Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Pindah


__ADS_3

Di kamar hotelnya, terlihat Emily sedang kesal dan marah-marah sendiri karena sejak tadi teleponnya tidak dijawab oleh Vander. Bahkan yang terakhir malah ditolak panggilannya.


"Huh! Menyebalkan sekali! Beraninya dia


menolak panggilanku! Lihat saja kau pasti akan menyesal sudah mereject panggilanku!"


Namun meski kesal, tetap saja Emily tidak bisa bohong pada perasaannya kalau ia benar-benar sudah jatuh hati pada Vander. Ia bahkan sampai bertekad akan menjadikan pria itu kekasihnya bagaimana pun caranya. "Tapi bagaimana itu akan terjadi sementara aku mau dekat dengannya saja susah!" Wanita itu pun memutar otaknya untuk mencari cara bagaimana agar dirinya bisa lebih mudah mendekati Vander. "Ah benar juga! Mungkin dengan cara itu bisa!"


Emily tiba-tiba saja teringat akan Rey yang dia ketahui sebagai keponakan Vander beberapa hari lalu. Wanita itu berencana untuk mendekati Rey agar bisa lebih dekat dengan Vander. "Tapi yang pertama harus aku lakukan adalah, aku harus tau anak itu tinggal dimana dan apa kesukaannya, setelah itu baru aku harus pura-pura baik padanya agar Vander luluh melihat sisi lembutku. Yah meski aku tak suka anak.itu tapi dia ada gunanya juga."


...🍁🍁🍁...


Setelah perjalanan ke pulau RK, akhirnya Lara pu pulang ke apartemenya sendiri. Setibanya di apartemen, dirinya langsung disambut hangat oleh putranya dan Emika.


Lara yang agaknya merasa lelah setelah perjalanan pun duduk berselonjor di sofa untuk melemaskan otot-ototnya.


"Kak, apa kau mau aku buatkan teh kamomil?"


"Iya boleh, sepertinya enak."


"Oke akan aku buatkan," Emika pun langsung pergi ke dapur untuk membuatkan teh.


Sementara Reynder dengan suka rela menawarkan diri untuk memijat bahu sang mama.


"Wah baik sekali, tentu saja aku mau dipijat oleh anakku," tutur Lara dengan senang hati.


Saat Rey memijat bahu sang mama, tak lama Emika pun datang sambil membawa secangkir teh untuk Lara.


"Ini kak," pungkas Emika memberikan secangkir teh itu kepada Lara.


Setelah meminum teh buatan Emika tubuh Lara pun jauh lebih rileks dan segar. "Tubuhku jadi segar lagi, terima kasih ya Emika."


"Sama-sama kak, umβ€” kak Lara, Rey, aku ingin bilang sesuatu pada kalian," ungkap Emika yang sejak Lara datang memang sudah tampak seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Bibi Emi mau bilang apa?" Tanya Rey penasaran, melihat raut wajah Emika kali ini sepertinya tampak serius.


Akhirnya mereka bertiga duduk bersama di sofa ruang tamu. Baik Lara dan Rey, mereka tampak serius mendengarkan apa yang ingin dikatakan Emika.


"So, Emika jadi apa yang kau ingin bicarakan?"


"Sebelumnya aku ingin berterimakasih kepada kalian berdua karena sudah mengizinkanku untuk tinggal disini. Kalian sungguh orang-orang yang baik, semoga Tuhan selalu memberkati kalian. Tapi..."


"Tapi apa bibi Emi?"


"Sebenarnya aku mau bilang, kalau sepertinya mulai besok aku tidak bisa tinggal dengan kalian lagi."


"Eh kenapa?" Ucap Lara dan Rey bersamaan.


"Itu karena..." Emika menjelaskan kalau dirinya baru saja mendapati telepon kalau ibunya yang ada di kampung halamannya sakit keras, oleh karena itu mau tidak mau Emika harus segera pulang menemui sang ibu.


