
Setibanya di rumah sakit. Dengan raut wajah begitu cemas, Eiji memapah Lara keluar mobil, dan memanggil perawat agar segera menangani Lara.
Di luar ruang IGD Eiji tampak menunggu hasil pemeriksaan dokter. Disana ia mondar mandir sambil menunggu dokter keluar. Dan tak lama kemudian, dokter pun keluar lalu memanggil Eiji untuk masuk. Setibanya di dalam Eiji langsung melihat Lara yang sedang duduk diatas ranjang pemeriksaan, dengan keadaan yang sepertinya sudah baik-baik saja.
"Dokter bagaimana keadaan Lara?"
Dokter itu tidak menjawab, anehnya ia malah menanyakan apa hubungan Eiji dengan Lara. Keduanya pun saling menatap bingung ditanya begitu oleh dokter.
"Memangnya ada apa dokter?" Tanya Lara penasaran.
"Begini nyonya, aku memanggilnya karena ada yang harus kusampaikan terkait kehamilan anda."
"Apa? Hamil?" Ujar Eiji syok.
"Aku sungguh hamil dok?" Tanya Lara memastikan yang dikatakan dokter itu benar atau tidak.
"Iya nyonya, anda hamil sudah jalan enam minggu. Anda tolong jaga kehamilan anda ya, karena masih sangat muda jadi rawan keguguran," jelas dokter. "Dan tuan, apa anda ayah dari calon bayi yang dikandung nyonya ini?" Tanya dokter lagi.
Sejujurnya Eiji masih syok tentang kehamilan Lara ini, namun ia berusaha agar tetap tenang saat itu. "Bu- bukan dokter, aku bukan ayah anak dikandungannya. Aku— aku kakaknya."
"Oh kakaknya. Baiklah kalau begitu seperti yang aku bilang, tolong jaga kandungan adik anda. Jangan sampai terlalu banyak pikiran dan lelah, karena kalau lelah efeknya jadi seperti tadi, mudah pusing. Memang benar pusing, mual, dan kram itu gejala umum kehamilan, hanya saja akan lebih baik jika diminimalisir."
"Baik dokter, aku akan menjaga adikku."
Setelah selesai diperiksa dan dapat surat keterangan hamil. Lara dan Eiji pun langsung bergegas kembali ke mobil. Di sepanjang koridor rumah sakit, tatapan Eiji terlihat dingin sekali, bahkan sama sekali tak bicara apa-apa setelah dari ruangan IGD tadi. Hal itu membuat Lara jadi merasa canggung dan bertanya-tanya. Mungkinkah Eiji marah karena aku kini mengandung? Atau dia hanya sedang kaget saja?
Lara sungguh tak nyaman dengan keadaan saat ini.
...----------------...
Setibanya di parkiran mobil, Lara yang merasa Eiji sedang marah pun mengatakan kalau dirinya bisa pulang sendiri. Sayangnya Eiji tak mengizinkannya dan langsung membukakan pintu dan menyuruh Lara masuk ke mobil.
"Tapi— aku tidak mau membuang waktumu hanya demi membantuku. Aku— sudah terlalu banyak menyusahkanmu Kak..."
Eiji menutup kembali pintu mobilnya. Ia kemudian menatap Lara dengan tajam dan berkata dengan nada tinggi, "Kalau kau pulang sendiri, apa menjamin kau tidak menyusahkanku?"
"Aku— aku minta maaf kalau sudah membuatmu marah," ucap Lara agak sungkan.
Eiji tergelitik geli. "Minta maaf untuk apa?"
"Kak, aku..."
__ADS_1
"Anaknya Vander kan?" Tandas Eiji seraya mengetahui apa yang akan dikatakan oleh wanita itu.
Lara pun mengangguk pelan karena merasa canggung mengakui hal itu pada Eiji. Rasanya seperti habis tertangkap basah karena sudah ketahuan berbohong.
Eiji menatap Lara dan memegang pundaknya yang kurus. "Jujur padaku, sudah berapa lama kau berhubungan dengan pria itu? Dan anak diperutmu, apa anak itu keinginan kalian berdua, atau pria itu memaksamu? Jawab aku... Jawab Lara!" Bentak Eiji nampak sekali kesal dan kecewa.
Lara yang baru pertama kali dibentak Eiji pun seolah takut menjawabnya. Ia merasa ngeri pria di hadapannya itu akan marah dan membencinya jika tahu hal sebenarnya antara dirinya dan Vander.
"Kenapa diam, jawab aku! Apa kau dipaksa mengandung anaknya!?"
"Tidak! Aku tidak dipaksa, aku memang menginginkan anak ini!" Tegas Lara.
Mendengar hal itu Eiji tampak tidak bisa percaya. Ia tidak yakin apa yang dikatakan oleh Lara barusan. "Tidak, ba- bagaimana bisa kau— kau dan Vander."
"Ya, aku dan Vander kami saling mencintai. Dan kenyataannya anak ini adalah anak kedua kami!"
Mata Eiji seketik terbelalak lebar. "Ap- apa maksudmu anak kedua kami? Lara jangan bilang Vander..."
Lara menangis dan akhirnya mengakui semua kenyataan hubungan dirinya dengan Vander di hadapan Eiji. "Aku istrinya Vander itu kenyataannya."
Tangan Eiji yang tadinya menyentuh tegas pundak Lara seketika lunglai lemas mendengar pengakuan wanita di hadapannya itu. Belum selesai patah hati menyaksikan Lara bermesraan dengan Vander beberapa waktu lalu, kali ini ia malah harus dihadapkan dengan kenyataan mengejutkan lainnya.
