
"Itu undangan pesta dari Nona Karina untuk Nona Lara," jelas nona sekretaris.
Pesta apa? Lara mengernyitkan keningnya. "Baiklah terima kasih," ungkap Lara lalu masuk ke ruangannya
Di ruangannya Lara langsung duduk dan membaca undangan tersebut, disana tertulis ;
...Undangan perayaan ulangtahun CEO Appletree Karina Foster yang ke-25 yang akan diadakan di ballroom hotel Rosevelt....
"Dia menggundangku? Tumben sekali, bukankah dulu saat SMA aku satu-satunya anak disekolah yang tidak diundang ke perayaan ulang tahunnya yang ke delapan belas? Dan saat aku tanya kenapa aku tak diundang, dia malah memberikan alasan konyol hanya karena usiaku masih dibawah lima belas tahun. Padahal saat itu sebagian temanku juga ada yang masih seusia dengakudan tapi tetap undang! Huft kenapa sih mantan seniorku itu menyebalkan sekali!" Gerutu Lara.
Lara sebenarnya malas sekali datang ke acara Karina tapi... "Kalau aku tidak datang pasti ia mengira, aku tidak berani menghadapinya karena statementnya di media waktu itu?" Lara kembali membaca undangan tersebut dan disana ada note yang dituliskan wajib membawa pasangan.
"Aduh apa-apaan sih ini, kenapa ada catatan harus bawa pasangan juga? Kalau begini acaranya aku kan tidak mungkin mengajak Vander!"
Lara jadi pusing sendiri dibuatnya. "Huh! Dasar Karina wanita culas serigala berbulu domba yang sok cantik! Pasti dia sengaja membuat persyaratan konyol ini, dasar menyebalkan!" gerutu Lara dengan penuh kekesalan.
***
Malam harinya Van dan Lara berbaring di ranjang yang sama, Lara yan menempelkan kepalanya di dada bidang Vander. Sambil memaikan jari-jari rampingnya di dada bidang sang pria ia bercerita kepada Van kalau dirinya sudah memberitahu Miranda soal hubungan mereka.
"Lalu apa yang dikatakan Nona Mira?"
"Dia awalnya marah karena takut akan jadi masalah, tapi pada akhirnya dia mendukung kita dengan catatan dia akan mencincangmu kalau sampai kau menyakitiku," ungkap Lara sambil tertawa.
"Begitu ya? Semua orang sepertinya ada dipihak Nona," balas Van sambil megusap-usap kepala Lara lalu menciumnya.
Van juga sebenarnya ingin mengatakan soal bengkel Gavin, pria itu berniat meminjam uang dari Lara. Tapi entah kenapa hati kecil Vander seolah tak mengiyakannya ia merasa malu dan gengsi mengatakannya. Tentu saja bagaimanapun sebagai laki-laki Van masih punya harga diri. Meminta uang ke wanitanya pasti akan terasa memalukan bagi sebagian besar pria salah satunya Van, ia tidak mau terlihat seperti itu dimata Lara.
"Vander... Van? Hei!"
"Ah iya ada apa?"
Lara bangkit dari tidurnya dan bertanya, "Van kau melamun ya? Apa ada yang menganggu pikiranmu?"
"Ah tidak aku cuma kepikiran sesuatu saja kok!"
Lara memicingkan wajahnya. "Bohong!"
__ADS_1
"Ak- aku tidak, Nona apa yang kau lakukan?"
Tiba-tiba Lara duduk diatas perut Vander yang sixpack.
"Cepat bilang kau sedang memikirkan apa?" Tanya Lara lagi.
"Aku tidak—" Kali ini Van tidak bisa fokus memikirkan hal lain, yang ia tau kini ada Lara yang terlihat sangat menggoda duduk diatas perutnya seolah tengah menunggangi kuda. Lara mengenakan gaun tidur yang sangat tipis dan agak terbuka dibagian dadanya, rambutnya yang panjang dan agak bergelombang membuat Van semakin tak kuasa menahan diri. Ia bahkan sampai menelan ludah berkali-kali.
Lara menunduk mendekatakan wajahnya ke wajah sang kekasih. Gadis itu trsenyum kecil seraya menggoda Van.
Melihat Lara tanpa riasan sedekat ini Vandar tak bisa untuk tidak memuji. "Nona sangat cantik," ungkap Vander yang tubuhnya pun ikut bereaksi. Bahkan sesuatu dibawah perutnya sudah mulai bangun.
"Nona aku—"
"No!" Lara menghalangi tangan Vander yang mau menyentuh wajahnya. "Kau tidak boleh menyentuhku, sampai aku izinkan! Anggap ini hukuman karena kau tidak mau mengatakan apa yang kau pikirkan."
Van tecengang tak berkutik.
Wanita ini mau apa? Kenapa dia jadi seperti ini? Dia sangat hot duduk menunggangi perutku, bagaimana bisa aku menahan diri untuk tidak menyentuhnya?
Lara menyentuh wajah Van dengan jemarinya yang ramping. "Kau punya mata hidung, dan bibir yang bagus. Garis tulang wajahmu juga membentuk dengan sangat sempurna."
Darimana gadis ini belajar hal-hal seperti ini? Padahal saat pertama kali berciuman seingat Van, Lara masih sangat amatiran. Van sungguh ingin sekali menyentuh dan memeluk Lara dengan leluasa namun lagi-lagi Lara tak mengizinkannya. Gadis itu malah semakin kebawah menciumi leher dan dada Van hingga meninggalkan bekas.
