
"Eva, mau apa kau meneleponku?!"
Eva : aku hanya ingin bicara denganmu, bisa kita bertemu?
Vander : Katakan saja di telepon.
Eva : Kenapa kau dingin sekali padaku? Apa kau membenciku?
Vander : Langsung ke intinya saja!
Eva : Tuan Gauren ingin kau kembali padanya.
Vander : Jadi itu alasanmu menelepon? Kalau begitu bilang padanya jawabanku TIDAK!
Eva : Kau semudah itu menolak? Hem... Harusnya kau ingat siapa tuan Gauren dan siapa kau sekarang?
Vander : Mengancamku?
Eva : Tidak, hanya memperingatkanmu saja.
Vander : Baik terima kasih peringatannya, sampai jumpa.
"Halo! Halo! Sial!" Eva tampak begitu kesal mengetahui Van seenaknya mentup panggilannya. "Pria sialan! Dia pikir dia bisa hidup tenang dan menghindari tuan Gauren begitu saja!?!" Wanita itu langsung menambatkan tatapannya yang penuh amarah.
Keesokan harinya Vander terlihat mendatangi Aron di tokonya.
"Wah kau jadi sering datang kemari, ada apa sebenarnya?" Ujar Aron pada temannya yang kini sepertinya tengah mencari sesuatu benda.
"Kenapa kau melihati barang-barang jualanku begitu, apa kau sedang mencari suatu benda?"
"Ya!" Vander lalu meminta Aron mencarikan benda yang dimaksudnya.
Setelah selesai membeli hal yang dimaksud itu, Vander sejenak menyempatkan diri mengobrol dengan Aron. Dirinya bercerita kalau kemarin ia ditelepon oleh Eva.
"Apa?" Aron terkesiap tak menyangka. "Jadi akhirnya ia menghubungimu juga, lalu apa yang dia katakan?"
Dengan wajah datarnya Van menjawab, "Ya kau tau seperti apa dia kan'? Penuh basa basi dan misteri."
"Tapi Vander, kau harus hati-hati. Tuan Gauren bukan pria yang dengan mudah menyerah pada keinginannya begitu saja, dia pasti akan melakukan apapaun demi tujuannya. Ditambah Eva, dia wanita yang kejam kau tau dia juga salah satu orang kepercayaan tuan Gauren!" Kali ini Aron tampak sangat serius mengatakannya hal itu kepada Vander.
Van termenung sesaat memikirkan kata-kata Aron barusan. "Terima kasih peringatannya Ron. Kalau begitu aku pergi dulu!" Vander pun pamit pergi dari toko milik Aron.
**
Di kantor Appletree, Karina meminta kedua pegawai barunya yakni Dona dan Tara untuk menemuinya di ruangannya.
"Permisi Nona Karina," kedua pegawai itu masuk dengan rasa sungkan menghadap Karina.
"Duduklah..."titah Karina menyuruh kedua wanita itu duduk menghadap ke arahanya.
Dona dan Tara memasang wajah bingung karena tidak tahu apa yang ingin dibicarakan Karina kepada mereka sebenarnya.
"Nona ada apa memanggil kami?" Tanya Dona memberanikan diri bertanya duluan.
"Kalian sudah tau kan kenapa aku menerima kalian di kantorku?" Tanya Karina.
Kedua wanita itu mengangguk, "Ya, kami paham Nona Karina." Alasan Karina sengaja merekrut Dona dan Tara adalah untuk menggali informasi soal Lara dari kedua orang tersebut.
"Bagus kalau kalian sudah paham. Sekarang kalian ceritakan padaku saat kalian di Miracle dulu, bagaimana kedekatan Lara dengan pengawalnya itu?"
"Jujur, kalau soal itu aku dan Tara kurang paham karena kami tidak sering bertemu. Tapi kalau Vander aku sering melihatnya di free area dan kedai kopi yang ada dikantin. Mereka berdua tampak normal-normal saja kalau di kantor. Van juga tak banyak bicara dia hanya akan banyak tingkah kalau ada yang berani menyakiti Nona Lara," terang Dona.
Jadi mereka pura-pura tidak punya hubungan saat berada di kantor? Hem... pintar juga mereka bersembunyi! Karina tersenyum miring seolah tengah memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Jadi kalian berdua tidak tahu kalau mantan bos kalian dan pengawalnya itu pacaran?"
"Huh pacaran?" Kedua pegawai Karina syok mengetahui hal itu. "Apa benar? Masa sih, kok aku tidak pernah lihat mereka bermesraan?"
"Oh jadi pria yang aku lihat berciuman dengannya di parkiran basement dan kufoto waktu itu, benar-benar Vander?" Ungkap Dona yang baru menyadarinya.
