
Malam harinya, Lara yang tengah bersantai duduk berselonjor di atas sofa, tampak bahagia memandangi hasil USG janinnya. Wanita itu seakan masih belum percaya kalau dirinya kini benar-benar tengah mengandung buah cintanya bersama Vander.
"Kira-kira Vander reaksinya akan seperti apa ya, saat mengetahui aku mengandung anaknya?" Lara tertawa kecil membayangkan reaksi bagaimana suaminya nanti. "Pasti menyenangkan sekali melihat ekspresinya nanti saat tau aku sedang mengandung anaknya."
Lara menyentuh perutnya dan mengajak bicara bayi diperutnya, "Kau tau tidak nak, papamu itu sebenarnya pernah bilang tidak terlalu suka pada anak-anak, tapi kalau anaknya sendiri dia pasti akan suka. Kau beruntung karena kau bisa disayangi olehnya. Papamu pria yang hebat, dan dia tampan, dia tinggi, dan kadang dia sangat manis dan imut kalau lagi manja. Dan... Mama saat ini merindukannya."
Tatapan mata Lara seketika kembali sendu, mengingat sampai hari ini suaminya itu belum juga kembali. Sudah berapa ratus panggilan ia lakukan, berapa ribu pesan ia kirimkan namun satupun tak ada balasan. Mungkinkah ini ujian yang memang ditakdirkan dan harus dijalani oleh Lara?
"Sabar ya sayang, kita sama-sama menunggu papa pulang. Sekarang kita berdua dulu, kau baik-baik ya diperut jangan nakal oke," ucap Lara sambil mengelus perutnya.
**
Saat tengah berkaca melihat penampilanya sebelum berangkat kantor, tiba-tiba saja Lara malah fokus memegangi bagian perutnya sambil melihat ke arah cermin. Lara yang kini tengah mengandung dua bulan baru kepikiran kalau kedepannya pasti perutnya akan semakin buncit dan tidak mungkin pakai baju-baju yang ia pakai seperti saat ini. "Hem, sepertinya aku harus beli pakaian baru yang lebih longgar! Baiklah nanti kalau ada waktu aku akan beli beberapa pakaian yang cocok untuk bekerja saat sedang hamil," ucap Lara yang kemudian langsung pergi beranjak untuk kerja.
Gavin yang biasa menjemput Lara ternyata sudah menunggu di depan lobi apartemen. Kebetulan hari ini Gavin berangkat bersama kekasihnya Miranda.
"Pagi...," sapa Lara pada pasangan kekasih itu.
"Pagi, Eh kak Lara kau kenapa jadi lebih pendek dari biasanya?" Ujar Gavin melihat Lara terasa lebih pendek dari biasanya.
"Ah itu pasti efek aku tidak pakai sepatu hak tinggi jadinya kau pikir aku menciut."
Sejak tau dirinya hamil, Lara memang tidak lagi memakai sepatu dengan hak tinggi seperti biasanya.
"Oh iya Lara, dimana Vander? Sudah seminggu lebih aku tidak pernah melihatnya, apa sesibuk itu suamimu sampai aku jarang melihatnya?" Ungkap Mira.
".... Ya, kau benar! Dia sedang sibuk saat ini jadi kalian jarang melihatnya. Soalnya pagi-pagi sekali dia sudah berangkat." Lara pura-pura tersenyum palsu untuk menutupi hal sebenarnya tentang suaminya saat ini. Lara masih belum bisa bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi, dirinya seolah masih belum siap untuk menerima kenyataan tentang Vander yang nyatanya memang pergi meninggalkannya.
"Sudahlah ayo kita berangkat!" Ujar Lara seraya menghindari pertanyaan lebih lanjut dari Mira.
**
Di tengah jalannya meeting bersama klien di perusahaan X, tiba-tiba saja morning sickness Lara muncul. Ia merasa mual sekali dan ingin sekali pergi ke toilet untuk muntah.
Ya Tuhan, kenapa rasa mualnya harus muncul saat meeting berlangsung? Lara memegangi perutnya berharap bisa tahan untuk tidak muntah, namun aroma ruangan meeting benar-benar membuatnya pusing dan sangat tidak tahan ingin muntah.
"Heugg!"
Lara menutup mulutnya yang sudah hampir muntah. Karena benar-benar sudah tidak kuat lagi menahan rasa mualnya, Lara pun izin untuk pergi ke toilet. Ia lalu berlari masuk ke toilet dan memuntahkan semua rasa mualnya disana.
"HUEK! HWEGGG!"
__ADS_1
Setelah merasa cukup lega, Lara pun keluar dari toilet untuk membasuh mulutnya di wastafel dan mengatur nafas.
"Ya ampun, sampe kapan ya gejala mual-mual ini selesai?" Pungkas Lara di depan cermin wastafel.
"Nona kau sedang hamil ya?" Ucap seorang nyonya yang tengah mencuci tangan disebelah Lara. Nyonya itu tiba-tiba menepuk pundak Lara dan tersenyum hangat. "Kau tenang saja, gejala mual muntah memang sering terjadi di awal kehamilan, tapi seiring bertambahnya usia kandungan gejalanya akan berkurang sendiri."
"Oh begitu ya?"
