
Gavin akhirnya selesai membetulkan mesin mobil milik Lara. Ia pun dengan sabar menunggu Van dan Lara kembali. Dan tak lama kemudian yang ditunggu Gavin pun tiba.
Van membantu Lara turun barulah kemudian dirinya.
"Kau sudah selesai?" Tanya Vander menghampiri Gavin.
"Sudah Kak, oh iya bagimana Nona, seru kan naik motor bersama Kak Vander?" Tanya Gavin tampak akrab.
"Iya seru sekali" jawab Lara tersenyum puas.
"Yasudah karena sudah sudah selesai kau kembalilah," ucap Vander sambil melemparkan kunci motor ke arah Gavin dan dengan sigap pria itu pun langsung menangkapnya.
Gavin kemudian bersiap pergi. Tapi sebelum Gavin pergi Lara menahan pria itu untuk mengucapkan terima kasih. "Terima kasih ya karena sudah mau membantu membetulkan mobilku, kau sungguh anak yang baik," pungkas Lara sambil mengusap lembut rambut Gavin seraya memujinya. Pria itu pun langsung tersipu malu saat kepalanya diusap dengan lembut oleh Lara.
"Sama-sama, aku juga senang bisa bertemu dan membantu Nona Lara," ucapnya.
Lain halnya dengan Van, ia justru terlihat keki dan cemburu melihat Lara yang bisa langsung akrab dengan Gavin sampai-sampai mau mengusap kepala pria itu tanpa rasa ragu.
"Kalau begitu Gavin, anggap saja kalau aku ini kakakmu, kebetulan aku ini anak tunggal jadi tidak pernah tau rasanya punya kakak ataupun adik," ungkap Lara.
Van seketika tertawa geli mendengar ucapan Lara lalu mendekatinya.
"Kenapa, apa aku salah berucap?" Tanya Lara bingung melihat Vander.
"Bisa-bisanya Nona menyuruh Gavin menganggapmu sebagai kakak, padahal usia Gavin saja lebih tua dari Nona," ungkap Van.
Lara langsung kaget dan tidak percaya dengan ucapan pengawalnya barusan, pasalnya dilihat dari wajahnya Gavin itu sungguh terlihat seperti anak mahasiswa yang baru lulus SMA.
"Van... meskipun kau tidak terlalu suka pada Gavin, tapi kau tidak boleh berbicara bohong tentangnya," ujar Lara yang masih belum percaya dengan ucapan pengawalnya itu.
Vander yang tidak mau memksa Lara percaya ucapannya pun, langsung menyuruh gadis itu mengkonfirmasi sendiri lewat Gavin Langsung.
"Gavin, apa benar yang diucapkan Van barusan, memang usiamu sebenarnya berapa?"
Gavin menggaruk kepalanya sambil cengar-cengir lalu mengiyakan kalau apa yang dikatakan Vander itu benar adanya. "Sebenarnya usiaku sudah dua puluh lima tahun."
"Apa!?" Lara syok. Pasalnya mau dilihat dari sisi manapun wajah Gavin memang sangat imut. Orang awam yang tidak kenal juga pasti mengira kalau dia itu masih remaja. Tapi siapa sangka ternyata, usia asli Gavin hanya terpaut setahun lebih muda dari Miranda dan Jeden.
Tapi meski begitu Lara tetap pada perkataannya. "Tidak apa-apa usiamu lebih tua, tapikan wajahmu tidak kelihatan dua lima jadi tetap panggil aku kakak ya...," pinta Lara yang sudah keburu menganggap Gavin seperti adiknya.
"Baiklah kakak Lara yang cantik," jawab Gavin menyambut dengan senang hati permintaan Lara.
Kebalikan Lara dan Gavin, melihat kelakuan mereka berdua Vander hanya bisa dibuat geleng kepala. Bisa-bisanya Nona Lara dan si bodoh Gavin ini satu frekuensi! Pikir Vander.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya Kak," pamit Gavin pada Lara dengan suaranya yang sengaja ia buat manja.
