
Melihat Van diam begitu Gavin jadi ingin tau kenapa.
"Kak kau kenapa? Kau marah padaku ya?"
"Aku hanya malu pada diriku sendiri."
"Eh kenapa? Kakak kan tidak berbuat apa-apa kenapa malu? Justru aku yang mempermalukanmu di depan kak Lara tadi karena kesan pertama datang kesini malah langsung berulah," ungkap Gavin merasa bersalah.
Vander tersenyum kecut. "Aku sampai harus minta tolong Nona Lara untuk membantumu, seharusnya sebagai seorang pria aku bisa menolongmu tanpa melibatkannya." Bagaimana pun Vander seorang laki-laki yang punya harga diri dan ia merasa harga dirinya agak tergores saat ini, tapi disisi lain ia harus menolong Gavin karena tidak ingin melihat Gavin dan pegawai bengkelnya pada akhirnya hidup luntang lantung jadi gelandangan dijalanan karena tak punya pekerjaan. "Seandainya aku punya semuanya terutama uang yang banyak, aku tidak akan menyusahkan Lara," ungkap Van merasa kecewa pada dirinya sendiri.
Gavin menepuk pundak Van. "Sudah Kak Van, kau tidak perlu berkecil hati. Apa kau lupa siapa yang memberiku ide membuka bengkel waktu itu? Dan apa kau tidak ingat siapa laki-laki yang memberikan semua uangnya untukku agar aku bisa membuka bengkel untuk pertama kali?"
Van menatap Gavin penuh tanya.
"Ya! Kau, kaulah orangnya! Bagiku kau itu sudah seperti keluargaku. Sejak aku remaja tidak punya punya orang tua kaulah yang menjagaku, memperhatikanku, memberiku makanan, mengajariku banyak hal, walau kau kadang suka galak dan menyeramkan tapi kau sangat tulus memperlakukanku, buatku kakak pria paling hebat sedunia dan paling serasi sama kak Lara, ibaratnya kau itu mungkin tampak seperti iblis tapi dihatinya ada jiwa seorang malaikat yang bersembunyi," ungkap Gavin.
Vander tersenyum kecil lalu mengacak-acak rambut Gavin. "Sudahlah ayo kita cari sarapan!" Ajak Vander.
**
Di ruangan Lara, Mira masih kesal dan tidak terima dengan kelakuan Gavin. Melihat asistennya begitu, Lara hanya bisa dibuat geleng-geleng kepala sambil sesekali tertawa.
"Miranda sudah, kau jangan terlalu kesal pada Gavin nanti kau malah jatuh cinta padanya loh...," goda Lara.
"Aku jatuh cinta pada si tengik itu? Cuih, tidak mungkin!"
Lara tetawa geli.
"Eh kenapa kau malah tertawa memangnya ada yang lucu?"
"Tidak apa-apa, aku hanya merasa lucu saja melihatmu pertama kalinya begini hanya karena satu pria. Hati-hati nanti jatuh cinta."
"Dengar ya Nona, aku itu suka pria yang lebih dewasa dan matang! Bukan bocah seperti dia!"
"Oh ya? Seperti siapa?"
"Seperti Vander."
Lara langsung memicingkan matanya. "Kau mau bersaing denganku?"
"Memangnya kau mengizinkan aku menyukainya?"
"Coba saja kalau kau merasa yakin bisa mendapatkannya," tantang Lara dengan percaya diri.
"Aduh aduh, aku hanya bercanda kok Nona, mana mungkin aku berani saingan dengan bosku sendiri. Lagipula baik Vander dan si tengik itu dua-duanya bukan tipeku, mereka sama-sama menyebalkan! Hanya saja si Gavin tengik itu menyebalkan sudah level dunia!"
"Iya iya...! Sudahlah lupakan itu, ada hal lain yang ingin aku bicarakan padamu."
"Apa itu Nona?"
"Soal ini," Lara memperlihatkan undangan dari Karina yang didapatkannya kemarin.
__ADS_1
"Lalu?"
"Kau baca saja."
Miranda pun membacanya.
**
Di sebuah salon kecantikan terlihat Karina sedang melakukan perawatan rambut. Disana ia tidak berhenti tersenyum memandangi dirinya sendiri di depan cermin saat tengah di sisiri dan distyling rambutnya.
"Apa aku semakin cantik?" Tanya Karina pada pegawai salonnya.
"Iya Nona sangat cantik."
"Memang begitu sih kenyataannya," ucapnya dengan penuh percaya diri.
Lihat saja, saat Vander melihatku nanti , aku yakin dia tidak akan bisa memalingkan pandangannya dariku sedetik saja.
