Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Berniat buruk


__ADS_3

"Vander, aku— malu kalau kau tiba-tiba menciumku begini," Lara agak malu rasanya berciuman dilihat banyak orang diruangan ini.


"Kenapa malu, mereka harus tau kalau wanita cantik didepanku ini adalah miliku," ucap Vander dengan tatapannya yang mengintimidasi.


"Oh iya, kenapa Nona kemari tidak bilang dulu padaku?" Vander langsung mengintrogasi Lara.


"Itu karena kami mau memberi kejutan!" Sambar Gavin yang datang menyusul.


"Kalian kesini juga?" Ungkap Vander melihat Gavin dan Mira yang juga datang bersama Lara.


"Tentu saja kami ikut, kalau tidak mana mungkin sampai kesini, apalagi kami tadi sempat— hampir kesasar!" Ungkap Gavin.


"Iya tadi kami sempat tersesat. Dan itu semua gara-gara aku, maaf ya..." tandas Lara tampak menyesal karena gara-gara dia jadi mereka sempat kesasar.


"Eh eh! Bu-bukan begitu, kak Lara jangan bilang begitu, aku jadi seolah sedang menyalahkanmu. I- itu bukan salahmu kok," tutur Gavin jadi tidak enak hati.


Vander menatap ketiganya. "Kalian sudah bertiga— tapi masih bisa tersesat juga? Apa diantara kalian ini tidak ada yang bisa baca peta!" Tandas Van tidak habis pikir dengan ketiganya.


"Itu karena dia yang sok jadi pengemudi tapi tidak pandai baca rute," celetuk Miranda melirik Gavin.


"Hei, padahal kan kau yang dari awal membantu aku baca rutenya," balas Gavin tidak terima disalahkan.


"Yasudahlah... yang pentingkan, kita sudah sampai disini," ucap Lara tidak mau terlalu mendebatkan masalah tidak penting.


"Hai Vander! Ayolah kenalkan pada kami pacarmu dan temanmu yang lain!" Sahut seorang paman rekan Vander di kegitan penelitian.


"Baiklah kalian bertiga, mari aku kenalkan pada teman-temanku!" Akhirnya pria itupun mengajak Lara dan kedua temannya itu untuk berkenalan dengan rekan-rekannya di kegiatan program penelitian di RK.


**


Sementara itu, Akina yang tertunduk di dekat perkebunan kapas menangis tersedu-sedu. Hatinya sakit karena tidak terima kenyataan kalau Vander nyatanya sudah punya pacar. "Kenapa? Kenapa wanita itu datang kemari! Kenapa dia datang? Wanita itu dia cantik, tidak! Dia tidak cantik, aku benci dia...!" Ujarnya sambil menangis kesal memukul-mukul batang pohon. Akina benar-benar syok dan marah melihat Vander semesra itu dengan pacarnya. "Aku tidak mau wanita itu disini lama-lana! Hiks! Dia— dia harus pergi dari sini!" Ujar Akina dalam tangisnya.


Sampai akhirnya tiba-tiba Johan datang, dan menghampiri Akina yang sedang menangis. Pria paruh baya itu mengusap kepala Akina dengan lembut dan menenangkannya. "Putriku sudahlah jangan menangis, di dunia ini pasti banyak pria beruntung yang ingin mendapatkanmu. Jangan menangisi pria itu sudahlah, kau putriku yang cantik pasti akan banyak pria lain yang akan mencintaimu suatu hari nanti."


"Tapi aku hanya mau Vander ayah!" Pekiknya seolah memaksa. "Aku cuma ingin dia, bagiku dia pria paling sempurna yang aku lihat!"


"Nak... Kumohon sudahlah..." Johan benar-benar merasa kasihan pada putrinya itu, mengingat setelah dua tahun ditinggal oleh tunangannya, akhirnya Akina bisa lagi jatuh cinta. Tapi sayangnya pria yang ia sukai sudah memiliki wanita lain.


**


Setelah berkenalan dengan rekan Vander yang lain di RK, tampaknya Lara langsung bisa akrab dengan orang-orang disana, terutama para wanita disana mereka semua hampir satu persatu memuji Lara.


"Nona kuku dan tanganmu sangat cantik!"


"Kulitmu juga sangat cantik dan terawat, pasti biaya perawatannya mahal ya?" Tanya seorang nyonya berusia tiga puluhan.