"Hati-hati adikku," balas Lara yang kembali ingin mengusap-usap kepala Gavin, sayangnya tidak jadi karena dihalangi oleh Van yang langsung menghalangi tangan Lara menyentuh kepala Gavin.
"Akan lebih baik jika kau segera pamit dari sini, atau adik Gavin masih mau main-main dengan Kakak Vander?" ucap Vander tampak tersenyum wwlau sebenarnya maksud perkataannya itu justru mengancam.
__ADS_1
Gavin yang paham maksud tindakan Van pun menurut. "I- iya ini aku akan segera pergi," ucap Gavin takut.
"Bye Gavin sampai jumpa, dah!" Seru Lara sambil melambaikan tangannya ke arah Gavin yang baru saja pergi naik motor.
"Senangnya menjadi muda dan berwajah imut," ujar Vander yang berdiri di sebelah Lara dengan raut wajah datar dan tidak bersemangat.
Lara pun menoleh melihat Van. "Kenapa tiba-tiba bicara begitu?"
"Tidak apa-apa, aku hanya sedang berpikir kalau seandainya saja aku lebih muda, pasti akan lebih menyenangkan."
Dia bilang begitu, apa dia cemburu melihatku memperlakukan Gavin seperti tadi? Lara kemudian menyeringai kecil menyadari sepertinya Van memang merasa iri melihatnya memperlakukan Gavin seperti tadi.
"Van apa kau ingin aku anggap sebagai adikku juga?" Tanya Lara.
"Eh?" wajah Van seketika memerah. "A- aku... itu mana mungkin, secara usia aku kan lebih tua dari Nona, aku juga tidak imut sama sekali," pungkas Vander yang kini wajahnya tampak malu-malu.
"Lalu aku harus menganggapmu apa?" Tanya Lara lagi bermaksud menggodanya.
Van jadi langsung salah tingkah dibuatnya, karena ia tidak tau harus jawab apa pertanyaan Lara barusan. "A- aku... Aku kan hanya pengawalnya Nona Lara."
SREK! Lara tiba-tiba menarik kerah baju Vander agar bisa lebih mendekatkan wajahnya dengan pengawalnya itu. Lara mendekatan bibirnya ketelinga Van dan berbisik seraya menggodanya. "Aku beritahu ya, tipeku itu bukan yang berwajah imut. Aku lebih suka pria matang berwajah tampan serta pemberani, dan aku suka pria yang mau tunduk padaku, seperti dirimu contohnya..." Lara meniup telinga Vander.
GLEK!
Van seketika menelan ludah, tubuhnya pun langsung jadi menegang dan panas setelah dibisiki sedekat itu oleh bosnya. Vander seperti tidak tahan lagi rasanya untuk menahan diri. ia pun menarik dirinya menjauhi Lara dan berkata, "Nona lebih baik kita segera pulang saja," ucap Van yang tubuhnya kini sudah mulai berkeringat.
"Nona cepat masuk ke mobil, atau aku perlu menggendongmu masuk ke dalam?" Ucap Vander dengan suaranya yang berat dan terdengar serius.
Kalau nada bicara Van sudah begitu Lara pun seketika tidak berani melawannya.
"I- iya aku bisa naik sendiri kok," jawab Lara kemudian langsung masuk mobil.
Sementara Vander belum ikut masuk ke mobil, ia masih berusaha mengatur degup jantung dan nafasnya dahulu sebelum masuk kedalam mobil. "Tadi itu hampir saja aku mau memakannya," gumam Vander sambil satu tangan menutupi wajahnya yang masih terasa panas.
Dari dalam mobil Lara menggerutu. "Aku kan cuma menggodanya sedikit, kenapa dia malah tiba-tiba jadi serius dan galak begitu nada bicaranya? Dan kenapa juga aku jadi takut kalau lihat Van begitu? Huh, dia itu kadang aneh, kalau memang tidak suka padaku kan bisa katakan saja langsung, walau—" Raut wajah Lara seketika jadi sendu. "Walau aku tidak akan sanggup medengar bahwa dia tidak suka padaku."