"Nona meskipun kau masih muda dan punya fisik sehat, tapi ada baiknya saat hamil kau mengurangi aktivitas di luar rumah. Bagaimana pun keselamatan ibu dan bayi sama-sama penting. Jadi bilang pada suamimu, tolong agar lebih protektif menjaga istrinya."
Lara mengangguk hormat dan berterima kasih atas nasihat dari nyonya itu.
"Kalau begitu aku pergi dulu Nona."
"Suamiku?" Lara tersenyum pilu. "Aku saja tidak tahu dia ada dimana, bagaimana dia mau menjagaku?"
**
Saat jam istirahat, tiba-tiba saja Jeden datang menghampiri Miranda yang tengah santai menikmati kopi di coffee bar dekat kantor.
"Hai Miranda," Jeden duduk disebelah Mira kemudian memesan segelas kopi.
"Apa ada larangan aku tidak boleh datang kemari?"
"Tidak sih, tapi biar kutebak. Kau pasti ada perlu denganku kan?" Miranda menyesap gelas kopi ditangannya.
Sepertinya Jeden memang tak perlu basa-basi kalau dengan Mira. "Ya, aku memang ingin bertanya padamu."
"Tanya apa?"
"Soal Lara, apa dia baik-baik saja?"
Miranda tersenyum miring. "Sudah kuduga pasti kau tanya soal dia." Miranda menjelaskan pada Jeden kalau Lara baik-baik saja.
"Tapi aku perhatikan beberapa hari ini dia sering terlihat lesu dan pucat. Aku khawatir dengannya."
"Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, dia punya suami dan—"
"Justru itu! Aku curiga si Vander sialan itu tidak memperlakukan Lara dengan baik makanya dia jadi terlihat menyedihkan."
Mira tertegun, ia merasa apa yang dikatakan Jeden ada benanya. Bisa jadi penyebab Lara jadi sering sedih begini memang Vander. Miranda jadi berpikir apa lebih baik ia beritahukan ke Jeden kalau Lara sedang hamil? Tidak, Mira tidak bisa ceritakan itu mengingat Jeden benci sekali dengan Van, kalau ia tau Lara hamil anak Vander malah akan jadi runyam.
__ADS_1
"Soal Lara kau tenang saja, aku pastikan dia baik-baik saja. Dan untuk urusan rumah tangganya dengan Vander, aku rasa kita tidak berhak terlalu ikut campur." Mira bangkit dari kursinya lalu pamit pergi.
"Aku duluan ya, tuan Jeden."
**
Jam kantor sudah mau selesai, tiba-tiba saja ada Miranda yang masuk menemui Lara di ruangannya.
"Hai Mira, ada apa?"
Mira datang bermaksud mengajak Lara untuk jalan-jalan jika sudah selesai pekerjaannya.
"Jadi mau tidak? Sekalian kita mengenang masa remaja kita. Dulu kan kita sukaberjalan-jalan santai saat sore hari."
"Ya, aku mau," angguk Lara mengiyakan ajakan Miranda.
Setelah selesai dengan pekerjaannya Lara dan Mira pun berjalan-jalan naik mobil berdua mengelilingi kota ZR. Di jalan kedua wanita itu tampak asyik mengingat cerita masa lalu mereka saat masih remaja dulu.
"Dan kau ingat Mira, saat pertama kali kau dapat sim mengemudi. Saat itu kau mengajakku jalan-jalan naik mobil ayahmu dan saat kembali kau malah dimarahi."
"Itu karena kau yang bermulut ember," balas Mira sambil menyetir. Keduanya lalu tertawa mengingat kejadian itu.
Setidaknya dia agak lebih ceria, pikir Mira melihat Lara yang sedikit bisa ceria lagi setelah beberapa minggu ini nampak muram dan sedih terus.
Setelah puas berjalan-jalan, kedua wanita itu mampir ke taman dekat danau angsa. Disana mereka duduk santai sambil menikmati coklat hangat di cuaca dingin.
"Aduh," ucap Lara yang tak sengaja menjatuhkan menumpahkan coklat hangat di pakaiannya. Lara pun berinisiatif pergi ke keran umum untuk membasuh noda di bajunya tersebut.
"Lara, kau yakin pergi sendiri?" Pungkas Mira khawatir.
"Iya, lagipula keran airnya dekat dari sini kok! Kau tunggu saja disini oke?" Lara kemudian pergi.
Sementara Lara pergi membersihkan noda dibajunya, Miranda yang menunggu di bangku taman malah harus dibuat repot oleh sekumpulan bocah nakal yang bermain tidak hati-hati hingga menyenggol Mira.
"Huh! Dasar anak-anak nakal!" Miranda kesal karena gara-gara mereka, tas Lara yang dipegangnya jadi jatuh dan isinya jadi berceceran. Ia pun segera membereskan isi tas Lara, namun saat membereskannya Mira malah menemukan surat hasil pemeriksaan kandungan Lara seminggu lalu juga ada disana.
"Tunggu, bukankah ini surat hasil pemeriksaan kehamilan Lara seminggu yang lalu, kenapa masih dibawa olehnya? Apa dia belum memperlihatkannya pada Vander?" Mira langsung mengerutkan alisnya karena merasa ada yang aneh.
...🌿🌿🌿...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE. PLIS PLIS PLIS 💜
__ADS_1