Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Siapa Pelakunya?


__ADS_3

Lara yang pergi ke rumah sakit bersama Eiji, setibanya di rumah sakit Eiji langsung menggendong Rey yang saat itu tengah merasa perutnya sakit dan sesak nafas, ia langsung membawa Rey masuk ke IGD untuk mendapati penanganan intensif.


"Dokter aku mau ikut menemani anakku!" Pinta Lara pada sang dokter. Namun suster langsung menghalangi dan meminta Lara agar menunggu saja di luar sementara dokter akan menangani pasien.


Di luar ruangan IGD Lara tampak cemas dan tidak bisa tenang, ia bahkan tak mau duduk tenang dan malah terus saja berdiri sambil sesekali berjalan mondar mandir dengan perasaan gusar. Melihat Lara yang begitu cemas akan putranya, Eiji pun mencoba untuk menenangkannya. Ia mendekati Lara lalu mengusap kedua pundaknya dan meyakinan ibu satu anak itu kalau putranya pasti akan baik-baik saja. "Rey itu anak yang kuat, aku yakin dia pasti akan segera sehat," ucap Eiji yang berharap bisa sedikit meredakan rasa cemas Lara yang berlebih. Usaha Eiji pun berbuah manis, setelah itu Lara tampak sedikit bisa lebih tenang sambil menunggu dokter keluar.


Tak lama kemudian, dokter pun keluar dari ruang IGD. Disana Eiji dan Lara langsung menghampiri sanga dokter tersebut, dan bertanya bagaimana keadaan Rey. "Dokter apa putraku tidak apa-apa? Apa yang terjadi padanya dokter?" Desak Lara yang begitu ingin segera tahu keadaan putranya.


"Nyonya tenangkan diri anda, putra anda dia sudah tidak apa-apa. Hanya saja dia barusan terkena gejala alergi, dan apa anda sudah tahu sebelumnya kalau putra anda alergi dengan buah nanas?"


"Nanas?" Lara kaget mengingat ia sudah tidak pernah memberikan Rey buah itu sejak dua tahun lalu.


"Putra anda barusan mengkonsumsi nanas, itu sebabnya gejalanya muncul. Untung saja segera dibawa kemari jadi gejalanya tidak terlalu parah."


Lara yang sudah tau sejak lama kalau Rey alergi pada buah nanas jadi penasaran, bagaimana bisa ia mengkonsumi nanas, siapa yang memberikannya?


"Lalu apa aku boleh lihat putraku dokter?"


"Ya boleh, dia sudah baik-baik saja silakan jika tuan dan nyonya mau menemuinya. Hanya saja mungkin dia akan mengantuk sebentar lagi karena pengaruh obat yang aku berikan tadi."


"Baik dokter!"


Lara kemudian masuk ke ruang IGD untuk menemui putranya.


Setibanya di ruang IGD Lara angsung memeluk Rey erat, dirinya merasa lega karena putranya sudah baik-baik saja.


"Mama... tenggorokanku tadi rasanya panas sekali dan sakit, aku juga susah bernafas," ungkap Rey.


"Maafkan mama ya sayang, karena tidak memperhatikan makan dan minumu dengan benar, kau jadi begini," ucap Lara merasa bersalah.


"Ini bukan salah mama, aku saja yang tidak hati-hati. Dan gara-gara aku mama jadi harus meninggalkan acara duluan..."


"Tidak apa-apa nak, bagiku kesehatanmu jauh lebih penting."


"Lalu, papa dimana Ma?" Tanya Rey.


"Em diaβ€”"


"Hai Rey, kau sudah sehat lagi!" Seru Eiji yang tiba-tiba saja masuk.


Ya Tuhan, tadi Rey sempat menyebut papa, kira-kira kak Eiji dengar tidak ya? Lara jadi khawatir.


"Paman Eiji, paman yang bawa aku ke sini kan?"


"Iya, aku yang membawamu. Kau tahu, aku senang sekali karena kau sudah baik-baik saja," ungkap pria itu yang sepertinya tidak mendengar percakapan Lara dan putranya.


Semoga saja kak Eiji tidak mendengar percakapanku dengan Rey tadi tentang papanya Rey.


...🍁🍁🍁...


Di Canary Palace Vander yang tengah mencari dimana Lara berada, seketika diberitahu oleh Robert kalau istrinya itu kini sedang berada di rumah sakit membawa Rey yang tiba-tiba kesakitan."


"Sakit!?" Vander merasa cemas.


"Iya Tuan, sepertinya tuan kecil mengalami keracunan makanan atau sejenisnya. Oleh karenanya saat ini aku akan selidiki pihak konsumsi untuk mencari tahu penyebab tuan kecil kesakitan."


