
Keesokan harinya Gavin datang ke Miracle sesuai seperti yang disuruh Vander kemarin. Pria itu duduk menunggu di lobby utama dengan keadaan rambutnya yang masih tampak berantakan seperti baru bangun tidur.
"Hoam..." Gavin sampai beberapa kali menguap saking bosannya menunggu. "Kak Vander kenapa lama sekali sih? Ini sudah jam berapa?" Ungkapnya sambil garuk-garuk kepala.
Selang beberapa saat, terlihat ada Miranda yang baru saja datang memasuki lobi kantor. Seperti biasa wanita itu berpakaian formal yang biasa saja meskipun harganya mahal.
Ia berjalan dengan raut wajah yang terlihat serius, dengan satu tangan menenteng tas dan satunya lagi membawa dokumen. Miranda berjalan dengan tenang, sialnya saat itu ia malah berjalan melewati area lantai yang baru saja selesai dipel dan masih agak basah, alhasil Miranda pun terpeleset untungnya dengan cepat Gavin datang menahan tubuh wanita itu agar tidak terjatuh.
"Kau tidak apa-apa kan Nona?" Tanya Gavin.
"I- iya!"
Keduanya pun saling berpandangan.
Gavin senyam senyum, sampai pada akhirnya Miranda baru sadar kalau tangan Gavin menyentuh cukup kuat bagian dada Miranda. Alhasil Mira yang awalnya mau berterima kasih pun malah mengamuk dan memukul-mukul Gavin dengan dokumen yang dipegangnya.
"Dasar bocah kurang ajar! Tadak tahu sopan santun apa kau tidak pernah diajari orang tuamu!"
"Aw! Aduh, sakit sakit! Hentikan hei bibi tua! Aduh sakit tau!" Pekik Gavin sambil terus mencoba menghindari pukulan Miranda tapi tidak bisa.
"Bocah sepertimu memang harus dipukul! Ini rasakan dasar bocah genit dan mesum!" Omel Mira sambil terus memukuli Gavin hingga jadi tontonan pegawai kantor lain.
Tiba-tiba saja tak lama kemudian Vander dan Lara muncul, keduanya berjalan berdampingan menghampiri mereka berdua yang ribut dan langsung menghentikan Mira dan Gavin.
"Mira Gavin stop!" Tegas Lara.
Mira dan Gavin pun langsung berhenti setelah mendengar teguran dari Lara.
"Kak Lara?" Ujar Gavin yang kemudian berlari bersembunyi dibalik badan Vander dan Lara.
"Kakak, lihat bibi itu memukuliku, padahal aku sudah menolongnya," Ujar Gavin seraya mengadu pada Lara dan Vander.
Vander terlihat menahan tawa mendengar Gavin memanggil Miranda dengan sebutan bibi.
"Miranda ada apa, kenapa kau memukuli Gavin?" Tanya Lara.
"Nona kenal bocah tengik itu?" Pungkas Miranda masih dalam keadaan kesal.
"Iya aku mengenalnya."
"Dia itu sudah berlaku tidak sopan padaku!" Ucap Miranda sambil menunjuk ke arah Gavin yang masih bersembunyi dibelakang Vander.
"Enak saja, aku kan sudah menolongmu tau!"
__ADS_1
"Iya tapi kau juga ambil kesempatan kan, sudah mengaku saja!"
Vander yang sejak tadi tak peduli dan diam saja berpikir kalau percekcokan dua manusia ini tidak akan berakhir semudah itu. Ia pun meminta Lara agar menyuruh mereka menyudahinya mengingat banyak pegawai ikut menonton pertengkaran Mira dan Gavin.
"Sudah-sudah! Aku minta semuanya kembali bekerja," Lara menyuruh pegawai yang menonton kembali bekerja sementara, "Vander, Mira, dan Gavin kalian semua ikut ke ruanganku!" Titah Lara lalu berjalan duluan.
"Baik Nona," jawab mereka bersamaan.
**
Setibanya mereka berempat di ruangan. Lara meminta ketiganya duduk lalu membuatkan teh kamomil untuk mereka.
"Silakan diminum dulu tehnya," ucap Lara mempersilakan.
Mira dan Gavin yang masih saling bersikap sinis, sama-sama menyesap teh buatan Lara.
"Wah ini enak," puji Gavin.
"Terima kasih pujiannya Gavin kau manis sekali," balas Lara sumringah.