"Hei lihat, ini kan Lara Hazel CEO Miracle saat ini kan?" Ujar salah satu pegawai salon yang sedang tidak menangani pelanggan ke pegawai disebelahnya sambil memperlihatkan sebuah akun media sosial.
"Wah iya itu dia, apa kau sedang stalking akunnya?"
"Tidak, ini hanya akun buatan seorang yang seperti penggemar, akunnya Lara Hazel yang asli justru hampir tidak ada foto-fotonya."
"Benarkah? Padahal dia sangat cantik dan fashionable, kalau aku jadi Nona Hazel aku sih akan posting foto diriku di akunku setiap hari hehehe..."
"Orang yang sungguhan cantik memang jarang narsis sepertimu!"
"Masalahnya dia kaya raya dan dan sangat cantik sudah pasti pasangannya harus yang sepadan, ya minimal pangeran atau bos muda yang tampan dan sangat kaya raya," guraunya.
"Aku jadi penasaran dengan wujud asli Nona Lara."
"Aku pernah melihatnya meski dari kejauhan dia tetap terlihat sangat cantik, dia memang tidak setinggi model, tapi kakinya jenjang dan bentuk tubuhnya juga sangat bagus, ramping dan berisi dibagian yang seharusnya. Aku rasa dia kalau jadi artis pasti laku keras. Tapi dibanding itu aku lebih penasaran dengan sosok pacaranya nanti?"
"Ah kau benar, katanya pacarnya rahasia atau jangan-jangan nona Hazel tidak suka sama laki-laki?"
"Heh sembarangan! Sudahlah ayo kita kembali kerja!"
Berbanding terbalik dengan mereka, Karina justru telinganya sudah panas sejak tadi mendengar dua orang pegawai itu memuji-muji Lara sampai segitunya. Cantik apanya? Memang apa bagusnya sih wanita itu sampai punya akun penggemar, kalau cuma cantik dan punya badan yang bagus aku juga seperti itu, bahkan aku lebih tinggi darinya! Ucapan mereka benar-benar membuatku merasa mual dan semakin muak saja dengan wanita itu! Batin Karina seolah mendidih setelah mendengar percakapan pegawai tadi.
**
Vander yang ada diperjalanan sehabis dari mengantar Gavin tiba-tiba mendapati telepon dari Karina.
"Mau apa wanita ini meneleponku?"
Sebenarnya Van malas angkat, tapi dirinya yakin kalau seandainya ia tidak mengankatnya pasti Karina akan terus meneleponnya tanpa henti.
"Merepotkan saja!" Van akhirnya mengangkat panggilan Karina lewat wireless ditelinganya.
Van : Halo!
__ADS_1
Karina : Hai Van apa kabar?
Van : Kau mau apa Nona Karina?
Karina : Buru-buru sekali.
Van : Katakan saja cepat!
Karina : Kita bertemu di kafe ya.
Van : Apa tidak bisa ditelepon saja langsung katakan?
Karina : Tidak bisa.
Van : Yasudah tidak usah bertemu.
Karina :... Kau yakin? Kalau ada hubungannya dengan Lara?
Van : Baiklah dimana tempatnya?
Karina : Di kafe Oliver sekitar tiga puluh menit lagi.
Van : Baiklah!
Van tampak kesal, "Sial! Wanita itu selalu saja membawa nama Nona Lara untuk menekanku!"
**
Di ruangannya Lara masih bertanya kepada Mira soal undangan Karina.
"Jadi apa yang harus aku lakukan Mira? Aku tidak mau dianggap menghindari Karina kalau tidak datang, tapi jika harus bawa pasangan lawan jenis, siapa yang akan menemaniku? Karena kalau aku bawa Vander mana mungkin!
"Nona sudah beritahu Van soal ini?"
"Belum."
"Kenapa belum, seharusnya Nona katakan langsung agar segera ada solusinya. Ingat ya Nona, salah satu tips langgeng dengan pasanganmu adalah jangan suka menutup-nutupi sesuatu dari kekasihmu."
Miranda benar, "Baiklah nanti aku akan bicarakan dengan Van, terima kasih sarannya ya pakar cinta Miranda."
"Iya sama-sama."
**
Karina yang sudah selesai dengan perawatan rambut pun langsung bergegas pergi menuju kafe Oliver untuk bertemu Vander.
"Setelah pertemuan ini, dipastikan Van akan jadi pasanganku di pesta nanti, " ucap Karina penuh keyakinan.
Bersambung...
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜
__ADS_1