"Baiklah Robert, kalau begitu kau terus cari pelakunya sampai dapat, sekarang aku mau menyusul Lara ke rumah sakit!"


"Baik Tuan."


Sayangnya saat Vander mau menuju ke parkiran mobil, dirinya malah harus dihadang oleh serbuan reporter dari berbagai awak media yang tiba-tiba saja memberondonya dengan bayak pertanyaan tidak jelas.


"Tuan sebenarnya ada hubungan apa anda dengan nona Emily?"


"Tuan Vander boleh minta waktunya sebentar, kami ingin minta klarifikasi anda terkait hubungan anda dan nona Emily?"


"Bos, apa anda pacaran dengan nona Emily?"


"Tuan Vander tolong beri waktu sebentar untuk wawancara."


Sial! Para awak media busuk ini malah menghalangiku! Vander yang kesal pun hampir sedikit sulit mengontrol emosinya. Bagaimana tidak, pria itu kini sedang khawatir dengan putranya tapi wartawan malah menghalanginya.


Vander seketika mengepalkan tangannya, rasanya ingin sekali ia menyimgkirkan para wartawan itu dengan tangannya sendiri, namun sayangnya Vander harus tetap menahan diri. Untungnya beberapa pengawal dan juga Gavin segera datang, mereka lalu membantu Vander keluar dari kerumunan wartawan tersebut. Alhasil Vander bisa lolos dan segera pergi menyusul Lara ke rumah sakit.


...🍁🍁🍁...


Setibanya di rumah sakit, Vander yang terburu-buru malah bertemu dengan Eiji yang tengah berdiri di depan ruangan IGD.Β  Vander pun segera menghampirinya dan bertanay dengan serius, "Dimana Lara dan Rey?"


"Ada di dalam," jawab Eiji.

__ADS_1


Vander pun spontan langsung memegang tuas pintu karena ingin masuk ke ruang IGD, namun tiba-tiba saja tangannya malah ditahan oleh Eiji.


"Singkirkan tanganmu!" Gertak Vander dengan suaranya yang berat dan agak parau. Pria itu menatap garang Eiji dengan matanya yang tajam. Dan jujur ini sedikit mengerikan bagi Eiji, mengingat ini pertama kalinya ia melihat sorot mata Vander yang seperti itu melihatnya.


"Maaf tuan Vander, tapi kau tidak bisa masuk Rey sedang istirahat, diaβ€”"


"Aku mau menemui Lara dan Rey," ujar Vander.


"Tapi mereka..."


"Minggir, atau perlu aku patahakan tanganmu supaya mau menyingkir!"


Eiji mulai merasa sakit dipergelangan tangannya saat Vander mulai mecengkram tangannya balik. Sepertinya pria ini tidak main-main pada ancamannya.


Akhirnya Eiji pun melepaskan tangan Vander, namun saat Vander baru mau membuka pintunya, tiba-tiba saja Lara malah muncul keluar dari ruangan. Sontak Lara pun kaget melihat ada Vander tepat dihadapannya.


"Vander kau?"


"Rey bagaimana?" Tanya pria itu.


Meski raut wajahnya nampak datar, namun sorot matanya jelas menunjukan kekhawatiran seorang ayah.


"Rey, dia sudah baik-baik saja. Dia tadi mengkonsumsi nanas itu sebabnya alerginya kambuh," ungkap Lara nampak sedih. Saat ini Lara ingin sekali memeluk suaminya itu, tapi hal itu tidak mungkin mengingat masih ada Eiji disana.


"Aku sudah meminta Robert untuk menyelidiki bagian konsumsi."


"Terima kasih Va- maksudku tuan Vander, maaf aku pergi tidak izin dengamu dulu. Aku terlalu panik tadi jadi lupa banyak hal."


Vander mengusap kedua pundak Lara dan berkata, "Tidak apa-apa. Lagipula kau tenang saja, aku pasti akan dapatkan penjahat itu."


"Terima kasih," ungkap Lara tersenyum menatap sang suami.


Disisi lain, Eiji yang berdiri diantara mereka saat itu bisa dengan jelas merasakan kalau, ada sesuatu diantara Vander dan Lara yang sulit ia jelaskan. Seperti ikatan yang tak terlihat namun terasa sekali keberadaanya.


"Ehem, Lara apa Rey masih tidur?" Ujar Eiji memecah suasana diantara dirinya yang seperti diabaikan.


"Oh i- iya, dia masih tidur. Aku rasa sebentar lagi akan bangun."


Lara tiba-tiba jadi merasa canggung berada diantara Eiji dan Vander saat ini, ia pun kemudian minta izin untuk masuk lagi ke ruang IGD menemani Rey. "Kalau begitu aku masuk dulu, kalianβ€” tolong jangan bertengkar okey?" Lara akhirnya masuk ke IGD meninggalkan kedua pria yang kini tampak seperti sedang perang dingin.