Tak lama Van akhirnya ikut masuk ke dalam mobil. Kali ini aura pria itu sudah kembali menjadi seperti biasanya, menurut Lara.
"Nona maaf membuatmu menunggu, tadi itu aku mau—"
"Sudahlah Van tidak perlu jelaskan apa-apa, aku salah karena sudah menggodamu seperti itu hingga membuatmu risih, maaf ya," ucap Lara tampak sedih dan menyesal
Gadis bodoh, bukan itu maksudnya! Van jadi malah kesal sendiri dibuatnya.
"Nona tidak salah apa-apa kenapa minta maaf. Kalau ada yang harus disalahkan dan dihukum itu seharunya aku, aku yang tidak tau diri karena—"
"Van, sudah jangan diteruskan. Jalankan mobilnya saja," pinta Lara dengan suaranya yang lembut.
"Baik," Van akhirnya hanya bisa menurut.
__ADS_1
**
Di ruang kerjanya, saat sedang santai duduk sambil membaca buku tiba-tiba saja ponsel Miranda berbunyi. Wanita itu pun segera mengambil ponselnya yang ada dimeja, dan mengangkat panggilan tersebut.
"Nomor siapa ini?" Ucap Mira melihat nomor tak dikenal menghubunginya. "Angkat tidak ya? Angkat saja deh!" Mira akhirnya menjawab panggilan tersebut.
"Iya halo siapa ini?"
....
"Apa kau bilang? Jangan bercanda!" Wajah Mira langsung panik seketika.
.....
"Oke, oke terima kasih informasinya."
Setelah menutup panggilan tadi wajah Mira masih terlihat panik. "Ini gawat, aku harus segera menghubungi Nona Lara secepatnya." Dengan diselimuti rasa panik Miranda pun menghubungi Lara. "Sial! Kenapa ponsel Nona tidak aktif!"
Miranda yang semakin kebingungan, akhirnya langsung kepikiran untuk menghubungi Vander mengingat kini Lara tinggal bersama pria itu.
**
Ponsel Vander yang ada di saku celananya tiba-tiba berbunyi. Vander sedang menyetir dan tidak pakai wireless ditelinganya jadi tidak bisa mengangkatnya, karena dirinya sedang bersama Lara saat ini. Dirinya takut kalau memaksa mengangkat panggilan itu malah akan terjadi kecelakaan apalagi jalanan sudah mulai gelap.
"Van ponselmu getar kenapa tidak diangkat?" Tanya Lara yang dari tadi dengar suara getarnya.
"Aku sedang tidak pakai earphone."
"Kau bisa berhenti dulu kalau mau, atau mau aku bantu angkatkan untukmu?" Ucap Lara menawarkan bantuan.
Van sebenarnya ingin minta Lara untuk angkat, tapi ia takut kalau teleponnya itu dari Aron atau orang lain yang tidak Lara kenal. Tapi kalau aku tidak biarkan Nona mengangkatnya dia pasti akan curiga.
Akhirnyan Van memutuskan meminta Lara untuk mengangkat panggilan tersebut. Van hanya berharap yang telepon bukan Aron ataupun orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan Lara.
Lara kemudian merogoh saku celana Vander dan mengambil ponselnya itu.
"Miranda yang telepon!" Ucap Lara saat melihat kontaknya tertera.
Van lega mengetahui yang telepon adalah Mira. Tapi ada apa Mira meneleponnya tiba-tiba?
"Halo Mira, ini aku Lara ada apa?"
.....
"Apa kau bilang?!" Seru Lara terlihat syok.
Bersambung...
⚠️TEMEN-TEMEN JANGAN LUPA SHARE, VOTE, LIKE, DAN BERI DUKUNGAN SERTA KOMENTAR SEBAGAI BENTUK MENGHARGAI PENULISNYA. MAKASIH 💜
__ADS_1