"Tapi apa akan selama itu?" Tanya Lara yang merasa agak tidak rela jika Emika harus pergi.


"Ibuku sakit keras dan adikku masih sekolah menengah, tidak ada yang bisa menjaganya selain aku. Ditambah toko kami tidak ada yang kelola karena ibu sakit, jadi terpaksa aku harus pulang," jelas Emika yang juga merasa bersedih karena harus berpisah dengan Lara dan Reynder.


"Bibi Emi, kalau bibi pergi lalu siapa yang akan menemaniku saat mama belum pulang?" Ungkap Rey tampak sedih dan tidak rela.


"Maafkan aku, tapi aku memang harus pulang. Jujur saja aku juga senang sekali tinggal bersama kalian. Tapi ibuku membutuhkanku," ungkap Emika sambil menangis.


Meski Lara sendiri tidak ingin Emika pergi, tapi mau bagaimana lagi, sebagai anak tentu saja Emika harus mendahulukan ibunya dibanding apapun. "Ya mau bagaimana lagi, bagaimanapun ibumu adalah segalanya, aku pun akan lakukan hal yang sama jika jadi kau." Lara mendekati Emika dan langsumg memeluknya. "Sudah jangan menangis, lebih baik kau bersiap-siap. Aku akan minta tolong Robert untuk antar keberangkatanmu ke stasiun."


"Terima kasih Kak," ucap Emika berterima kasih.


...🍁🍁🍁...


Sesampainya di stasiun, Emika pun pamit pada Lara dan Rey yang juga ikut mengantarnya. Ketiganya lalu saling memeluk dan mendoakan satu sama lainnya.


"Sudah Emika jangan menangis, lain kali kalau ada waktu kau bisa main ketempatku. Kita kan masih bisa saling menghubungi via telepon?"


"Iya, tapi aku pasti akan merindukanmu. Kau sudah seperti kakakku sendiri huhu..."


"Aku juga akan rindu padamu, kau jaga kesehatan dan, aku harap ibumu lekas senbuh."


"Terima kasih kak."


"Bibi Emika, kau jangan lupakan aku, kalau ada wakti aku dan mama akan mengunjungimu," ungkap Rey yang juga tampak sedih ditinggal Emika yang baginya sudah ia anggap keluarga sendiri.


"Hei jagoan, kau sehat-sehat dan jangan nakal, jangan buat kak Lara kesal dan aku doakan kau selalu bahagia. Dan semoga kau segera punya keluarga sempurna."


"Em!" Angguk Rey.


Karena keretanya sudah mau berangkat Emika pun langsung bergegas masuk ke gerbong. "Sampai jumpa semuanya, kak Lara, Rey, jangan lupakan aku, dan sampaikan salam serta terima kasihku juga untuk tuan Vander atas cek uangnya... Kalau begitu aku pamit bye semua..." Kereta yang dinaiki Emika akhirnya berangkat.


"Bye bye bibi Emika...!"


Ya seperti inilah hidup, ada yang datang dan pergi...


...🍁🍁🍁...


Setelah mengantar Emika ke stasiun, Lara dan putranya pun kembali pulang dengan diantar Robert. Disana Robert tiba-tiba bertanya kepada Lara tentang bagaimana kedepannya. Mengingat biasanya yang membatu Lara untuk menjaga putranya saat ia bekerja adalah Emika, sementara kini Emika sudah pulang ke kampung halamannya.


"Aku juga bingung harus bagaimana?" Ucap Lara lalu menghela nafas.


"Mama, kenapa kita tidak tinggal saja sama papa?" Usul Reynder.


"Eh, ituβ€”" Aduh bagaimana bilangnya ya, sebenarnya seharusnya kami bertiga memang tinggal bersama, tapi masalahnya keadaan saat ini belum memungkinkan untuk kami bertiga tinggal satu atap selamanya.