"Tidak kak, aku tidak bohong. Aku minta maaf padamu karena telah menyembunyikan ini darimu selama ini. Maafkan aku..."
Lara menangis sedih menyesali karena baru bisa jujur sekarang pada Eiji. "Aku salah menyembunyikan ini darimu terlalu lama. Aku— memang tidak tahu diri karena sudah menyusahkanmu selama ini. Oleh karena itu, saat tadi aku tahu aku hamil lagi, aku memutuskan untuk mengaku saja, karena tidak ingin membuatmu susah lagi kak... Maafkan aku..."
"Kau kejam Lara, kau sungguh kejam sekali. Aku sungguh mencintaimu, aku rela menunggumu selama ini, dan berharap kau akan membuka hatimu untuk pria lain setelah aku pikir kau sudah melupakan suamimu. Tapi nyatanya apa? Nyatanya kau malah kembali pada pria yang sama!" Tangis Eiji pecah saat itu. Tangis kekecewaan seorang pria yang pada akhirnya malah tertampar kenyataan kalau wanita yang ia tunggu selama ini, sejak awal memang tak pernah sedikitpun menyisakan tempat dihatinya untuk dirinya.
"Maafkan aku..." Sesal Lara sambil menahan tangisnya agar tidak semakin keras. "Aku akan lakukan apapun untukmu asal kau memaafkanku kak."
"Melakukan apapun kau bilang? Apa kau bisa jika aku minta kau menceraikan Vander lalu menjadi milikku apa kau akan lakukan?"
Lara tersentak kaget.
"Tidak bisa kan? Tentu saja, karena pada kenyataannya kau sudah berbohong padaku. Dan aku terlalu berharap padamu!"
"Maaf..."
"Berhenti minta maaf, aku tidak butuh maafmu! Lebih baik kau telepon supirmu atau siapapun. Suruh jemput dirimu disini!" Eiji yang emosi pada akhirnya pergi duluan menaiki mobil dan meninggalkan Lara di dekat rumah sakit.
"Maafkan aku kak...," sesal Lara sambil menghapus air matanya.
__ADS_1
Di mobil Eiji yang sedang menyetir dengan keadaan emosi pun berteriak marah. "Kenapa kau tidak memilihku Lara! Kenapa? Kenapa kau malah tetap bertahan bersama pria yang sudah pernah meninggalkanmu! Arggh!!!"
...🍁🍁🍁...
Di dalam mobil, Lara yang dijemput oleh Tori tampak muram dan lemas di kursi belakang. Hal itu pun membuat Tori yang melihatnya lewat kaca spion belakang jadi khawatir. Ada apa sebenarnya dengan nyonya? Apa telah terjadi sesuatu padanya? Dan kenapa dia meminta jemput di rumah sakit?"
"Um— nyonya, apa anda baik-baik saja? Aku lihat wajah anda tampak muram dan lelah, apa anda sakit makanya tadi ke rumah sakit?"
"Aku baik-baik saja Tori. Aku hanya sedang tidak enak badan saja. Oh iya kita pulang saja ya, aku tidak akan kembali ke kantor."
"Nyonya anda yakin baik-baik saja?"
"Iya, aku hanya butuh istirahat saja kok, sudahlah kita segera pulang oke?"
"Baik kalau nyonya inginnya seperti itu."
"Oh iya, tolong jangan cerita apa-apa pada Vander soal aku tadi ke rumah sakit ya."
"Ta- tapi Nyonya..."
"Kumohon kali ini saja Tori."
"Ba- baiklah..."Tori sebenarnya ingin sekali cerita pada Vander, tapi melihat Lara memohon ia jadi terpaksa menurutinya. Ya, semoga nyonya sungguh baik-baik saja.
...🍁🍁🍁...
Malam harinya sekitar pukul sepuluh malam, akhirnya Vander pun pulang. Setibanya di apartemen pria itu melihat ke sekeliling ruangan yang tampak sepi.
"Tuan selamat datang," ucap Frida menyambut ramah tuannya yang baru pulang itu. Sebaliknya Vander malah mengernyitkan keningnya melihat yang menyambutnya pulang bukanlah sang istri. Tumben sekali Lara tak menyambutku pulang, dimana dia?
"Dimana Lara dan Rey?" Tanya Vander pada Frida.
"Tuan kecil sepertinya sudah tidur sejak satu jam yang lalu. Kalau nyonya sejak tadi dia dikamar terus tuan," jelas Frida.
Mendengar jawaban Frida, Vander pun langsung bergegas ke kamar untuk memastikan kalau istrinya itu baik-baik saja saat ini.
Saat masuk ke dalam kamar, ia melihat Lara yang ternyata ketiduran diatas ranjang saat sedang merajut. Vander pun tersenyum kecil melihat wajah cantik istrinya itu tidur. "Gadis bodoh, sudah tahu mengantuk malah memaksa merajut syal," gumam Vander lalu tersenyum kecil. Setelah itu ia membereskan dan menyingkirkan alat-alat rajut itu, kemudian menyelimuti Lara dengan benar setelah itu mengecup keningnya mesra. "Selamat tidur bidadariku yang cantik."
...🍁🍁🍁...
HAI TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA DI VOTE, LIKE DAN COMMENT YA... BIAR AKU SEMANGAT NULISNYA 🙏
__ADS_1