"Egh!" Pria itu mengerang berkali-kali seraya menahan reaksi tubuhnya sudah semakin liar. "Nona kumohon izinkan aku bergerak!" Vander memohon.
Sayangnya Lara belum juga mengizinkannya. Pinggul Lara justru terus bergeser mundur hingga perut Van bisa merasakan bagian paling sensitif Lara seolah meggosok-gosok sisi perutnya. Lara yang semakin bergeser mundur ke bawah malah terhadang benda keras dan besar yang ada diantara kedua tulang paha Vander. Gadis itu pun langsung menoleh kebelakang dan kaget melihat milik Van yang sudah jadi setegang itu?
Vander yang sudah tidak sanggup menahan diri langsung mengangkat tubuh Lara dan membaringkannya diatas ranjang, kini Vander mengambil alih posisinya yang memang seharusnya sudah ia lakukan sejak tadi.
Lara tercengang melihat wajah Van yang berkeringat dan nafasnya tersengal-sengal berada tepat diatas wajahnya.
"Maaf Nona aku sudah tidak tahan lagi!" Van medekatkan bibirnya ke telinga Lara dan berbisik, "Nona aku menginginkanmu!"
Deg! Jatung Lara bedebar keras, dan kelopak matanya membulat.
"Van- der... hh..."
__ADS_1
Van mulai menciumi tengkuk leher Lara bersamaan dengan tangannya yang dengan lihai membuka tali di bagian depan gaun tidur yang dipakai Lara. Pria itu perlahan-lahan menyesapi tiap bagian bagian atas tubuh Lara yang polos tanpa tertutup sehelai benangpun
Semua keindahan tubuh Lara hanya untukku! Pekik dewa batin pria itu seraya menghak milik.
Vander tampak menikmati tiap inci bagian tubuh Lara yang lembut dan bearoma harum. Sampai akhirnya Van sampai ke bagian paling sensitif milik Lara yang berada diantara tulang selangkanya. Lara merasa malu dan menutupi bagian miliknya yang sudah basah itu dengan tangannya.
Ia menyingkirkan tangan Lara dari sana.
"Ini sudah basah sekali Nona!"
Lara bisa melihat kebawah bagaimana Van tersenyum memadangani area paling sensitif miliknya dengan tatapannya yang seperti hewan buas kelaparan.
Lara sampi menutup wajahnya, ia merasa malu sekali.
Pria itu perlahan menanggalkan ****** ******** yang sudah basah, kemudian menenggelamkan kepalanya disana. Lara pun tak kuasa lagi menahan suaranya saat Van mulai memainkan lidahnya disana
"Tidak jangan lagi!" Lara menjambak rambut Van dengan kuat, ia benar-benar tidak sanggup lagi menahannya. Lara terengah-engah tubuhnya seperti kelelahan dan ia merasa mengantuk.
Setelah selesai melakukan pemanasannya kini tiba waktunya Vander melakukan tugas utamanya. "Sekarang waktunya aku memakanmu sungguhan Nona La- ra?" Van yang sudah bersemangat dan menggebu-gebu lagi-lagi harus dibuat gigit jari, pasalnya ia melihat Lara sendiri justru sudah tidur duluan.
Van yang sangat kesal hingga frustasi langsung mengusap wajahnya dengan kasar sambil mengumpat. "Sial, dia yang sudah buat aku sampai ke titik ini dan dia malah seenaknya tidur? Lara Hazel kau sengaja mau menyiksaku kah?"
Sebenarnya Vander bisa saja melakuannya saat ini demi melampiasakan hasratnya yang sudah dipuncak, tapi bercinta dengan wanita yang tidak sadarkan diri bagi Vander adalah hal yang memalukan. Ditambah Lara adalah wanita yang sangat ia cintai tidak mungkin Van tega melakuknnya tanpa consent dari wanitanya. "Aku hanya ingin melakukannya saat kau sadar dan mengizinkanya."
Dengan perasaan kesal dan berat hati Van harus lagi-lagi menahan hasratnya. Ia pun memilih menyelimuti tubuh Lara, mendekati wajahnya yang cantik tanpa riasan lalu mengecup lembut kening serta bibirnya. "Kenapa kau senang sekali membuatku jadi gila Lara Hazel," gumam Vander kesal namun tak bisa marah.
**
Keesokan paginya Lara dan Vander berangkat ke Miracle. Di perjalanan Lara kembali bertanya kepada Van, "Apa ada yang ingin kau katakan Vander?"
Sepertinya percuma disembunyikan, toh pada akhirnya Lara pasti akan tau. "Nona Lara sebenarnya..." Pada akhirnya Van menceritakan soal bengkel Gavin, dan mengatakan kalau ia butuh bantuan dari Lara.
"Jadi itu, kenapa tidak bilang saja dari semalam. Jadinya semalam aku kan tidak perlu menghukummu..." wajah Lara memerah karena malu mengingat apa yang ia lakukan semalam.
Sebaliknya Vander malah menyeringai. "Tidak apa-apa aku suka hukuman, kalau dihukum seperti itu setiap hari oleh Nona aku juga tidak masalah," ucap Vander sengaja menggoda Lara.
"Sudah diam kau membuatku malu tau!" Ujar Lara semakin merasa malu.
__ADS_1
Bersambung...
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