__ADS_1


"Mama... Kok diam saja? Bagaimana setuju atau tidak, kita tinggal bersama papa? Di tempat papa kan ada bibi Frida jadi aku tidak akan sendirian kalau mama sedang kerja."


Lara tersenyum pada putranya itu lalu berkata, "Iya sayang, nanti mama bilang sama papamu dulu ya."


"Lagipula, kenapa sih mama sama papa tidak menikah saja! Dengan begitu kan kita bertiga bisa hidup sama-sama terus," keluh Reynder.


"Ah kau sabar ya," pungkas Lara seraya memberi pengertian. Ya mau bagaimana lagi? Kenyataannya meskipun aku dan Vander aslinya sudah menikah, tapi tetap saja saat kita belum bisa tinggal bersama. Apalagi bagi Lara keselamatan Rey adalah segalanya.


Robert yang menyetir pun jadi merasa ikut kasihan dengan tuan kecilnya itu. Karena musuh orang tuanya, anak kecil yang tidak tahu apa-apa ini jadi harus ikut merasakan akibatnya.


"Tuan kecil, anda tenang saja. Aku yakin anda pasti akan segera bisa tinggal dengan papa dan mama, semangatlah!" Ujar Robert memberi semangat.


"Terima kasih paman Robert."


"Sama-sama."


...🍁🍁🍁...


Di kediamannya yang baru, Jeden baru saja menerima laporan dari anak buahnya. Dimana ia akhirnya mendapatkan informasi soal Lara yang ternyata benar, sudah kembali dari Kanada dua bulan yang lalu.


"Lalu dimana Lara tinggal sekarang?" Tanya Jeden.


"Soal itu aku belum tahu tuan Jeden, tapi yang aku tahu nona Lara, dia kini bekerja di bawah perusahaan Laizen grup."


"Apa?" Jeden langsung syok mendengar nama Laizen disebut. Sial! Kenapa selalu saja ada hal yang berhubungan dengan si Vander busuk itu setiap kali menyangkut soal Lara. Kenapa mereka itu selalu saja ada sangkut pautnya satu sama lain!


"Lalu, di Laizen, dia ada di divisi apa? Atau dia bekerja di perusahaan milik Laizen grup yang lain?"


"Soal pekerjaannya, aku juga belum menyelidikinya sejauh itu tuan, karena untuk masuk dan mencari info tentang Laizen grup itu cukup sulit, mengingat mereka sangat merahasiakan data karyawan mereka."


"Sial! Yasudah kau pergi dan cari tahu lebih dalam lagi di divisi mana ia ditempatkan!"


"Baik tuan Jeden, aku permisi!"


Jeden tiba-tiba membuka botol wine dan langsung meneguknya. "Vander dan Lara, seperti apa hubungan mereka saat ini? Apa mereka masih bersama? Tapi kenapa di banyak media malah tertulis kalau Vander masih single? Sebenarnya apa yang sudah tejadi? Bagaimanapun aku harus segera mencaritahu, agar setelah itu aku bisa fokus menghancurkan bisnis pria busuk itu."


...🍁🍁🍁...


Setelah selesai menyantap makan siang bersama Vander di ruangan mereka, tiba-tiba saja Lara membawa sekotak anggur yang sudah ia bersihkan untuk diberikan kepada suaminya. Melihat Vander yang malah langsung bekerja lagi setelah makan siang membuat Lara tidak senang. Mengingat seperti pesan yang disampaikan dokter Rebecca, kalau Vander harus melakukan rileksasi satu jam setelah makan siang dan malam. Karena hal itu baik untuk kendali saraf otaknya agar tidak mudah stress dan menganggu kesehatan mentalnya. Ya meski akhir-akhir ini keadaan mental Vander sangat baik, namun tetap saja sebagai istri, Lara tidak mau jika sampai terjadi hal buruk pada kesehatan suaminya.


Wanita itu tiba-tiba saja memeluk leher suaminya dan berbisik. "Kenapa kau langsung bekerja lagi? Bukankah kau seharusnya bersantai dahulu?"