"Tuan Eiji, apa tidak sebaiknya kau pulang saja. Sepertinya kau ada pekerjaan lain," ucap Vander sengaja ingin Eiji pulang.


Eiji tersenyum kecil menanggapi perkatan Vander barusan. "Kenapa tidak tuan Vander saja yang pulang, sepertinya anda jauh lebih sibuk."


"Oh ya? Apa kau yakin itu alasanmu untuk tetap disini tuan Vander?"


"Ya memang itu bukan alasan utamanya sih, lalu tuan Eiji sendiri kenapa masih disini? Kau kan bukan bosnya Lara?"


"Memang, tapi akulah yang membawa Rey kesini, itu tandanya aku bertanggung jawab sampai Rey pulih dan diizinkan pulang."


"Oh..." Vander memutar matanya.


...🍁🍁🍁...


Sementara di ruang ganti, Emily yang baru saja selesai berganti pakaian, tampak duduk senyum-senyum sendiri sambil membaca headline berita di media sosial.


"Hei kau ini kenaapa senyum-senyum sendiri begitu?" Tanya Naomi menghampiri Emily.


"Kau lihat ini!" Emily memperlihatkan kepada manajernya itu, beberapa berita terkait tentang kedekatan dirinya dan tuan Vander, yang kini tengah ramai dibicarakan.


"Jadi kau senyum-senyum karena berita ini?"


Emily mengangguk girang.


"Kau sungguh tergila-gila dengan tuan Vander ya?"


"Ya begitulah, dia itu... Pokoknya dia itu pria sempurna. Tampan, kaya raya, badannya bagus, keren, dan sangat dominan. Aku suka sekali dengannya, aku ingin jadi pendampingnya," ungkap Emily sambil membayangkan sosok Vander.


"Tapi kalau ternyata dia sudah punya pacar atau bahkan istri, bagaimana?"


"Aku tidak peduli, aku akan rebut dia. Lagipula memang wanita mana yang lebih pantas untuk jadi pendampingnya selain aku?"


"Nona Lara?"


Emily tertawa geli. "Ya ampun wanita jelek itu kan adik sepupunya mana mungkin jadi sainganku! Kecuali..." Emily tiba-tiba ingat sesuatu.


"Kecuali apa Emily?"


"Tidak." Kecuali kalau ternyata Lara hanya istri dari sepupunya Vander. Kemungkinan Lara dan Vander? Ah tidak, aku tidak mau memikirkan itu!

__ADS_1


"Oh iya Emily kau tau tidak? Tadi aku dengar anaknya nona Lara dibawa kerumah sakit setelah minum jus. Yang aku tahu penyebabnya, anaknya itu alergi buah nanas tapi malah diberi jus nanas," jelas Naomi.


"Itu akibat ibunya terlalu sibuk cari perhatian makanya anaknya tak terurus jadi keracunan deh," celetuk model itu yang kemudian tersenyum penuh arti.


Hahaha biar saja anak sial itu mati sekalian, untungnya tidak ada yang tahu, kalau ternyata akulah yang sudah menukar minuman anak itu dengan jus dengan campuran buah nanas. Aku kira saat Lara bilang anaknya alergi nanas ia hanya bercanda, ternyata itu sungguhan jadi ku kerjai saja anak nakal itu. Habisnya salah sendiri, beraninya dia mengejekku tadi di belakang panggung.


#Flashback on


Saat bersiap untuk naik panggung runaway, tiba-tiba saja ada Rey yang juga di belakang panggung menghampiri Emily. Disana pria kecil itu mengatakan kalau gaun buatan mamanya sangat cantik.


"Tentu saja, apapun yang dipakai Emily Hasaki selalu terlihat cantik," jawab Emily dengan terlalu percaya diri.


"Tapi sepertinya kalau mamaku yang pakai akan seribu kali lebih cantik daripada dipakai bibi deh" sahut Rey hingga membuat para penata rambut dan penata rias ikut tertawa. Melihat para pekerja itu tertawa seolah menertawaknnya, Emily pun sakit hati dan tak terima. Akhirnya ia pun berniat untuk memberi pelajaran pada bocah kecil tersebut. Melihat jus yang ada di dekat meja riasnya, Emily pun langsung teringat akan Lara yang pernah bilang kalau Rey alergi nanas.


Karena itu akhirnya Emily pun memutuskan untuk meminta pihak konsumsi untuk membuatkannya jus nanas dengan apel. Kebetulan Rey juga minta jus mangga tropical yang warnanya sama persis dengan jus nanas milik Emily. Dan saat kesempatan terbuka dimana tidak ada yang lihat, Emily pun langsung menukar jus nanas miliknya sesegera mungkin dengan jus milik Rey yang baru saja dibuat.