"Tidak kok, sejujurnya aku jarang kesalon aku lebih suka luluran dirumah saja, ditambah mengkonsumsi buah dan sayur segar. Kalian juga akan punya kulit yang bagus kalau rutin merawatnya, atau kalau kalian mau aku bisa beritau resep jus kesehatanku pada kalian," pungkas Lara.


"Wah benarkah? Nona kau baik sekali!"


Para wanita itu terlihat senang.


"Sudah cantik baik hati juga, tidak salah tuan Vander memilihmu jadi kekasihnya," puji seorang wanita berurumur di dekatnya.


"Terima kasih pujiannya," Lara pun tersenyum manis. Ia sebenarnya agak malu dipuji-puji begitu, tapi melihat ketulusan mereka membuat Lara senang dan nyaman bicara dengan mereka.

__ADS_1


Vander yang tengah berdiri memperhatikan Lara dari jauh pun tampak senang, melihat kehadiran Lara, Gavin dan Mira ternyata disukai oleh orang-orang disini. Terutama Lara, dalam sekejap gadis itu seolah dapat banyak penggemar baru disini.


"Pacarmu banyak pegemarnya tuh!" Tandas Miranda menghampiri Vander.


"Aku tau, dia memang pantas dapatkan itu," Van tersenyum bangga.


"Tapi sepertinya yang naksir kak Lara juga banyak deh!" Celetuk Gavin.


Seketika pria itu langsung menatap Gavin dengan tatapan matanya yang seolah ingin menerkam.


"Wajarlah kalau banyak yang naksir padanya, aku kalau jadi pria juga mungkin bakal jatuh cinta pada Nona Lara," ungkap Miranda.


"Tapi dia cuma milikku!" Tegas Vander dengan sombongnya.


"Iya milikmu! Memang siapa pria yang berani merebut Lara Hazel, bisa-bisa kepalanya langsung ditebas olehmu!" Ujar Gavin.


"Bagus kalau kau sudah paham, hal itu juga berlaku buatmu!" ucap Vander.


Gavin pun bergidik, "Tenang saja aku masih ingin hidup kok!"


**


Setelah beberapa saat ngobrol dengan para rekan Vander, Lara pun berjalan kembali ke kamarnya diantar oleh sang kekasih.


"Kau tampaknya senang berinteraksi dengan mereka?" Tebak Vander melihat raut wajah Lara yang bahagia saat ini.


"Iya aku senang, orang-orang disini mereka semua ramah dan baik padaku."


"Baguslah kalau begitu. Tapi ngomong-ngomong, apa kakimu—"


"Vander, kau tidak perlu menggendongku. Aku tidak apa-apa kok! Cuma agak tersandung saja."


Van menggendong Lara lalu meletakan gadis itu duduk, diatas bangku kayu yang ada di dekat pohon. Pria itu lalu berjongkok, dan memegangi kaki Lara dengan hati-hati dan lembut untuk memastikan kalau kaki kekasihnya itu baik-baik saja.


"Apa sakit?" Tanya Vander menatap Lara dari bawah dengan tatapan posesif.


Wajah Lara langsung tersipu dibuatnya, "Tidak kok!"


"Syukurlah, karena kakimu yang cantik ini tidak boleh sampai lecet sedikitpun!" Ucap Vander lalu mencium kaki Lara.


Lara langsung dibuat kaget dan malu, "Vander! Kakiku belum dicuci kenapa kau menciumnya?" Ya Tuhan... Kalau dia begini terus aku bisa-bisa...?


Suhu tubuh Lara seperti naik rasanya.


Vander kembali menatap Lara daribawah, matanya yang tajam dan gelap membuat gadis itu seperti tersihir oleh tatapannya. Mereka saling menatap, tatapan mata Vander yang mengintimidasi seolah tak mengizinkan mata bening kekasihnya itu menatap selain dirinya. Lara menyentuh wajah Vander menundukan kepalanya untuk memberikan kecupan manis dibibir pria itu.


Vander pun berdiri mengangkat tubuh Lara dan menggendongnya kehadapannya. Lara pun mengaitkan kedua kakinya di pinggang Vander sambil terus berciuman mesra.


Dengan nafas terengah-engah Lara meminta Vander untuk membawanya pergi ke kamarnya. "Kita pergi ke kamarku sekarang!"


Vander tanpa bicara langsung berjalan sambil menggendong Lara menuju ke kamarnya.