Vander pun tersenyum namun jemarinya tetap saja di keyboard. Alhasil Lara pun tak punya pilihan lain, tiba-tiba saja wanita itu langsung duduk dipangkuan suaminya dan menyuruhnya berhenti mengetik. Tentu saja hal itu langsung membuat Vander mau tak mau berhenti mengetik dan mengabaikan pekerjaannya.


"Baiklah, kau dapat perhatiaku nona Lara."


"Memang harusnya begitu kan?"


"Oke aku sudah berhenti, lalu?"


"Boleh, tapi aku hanya mau makan dari tanganmu."


Lara menyeringai kecil, kemudian ia berbisik. "Aku punya cara makan anggur yang lebih kau sukai."


Vander mengerutkan keningnya. Mau apa wanita ini? Kenapa dia menggigit anggur dibibirnya. Apa dia mau...?"


Vander tersenyum kecil seraya paham dengan apa yang dimaksud sang istri. "Kau semakin pintar merayuku," Ucap Vander kemudian memakan anggur yang ada di bibir istrinya.


"Kau tahu, makan dengan cara begini anggurnya jadi semakin manis," ungkap Vander lalu menjilat bibirnya.


"Dan kau tahu tuan Vander, seseorang yang mengajariku makan anggur begitu adalah kau sendiri. Dulu kau selalu memintaku menyuapi anggur dengan cara seperti ini. Kau bilang kalau dari bibirku rasanya jauh lebih enak."


"Oh ya, aku senang karena telah mengajarimu begitu. Kalau begitu lakukan sampai selesai."


"Huh?"


Baru saja Vander mau memakan anggur yang ada dibibir sang istri, istrinya malah memasukan kemulutnya sendiri. Lara pun tampak puas dibuatnya telah mengerjai sang suami, sayangnya bukan Vander namanya kalau hanya pasrah saja dikerjai begitu. Pria itu justru langsung mencium sang istri dan merebut buah anggur dari dalam mulutnya dengan lidah, lalu memakannya.


"Kau!"


"Hem! Ini jauh lebih enak dari yang tadi," Ucap pria itu sambil menjilati bibirnya dan menatap Lara dengan tatapan nakalnya.


"Baiklah kita makan normal saja deh," pungkas Lara akhirnya menyerah.


"Tidak! Istriku... karena kau yang memulainya maka harus tuntaskan sampai akhir," Ujar Vander seraya memaksa.


Tapi pada akhirnya anggur-anggur itupun habis dimakan oleh keduanya, tentu saja dengan cara yang hanya mereka berdua yang tahu. Setelah itu tiba-tiba saja Lara yang masih duduk diatas pangkuan suaminya bertanya, "Vander kau sendiri tahu kan, kalau Emika sudah tidak bisa tinggal denganku lagi. Itu artinya dia tidak bisa membantuku menjaga Rey lagiβ€” menurutmu apa yang harus aku lakukan?"


"Tinggal saja di Caelestis Garden. Kau tinggal pilih unit yang mana saja bebas, nanti aku akan minta bibi Frida untuk menjaga dan mengurus Rey saat kau sedang bekerja."


"Tapiβ€” apa tidak akan merepotkan, bibi Frida kan pelayan ditempatmu."


Vander tertawa geli, "Merepotkan katamu?Bagaimana bisa kau bicara seperti itu nyonya Vander. Semua pegawaiku adalah pegawaimu, kau bebas lakukan apapun! Semua milikku adalah miliku juga."


"Sungguh?"


"Ya!"


"Kau baik sekali," Lara tersenyum senang.


"Jadi kau setuju kan' pindah ke Caelestis Garden?"


"Ya!" Angguk Lara kemudian mencium kening sang suami. "Terimakasih, karena selalu membantuku."