"Ehem!" Vander yang duduk disebelah Lara bedeham seolah memberitahu Lara kalau dia tidak suka Lara terlalu bersikap manis pada Gavin.
Dasar posesif! Pikir Lara.
Gavin yang tidak terima dengan penjelasan Mira yang cenderung seperti menyalahkannya pun protes, dan keduanya pun jadi kembali adu mulut.
Niat Lara mendamaikan keduanya tapi malah kembali adu mulut. "Astaga mereka berdua ini kenapa sih! Sama-sama tidak mau kalah!" Lara sampai bingung harus apa.
Ia pun bertanya kepada Van yang duduk disebelahnya dengan tenang-tenang saja." Van bagaimana ini? Mereka sama-sama tidak mau kalah."
Vander yang awalnya tenang dan tak peduli, melihat Lara yang mengadu kebingungan akhirnya terpaksa turun tangan.
"Gavin kau diam!" Seru Van dengan suaranya yang berat dan terdengar mengintimidasi. Mendengar suara Vander yang begitu, Gavin yang tidak berani melawan pada akhirnya terdiam, dan mengalah.
"Nona Lara silakan bicara lagi," kata Vander.
"Jadi Mira, Gavin ini akan bekerja buatku nantinya," ungkap Lara.
"Apa?!" Gavin dan Mira sama-sama kaget.
"Iya, Van sudah menceritakan padaku tentang bengkelmu yang baru saja kena musibah. Aku memutuskan untuk memberimu uang untuk biaya pemulihan bengkel dengan catatan, kau harus selalu datang ketika kumintai bantuan seperti menyupir, membetulkan kendaraan milik kantor dan mungkin membantu Mira," jelas Lara.
"Nona apa kau tidak salah, bocah tengik seperti dia memangnya bisa apa?" Ujar Miranda meremehkan.
__ADS_1
"Diam kau dasar bibi yang dadanya rata!"
Van dan Lara hampir saja ingin tertawa mendengar ucapan Gavin.
"Berani panggil aku bibi lagi aku pukul kau sampai mati!" Ancam Miranda.
"Sudah-sudah jangan bertengkar lagi," pinta Lara. "Lagipula Gavin kau jangan panggil Mira bibi, usianya masih dua puluh enam tahun loh!"
"Apa?" Gavin seolah kaget. "Jadi wanita ini lebih muda dari Kak Vander, tapi penampilannya kok mencerminkan seperti wanita yang sudah mau kepala empat ya?"
"Bocah sialan, kau benar-benar minta kupukul ya?" Miranda kesal dan ingin memukul Gavin.
"Nona Mira, dia bukan bocah. Memang wajahnya terlihat muda sekali tapi usianya hanya terpaut setahun lebih muda darimu," jelas Vander.
"Apa? Bohong!" Miranda gantian yang tidak percaya soal umur Gavin.
"Sudah kalian berdua jangan bertengkar lagi! Gavin kau ikut aku!" Vander bangkit dari duduknya lalu pamit pergi. "Nona Lara aku pergi dulu ya."
Lara mengangguk mengiyakan.
Sebelum pergi Gavin pun berterima kasih pada Lara.
"Kak Lara terima kasih banyak sudah bersedia membantuku. Aku janji akan mengabdi padamu dengan baik," ucap Gavin merasa berhutang budi.
Lara tersenyum manis, "Tidak masalah Gavin, kau kan sudah aku anggap adikku."
"Heh? Adik? Dia lebih tua dari Nona bagaimana bisa jadi adiknya Nona Lara!" Protes Miranda.
"Kenapa kau iri ya bibi yang suka mengamuk?" Ledek Gavin.
Van langsung memukul kepala Gavin.
"Sakit Kakak! Kau kejam sekali! Kakak Lara..." Gavin Seraya mendekati Lara untuk mengadu, tapi oleh Van malah keburu ditarik ikut keluar. "Bertingkah manja lagi aku lempar kau dari atas gedung ini!" Ancam Vander.
Setelah berada diluar ruangan, Van akhirnya melepaskan cengkramannya dari kerah belakang jaket Gavin.
"Aduh Kak! Kalau kau tarik seperti tadi, jaketku yang mahal ini bisa rusak nanti!" Gerutu pria berwajah imut itu sambil membetulkan kerah jaketnya.
Van terlihat menyilangkan tangannya didada, pria itu bersandar dengan satu kaki menapak ketembok dan hanya terdiam dengan gayanya yang cool.
Bersambung...
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜
__ADS_1