***


Keesokan harinya Lara yang baru datang ditemani Miranda, melihat kegiatan para peserta dan warga lokal yang mau memanen hasil kapas.

__ADS_1


"Selamat pagi..." Sapa Lara pada semuanya.


"Pagi Nona Lara!" Balas mereka dengan ramah.


Kecuali Akina, dia malah menyindir Lara dengan berkata, "Mengucapkan selamat pagi padahal ini sudah pukul sepuluh. Apa kebiasaan gadis kota itu salah satunya bangun terlalu siang?"


Lara megerutkan alisnya, Apa sih maksud dia bicara begitu!? Lagipula aku jadi kesiangan kan gara-gara Vander itu minta aku meladinya semalaman! Gerutu Lara dalam hati.


Lara lalu mendekati Akina, dan menyapanya untuk berkenalan. "Hai, maaf aku semalam kelelahan jadi bangun kesiangan. Oh iya namaku Lara, namamu Akina kan kalau tidak salah, salam kenal."


Sayangnya, sapaan hangat Lara itu malah dibalas dengan raut wajah sinis oleh Akina.


"Aku sudah tau!" balas Akina ketus lalu melengos pergi.


Lara yang awalnya ingin berkenalan baik-baik jadi hilang respect melihat tingkah Akina barusan padanya.


"Apa-apaan dia bersikap begitu! Dasar sombong! Aku tidak suka padanya," Keluh Miranda yang memang sudah tidak suka pada Akina sejak awal melihatnya.


"Sepertinya dia tidak suka padaku?" Tebak Lara.


"Sepertinya si Akina itu iri sama Kak Lara, secara kak Lara cantik dan disukai orang-orang disini!" Sahut Gavin.


"Hei Gavin! Kau ini darimana saja?" Tanya Miranda.


"Aku tadi habis mengikuti Kak Vander ke ladang bukit di ujung sana, dan aku kelelahan serta kedinginan sekarang!" Terang Gavin lalu meneguk minumannya.


"Eh, Vander dia ada dimana sekarang?" Tanya Lara penasaran dimana kekasihnya itu.


Gavin bilang sejak pagi-pagi sekali Vander sudah duluan pergi ke ladang bahkan naik turun bukit. "Aku saja yang baru dua kali nail turun bukit mengikutinya kelelahan, dia yang sudah dari pagi malah terlihat tidak lelah sama sekali. Aku rasa Kak Vander memang serius mau jadi pengusaha tanaman kapas deh!" Ungkap Gavin.


Senyum Lara mengembang setelah mendengar cerita Gavin barusan. Sebagai kekasihnya ia merasa sangat bangga dibuatnya. Vander, dia benar-benar bekerja keras dan serius melakukan ini semua. Oleh karena itu aku harus mendukungnya!


**


Sementara itu Akina yang sejak tadi mencari Vander akhirnya menemukannya. Wanita itu pun langsung bergerak menghampirinya.


"Vander!"


Van menoleh, "Ada apa?"


"Um— sebentar lagi kan makan siang, kita makan siang bersama ya?" Ajak Akina. Padahal sudah ditolak waktu itu namun Akina entah kenapa tetap bersikukuh mendekati Vander.


"Maaf Akina tapi kau seharusnya sudah tau, kalau aku pasti akan makan siang dengan Lara."


Huh Lara sialan itu lagi! Akina tersenyum palsu. "Oh iya aku lupa, kau kan punya pacar yang mengunjungimu. Yasudah kalau begitu lupakan saja ajakanku, dah...!" Akina pun pergi.


Vander menatap tajam kepergian Akina, entah apa maksud tatapannya pada wanita tersebut.


**


Akina yang ditolak ajakannya oleh Van terus memaki dan mengomel disepanjang jalan. "Aku heran! Apa bagusnya si Lara sok cantik dan manja itu!" Gerutunya yang kemudian melihat Lara yang tampak akrab dengan para warga yang tengah memanen. Melihat Lara disenangi warga, rasa bencinya yang bercampur iri mendorong Akina untuk melakukan niat buruk pada Lara. "Heh dia pikir dia tuan putri, lihat saja akan aku beri pelajaran dia nanti!" Akina tersenyum licik seraya merencanakan sesuatu di otaknya.


...🌿🌿🌿...


TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜

__ADS_1


__ADS_2