"Tidak perlu berterima kasih, sudah jadi keharusanku sebagai suami. Aku yang seharusnya banyak berterima kasih, karena kau masih mau menerimaku dan mencintaiku yang brengsek ini. Sekali lagi terima kasih Lara."

__ADS_1


"Sama-sama suamiku," balas Lara lalu mencium bibit suaminya.


...🍁🍁🍁...


Akhirnya, Lara dan Rey resmi pindah tempat tinggal ke Caelestis Garden, kawasan apartemen mewah milik Laizen grup. Karena baik Lara dan Vander masih menyembunyikan status pernikahan mereka, Lara akhirnya memutuskan untuk tinggal di unit yang berbeda dengan Vander, yakni unit yang berada satu lantai dibawah unit dimana Vander tinggal.


"Ini apartemen anda nyonya, tuan Vander sudah memfasilitasi semuanya. Mulai dari kamar, fasilitas dapur dan semuanya sudah siap huni. Anda dan tuan kecil bisa langsung menempatinya sambil menunggu orang suruhan Robert datang membawakan koper-koper kalian," terang bibi Frida yang mulai hari ini resmi berganti jadi asisten rumah tangga Lara.


"Terima kasih ya bibi Frida," ucap Lara dengan senyum ramahnya.


"Mama, kita sungguhan tinggal disini kan?"


"Iya sayang."


"Asyik! Tapi..." Rey seketika agak murung.


"Ada apa sayang?" Tanya Lara.


"Aku senang karena tinggal di apartemen yang sama dengan papa, tapi aku sedih karena jadi susah kalau mau bertemu teman-temanku yang dari panti asuhan," ungkap pria kecil itu.


"Kalau soal itu tuan kecil tenang saja," ujar seseorang yang datang bersama Robert membawakan koper-koper Lara masuk ke apartemennya.


"Eh paman siapa?" Tanya Rey.


"Dia Tori," sahut Robert sambil membawa masuk koper.


"Perkenalkan namaku Tori, aku supir sekaligus pengawal yang telah diutus tuan Vander khusus untu tuan kecil. Jadi kalau tuan mau kemanapun tinggal panggil saja aku," jelas pria yang sepertinya sepantaran dengan Lara tersebut.


"Oh jadi kau orang utusan Vander juga?"


"Iya nyonya Lara, aku dari Crux diminta langsung oleh tuan untuk menjadi supir sekaligus pengawal tuan kecil."


Lagi-lagi menyebut Crux, tidak cuma Dominic, Rebecca, Robert, sekarang Tori, mereka semua dari Crux. Aku semakin penasaran, sebenarnya Crux itu apa sih? Kenapa Vander seringsekali datang ke pulau itu? Dan kenapa dia sepertinya takut sekali aku tahu lebih dalam soal pulau Crux itu?


Di dalam apartemen barunya, Rey tampaknya senang melihat ukuran kamarnya yang jauh lebih luas dan lebih mewah daripada yang terdahulu. Hal itu membuatnya jadi bisa lebih leluasa meletakan mainan serta action figure miliknya, ditambah lagi di ruang utama kini tersedia playstation terbaru yang bisa ia mainkan alhasil kebahagiaan pria kecil itu jadi berlipat. "Papaku memang terbaik!" puji Rey bangga.


"Hai anakku, kau sedang apa?" Tanya Lara yang tiba-tiba menghampiri Rey untuk memastikan kalau kamar putranya sudah rapih dan bersih.


"Mama lihat, kamarku bagus! Aku senang sekali disini, tapi akan lebih senang kalau papa tinggal bersama kita sih! Mama kapan sih menikahnya sama papa? Aku kan mau minta adik," pungkas Rey.


"Eh?" Lara sampai syok mendengar ucapan putranya barusan. Ternyata Lara tidak sadar kalau diam-diam anaknya mulai merasa kesepian, dan seketika terlontarlah kata-kata ingin punya adik. Sejujurnya Lara tidak masalah untuk hamil dan melahirkan lagi, hanya saja ia masih teringat akan kehamilannya dulu yang ia lalui seorang diri tanpa suaminya. hal itu membuat Lara jadi agak takut kalau dirinya hamil akan ditinggal lagi.