"Dan kalian harus tau, awalnya Van itu pengangguran, lalu Lara mempekerjakannya dan sekalian menjadikannya pria simpanannya," ungkap Karina mulai menyebarkan rumor.
"Berarti jika dibilang dia itu perempuan yang suka bayar laki-laki tidak salahkan? Tapi kenapa dia marah waktu itu kami bilang begitu?" Keluh Tara kesal mengingat kejadian saat hari dimana mereka dipecat.
"Dia itu sebenarnya hanya jal*ng murahan yang berlagak menjadi wanita berkelas saja," pungkas Karina semakin memprovokasi.
"Menjijikan sekali, masa sekelas pimpinan perusahaan tidak bisa cari pacar dengan benar malah memilih memacari pria-pria pengangguran!"
Melihat Dona dan Tara semakin buruk memandang Lara batin Karina terasa puas. Bagus! Setelah ini dua orang ini akan semakin membenci Lara dan aku yakin reputasi Lara akan semakin buruk, ditambah dia sekarang sedang krisis kepercayaan di kantornya. Dengan begini kehancuranmu semakin dekat Lara...!
**
Hari ini adalah dimana kakek dan nenek Lara akan pulang. Lara terlihat sangat senang sekali. Dan untuk penyambutan Lara ditemani kekasihnya pergi ke toko bunga untuk diberikan kepada kakek dan neneknya nanti.
Dengan perasaan riang gembira Lara memilih bunga-bunga segar yang akan dibelinya. Sementara Vander yang mengikuti langkahnya dibelakang, malah terus memandangi dengan penuh perhatian gadisnya itu yang hari ini tampak sangat sumringah.
Melihat Lara tersenyum seperti ini batin Vander terasa diselimuti kehangatan.
Aku tidak ingin melihat dia bersedih ataupun terluka. Karena jika sampai itu terjadi aku bahkan tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Bagiku, Lara adalah hidupku tujuanku hidup disaat aku pikir dibumi ini tidak ada lagi tempat yang ingin kutuju. Tapi setelah bertemu dengannya hidupku seperti berwarna kembali, dia memberiku semua yang dulu tidak pernah aku rasakan. Cintanya sebagai seorang wanita kepada pria. Kasih sayang layaknya seorang ibu dan perhatian layaknya keluarga. Semua itu aku tidak ingin cepat berakhir, aku ingin mengikatnya bersamaku selamanya sampai akhir hidupku.
"Vander? Van, hei kau melamun?" Ujar Lara yang dari tadi memanggil Van namun tak dihiraukan karena melamun.
"Oh maaf kau bilang apa?" Vander baru sadar.
"Kau dari tadi menatapku seperti zombie tapi saat aku panggil kau tidak dengar, sedang memikirkan apa sih?" Tanya Lara.
"Tidak ada."
"Hukuman yang seperti apa? Aku suka semua kok hukumanmu," Ucap Vander seraya menggoda Lara.
"Aku hukum kau jadi pelayan di kediamanku tanpa kubayar," ucap Lara.
"Tidak masalah selagi itu keinginanmu. Aku akan lakukan apapun untukmu Nona," bisik Vander dengan suara sensualnya.
Lara mendorong perut Vander dengan sikunya. "Van ini tempat umum kau jangan terlalu mesum deh," omelnya.
Pria itu pun hanya tertawa kecil mendapati dimarahi Lara.
Akhirnya mereka pun selesai memilih bunga-bunga segarnya. Setelah memasukan semua bunga-bunga tadi ke bagasi mobil, Vander dan Lara pun bergegas untuk kembali ke kediaman Hazel. Sejak kemarin Lara memang tinggal di kediamannya yang megah karena ingin menyambut kakek dan neneknya yang hari ini akan pulang dari Jerman.
Di sepanjang perjalanan wajah Lara yang manis benar-benar memancarkan kebahagiaan yang tak terkira, seperti anak-anak yang akan dapat hadiah ia terus bersenandung di dalam mobil.
"Nona sepertinya kau bahagia sekali," pungkas Vander.
"Tentu saja! Kakek dan nenekku akan pulang Van, aku senang sekali! Dan kau harus temui mereka nanti, aku yakin mereka terutama kakek akan suka padamu!"
"Kenapa kau pikir begitu?"
"Karena kakek suka laki-laki yang gagah dan pemberani sepertimu. Kakek dulu pernah ikut pelatihan militer saat muda, jadi dia pasti suka sekali mengetahui kau pandai bertarung," ungkap Lara.
"Begitu ya? Ya semoga saja," pungkas Van penuh harap.
