miranda- itu?"
"Dengar," Lara melingkarkan tanganya di leher sang suami dan menatapnya dalam-dalam. "Miranda itu sudah seperti saudaraku, dan kami kenal sejak kecil. Dia juga sejak dulu mendukung hubungan kita bahkan sejak awal. Lagipula dia kan istrinya Gavin, masa kau tidak percaya?"
"Oh jadi bocah itu sudah menikah?" Vander tampak seperti tak percaya.
"Iya dia sudah menikahi Miranda di bangkok dua bulan lalu."
"Tidak kusangka, ternyata dia suka wanita yang jauh lebih dewasa," ucap Vander.
"Miranda hanya satu tahun lebih tua kok, lagipula itu efek wajahnya Gavin yang imut makanya banyak yang mengira Miranda setua itu."
"Ya terserah, yang jelas aku hanya suka yang seperti istriku," ucap Vander sambil mencubit pipi istrinya.
...πππ...
Hari itu Gavin dan Miranda terlihat baru saja tiba di hunian baru mereka. Setelah menikah dan kembali ke kota ZR, baik Gavin dan Mira memutuskan untuk tinggal di Royale Residence salah satu perumahan elit dipinggir kota ZR yang masih cuku asri wilayahnya. Perumahan itu juga letaknya tidak terlalu jauh dari apartemen Caelestis Garden.
"Wah Gavin aku tak menyangka kau sudah siapkan rumah untuk kita," ucap Miranda yang tak pernab menyangka kalau suaminya itu sudah menyiapkan rumah tinggal untuk mereka.
"Tentu saja, aku kan ingin jadi suami yang bertanggung jawab," pungkasnya. Meski Gavin kelihatannya seperti suka main-main dan tidak serius, namun dalam berkomitmen pria itu tidak main-main ia bahkan rela mengeluarkan uang tabungannya dengan jumlah banyak demi membelikan rumah untuk Miranda.
Miranda pun langsung memeluk lengan suaminya dan mengajaknya berjalan masuk kerumah baru mereka.
Setibanya di dalam rumah mereka, pasangan itu pun langsung berkeliling melihat rumah baru tersebut. Rumah mereka bergaya kontemporer minimalis yang cukup besar. Terdapat tiga kamar, dan dua kamar mandi serta dapur bergaya modern.
"Bagaimana kau suka tidak?" Tanya Gavin pad istrinya.
"Suka! Suka sekali, Terima kasih ya suamiku," ucap Miranda tersenyum manis.
"Syukurlah kalau kau suka apa yang aku siapkan." Gavin benar-benar senang, akhirnya ia bisa memberikan tempat tinggal yang bagus untuk Mira dan anak mereka kelak.
Dan setelah selesai berkeliling, Mira dan Gavin pun berniat untuk mengunjungi tetangga terdekat mereka dan sekedar memberi oleh-oleh dan ucapan perkenalan sebagai tetangga baru.
"Kau yakin kita berkunjung, kalau tidak ada orang dirumahnya bagaimana?" Tanya Gavin tidak yakin.
"Sudahlah kita coba saja dulu. Lagipula niat kita kan hanya berkenalam saja sebagai tetangga baru."
Dan akhirnya pasangan itu pun berjalan menekan bel di pintu tetangga sebelah mereka. Sayangnya penghuninya tak juga keluar, hal itu membuat Gavin dan Mira jadi yakin kalau orangnya sedang tidak ada dirumah.
Mira dan Gavin yang tadinya mau pergi pun langsung berbalik badan lagi. Dan saat melihat pemilik rumah itu pun Gavin dan Mira sontak agak terkejut dibuatnya.
...πππ...
Di kediamannya, Lara dibantu bibi Frida terlihat sibuk membuat hidangan makan malam untuk tamu spesial akan datang malam ini.
"Mama hari ini masaknya banyak sekali memang ada yang mau datang?" Tanya Rey yang sejak tadi duduk di dekat meja makan sambil makan permen, memperhatikan mamanya sejak tadi sibuk mondar mandir di dapur.
Lara kemudian tersenyum pada putranya dan berakta "Iya nanti akan ada yang datang, dan kau tau siapa yang akan datang?"
"Siapa?" Rey terlihat imut memiringkan kepalanya mencoba memikirkan siapa kira-kira tamunya. "Aku tidak tahu, memangnya siapa?"
"Bibi Mira dan Paman Gavin," jawab Lara.
"Wah, jadi mereka sudah kembali?"
Lara mengangguk.