Emily pun lansung tersenyum setelah berhasil menukar minuman itu. "Kita lihat, apa mulut kecil bocah itu masih berani mengejekku setelah minum jus itu!"


#flashback off


Pasti desainer magang itu sendang cemas memikirkan anaknya. Hehehe... Memangnya enak, salah sendiri ibu dan anak sama-samaΒ  menjengkelkan!


"Emily kau kenapa lagi sih! Dari tadi tersenyum sendiri? Masih tentang tuan Vander?" sahut Naomi.


"Ah bukan cuma itu, ada hal lain yang tidak perlu kau tahu."


...🍁🍁🍁...


Akhirnya Lara keluar dari IGD, Eiji yang baru saja kembali dari mengangkat telepon, tiba-tiba langsung menghampiri wanita itu dan mengatakan kalau dirinya harus segera pergi. "Tidak apa kan kalau aku pulang duluan?"


Lara tersenyum. "Tidak apa-apa kak, kau tidak harus menemani Rey sampai selesai. Mengetahui kau sudah rela mengatar Rey kemari dengan segera saja bagiku itu lebih dari cukup. Kau sudah sangat baik padaku dan Rey, aku berhutang banyak padamu."


"Bukan masalah, membantumu dan Rey adalah kewajiban untukku oleh karena ituβ€”"


"Karena itu tuan Eiji lebih kau segera pergi. Lagipula tenang saja aku ada disini jadi kau tidak usah over begitu," sambar Vander memotong ucapan Eiji.


Eiji memicingkan matanya ke arah Vander, pria licik ini!


"Yasudah kak, kau pergilah lagipula sebentar lagi Rey sudah dibolehkan pulang kok."


"Oke kalau begitu aku pergi, tolong titip salamku pada Rey."


"Pasti, kau hati-hati kak..."


"Iya, aku permisi..."


Setelah Eiji akhirnya pergi, Vander pun seketila langsung melingkarkan tangannya dipinggang ramping sang istri, dan menariknya merapat ke tubuhnya.


"Vander ini dirumah sakit loh," pungkas Lara terkejut.


"Sttt...! Aku sedang kesal padamu, bisa-bisanya kau pergi dengan pria itu. Yang suamimu dan ayahnya Rey itu aku bukan Eiji."


"Aku tahu, tapi tadi aku sangat panik jadi aku tidak memikirkan apapun selain segera membawa Rey ke rumah sakit," jelas Lara agak sedih. Melihat istrinya agak sedih begitu membuat Vander tidak tega dan berusaha menghiburnya.


"Hei," Vander mengangkat dagu mungil Lara "Kau tidak perlu sedih, aku berjanji akan mencari orang yang sudah berani mencelakai Rey dan memberinya hukuman!"


Lara langsung memeluk suaminya dan berterimakasih. Mereka pun berpelukan sampai tak peduli ada Mira danΒ  Gavin yang datang. Sebenarnya Vander tahu tapi ia memilih tidak peduli.


"Ehem! Apa kalian juga mau jadikan rumah sakit ini tempat mesra-mesraan," celetuk Miranda.


Lara yang kaget langsung melepaskan pelukannya. "Eh Mi- mira, maaf aku tidak tahu kalian datang."


"Ah sudahlah kalian kan memang kalau sudah berdua selalu begitu berasa dunia milik kalian saja. Oh iya bagaimana keadaan Rey?"


"Iya Kak,Β  Rey bagaimana?"


"Dia sudah baik-baik saja. Alerginya kambuh karena ia minum jus yang ada nanasnya."


"Tadi aku dan paman Robert menyelidiki, dan kami sudah pastikan kalau penyedia konsumsi di sana tidak menyediakan makanan atau minuman yang mengandung nanas sama sekali."


"Lalu dimana Robert?" Tanya Vander.


"Paman masih disana untuk mencari bukti dan menginterogasi para staf bagian konsumsi dan mengecek cctv."


"Lebih baik kita tanya saja pada Rey, bisa jadi ia tahu orang yang memberinya jus," usul Lara.


"Ya itu ide bagus sayang, tapi aku yakin pelakunya bukanlah orang asing bagi kita atau bahkan sering kita jumpai. Karena aku rasa tidak mungkin orang asing tahu persis kalau Rey memiliki alergi nanas, ditambah untuk apa orang asing lakukan itu pada Rey? Aku yakin orang itu sering berada di sekitar kita."


"Kak Vander benar, tapi masalahnya siapa?"

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


TEMAN-TEMAN, JANGAN LUPA DI VOTE, LIKE, COMMENT, DAN DIBERI GIFT! MAKASIH πŸ™


__ADS_2