"Mama, aku bisa kan punya adik?"


"Tentu saja."


"Tapi kapan? Soalnya kata bibi Emika kalau aku mau punya adik, mama harus segera menikah sama papa."


"Eh, Emika bilang begitu?" Gadis itu, dia mengajari anakku apa sih!


"Kata bibi Emi, kalau mau punya anak, pria dan wanita harus saling mencintai. Mama sama papa saling mencintai kan? Kalau iya, kenapa kalian tidak segera menikah? Mama, memangnya bagaimana sih caranya adikku bisa muncul diperut mama? Lalu kenapa mengandung itu lama sekali?


Memangnya tidak bisa ya sehari saja langsung muncul adikku danβ€”"


"Oke Reynder stop, bertanyanya sampai situ saja. Aku yakin kalau kau besar nanti kau pasti akan dapat jawabannya." Anakku kau ini sepertinya terlalu banyak ingin tahu deh! Kenapa dia kalau sudah bicara panjang lebar malah membuatku jadi tegang. Sebenarnya dia yang rasa ingin tahunya tinggi, atau aku yang bodoh sih!


"Rey dengarkan aku, untuk punya adik tidak bisa kau minta dalam waktu singkat, harus ada prosesnya. Dan lagi mama dan papa Vander pasti akan menikah, cuma belum sekarang. Jadi kau sabar dulu okey?"


"Tapi kalau kalian tidak menikah adikku pasti akan lebih lama lagi datangnya..."


Ya ampun Vander lihat anakmu ini! "Umβ€” oleh karena itu Rey harus bersabar dan berdoa, Rey kau tahu santa hanya memberi hadiah pada anak yang baik."


"Tapi santa itu kan tidak ada mama, itu cuma dongeng yang orang tua ceritakan pada mereka dimalam natal."


"Ya... kalau begitu, teruslah berdoa supaya Tuhan mengabulkannya."


"Huft... baiklah..." akhirnya Rey menyerah.


"Oh iya, sekarang ini kan sudah mau malam, lebih baik kau segera bersih-bersih, setelah itu mama akan minta bibi Frida buatkan sup ayam jamur untukmu, oke?"


"Okey..." Rey pun beranjak pergi.


"Huft! Kalau dia tanya lebih jauh lagi soal adiknya, aku bisa gila. Vander kau harus tau kelakuan anakmu ini!"


Dan sementara Rey mandi, Lara pun menghampiri bibi Frida yang tengah bersiap masak makan malam. Lara meminta asisten rumah tangganya itu untuk memasak sup ayam jamur.


"Tuan kecil suka makan sup itu?"


"Iya dia suka makan itu, dan Bi, tolong masak sama seperti yang biasa aku buat untuknya. Takaran bumbunya sudah aku tulis dimemo, jadi bibi tinggal buat saja."


"Baik Nyonya, lalu nyonya sekarang mau pergi kemana?"


"Aku mau kebawah sebentar, disana ada kurir perusahaan menunggu di lobi bawah. Dan sementara aku pergi, bibi tolong awasi Rey sebentar ya."


"Baik nyonya."


Seketika Lara yang ingin menuju ke lobi dasar pun segera menuju ke arah lift yang menuju kebawah. Namun siapa sangka, saat dirinya masuk ke dalam lift, tiba-tiba saja ada orang lain yang ikut nenyerobot masuk bersamaan dengannya. Dan saat Lara tahu siapa yang menyerobotnya, ia pun langsung tampak kesal pada wanita itu.


"Emily kau!"


...🍁🍁🍁...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS!


NB : Temen-temen maaf ya kalau updatenya lama, tapi aku usahain update tiap hari kok, semoga sabar ya πŸ™

__ADS_1


__ADS_2