"Asyik akan ramai dong hari ini, papa juga akan makan malam disini kan?"
"Kalau itu... Coba kau telepon dan tanya dia. Harusnya sih dia ikut."
"Baiklah aku akan telepon, aku pastikan papa ikut!" Rey pun langsung bergegas menghubungi papanya.
...πππ...
Sementara itu di lobi Caelestis Garden terlihat Miranda dan Gavin yang baru saja datang dengan penampilan semi formal. Sebelum masuk ke tempat Lara, biasanya tamu yang datang akan diberi kartu access khusus tamu yang mana sudah disetujui para penghuni apartemen mewah tersebut.
Setelah mendapatkan kartu accessnya, Mira dan Gavin pun berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke unit apartemen Lara yang ada dilantai atas. Dan saat kedua orang itu ingin masuk lift, mereka tak sengaja berpapasan dengan Emily Hasaki dan manajernya yang tengah keluar dari lift. Melihat wanita itu, Mira yang baru saja masuk lift terus saja memandanginya yang sudah berjalan pergi bersama manajernya.
"Istriku, kenapa kau melihati wanita itu terus? Memang kau kenal?" Tanya Gavin yang sama sekali tidak tahu soal Emily.
"Oh tidak, hanya saja aku tau wanita itu. Dia itu model papan atas namanya Emily Hasaki, aku tidak menyangka dia tinggal disini juga."
"Oh aku sih tidak tahu sama sekali soal selebriti dan sebagainya," ungkap Gavin cuek.
"Ya kau kan tidak pernah baca gosip ataupun menonton TV, jadi mana tahu hal itu. Tapi sih tidak heran, mengingat apartemen ini kan super mahal biaya sewanya, tentu saja selain pengusaha kelas A, model papan atas seperti dia juga bisa tinggal disini."
Setibanya di lantai tempat apartemen Lara berada, pasangan suami istri itu pun langsung menghampiri apartemennya. Dan setelah beberapa kali menekan bel, akhirnya Lara pun membukakan pintu dan menyambut mereka berdua dengan hangat. Ditambah sambutan dari Rey kecil yang menggemaskan membuat Mira dan Gavin semakin senang dibuatnya.
__ADS_1
"Wah Vander juniorku ternyata sudah besar sekali, dan kau semakin berat." ujar Gavin sambil mengangkat tubuh Rey tinggi-tinggi.
Tak mau membiarkan Mira dan Gavin lama-lama berdiri, Lara pun langsung mengajak kedua orang sahabatnya itu ke meja makan untuk bersiap makan malam.
Tak lupa, Gavin yang membawa hadiah untuk Rey pun menyerahkan hadiah tersebut pada ponakan kesayangannya itu.
"Wah apa ini paman?" Ucap Rey penasaran ingin segera membukanya. Namun sayangnya oleh Lara Rey malah dilarang membuka hadiah saat di meja makan.
"Yah mama, aku kan penasaran," jawab Rey cemberut.
"Tidak sayang, kalau kau bukan mainan di meja makan makanan yang ada di meja pasti akan kena debu dan sebagainya," sahut Lara.
"Huh mama tidak asyik!" Akhirnya Rey pun hanya bisa menyerah menuruti sang mama dengan raut wajah agak merengut.
"Sudahlah Rey, turuti saja kata mamamu daripada kau kena omel," ujar Gavin sambil tertawa seraya memberi pengertian pada putranya.
Saat makan malam hampir dimualai, tak lama kemudian Vander pun akhirnya datang. Dengan sumringah Rey berlari menghampiri papanya itu dan menariknya agar segera ke meja makan.
"Ayo papa, semua sudah datang dan menunggumu...!"
"Yo kak Vander!" Sapa Gavin seperti biasa tanpa canggung.
"Kalian sudah datang?" Tanya Vander.
"Iya aku dan istriku tercinta sudah datang dari tadi, iya kan sayang?" ujar Gavin dengan nada manja menatap istrinya dan bergelendot.
"Iya, sudah jangan bergelendot begini kau ini buat aku malu saja!" sahut Mira.
Enta kenapa Vander langsung dibuat tersenyum kecil melihat momen hangat saat ini. Ia sungguh tidak menyangka, kalau ia ternyata sebenarnya memiliki orang-orang yang tulus padanya.
Tiba-tiba Lara menghampiri suaminya yang masih berdiri itu. "Sayang... kau cuci tanganmu dulu ya, setelah itu kita makan malam bersama, aku sudah buatkan menu spesial untuk kita hari ini," ucap Lara dengan suara lembut sambil membantu Vander melepaskan jasnya.