Merasa agak bosan, Lara kemudian menyetel radio di mobil. Ia mencari-cari saluran yang bagus tapi malah isinya kebanyakan laporan breaking news.
"Kenapa beritanya hampir semua breaking news."
"Sudahlah," Van mengehentikan tangan Lara agar tidak menggonta ganti siaran lagi.
__ADS_1
"Tapi Van...?"
"Dengarkan dulu bisa jadi beritanya penting," jelas Vander.
Lara pun menurut dan akhirnya mendengarkan breaking news. Diberitakan ada mobil mewah yang di kota ZR. Mobil itu diberikatan tiba-tiba saja meledak diperjalanan. Diberitakan jumlah korbannya ada tiga orang yakni— Lara tiba-tiba mematikan radionya karena mau mengangkat telepon.
"Iya halo..."
...
"Apa?" Mata Lara seketika terbelalak dan jantungnya berdegup dengan kecang.
...
"Tolong jangan main-main denganku!" Pekiknya ditelepon.
Ada apa? Van menoleh melihat raut wajah Lara tiba-tiba berubah pucat ketakutan dan berkeringat, tangannya juga gemetar.
"Lara ada apa?" Van merasa khawatir ia pun akhirnya menghentikan mobilnya untuk memastikan Lara baik-baik saja.
"Tidak mungkin... Ini tidak mungkin Vander tidak mungkin!" Lara berteriak dan tiba-tiba air matanya keluar. Melihat wajah ketakutan Lara dan tubuhnya yang gemetar, pria itu pun langsung mengambil ponsel dari tangan Lara dan memastikan apa yang dibicaran oleh orang yang menelepon Lara.
"Halo ada apa?"
...
"Jadi itu penyebabnya? Baik terima kasih informasinya."
Van yang juga cukup kaget mendengar pemberitahuan di telepon itu pun menoleh ke arah Lara, yang saat ini terlihat sangat syok dan terpukul.
"Tidak mungkin ini tidak mungkin! Kakek dan nenekku mereka tidak mungkin meninggal...!" Lara maraung menangis dan terisak dibuatnya.
Pria itu pun langsung memeluk kekasihnya yang kini terguncang batinnya.
"Vander ini bohong kan... Kakek nenekku tidak mungkin meninggal kan...?" Ujarnya tidak bisa terima.
"Sayang sudah ya..." Vander benar-benar tidak tega dan pedih melihat Lara seperti ini. Tentu saja bagi Lara berita ini seperti luka yang mana mengingatkan dirinya pada traumannya sepuluh tahun lalu, dimana orang tuanya juga meninggal saat di mobil dalam perjalanannya kembali ke rumah.
"Kakek Nenek, mereka tidak boleh meninggal! Nanti aku tidak punya siapa-siapa lagi....!" Geram Lara dalam tangisnya yang kemudian pingsan karena terguncang batinnya.
"Lara...!" Pekik pria itu dan langsung buru-buru membawanya ke rumah sakit.
Lara sepertinya benar-benar terguncang satu-satunya keluarganya yang tersisa tiba-tiba saja pergi untuk selamanya meninggalkannya.
...***...
Van kini berada di rumah sakit di pusat kota menunggu Lara siuman. Disana juga ada Miranda dan Pak Jah serta dokter forensik dan orang-orang yang mengevakuasi mayat tuan dan nyonya Hazel.
"Bagaimana Lara? Apa dia sudah siuman?" Tanya Mira yang juga sangat khawatir.
Vander yang duduk sejak tadi menunggu dengan raut wajah tak terbaca hanya bisa menggeleng tidak tahu. Saat ini dipikirannya hanya berpikir, akan bagaimana Lara setelah ini?
Tak lama dokter yang menangani Lara pun keluar dan mengatakan kalau Lara sudah sadarkan diri. Vander dan Mira pun bergegas menemui Lara. Van melihat Lara menangis dan merintih sendirian sambil meringkuk diatas ranjang rumah sakit.
Perlahan Van mendekati Lara dan membelai wajahnya yang penuh basah karena air mata. Matanya benar-benar menunjukan rasa kehilangan dan ketakutan begitulah kira-kira yang dilihat Vander disorot mata kekasihnya.
"Vander... sekarang aku tidak punya siapa-siapa lagi...," ucapnya sambil menangis pilu dalam pelukan kekasihnya itu.
Miranda yang melihatnya pun ikut menitikan air mata. Ia tidak bisa bayangkan betapa terpukulnya Lara saat ini mengetahui sisa keluarganya tiba-tiba sudah tidak ada bahkan sebelum sempat melihatnya hidup untuk terakhir kali.
...🌿🌿🌿...
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜
__ADS_1