"Hei istriku, kau tidak bisa apa sehari seperti kak Lara bersikap lembut dan melayani suami seperti yang ia lakukan pada kak Vander," bisik Gavin pada Mira karena merasa iri melihat Vander diperlakukan begitu oleh istrinya
"Cerewet!" balas Mira datar.
Dan setelah makan malam usai, Rey bersama papanya dan Gavin terlihat asyik bermain karambol bersama. Ketiga pria itu nampak seru sekali memainkan papan permainan tersebut sampai tak peduli yang lain. Sementara Lara dan Mira yang baru saja selesai membantu bibi Frida membereskan piring bekas makan malam, terlihat sedang duduk santai mengobrol sambil minum teh herbal. Disana Lara meminta Mira supaya lusa dirinya datang ke acara fashion show di Conery Palace untuk menyaksikan rancangan pertamanya dipamerkan disana.
Mendengar hal itu tentu saja Mira sangat gembira karena akhirnya salah satu cita-cita terbesar Lara akan terwujud. "Tenang saja aku pasti datang. Dan... Kalau tidak salah acara itu juga dijadikan momen Lavioletta mengenalkan global ambassador mereka kan?"
"Iya," angguk Lara.
"Lara, kalau boleh tau Global Ambassador Lavioletta siapa nanti?"
Lara seketika langsung menghela nafas dan memasang wajah tak semangat. "Emily Hasaki," ujarnya.
"Apa? Emily?"
"Iya, wanita itu juga yang nantinya akan pakai rancangan buatanku. Padahal, kalau ada model lain aku sih akan lebih senang," ucap Lara memasang wajah kurag semangat.
Melihat wajahnya begitu Mira jadi penasaran, memangnya ada apa dengan Emily?
"Huh! Pokoknya aku tidak suka padanya, ditambah dia itu licik, dan mau merebut Vander! Pokoknya tidak suka, dan sifatnya di depan kamara dan belakang kamera sangat berbeda. Di belakang kamera dia itu benar-benar seperti nenek sihir!" Ungkap Lara dengan kesal.
"Oh pantas saja, saat aku melihatnya tadi di lift dia tampak sombong sekali, ternyata aslinya begitu."
"Jadi tadi kau sudah bertemu dia?"
"Ya aku cuma lihat saja sih..."
"Oh iya Mira, aku mohon padamu kalau di depan siapapun kecuali orang yang ada disini kau jangan sebut aku istrinya Vander ya," pinta Lara.
"Loh kenapa?" Mira kaget.
"Soalnya..." Lara akhirnya menjelaskan secara singkat alasannya kepada Mira. Dan untungnya Mira langsung mau mengerti dan paham meskipun agak terpaksa. "Huft! Lara- lagi-lagi kau dan Vander harus menyembunyikan hubungan kalian. Sulit sekali ya kalian itu. Padahal sama-sama cinta tapi ada saja hambatannya."
"Aku juga tidak tahu sampai kapan ini, tapi aku percaya Vander menyembunykan hal ini pasti demi aku dan Rey," ucap Lara yang yakin sekali pada sang suami.
Mira mengusap kepala Lara. "Tenang saja, aku yakin pada akhirnya kau pasti akan bahagia dengan keluargamu suatu hari nanti."
"Terima kasih Mira, aku senang sekali kau kembali lagi, aku jadi punya tempat curhat lagi hehe.."
"Ah kau ini! Oh iya Lara, kau tahu tidak tetanggaku di rumahku yang baru siapa?"
"Siapa?" Lara penasaran.
"Eiji Hartman."
"Eh benarkah?" Lara tidak menyangka hal itu.
"Aku juga kaget, tapi aku senang sih bertetangga dengan orang sebaik dia. Tapi yang aku heran Eiji itu padahal tampan, pintar, sukses, dan karirnya sangat bagus, tapi kenapa dia belum juga punya pacar ya?"
"Aku tidak tahu juga soal itu," Membicarakan itu, Lara sedikit merasa tak enak hati karena Eiji sebenarnya sudah tiga kali menyatakan cinta padanya. Tapi apa daya dari dulu Lara hanya mencintai satu pria sampai detik ini yakni suaminya sendiri. Oleh karena itu Lara hanya bisa berharap suatu hari nanti Eiji akan dapatkan wanita yang benar-benar tulus mencintainya.
...πππ...
__ADS_1
...TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA VOTE, LIKE, COMMENT, SHARE, DAN KASIH GIFT. MAKASIH π...